PELAKITA.ID – Mengapa ada komunitas yang mampu bergerak bersama, membangun usaha, bernegosiasi dengan pemerintah dan perusahaan, sementara komunitas lain yang tampak sangat kompak justru sulit keluar dari persoalan yang sama?
Jawabannya mungkin ada pada satu konsep yang semakin penting dalam pembangunan: modal sosial.
Kita sering mendengar kata modal dan segera membayangkan uang, tanah, alat produksi atau investasi. Namun, para ilmuwan sosial sejak lama mengingatkan bahwa manusia memiliki bentuk modal lain yang tidak selalu terlihat.
Namanya modal sosial atau social capital.
Modal ini hidup dalam hubungan antarmanusia. Ia dapat berupa kepercayaan, jaringan pertemanan, hubungan keluarga, organisasi, norma bersama, akses terhadap pejabat, koneksi dengan pasar, hingga kemampuan sebuah kelompok membangun hubungan dengan institusi yang memiliki sumber daya.
Masalahnya, para ilmuwan ternyata tidak sepenuhnya sepakat mengenai apa yang disebut modal sosial.
Ada yang melihatnya sebagai sumber daya. Ada yang menekankan kepercayaan. Ada pula yang berbicara tentang jaringan, partisipasi warga dan kemampuan bertindak bersama.
Sebagian ilmuwan bahkan mengingatkan: modal sosial tidak selalu membawa kebaikan.
Lalu, siapa saja pemikir yang membentuk perdebatan besar tentang modal sosial?
Bourdieu: Jaringan Tidak Pernah Sepenuhnya Netral
Salah satu nama paling penting adalah Pierre Bourdieu.
Sosiolog Prancis ini melihat modal sosial sebagai sumber daya aktual maupun potensial yang dapat diperoleh seseorang melalui jaringan hubungan yang relatif bertahan lama.
Kata kuncinya adalah sumber daya dan kuasa.
Bagi Bourdieu, memiliki banyak kenalan belum tentu berarti memiliki modal sosial yang kuat. Pertanyaannya adalah: siapa yang kita kenal dan sumber daya apa yang dapat diakses melalui hubungan tersebut?
Bayangkan dua orang hidup di desa yang sama.
Orang pertama memiliki hubungan dekat dengan petani, nelayan dan tetangganya. Orang kedua memiliki hubungan dengan kepala desa, pejabat kabupaten, pimpinan perusahaan dan pengusaha.
Keduanya mempunyai jaringan.
Namun, nilai sumber daya yang dapat diakses dari jaringan tersebut mungkin sangat berbeda.
Di sinilah Bourdieu mengingatkan bahwa modal sosial dapat ikut mempertahankan ketimpangan. Kelompok elite sering memiliki jaringan yang memungkinkan mereka mempertahankan akses terhadap informasi, kekuasaan dan kesempatan.
Pertanyaan Bourdieu sangat tajam: siapa menguasai jaringan yang bernilai dan siapa yang memperoleh manfaat darinya?
Coleman: Mengapa Orang Bisa Bertindak Bersama?
Jika Bourdieu berbicara tentang kuasa dan sumber daya, James S. Coleman melihat modal sosial dari kemampuan hubungan sosial memfasilitasi tindakan.
Coleman menaruh perhatian pada kewajiban, harapan, kepercayaan, saluran informasi, norma dan sanksi sosial.
Dalam komunitas yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi, orang lebih mudah bekerja bersama.
Seseorang bersedia membantu tetangganya karena percaya bahwa suatu hari bantuan serupa akan kembali kepadanya. Kelompok masyarakat dapat mengelola kegiatan bersama karena anggotanya memiliki norma dan kewajiban yang dipahami bersama.
Pertanyaan utama Coleman adalah sederhana: bagaimana hubungan sosial memungkinkan manusia melakukan tindakan kolektif?
Putnam dan Kehidupan Warga yang Saling Percaya
Nama lain yang membuat konsep modal sosial semakin populer adalah Robert D. Putnam.
