- Salah satu potensi yang menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut adalah Pallu Esa, olahan ikan layang yang telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat setempat.
- Di tangan perempuan Pattinoang, terutama para istri nelayan, ikan layang tidak sekadar menjadi hasil tangkapan yang dijual dalam bentuk segar. Ikan dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi.
PELAKITA.ID – Di sebuah rumah warga di Pattinoang, Tanuntung, Kecamatan Herlang, Kabupaten Bulukumba, Sabtu, 26 September 2026, percakapan tentang ikan, kemasan, pasar, dan masa depan perempuan pesisir berlangsung dalam suasana yang sederhana dan akrab.
Tidak ada jarak antara kampus dan masyarakat.
Para akademisi duduk bersama perempuan-perempuan pesisir, mendengarkan cerita mereka tentang ikan layang, cara mengolahnya, rasa yang diwariskan turun-temurun, hingga persoalan sederhana tetapi menentukan. Yaitu, bagaimana makanan khas mereka dapat bertahan lebih lama, dikemas lebih baik, dikenal orang, dan akhirnya menemukan pasar yang lebih luas.
Itulah semangat kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin yang mempertemukan akademisi FEB Unhas, mahasiswa Pascasarjana, aparat dusun, dan perempuan pesisir Pattinoang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari PKM Hibah Kompetisi Internal Peningkatan Kinerja Utama (KIPKU) Tahun 2026 FEB Universitas Hasanuddin, dengan tema “Perempuan Pesisir Berdaya, Produk Perikanan Bernilai, Ekonomi Lokal Maju.” Dari Pesisir Tanuntung
Tim akademisi antara lain melibatkan Prof. Dr. Abd. Hamid Paddu, Dr. Jibril Tajibu, Dr. Indraswati Tri Abdi Reviane, dan Dr. Retno Fitrianti, bersama sejumlah mahasiswa Pascasarjana FEB Unhas.
Ada satu semangat yang ingin dijaga dalam kegiatan tersebut: akademisi datang untuk mengabdi, bukan untuk mengajari masyarakat. Masyarakat Pattinoang bukanlah ruang kosong yang menunggu pengetahuan dari kampus. Mereka memiliki pengetahuan sendiri—tentang laut, ikan, musim, pengolahan hasil tangkapan, cita rasa, dan tradisi yang hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, PKM menjadi ruang musyawarah: pengetahuan akademik bertemu pengetahuan lokal.
Pallu Esa, Cerita dari Dapur Perempuan Pesisir
Salah satu potensi yang menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut adalah Pallu Esa, olahan ikan layang yang telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat setempat.
Di tangan perempuan Pattinoang, terutama para istri nelayan, ikan layang tidak sekadar menjadi hasil tangkapan yang dijual dalam bentuk segar. Ikan dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi.
Para realitas seperti itu, Pallu Esa mempunyai peluang. Bukan hanya karena cita rasanya, tetapi karena produk tersebut membawa sesuatu yang tidak mudah ditiru: cerita tentang tempat, tradisi, dan perempuan yang membuatnya.
Pallu Esa dapat dibangun sebagai identitas produk Pattinoang. Bukan sekadar makanan olahan ikan, tetapi sebuah produk yang membawa cerita pesisir Tanuntung dan Bulukumba kepada konsumen.
“Yang ingin dibangun bukan hanya produk, tetapi identitasnya. Ketika orang melihat Pallu Esa, kita berharap mereka juga mengenal Pattinoang, perempuan pesisirnya, serta tradisi pengolahan ikan yang diwariskan secara turun-temurun,” menjadi salah satu gagasan utama yang berkembang dalam musyawarah tersebut.
Kemasan Bukan Sekadar Pembungkus
Salah satu hal yang mendapat perhatian adalah packaging atau kemasan.
Dalam sesi yang dibawakan Dr. Indraswati Tri Abdi Reviane, peserta diajak melihat bahwa kemasan bukan sekadar tempat memasukkan produk. Untuk produk pangan, kemasan memiliki fungsi penting dalam melindungi produk, mempertahankan kualitas, menjaga kebersihan, sekaligus membangun kepercayaan konsumen.
Materi PKM antara lain membahas penggunaan kemasan food grade, penutupan yang baik menggunakan sealer, kemasan yang tidak mudah bocor, serta pilihan ukuran yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Kemasan juga berkaitan langsung dengan upaya mempertahankan rasa dan tekstur, memperpanjang masa simpan, dan meningkatkan nilai jual produk. Dari Pesisir Tanuntung
Artinya, ikan yang sebelumnya hanya mempunyai nilai sebagai komoditas hasil tangkapan dapat memperoleh nilai ekonomi tambahan setelah diolah, distandardisasi, diberi kemasan, dan dipasarkan sebagai produk khas. Kemasan modern tidak berarti menghilangkan identitas lokal, justru sebaliknya.
Kemasan Pallu Esa diharapkan mampu menampilkan cita rasa Pattinoang. Desainnya dapat mengangkat laut Bulukumba, ikan layang, kehidupan nelayan, dan kisah perempuan pesisir yang berada di balik produk tersebut. Dengan pendekatan seperti itu, konsumen tidak hanya membeli makanan. Mereka juga membeli cerita dan pengalaman tentang sebuah tempat.
Label Harus Bercerita
Aspek lain yang dibahas adalah labeling. Dr. Retno Fitrianti mengajak peserta memahami bahwa label membantu konsumen mengetahui dengan jelas produk yang mereka beli.
