Daya Saing Udang dan Strategi Menangkal Impor

  • Whatsapp
Hadir dalam dialog terbatas itu Prof. Andi Tamsil (ketua umum SCI-Pusat), Hasanuddin Atjo dan Muh. Saenong (SCI-Sulsel), Prof. Zainuddin L. (Akademisi) serta Syahrun dan R.Rhamzani (Pelaku usaha). Penulis, kedua dari kanan.

Oleh Hasanuddin Atjo

PELAKITA.ID – Lemahnya daya saing industri budidaya udang ditengarai jadi penyebab utama udang asal Ekuador bisa menembus pasar Indonesia, yang notabenenya memiliki areal tambak seluas 303 ribu ha dan tumpuan hidup hampir 1 juta tenaga kerja

Masuknya udang Vaname asal Ekuador (Juni 2026) sebesar 120 ton terus menjadi perhatian dan dipantau sejumlah pihak. Mulai pembudidaya (on-farm), pelaku usaha penunjang (off-farm hulu) hingga bakul dan pedagang udang besar

Kekhawatiran tersebut itu antara lain, bahwa importasi itu bisa saja terus berlanjut, kemudian membesar. Kekuatiran tersebut berasalan oleh karena regulasi kawasan berikat dan kawasan ekonomi lainnya menunjang, dan telah ada indikasi ke arah itu.

Apabila situasi seperti ini terus berlanjut, dan strategi bangun daya saing industri budidaya “tidak bergerak” sebagaimana yang semestinya, dikuatirkan akan berdampak tutupnya sejumlah usaha hulu (tambak udang industri penunjang) yang tidak mampu bersaing.

Harga Pokok Produksi (HPP) yang tinggi menjadi penyebab utama udang asal Indonesia sulit bersaing di Pasar Global.

HPP memproduksi udang di Indonesia antara $US 3,5 – 4 0 per kg. Lebih mahal dari India dan Ekusdor sebesar $US. 1,0 – 1,5 per kg.

Berkaitan dengan kekuatiran itu, Senin malam (8/9/2026) bertempat di Restoran Bandar Tuna Makassar, jalan Tentara Pelajar Makassar, dilaksanakan dialog terbatas pengurus inti SCI (pusat-daerah), pelaku usaha dan akademisi.

Hadir dalam dialog terbatas itu Prof. Andi Tamsil (ketua umum SCI-Pusat), Hasanuddin Atjo dan Muh. Saenong (SCI-Sulsel), Prof. Zainuddin L. (Akademisi) serta Syahrun dan R.Rhamzani (Pelaku usaha).

Mengemuka dalam dialog itu antara lain, pertama, pemerintah harus memperketat mekanisme impor agar tidak mencederai industri on-farm (tambak) dan off-farm hulu (industri prnunjang) dalam negeri. Koordinasi tethadap lahirnya izin impor perlu dikaji mendalam secara terintegrasi.

Pengawasan terhadap peluang masuknya penyakit udang dan keamanan pangan menjadi hal krusial yang perlu mendapat perlakuan ekstra. Selain hal itu kebocoran (rembesan) udang impor mengisi pasar dalam Negeri juga dipandang rawan terjadi.

Kedua, perlu kerja Kolaborasi antara Pemerintah, asosiasi, pelaku usaha , pemerhati dan stakeholder lain membedah masalah industrialisasi udang (off-farm hulu, on-farm dan off-farm hilir) dan mencari solusi.

Apalagi saat ini Jepang, salah satu negara tujuan ekspor potensial telah melirik udang yang diproduksi India karena harganya lebih murah. Bahkan mereka telah membangun perwakilan di India. Tiga komponen industrialisasi ini mesti didorong, dibesarkan secara bersama sama dan tidak saling mematikan. Terkait dengan hal itu dalam waktu tidak terlalu lama, diagendakan dilaksanakan satu lokakarya.

Ketiga, sangat strategis dibuat peta jalan (roadmap) dan role model strategi peningkatan daya saing industri budidaya udang pada beberapa sentra produksi udang di Indonesia.

Setidaknya dua peta jalan dan role model yang mesti dibuat, yaitu tambak tradisional dan semi intensif ( total areal 97 %) dari 303.000 ha dan tambak intensif dan supra intensif (3 persen).

Meskipun teknologi intensif dan Supra intensif luas areal sangat kecil, namun kontribusi ekspor udang Indinesia pada tahun 2025 sebanyak (200 ribu ton), 80 persen berasal dari kelompok ini.

Sejumlah orang berpendapat bahwa lokakarya membangun daya saing dari industrialisasi udang Nasional mrnjadi sangat strategis dan dtindaklanjuti dengan penyusunan Peta jalan dan role model terukur.

Editor Denun