Melalui buku Making Democracy Work dan Bowling Alone, Putnam menghubungkan jaringan sosial, norma timbal balik dan kepercayaan dengan kualitas kehidupan masyarakat dan institusi.
Bagi Putnam, komunitas yang aktif dalam organisasi, perkumpulan dan kegiatan warga cenderung memiliki kemampuan lebih baik untuk bekerja sama.
Orang saling bertemu.
Mereka berinteraksi.
Kepercayaan tumbuh.
Norma timbal balik berkembang.
Dari sinilah kapasitas bekerja bersama terbentuk.
Namun, gagasan Putnam kemudian mendapat banyak kritik. Apakah semua organisasi selalu menghasilkan kebaikan? Apakah komunitas yang sangat kompak selalu terbuka terhadap orang lain?
Pertanyaan tersebut membawa diskusi modal sosial ke arah yang lebih kompleks.
Nan Lin: Bukan Sekadar Punya Jaringan, tetapi Mampu Menggunakannya
Nan Lin membawa modal sosial semakin dekat dengan teori jaringan.
Menurut Lin, sumber daya tertanam di dalam jaringan sosial.
Namun, keberadaan sumber daya saja tidak cukup.
Seseorang harus mampu mengakses dan memobilisasi sumber daya tersebut.
Bayangkan sebuah kelompok usaha desa mengenal seorang pengusaha besar. Hubungan itu memang ada.
Tetapi apakah kelompok tersebut mampu menghubungi sang pengusaha?
Apakah mereka dapat menyampaikan proposal?
Apakah hubungan itu dapat membuka pasar?
Jika tidak, sumber daya jaringan tersebut belum benar-benar dimobilisasi.
Lin membawa kita pada empat gagasan penting: sumber daya yang tertanam, akses, mobilisasi dan hasil.
Dengan kata lain, pertanyaan penting bukan lagi sekadar “siapa yang Anda kenal?”
Pertanyaannya menjadi: apa yang dapat Anda lakukan melalui jaringan tersebut?
Granovetter: Kadang Orang yang Tidak Terlalu Dekat Justru Membuka Peluang
Sosiolog Mark Granovetter terkenal melalui gagasan the strength of weak ties atau kekuatan ikatan lemah.
Keluarga dan sahabat adalah ikatan kuat. Mereka penting untuk solidaritas dan dukungan.
Namun, orang-orang terdekat kita sering mengetahui informasi yang hampir sama dengan yang kita ketahui.
Sebaliknya, seorang kenalan dari universitas, organisasi lain atau dunia usaha mungkin membawa informasi yang sama sekali baru.
Peluang kerja.
Pasar baru.
Teknologi baru.
Mitra baru.
Karena itu, Granovetter menunjukkan bahwa hubungan yang tidak terlalu dekat justru dapat menjadi jembatan menuju dunia sosial yang berbeda.
Burt dan Orang-orang yang Menjadi Jembatan
Ronald S. Burt melangkah lebih jauh melalui konsep structural holes.
Dalam masyarakat terdapat banyak kelompok yang sebenarnya tidak saling terhubung.
Petani mungkin tidak mengenal pembeli besar.
Kelompok perempuan mungkin tidak memiliki hubungan dengan lembaga keuangan.
Pemerintah desa mungkin jarang berkomunikasi dengan universitas.
Di antara kelompok-kelompok tersebut terdapat celah jaringan.
Orang yang mampu menghubungkan mereka disebut broker atau perantara jaringan.
Seorang fasilitator masyarakat, aktivis, pendamping desa atau tokoh lokal dapat memainkan peran tersebut.
Pertanyaan Burt adalah: siapa yang menghubungkan kelompok-kelompok yang sebelumnya terpisah?
Posisi sebagai penghubung dapat membawa keuntungan informasi dan pengaruh. Namun, posisi itu juga dapat menciptakan kekuasaan baru.
Woolcock: Bonding, Bridging dan Linking
Dalam dunia pembangunan, nama Michael Woolcock sangat penting.
