Rustan Rewa | Anak-anak Kampus Merah, Fragmen Aktivis Unhas Menjelang Reformasi

  • Whatsapp
Foto-foto lama yang kini mulai menguning bukan sekadar dokumentasi masa muda. Di balik senyum, rambut gondrong, sandal jepit, rokok yang mengepul, dan pakaian sederhana, tersimpan cerita tentang persahabatan, keberanian, kegelisahan, dan harapan.

Saya ada sekitar lebih 200 kilometer dari rumah mungil kami di Tolitoli, Sulawesi Tengah. Dalam perjalanan jauh dari rumah itu, saya terkenang pengalaman antara tahun 1980-an dan 90-an. Saya membagikan kisah kami ke Pelakita.ID, 25 Juli 2026. 

PELAKITA.ID – Tidak semua sejarah ditulis oleh para pemenang. Sebagian justru hidup dalam ingatan orang-orang biasa yang pernah duduk semeja, menghabiskan malam dengan secangkir kopi, selembar selebaran, dan keyakinan bahwa negeri ini suatu hari akan berubah.

Kami adalah anak-anak Kampus Merah.

Mahasiswa Universitas Hasanuddin pada awal dekade 1990-an. Anak-anak muda yang datang dari berbagai pelosok Sulawesi, bahkan Nusantara, membawa mimpi sederhana: menjadi sarjana.

Kampus Unhas Tamalanrea telah mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar mengejar gelar. Ia mengajarkan kami berpikir, mempertanyakan, membaca, berdebat, dan pada akhirnya mengambil sikap.

Saat itu Indonesia masih berada dalam cengkeraman Orde Baru. Kritik bukanlah sesuatu yang mudah diucapkan. Demonstrasi bukan sekadar aksi turun ke jalan, melainkan pilihan yang mengandung risiko.

Buku-buku tertentu beredar diam-diam. Diskusi sering berlangsung hingga larut malam di sekretariat organisasi, rumah kontrakan, atau warung kopi yang menjadi ruang kelas kedua bagi kami.

Di sanalah kami dipertemukan. Saya yang dari disipilin Pertanian atau Agrokompleks dan anak-anak aktivis Unhas yang luar biasa di masanya.

Saya masih ingat dengan jelas. Ada Ostaf Al Mustafa, yang kata-katanya selalu lebih tajam daripada pengeras suara.

Ada Isradi Zainal yang tenang tetapi mampu mengikat orang-orang dalam satu gagasan. Dia adalah mahasiswa Perkapalan Unhas saat itu dan kini sebagai Rektor Universitas Balikpapan.

Ada Hasbi Lodang yang tak pernah lelah menghubungkan gerakan dengan dunia literasi dan pers mahasiswa. Hasbi saat ini aktif di WAG alumni Unhas yang riuh itu.

Ada Akbar Endra yang sejak muda menunjukkan naluri jurnalistik yang kelak membawanya membangun media sendiri.  Kini membantu sahabatnya sejak lama, Prof Taruna Ikrar di BPOM. Keren sekali.

Ada Wahyudin Jalil yang kini bermukim di Malaysia dan begitu banyak nama lain yang mungkin tak pernah muncul dalam buku sejarah, tetapi menjadi bagian penting dari denyut intelektual Kampus Merah.

Rustan Rewa, ujung kiri (dok: Istimewa)

Kami berasal dari fakultas yang berbeda. Pertanian, Teknik, Sastra, Ilmu Sosial, Perikanan, Hukum, Ekonomi. Organisasi kami pun beragam.

Ada yang aktif di HMI, Pers Mahasiswa, kelompok studi, organisasi ekstra, hingga jaringan pro-demokrasi yang berkembang menjelang Reformasi.

Kami sering berbeda pendapat, bahkan berdebat keras, tetapi selalu dipersatukan oleh keyakinan bahwa kampus harus menjadi ruang kebebasan berpikir.

Foto-foto lama yang kini mulai menguning bukan sekadar dokumentasi masa muda. Di balik senyum, rambut gondrong, sandal jepit, rokok yang mengepul, dan pakaian sederhana, tersimpan cerita tentang persahabatan, keberanian, kegelisahan, dan harapan.

Kami belum tahu ke mana hidup akan membawa masing-masing. Yang kami tahu saat itu hanyalah satu: Indonesia harus menjadi lebih baik.

Kini, lebih dari tiga dekade telah berlalu.

Sebagian kawan telah menjadi akademisi, jurnalis, birokrat, pengusaha, aktivis masyarakat sipil, maupun petani yang kembali mengabdi di kampung halaman.

Ada pula yang telah lebih dahulu berpulang. Namun ketika kami membuka kembali album-album lama, yang hadir bukan sekadar nostalgia. Yang muncul adalah kesadaran bahwa kami pernah menjadi bagian dari sebuah zaman ketika idealisme terasa begitu nyata.

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mengagungkan masa lalu. Ia hanyalah serpihan ingatan dari anak-anak Kampus Merah yang pernah percaya bahwa perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk berpikir dan bertindak.

___
Editor Denun