Ketika Natuna Kembali Muncul di Linimasa

  • Whatsapp
Ibu MKP Susi Pudjiastuti saat melakukan inspeksi di SKPT Natuna (dok: Kamaruddin Azis)

Menengok SKPT, Ibu Susi, dan Mimpi Besar di Beranda NKRI

PELAKITA.ID – Tiba-tiba sebuah foto lama muncul di linimasa Facebook. Foto itu membawa saya kembali ke Natuna, hampir satu dekade lalu, ketika saya berkesempatan berada di sana bersama Menteri Kelautan dan Perikanan saat itu, Susi Pudjiastuti.

Keterangan pada unggahan itu singkat, tetapi cukup untuk membuka kembali ingatan: “SKPT Natuna menjawab harapan Presiden Jokowi di beranda NKRI, 7 Agustus 2017.”

Saya berhenti sejenak.

Bukan hanya karena mengenang perjalanan itu, melainkan karena sebuah pertanyaan sederhana muncul: bagaimana Natuna sekarang? Apakah gagasan besar yang dibawa ke sana benar-benar berhasil?

Pada 2017, Natuna bukan sekadar sebuah kabupaten kepulauan di ujung utara Indonesia. Natuna adalah simbol. Ia berada di perbatasan, berhadapan langsung dengan dinamika Laut Natuna Utara, sekaligus menjadi wajah Indonesia di salah satu kawasan geopolitik paling sensitif di Asia.

Di situlah Presiden Joko Widodo dan Menteri Susi Pudjiastuti membawa gagasan yang jauh melampaui pembangunan pelabuhan atau gedung. Mereka ingin menunjukkan bahwa kedaulatan tidak cukup dijaga dengan kapal perang. Kedaulatan juga harus dihidupkan melalui ekonomi, nelayan, dan masyarakat yang tinggal di perbatasan.

Mimpi Besar Bernama SKPT

SKPT adalah singkatan dari Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu.

Gagasan dasarnya sebenarnya sangat logis. Natuna memiliki salah satu wilayah penangkapan ikan terkaya di Indonesia, tetapi selama bertahun-tahun nelayan menghadapi persoalan klasik: fasilitas pendaratan terbatas, rantai dingin belum memadai, pasar jauh, dan nilai tambah hasil tangkapan lebih banyak dinikmati di luar daerah.

Karena itu, SKPT dirancang sebagai sebuah ekosistem. Bukan hanya tempat kapal bersandar, tetapi pusat yang menghubungkan pendaratan ikan, pelelangan, penyimpanan dingin, pengolahan, distribusi, koperasi nelayan, hingga akses pasar. Dengan kata lain, pemerintah ingin mengubah Natuna dari wilayah perbatasan yang jauh menjadi pusat ekonomi kelautan di beranda NKRI.

Saat itu, semangatnya sangat terasa.

Ada optimisme bahwa nelayan Natuna tidak lagi hanya menjual ikan mentah, tetapi mulai masuk ke rantai nilai yang lebih besar. Ada harapan bahwa kehadiran negara akan terasa bukan hanya melalui aparat keamanan, tetapi juga melalui infrastruktur ekonomi.

Mengapa Natuna Sangat Penting?

Natuna memiliki posisi yang unik. Wilayah ini berada di jalur strategis internasional dan berdekatan dengan kawasan yang kerap menjadi pusat ketegangan geopolitik. Indonesia sendiri menegaskan hak berdaulatnya di Laut Natuna Utara berdasarkan UNCLOS 1982, sekaligus memperkuat kehadiran negara melalui kebijakan kelautan dan perikanan. citeturn0search6

Karena itu, pembangunan SKPT memiliki dua wajah. Di satu sisi, ia adalah proyek ekonomi. Di sisi lain, ia adalah proyek kebangsaan. Nelayan yang melaut, kapal-kapal Indonesia yang beroperasi, pelabuhan yang hidup, dan perdagangan hasil laut yang berkembang merupakan bagian dari kehadiran nyata negara di wilayah perbatasan.

Inilah yang sering disebut sebagai economic sovereignty—kedaulatan yang tidak hanya dijaga melalui simbol kekuasaan, tetapi melalui aktivitas ekonomi masyarakat.

Lalu, apakah SKPT Natuna berhasil? Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”.

Sebuah penelitian evaluatif yang terbit pada 2025 memberikan gambaran yang cukup jujur. Penelitian tersebut menemukan bahwa sebagian nelayan dan pengelola koperasi merasakan manfaat SKPT, terutama dalam memperluas akses pasar dan membantu menjaga kualitas hasil tangkapan melalui fasilitas pascapanen.