Gagasannya membantu menjelaskan tiga bentuk hubungan sosial: bonding, bridging dan linking.
Bonding adalah hubungan di antara orang-orang yang relatif dekat dan serupa.
Keluarga.
Tetangga.
Kelompok etnis.
Kelompok tani.
Hubungan ini penting untuk bertahan hidup dan saling membantu.
Bridging menghubungkan kelompok yang berbeda.
Kelompok tani bertemu universitas.
Pelaku UMKM berhubungan dengan komunitas bisnis.
Kelompok perempuan membangun jaringan dengan organisasi lain.
Sementara linking adalah hubungan vertikal dengan institusi yang memiliki kuasa dan sumber daya.
Pemerintah.
Perusahaan.
Bank.
Lembaga donor.
Woolcock membantu kita memahami satu hal penting: komunitas yang sangat kompak belum tentu mampu berkembang jika hanya berputar dalam jaringan internalnya sendiri.
Szreter: Membangun Jalan Menuju Institusi yang Berkuasa
Simon Szreter memperkuat gagasan tentang linking social capital.
Ia mengajak kita melihat hubungan vertikal antara masyarakat dan institusi yang memiliki posisi kekuasaan berbeda.
Sebuah kelompok masyarakat mungkin sangat solid.
Namun, apakah mereka memiliki akses ke pemerintah kabupaten?
Apakah mereka mampu berbicara dengan perusahaan?
Apakah mereka mengenal lembaga keuangan?
Apakah suara mereka masuk dalam proses pengambilan keputusan?
Di sinilah linking social capital menjadi penting.
Persoalannya bukan sekadar hubungan.
Persoalannya adalah akses terhadap institusi yang mengendalikan sumber daya dan keputusan.
Nahapiet dan Ghoshal: Terhubung Belum Tentu Saling Memahami
Janine Nahapiet dan Sumantra Ghoshal menawarkan tiga dimensi modal sosial: struktural, relasional dan kognitif.
Dimensi struktural berbicara tentang siapa terhubung dengan siapa.
Dimensi relasional berbicara tentang kepercayaan, kewajiban dan norma.
Dimensi kognitif berbicara tentang bahasa, narasi dan pemahaman bersama.
Bayangkan masyarakat, pemerintah dan perusahaan duduk dalam satu forum.
Secara struktural, mereka terhubung.
Mereka mungkin juga saling mengenal.
Tetapi perusahaan berbicara tentang keberlanjutan. Pemerintah berbicara tentang realisasi program. Masyarakat berbicara tentang manfaat langsung.
Mereka duduk di meja yang sama, tetapi mungkin memahami tujuan pembangunan secara berbeda.
Inilah persoalan modal sosial kognitif.
Portes Mengingatkan: Modal Sosial Juga Punya Sisi Gelap
Alejandro Portes mengingatkan para peneliti agar tidak terlalu romantis melihat komunitas.
Jaringan yang kuat dapat menciptakan solidaritas.
Namun, jaringan yang sama dapat menutup akses bagi orang luar.
Kelompok yang kompak dapat berubah menjadi kelompok eksklusif.
Hubungan keluarga dapat berubah menjadi nepotisme.
Solidaritas dapat menjadi alasan membagi program hanya kepada “orang kita”.
Portes menyebut beberapa konsekuensi negatif modal sosial, termasuk eksklusi terhadap orang luar dan tekanan berlebihan terhadap anggota kelompok.
Pertanyaannya penting: siapa yang tidak mendapat tempat ketika sebuah kelompok menjadi semakin kuat?
Ostrom: Kepercayaan Saja Tidak Cukup
Pemenang Nobel Ekonomi Elinor Ostrom menunjukkan bahwa kerja sama membutuhkan lebih dari sekadar kepercayaan.
Masyarakat membutuhkan aturan.
Mekanisme pengawasan.
Sanksi.
Partisipasi.
Penyelesaian konflik.