Nama dan merek produk, komposisi, berat bersih, identitas produsen, tanggal produksi hingga masa kedaluwarsa menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Pada tahapan pengembangan berikutnya, pelaku usaha juga perlu memperhatikan legalitas dan perizinan produk sesuai skala usahanya. Dari Pesisir Tanuntung
Label Pallu Esa mempunyai potensi untuk bergerak lebih jauh. Ia dapat menjadi media storytelling. Misalnya dengan membawa pesan “Pallu Esa – Cita Rasa Pesisir Pattinoang”, dilengkapi narasi singkat mengenai perempuan pesisir yang mengolah ikan layang dengan resep dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Identitas semacam ini penting ketika produk mulai memasuki pasar yang konsumennya tidak mengenal Pattinoang secara langsung. Konsep pengembangan pemasaran Pallu Esa: memperkuat nama produk, menjaga konsistensi mutu, menyediakan tester, memperluas outlet pemasaran, dan memanfaatkan festival serta kegiatan lokal untuk memperkenalkan produk kepada konsumen.
Dari Warung Lokal ke Pasar Digital
Musyawarah kemudian bergerak pada persoalan pasar.
Hamid Paddu, menguraikan bahwa Produk lokal yang baik tidak otomatis menemukan konsumennya.
Karena itu, kata Hamid, Pallu Esa perlu mempunyai strategi pemasaran secara bertahap.
“Pasar pertama dapat dimulai dari lingkungan terdekat: masyarakat sekitar, warung, kios, rumah makan, toko oleh-oleh hingga kegiatan desa dan kecamatan. Bulukumba juga mempunyai berbagai aktivitas pariwisata dan kegiatan daerah yang dapat menjadi ruang memperkenalkan produk khas masyarakat pesisir. Produk dapat diperkenalkan melalui tester pada kegiatan masyarakat, festival, pasar lokal maupun berbagai agenda yang mendatangkan pengunjung,” paparnya.
Meski demikian, Hamid menyebut, pasar Pallu Esa tidak harus berhenti di Bulukumba.
Apa yang disampaikan Hamid tersebut dielaborasi lebih jauh oleh Dr Jibril Tajibu, yang menambahkan bahwa Era digital memungkinkan produk dari sebuah dusun menjangkau konsumen yang sebelumnya sulit dijangkau.
“Media sosial, marketplace, pemasaran berbasis konten, dan jejaring konsumen membuka jalan agar produk lokal bergerak menuju pasar regional dan nasional. Visinya bahkan lebih jauh, Pallu Esa dari Pattinoang menuju pasar dunia.” terangnya.
Tentu perjalanan tersebut tidak dapat dilakukan dalam satu hari. Ada tahapan yang harus dilalui—standardisasi kualitas, kontinuitas produksi, keamanan pangan, perizinan, desain kemasan, kapasitas produksi, hingga penguatan pemasaran. Namun semuanya dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama.
Perempuan sebagai Aktor Ekonomi Pesisir.
PKM ini pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang ikan. Ia berbicara tentang perempuan sebagai aktor penting dalam ekonomi keluarga nelayan. Selama ini, nilai ekonomi hasil laut sering kali lebih banyak terlihat ketika nelayan membawa hasil tangkapan dari laut.
Padahal, setelah ikan tiba di daratan, perempuan memainkan peran yang tidak kalah penting: memilah, mengolah, memasak, menyimpan, menjual, dan memastikan hasil laut memberi manfaat bagi keluarga.
Ketika aktivitas tersebut ditingkatkan menjadi usaha produktif yang terorganisasi, perempuan pesisir berpotensi memperoleh sumber pendapatan yang lebih mandiri sekaligus memperkuat ekonomi rumah tangga nelayan.
Dalam perspektif pembangunan lokal, nilai tambah itu penting. Semakin banyak bagian dari proses produksi yang dilakukan di desa, semakin besar pula peluang agar nilai ekonomi tidak seluruhnya keluar dari desa.
Ikan tidak hanya dijual. Ia diolah, diberi rasa, dikemas, diberi identitas. Dipasarkan dan pada setiap tahapan itu terdapat peluang terciptanya nilai tambah.
Kampus yang Datang untuk Mendengar
Ada pesan lain yang tidak kalah penting dari pertemuan di Pattinoang tersebut.
Pengabdian kepada masyarakat tidak seharusnya menjadi hubungan satu arah di mana kampus selalu dianggap sebagai pihak yang mengetahui segalanya dan masyarakat hanya menjadi penerima.
Di Pattinoang, pendekatannya justru ingin dibalik. Akademisi datang untuk mendengar, berdialog, dan bekerja bersama. Pengetahuan tentang strategi pemasaran, ekonomi, branding, teknologi, dan pengembangan usaha yang berasal dari kampus dipertemukan dengan pengetahuan masyarakat mengenai ikan, laut, cita rasa, kebiasaan konsumen lokal, dan tradisi pengolahan pangan.
Dari pertemuan dua pengetahuan itulah inovasi dapat tumbuh. Rumah warga yang menjadi tempat musyawarah pada Sabtu itu mungkin jauh dari ruang seminar universitas. Dari ruang sederhana tersebut sedang dibicarakan sebuah gagasan besar: bagaimana kekayaan lokal menjadi sumber kesejahteraan masyarakatnya sendiri.
Pallu Esa mungkin berawal dari ikan layang dan dapur-dapur perempuan Pattinoang. Tetapi ketika kualitasnya dijaga, kemasannya diperbaiki, identitasnya diperkuat, ceritanya disampaikan, dan pasar digital dibuka, produk tersebut mempunyai kesempatan melakukan perjalanan yang jauh lebih panjang.
Dari laut Bulukumba ke dapur perempuan Pattinoang, dari dapur menuju kemasan, dari kemasan menuju pasar. Kelak, pada suatu hari, dari Pattinoang menuju dunia.
Editor Denun









