Sebelum memulai memasang bibit beliau melakukan ritual dengan cara memanggil Imam Kampung untuk baca doa di lokasi budidaya rumput laut yang mereka sebut pala’-pala’ ripatanna jenne’ yakni Karaeng Allah Talaa ( Allah SWT) agar hasil panen bisa berhasil.
PELAKITA.ID – TAKALAR – Warga Desa Sanrobone, Ujung Baji dan Laguruda yang berada di Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar memanfaatkan rumput laut sebagai mata pencahariannya, 30 Mei 2026.
Ada dua lokasi sebagai tempat budidaya rumput laut yakni di pesisir pantai dan di empang.
Jenis rumput laut dibudidayakan adalah jenis agar-agar atau mereka biasa sebut katonik atau dalam bahasa ilmiahnya, Euchema cottoni dan Gracilaria, orang Sanrobone menyebutnya sango-sango.
Daeng Maming salah seorang petani rumput laut yang memiliki dua petak di pesisir laut dan 3 hektare empang. Maming bercerita bagaimana suka duka memelihara rumput laut.
“Saya memulai memulai budidaya rumput laut tahun 1990-an di pesisir pantai. Saya memasang 100 bentangan, sekarang sudah memasang 150 bentangan diisi sebanyak 300 kg bibit. Yang diperoleh dari salah seorang petani dari Desa Ujung Baji,” sebutnya.
Dia mengingat dan menghitung hasil panen terakhirnya yang sudah mencapaia 2 ton.
“Hanya saja dua bulan terakhir harga rumput laut menurun drastis dari harga 8.000/kg menjadi Rp. 3.000/kg,” kata dia. Ini adalah harga rumput laut katonik, yang Gracilaria lebih anjlok.
Sebelum memulai memasang bibit beliau melakukan ritual dengan cara memanggil Imam Kampung untuk baca doa di lokasi budidaya rumput laut yang mereka sebut pala’-pala’ ripatanna jenne’ yakni Karaeng Allah Talaa ( Allah SWT) agar hasil panen bisa berhasil.
Seluruh aktivitas budidaya rumput laut tergantung kondisi alam. Karena rumput laut dipengaruhi oleh kondisi air laut dan musim.

Jika musim timur tiba maka pada waktu itu waktu yang baik mulai pasang bibit yakni bulan April-Agustus.
Sedangkan musim barat gelombang air laut tinggi dan hawa panas air laut juga tinggi mulai bulan September sampai Maret.
“Pada musim ini pertumbuhan rumput laut kurang bagus,” kata Daeng Maming.
Itu cerita Daeng Maming. Daeng Taba dan Daeng Ambe’ nampak sedang melakukan panen.
Keduanya memperlihatkan kondisi rumput lautnya yang kerdil.
“Ada penyakitnya ini, ada dugaan adanya penyakit rumput laut saat ini disebabkan limbah buangan dari pembibitan udang yang berada di sepanjang pesisir pantai Sanrobone,” ucap keduanya.
Daeng Tompo, salah seorang pengepul mengatakan bahwa kualitas rumput laut yang diterima di gudang makassar adalah kualitas yang baik sesuai standar yakni kadar air dan kadar garam.
Deng Tompo membeli rumput laut dari petani khususnya yang berasal dari empang atau wahana yang selama ini digunakan untuk budidaya udang atau bandeng. Dari empang itu, dikeringkan kemudian di-press dan dikemas 51 kg/pak untuk dikirim ke Makassar.
“Jika tidak memenuhi standar maka gudang menolaknya seperti yang dialaminya saat ini sebagian barangnya dikembalikan,” kata Daeng Tompo.
Seperti itulah gambaran kondisi atau fenomena budidaya rumput laut di dua desa.
Kegiatan riset lapangan yang kami lakukan ini adalah bagian dari kelompok mahasiswa Unhas dari program S3 dan S2 Ilmu Antropologi yang selama tiga hari melakukan penelitian di Desa Sanrobone dan Ujung Baji terkait kebudayaan, manusia dan lingkungan.
Dari proses penelitian tersebut menemukan informasi dari pelaku rumput laut baik petani maupun pedagang pengepul resah dengan anjloknya harga.

Bagi kami dimensi data dan informasi yang diberikan oleh warga pembudidaya rumput laut di Sanrobone itu menggambarkan daya tahan warga dengan memanfaatkan sumber daya pesisir dan laut.
Dinamikanya beragam, dari kondisi sumber daya alam seperti empang yang dianggap mulai tercemar, alih fungsi empang yang awalnya untuk bandeng atau udang kini sebagai wahana budidaya rumput laut Gracilaria.
Tak hanya itu, jaringan pasar juga menjadi sangat dinamis cenderung anjlok.
Hal itu berkaitan dengan banyak hal, bisa jadi karena trend harga dunia, kualitas rumput laut, hingga biaya ekonomi yang juga fluktuatif mulai dari pembeli, distributor, hingga eksportir atau bahkan pabrik yang ada di Sulawesi Selatan.
Saat ini, sesuai informasi tersedia di Pelakita.ID, ada beberapa pabrik yang dianggap masih berproduksi seperti di Takalar, ada PT Giwang, di Pinrang ada Biota Laut Ganggang hingga PT Bantimurung Indah di Maros.
Bagi kami, sebagai peneliti, tentu saja dengan adanya realitas dan isu yang dihadapi petani pembudidaya rumput laut di Takalar atau Sanrobone, maka diharapkan pemerintah, DPRD dan pihak pihak terkait dapat berkontribusi membantu petani agar menemukan jalan keluar dari kondisi ini sehingga dapat diatasi.
Dari Pelakita.ID pula, diperoleh informasi bahwa Pemerintah Kabupaten Takalar secara terbuka mengundang kepada investor untuk memaksimalkan produksi dan pengolahan rumput laut di Takalar. Bupati Daeng Manye telah bersurat ke sejumlah pihak seperti Pemerintah Oman dan calon investor dari sana untuk memanfaatkan rumput laut Takalar yang disebut merupakan komponen penting untuk farmasi, kuliner, hingga kosmetik.
___
Makassar, 31 Mei 2026