Dalam banyak kasus, komunitas mampu mengelola sumber daya bersama ketika memiliki aturan yang dipahami dan diterima.
Pesan Ostrom jelas: modal sosial membutuhkan institusi yang bekerja.
Kepercayaan tanpa aturan dapat runtuh ketika konflik muncul.
Fukuyama dan Pertanyaan: Seberapa Jauh Kita Percaya?
Francis Fukuyama menempatkan kepercayaan sebagai elemen penting modal sosial.
Namun, ada pertanyaan menarik: seberapa luas lingkaran kepercayaan kita?
Ada orang yang hanya percaya keluarga.
Ada komunitas yang percaya sesama anggota kelompok.
Ada masyarakat yang mampu membangun kepercayaan dengan orang asing dan institusi publik.
Konsep ini sering dikaitkan dengan radius of trust atau radius kepercayaan.
Semakin sempit radius kepercayaan, semakin sulit membangun kerja sama yang lebih luas.
Levi dan Rothstein: Institusi Juga Harus Layak Dipercaya
Margaret Levi mengingatkan bahwa kita tidak boleh terus bertanya mengapa masyarakat tidak percaya kepada institusi.
Pertanyaan lain harus diajukan: apakah institusi tersebut memang layak dipercaya?
Apakah keputusan konsisten?
Apakah janji ditepati?
Apakah prosedur jelas?
Bo Rothstein melanjutkan perdebatan tersebut dengan menunjukkan bahwa institusi yang adil dan tidak memihak dapat menghasilkan kepercayaan sosial.
Artinya, hubungan sebab akibat dapat berjalan dua arah.
Kepercayaan dapat membantu menciptakan institusi yang baik.
Tetapi institusi yang baik juga dapat menciptakan kepercayaan.
Grootaert, Narayan, Onyx dan Bullen: Bisakah Modal Sosial Diukur?
Ketika konsep modal sosial semakin populer, muncul pertanyaan praktis: bagaimana mengukurnya?
Christiaan Grootaert dan Deepa Narayan termasuk tokoh penting dalam pengembangan instrumen pengukuran modal sosial.
Kelompok dan jaringan, kepercayaan, solidaritas, tindakan kolektif, informasi, komunikasi, kohesi sosial dan pemberdayaan menjadi bagian penting dalam tradisi pengukuran tersebut.
Sementara Jenny Onyx dan Paul Bullen mengembangkan pendekatan pengukuran modal sosial pada tingkat komunitas.
Partisipasi, kepercayaan, proaktivitas dan hubungan lingkungan menjadi beberapa perhatian mereka.
Kontribusi para peneliti ini penting karena membawa modal sosial dari dunia teori menuju penelitian empiris.
Krishna dan Pertanyaan Besar: Siapa yang Mengaktifkan Modal Sosial?
Di antara banyak pemikir modal sosial, gagasan Anirudh Krishna sangat menarik bagi dunia pembangunan.
Krishna menunjukkan bahwa komunitas dapat memiliki modal sosial tetapi tetap tidak mengalami kemajuan berarti.
Mengapa?
Karena modal sosial mungkin berada dalam keadaan laten.
Jaringan ada.
Kepercayaan ada.
Organisasi ada.
Tetapi tidak ada orang yang menghubungkan semua potensi tersebut dengan peluang pembangunan.
Di sinilah muncul peran agen, pemimpin dan aktor penghubung.
Pertanyaan Krishna sangat penting: siapa yang mengaktifkan modal sosial?
Pertanyaan ini membawa kita dari konsep “memiliki modal sosial” menuju mengaktifkan dan memobilisasi modal sosial.
Evans, Fox dan Hubungan Negara dengan Masyarakat
Peter Evans dan Jonathan Fox membawa diskusi modal sosial menuju hubungan antara masyarakat dan institusi negara.
Evans berbicara tentang state–society synergy dan embedded autonomy.
Institusi pembangunan perlu memiliki kapasitas profesional. Namun, mereka juga harus terhubung dengan masyarakat.