Artinya, investasi fisik yang dibangun memang bukan sia-sia Namun, penelitian yang sama juga menemukan sejumlah persoalan.

Kapasitas kelembagaan belum sepenuhnya kuat. Keterampilan pascapanen sebagian nelayan masih terbatas. Modal usaha belum merata. Koordinasi antarinstansi masih perlu diperbaiki. Bahkan, terdapat kelompok nelayan tradisional yang merasa belum sepenuhnya memperoleh manfaat yang adil dari program tersebut.

Kesimpulan para peneliti cukup menarik: SKPT Natuna menunjukkan keberhasilan fisik yang nyata, tetapi dampak ekonominya terhadap kesejahteraan masyarakat secara luas masih bersifat parsial.  Kalimat itu mengingatkan saya pada banyak program pembangunan yang pernah saya temui. Kita sering berhasil membangun hardware, tetapi membutuhkan waktu lebih panjang untuk membangun software: manusia, organisasi, kepercayaan, dan pasar.

Natuna menjadi menarik. Ia menunjukkan bahwa pembangunan kelautan tidak berhenti ketika dermaga selesai dibangun. Cold storage dapat berdiri. Gedung pelelangan dapat diresmikan. Jalan dapat diperbaiki Tetapi pertanyaan berikutnya jauh lebih sulit: Siapa yang mengelola?

Siapa yang memperoleh manfaat? Apakah nelayan kecil mampu masuk ke rantai pasar? Apakah koperasi benar-benar hidup? Apakah kebijakan pusat bertemu dengan kebutuhan masyarakat lokal? Pertanyaan-pertanyaan itu menentukan apakah sebuah proyek berubah menjadi infrastruktur hidup atau hanya bangunan yang berdiri.

Mengenang Ibu Susi

Ketika foto itu muncul kembali, saya juga teringat sosok Ibu Susi. Gaya kepemimpinannya memang tidak biasa. Ia berbicara lugas, sering menantang kebiasaan birokrasi, dan memiliki keyakinan kuat bahwa laut Indonesia harus kembali menjadi sumber kesejahteraan bangsa.

Di Natuna, pesan itu terasa sangat jelas. Bahwa nelayan bukan kelompok pinggiran. Bahwa wilayah perbatasan bukan halaman belakang, laut bukan ruang kosong. Semua itu merupakan bagian dari cara pandang yang kemudian dikenal luas melalui agenda menjadikan Indonesia sebagai poros maritim.

Dari Makassar, saya menegaskan bahwa hari ini Natuna tetap strategis. Potensi perikanannya masih besar. Posisi geopolitiknya bahkan semakin penting. Pemerintah terus memperkuat pengelolaan sumber daya perikanan dan kehadiran negara di kawasan tersebut.

Seperti banyak proyek pembangunan lainnya, tantangan utama bukan lagi membangun dari nol. Tantangannya adalah membuat apa yang sudah dibangun benar-benar bekerja. Membuat fasilitas ramai, membuat koperasi kuat, nelayan memperoleh nilai tambah.

Membuat generasi muda melihat masa depan di sektor kelautan serta memastikan bahwa pembangunan tidak hanya terlihat dari udara, tetapi benar-benar terasa di rumah-rumah masyarakat pesisir.

Foto lama itu akhirnya saya tutup.

Tetapi pertanyaan yang muncul justru tinggal lebih lama. Mungkin pembangunan memang seperti perjalanan laut. Kapal bisa berangkat dengan visi besar, peta yang baik, dan mesin yang kuat. Namun setelah bertahun-tahun berlayar, kita tetap harus bertanya: apakah kapal itu benar-benar sampai ke tempat yang dijanjikan, dan apakah semua orang di dalamnya ikut merasakan perjalanan tersebut?

Natuna telah menunjukkan bahwa mimpi besar bisa diwujudkan menjadi infrastruktur. Tahap berikutnya, yang jauh lebih menantang, adalah memastikan infrastruktur itu tumbuh menjadi kehidupan.

Di beranda NKRI, pelajaran itu masih relevan hingga hari ini: kedaulatan tidak hanya dibangun dengan kehadiran negara, tetapi juga dengan kesejahteraan masyarakat yang menjaga lautnya setiap hari.

____
Catatan: SKPT Natuna menunjukkan capaian nyata pada pembangunan infrastruktur dan sebagian manfaat ekonomi, tetapi evaluasi akademik terbaru menilai keberhasilannya masih parsial dan membutuhkan penguatan kapasitas masyarakat, kelembagaan, serta tata kelola agar dampaknya terhadap kesejahteraan nelayan menjadi lebih luas dan berkelanjutan.

___
Makassar, 9 Agustus 2026