“Production potential is real and mapped. Output can rise without using more sea.”
PELAKITA.ID – MAKASSAR – Masa depan ekonomi biru Indonesia kemungkinan tidak lagi ditentukan semata oleh luasnya laut yang dimiliki. Yang jauh lebih menentukan adalah kemampuan menggabungkan teknologi, data ilmiah, dan kekuatan modal sosial masyarakat pesisir.
Pesan itulah yang mengemuka dalam paparan Prof. Nurjannah Nurdin, anggota tim peneliti Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR), pada rangkaian PAIR Annual Meeting 2026 di Makassar.
Penelitian yang dipresentasikan menunjukkan bahwa produktivitas rumput laut dapat meningkat berkali-kali lipat tanpa perlu membuka lahan budidaya baru, selama petani mengadopsi teknologi yang tepat dan didukung ekosistem sosial yang kuat.
Temuan tersebut menjadi kabar penting bagi Indonesia yang selama ini dikenal sebagai salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia. Di balik potensi pesisir yang luas, produktivitas budidaya masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari metode produksi yang stagnan, perubahan iklim, hingga lemahnya akses informasi bagi petani.
Menurut Prof. Nurjannah, transformasi sektor ini membutuhkan pendekatan baru yang menggabungkan Sea-Tech, teknologi kelautan berbasis data, dengan penguatan modal sosial masyarakat.
Untuk riset PAIR ini, Nurjannah menyebut Riset mengenai transformasi budidaya rumput laut melalui pendekatan Sea-Tech, ekonomi sirkular, dan penguatan modal sosial ini dilaksanakan oleh Tim C.E.1.6 PAIR yang dipimpin Prof. Andi Dirpan dari Universitas Hasanuddin.
Anggotanya terdiri dari Prof. Nurjannah Nurdin (Universitas Hasanuddin), Prof. Lilik (Universitas Gadjah Mada), dan Prof. Nur Cahyadi (Institut Teknologi Sepuluh Nopember/ITS).
Penelitian tersebut juga didukung oleh sejumlah asisten peneliti, tenaga administrasi, serta para surveyor lapangan yang terlibat dalam pengumpulan data, analisis, dan pendampingan masyarakat pesisir di berbagai lokasi penelitian di Sulawesi.
Produktivitas Naik Berkali-kali Lipat
Salah satu hasil penelitian yang paling menarik adalah keberhasilan sistem budidaya double-line atau tali ganda.
Data lapangan menunjukkan bahwa metode tersebut mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan. Di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, sistem double-line menghasilkan sekitar 8,5 kilogram per meter persegi atau setara 85 ton per hektare, jauh melampaui metode single-line yang hanya menghasilkan sekitar 1,75 kilogram per meter persegi.
Potensi tersebut bahkan lebih tinggi di Sulawesi Selatan, dengan produktivitas mencapai 13,6 kilogram per meter persegi.
Temuan ini menunjukkan bahwa produksi rumput laut dapat meningkat hingga lebih dari lima kali lipat pada lokasi yang sama, tanpa harus memperluas area budidaya.
Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular karena mampu meningkatkan produksi sekaligus mengurangi tekanan terhadap ruang laut dan kawasan konservasi.
“Production potential is real and mapped. Output can rise without using more sea,” demikian salah satu pesan utama yang disampaikan dalam presentasi penelitian tersebut.

Modal Sosial Lebih Berpengaruh daripada Pengalaman
Penelitian PAIR juga menghasilkan temuan menarik mengenai perilaku petani.
Selama ini pengalaman panjang sering dianggap sebagai modal utama dalam budidaya. Namun penelitian justru menemukan adanya “paradoks pengalaman.”
Petani yang telah lama berusaha tetapi enggan mengubah cara kerja memiliki kemungkinan 64 persen lebih rendah untuk mengadopsi inovasi baru dibandingkan petani yang lebih terbuka terhadap perubahan.
Sebaliknya, modal sosial terbukti menjadi faktor yang jauh lebih menentukan.
Kegiatan sederhana seperti kelompok arisan ternyata berperan sebagai ruang berbagi pengalaman, membangun kepercayaan, sekaligus mempercepat penyebaran inovasi.
Data penelitian menunjukkan bahwa petani yang aktif mengikuti kelompok arisan memiliki peluang 13 kali lebih besar memperoleh pendapatan tinggi.