Terlalu jauh dari masyarakat membuat institusi kehilangan pengetahuan lokal.
Terlalu dekat dengan kelompok tertentu dapat menyebabkan institusi dikuasai kepentingan tertentu.
Jonathan Fox menaruh perhatian pada jaringan vertikal dan akuntabilitas.
Organisasi masyarakat sering menjadi lebih kuat ketika mampu membangun hubungan dan aliansi dengan aktor di tingkat yang lebih tinggi.
Varshney: Jembatan Antarkelompok Dapat Mencegah Konflik
Ashutosh Varshney menunjukkan pentingnya jaringan yang menghubungkan kelompok berbeda.
Ikatan internal memang memperkuat solidaritas.
Namun, jaringan lintas kelompok dapat membantu mencegah konflik.
Ketika masyarakat memiliki ruang bersama, organisasi bersama dan komunikasi lintas identitas, peluang membangun kerja sama menjadi lebih besar.
Di sinilah kekuatan bridging social capital terlihat.
Dari Modal Sosial Menuju Social Licence to Operate
Dalam industri pertambangan, diskusi hubungan sosial berkembang menuju konsep Social Licence to Operate atau SLO.
Robert G. Boutilier dan Ian Thomson termasuk nama penting dalam perdebatan ini.
Mereka menekankan legitimasi, kredibilitas dan kepercayaan dalam hubungan perusahaan dengan masyarakat.
Sebuah perusahaan dapat memiliki izin resmi dari pemerintah.
Namun, izin legal tidak otomatis berarti perusahaan memperoleh penerimaan sosial.
Masyarakat menilai bagaimana perusahaan berkomunikasi, memenuhi janji dan membangun hubungan.
Kieren Moffat kemudian memberi perhatian besar pada kepercayaan, keadilan prosedural, dampak dan distribusi manfaat.
Masyarakat tidak hanya bertanya: “Apa yang diberikan perusahaan?”
Mereka juga bertanya: bagaimana keputusan dibuat?
Apakah masyarakat didengar?
Apakah prosedurnya adil?
Apakah dampak diakui?
Apakah manfaat dibagi secara layak?
Dalam konteks ini, proses dapat sama pentingnya dengan hasil.
Jadi, Apa Sebenarnya Modal Sosial?
Setelah membaca puluhan pemikir tersebut, satu hal menjadi jelas.
Modal sosial bukan sekadar kepercayaan.
Ia juga bukan sekadar jaringan.
Modal sosial adalah semacam infrastruktur sosial yang hidup dalam hubungan manusia.
Di dalamnya terdapat jaringan dan sumber daya.
Ada kepercayaan dan kelayakan untuk dipercaya.
Ada solidaritas dan kemungkinan eksklusi.
Ada partisipasi dan kekuasaan.
Ada hubungan horizontal dan akses vertikal.
Ada orang-orang yang menjadi penghubung.
Ada pula institusi yang menentukan apakah hubungan sosial dapat menghasilkan tindakan kolektif.
Karena itu, mungkin kita perlu berhenti hanya bertanya:
Apakah sebuah komunitas memiliki modal sosial?
Pertanyaan yang lebih menarik adalah:
Bagaimana modal sosial dibentuk, diakses, diaktifkan, dimobilisasi, dikombinasikan dan dikonversi menjadi hasil pembangunan?
Lalu satu pertanyaan lagi yang tidak kalah penting:
Siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang tertinggal dalam proses tersebut?
Dari Bourdieu hingga Putnam, dari Nan Lin hingga Woolcock, dari Ostrom hingga Krishna, dan dari Portes hingga para pemikir Social Licence to Operate, modal sosial terus berkembang sebagai sebuah paradigma.
Bukan semata teori tentang orang yang saling mengenal.
Tetapi teori tentang bagaimana hubungan manusia dapat menjadi sumber daya, membentuk kekuasaan, membuka akses dan menggerakkan perubahan.









