Brand itu penting. Ketika teman-teman sudah menjadi bagian dari SPPM, kalian memiliki identitas. Kami bisa memperkenalkan kalian sebagai alumni SPPM ketika ada kebutuhan kepanitiaan, pengurus kegiatan, atau ketika ada instansi yang mencari sumber daya manusia di desa.
Yunita, Kepsek SPPM Maros
PELAKITA.ID – Takalar — Menjadi peserta Sekolah Pendidikan Politik Perempuan Maupe (SPPM) Maros bukan sekadar mengikuti rangkaian kelas dan menerima sertifikat kelulusan. Lebih dari itu, setiap peserta sedang membangun identitas, jejaring, dan reputasi sebagai perempuan yang memiliki kapasitas untuk hadir di ruang-ruang kepemimpinan.
Pesan itu disampaikan Kepala Sekolah SPPM Maros, Yunita, saat memberikan sambutan pada kegiatan Outbound dan Yudisium Peserta Sekolah Pendidikan Politik Perempuan Maupe Maros di Puntondo, Kabupaten Takalar, Sabtu (4/7/2026).
Dalam suasana penuh keakraban, Yunita mengawali sambutannya dengan mengucapkan rasa syukur serta menyampaikan apresiasi kepada Ketua Yayasan Maupe, Direktur Maupe, para narasumber, panitia, dan seluruh peserta yang telah meluangkan waktu mengikuti kegiatan hingga memasuki tahap akhir pembelajaran.
Menurutnya, perjalanan hingga mencapai titik yudisium bukanlah proses yang sederhana.
Seluruh peserta telah melalui tahapan panjang, mulai dari proses pendaftaran, seleksi, mengikuti aturan sekolah, hingga menjalani lima kali pertemuan kelas dan praktik lapangan.
“Semua ini membutuhkan proses. Tidak mudah sampai di titik ini. Karena itu saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang tetap bertahan, mengikuti seluruh tahapan pembelajaran dengan penuh komitmen,” ujarnya.
Ia berharap seluruh ilmu, pengalaman, dan perspektif yang diperoleh selama mengikuti SPPM dapat diterapkan kembali di desa maupun wilayah masing-masing.
Namun, bagi Yunita, manfaat mengikuti sekolah politik perempuan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan semata. Ada nilai lain yang menurutnya sangat penting, yakni lahirnya “brand” atau identitas kolektif yang melekat pada setiap alumni SPPM.
Ia mengisahkan pertanyaan salah seorang peserta yang pernah menanyakan manfaat konkret setelah mengikuti sekolah tersebut.
Alih-alih menjawab dengan ukuran materi, Yunita menjelaskan bahwa manfaat terbesar justru terletak pada terbentuknya pengakuan dan kepercayaan publik.
“Brand itu penting. Ketika teman-teman sudah menjadi bagian dari SPPM, kalian memiliki identitas. Kami bisa memperkenalkan kalian sebagai alumni SPPM ketika ada kebutuhan kepanitiaan, pengurus kegiatan, atau ketika ada instansi yang mencari sumber daya manusia di desa,” jelasnya.
Menurutnya, identitas tersebut menjadi modal sosial yang membuka lebih banyak kesempatan.
Ia memberi ilustrasi sederhana. Jika seseorang hanya disebutkan namanya tanpa latar belakang yang dikenal, orang lain belum tentu mengetahui kapasitasnya. Namun ketika diperkenalkan sebagai alumni Sekolah Pendidikan Politik Perempuan Maupe, nama tersebut langsung memiliki nilai tambah karena telah melewati proses pendidikan yang jelas.
“Kalau saya mengatakan ini alumni SPPM Milenial, orang langsung mengenal. Mereka tahu bahwa teman-teman sudah dibekali kemampuan. Di situlah nilai jualnya,” katanya.
Karena itu, ia mengajak seluruh peserta menjaga nama baik sekolah sekaligus terus mengembangkan kapasitas setelah lulus.
Menurut Yunita, lulusan SPPM harus siap menjadi bagian dari berbagai aktivitas pembangunan di masyarakat, baik sebagai panitia, penggerak komunitas, fasilitator, maupun calon pemimpin di desa dan daerah.
Memasuki agenda outbound yang berlangsung selama dua hari, Yunita mengajak seluruh peserta menikmati proses kebersamaan tersebut sebagai ruang membangun persaudaraan.
Ia meminta seluruh peserta meninggalkan sejenak beban pekerjaan, persoalan keluarga, maupun berbagai pikiran yang berasal dari luar lokasi kegiatan.
“Dua hari ini kita fokus di Puntondo. Masalah rumah, masalah keluarga, semua kita kantongi dulu. Di sini kita happy, refreshing, membangun kekeluargaan,” ujarnya disambut senyum para peserta.
Menurutnya, outbound bukan hanya menjadi ajang rekreasi, melainkan sarana mempererat hubungan antarpeserta, panitia, narasumber, dan seluruh keluarga besar Maupe.
Kebersamaan yang dibangun melalui berbagai permainan, diskusi, olahraga, dan aktivitas kelompok diyakini akan melahirkan solidaritas yang lebih kuat dibandingkan sekadar bertemu di ruang kelas.
Ia pun mengingatkan peserta agar menjaga kondisi fisik dengan beristirahat cukup karena rangkaian kegiatan pada hari berikutnya akan diawali dengan senam bersama dan berbagai permainan kelompok yang membutuhkan semangat serta kekompakan.
Menutup sambutannya, Yunita kembali mengajak seluruh peserta menikmati setiap momen kebersamaan selama kegiatan berlangsung.
Baginya, sekolah politik perempuan bukan hanya tempat belajar tentang kepemimpinan, tetapi juga ruang untuk saling mengenal, membangun kepercayaan, memperluas jaringan, serta menumbuhkan keyakinan bahwa perempuan desa memiliki kemampuan yang sama untuk tampil sebagai pemimpin di tengah masyarakat.
“Dua hari ini mari kita bahagia bersama. Semoga kebersamaan ini menjadi bekal untuk terus bergerak, saling menguatkan, dan membawa manfaat bagi desa serta masyarakat masing-masing,” tutupnya.
Artikel ini masih dapat diperkaya dengan kutipan langsung yang lebih dominan atau dipadukan dengan suasana kegiatan outbound agar terasa lebih seperti feature jurnalistik.
Penulis Denun