Sementara mereka yang rutin mengikuti pelatihan setiap tahun memiliki peluang enam kali lebih besar mengembangkan usaha secara berhasil.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi lebih mudah diterima melalui hubungan sosial antarpetani dibandingkan pendekatan penyuluhan yang bersifat satu arah.
Rahasia Produksi Bukan Suhu Laut
Penelitian ini juga membantah anggapan umum bahwa suhu laut merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan panen.
Berdasarkan analisis oseanografi selama sepuluh tahun terakhir, suhu permukaan laut Indonesia relatif stabil dengan rata-rata sekitar 29,38 derajat Celsius.
Faktor yang jauh lebih menentukan justru adalah salinitas pada kisaran 33–34 psu dan kecepatan arus sekitar 0,12–0,14 meter per detik.
Pemahaman tersebut mendorong pengembangan sistem pemantauan kualitas air secara real-time.
Melalui dasbor digital yang telah diuji di Mamuju, petani dapat memantau perubahan salinitas, suhu, hingga kondisi oseanografi lainnya sehingga dapat melakukan langkah mitigasi sebelum gangguan lingkungan menyebabkan gagal panen.
AI dan Drone Mulai Masuk Tambak Rumput Laut
Transformasi digital dan penguasaan geospasial juga menjadi bagian penting dalam konsep Sea-Tech.
Tim PAIR mengembangkan pemanfaatan drone (UAV) untuk memetakan area budidaya sekaligus memperkirakan produksi secara lebih cepat dan akurat dibandingkan metode survei manual.
Di sisi lain, chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) melalui aplikasi WhatsApp sedang diuji coba di Kabupaten Takalar dan Pangkep.
Chatbot tersebut dirancang menjadi asisten digital bagi petani dengan menyediakan informasi mengenai harga pasar harian, kondisi laut, penyakit rumput laut, hingga rekomendasi teknis budidaya.
Menariknya, sistem ini dikembangkan agar mampu berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia, Bahasa Makassar, dan ke depan juga mempertimbangkan Bahasa Bugis sehingga lebih mudah digunakan masyarakat pesisir.
Pengembangannya juga memperhatikan berbagai tantangan nyata di lapangan, termasuk keterbatasan sinyal di tengah laut dan hubungan utang antara petani dengan pembeli yang selama ini memengaruhi pengambilan keputusan usaha.

Rekomendasi untuk Pemerintah
Selain inovasi teknologi, penelitian ini juga memberikan sejumlah rekomendasi kebijakan.
Pemerintah daerah, khususnya Dinas Kelautan dan Perikanan serta Bappeda, didorong mempercepat penerapan zonasi budidaya berbasis Geographic Information System (GIS) agar pemanfaatan ruang laut lebih presisi.
Tim peneliti juga mengusulkan pengalokasian anggaran pemantauan oseanografi secara multi-tahun untuk menjamin keberlanjutan sistem informasi kualitas air.
Sementara berbagai bentuk bantuan pemerintah, seperti distribusi benih maupun Kredit Usaha Rakyat (KUR), diusulkan dikaitkan dengan penerapan sistem double-line serta pencatatan data budidaya secara digital sehingga intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran.
Dalam aspek sosial, penelitian ini menekankan pentingnya penerapan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) dengan memastikan keterlibatan perempuan sedikitnya 40 persen dalam pelatihan maupun akses terhadap teknologi digital.
Menyatukan Teknologi dan Kepercayaan Sosial
Paparan Prof. Nurjannah menunjukkan bahwa transformasi ekonomi biru tidak cukup hanya menghadirkan teknologi baru.
Keberhasilan justru lahir ketika inovasi dipadukan dengan kekuatan modal sosial yang telah lama hidup di masyarakat pesisir.
Di sinilah PAIR mencoba menjembatani sains, teknologi, dan kebutuhan masyarakat agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi akademik, melainkan menjadi solusi nyata bagi pembangunan pesisir Indonesia.
Bagi Indonesia sebagai negara maritim, riset ini mengirimkan pesan yang jelas: masa depan budidaya rumput laut tidak hanya bergantung pada luasnya laut yang dimiliki, tetapi pada kemampuan memanfaatkan data, teknologi, dan kolaborasi masyarakat untuk menghasilkan nilai tambah yang berkelanjutan.
Penulis: Kamaruddin Azis
Founder Pelakita.ID









