Seruni, dari UMKM Dapur Rumahan Menjadi Brand Lokal yang Membangun Jaringan Kuliner Sulsel

  • Whatsapp
Seruni dirintis oleh pasangan suami istri H. Andi Buana Pati dan Hj. Yusniar Arifin pada 2001. Dalam laporan media tahun 2019, modal awal yang mereka gunakan disebut sekitar Rp1 juta, dengan peralatan memasak yang pada awalnya masih meminjam dari keluarga.

Perjalanan H. Andi Buana Pati dan Hj. Yusniar Arifin membuktikan bahwa UMKM tidak harus berhenti sebagai usaha keluarga. Dengan ketekunan, pelayanan, jaringan dan teknologi, sebuah brand lokal dapat tumbuh menjadi sistem bisnis.

 PELAKITA.ID – Ada yang menarik dari perjalanan Seruni Catering dan Rumah Makan Seruni. Yang menarik bukan semata-mata penghargaan Makassar Most Favorite Culinary Award 2026 yang baru diterimanya. Yang lebih menarik justru perjalanan panjang sebelum penghargaan itu datang.

Sebab sebuah usaha yang hari ini tampil sebagai local brand dan telah membangun jaringan pelayanan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, sesungguhnya bermula dari sebuah usaha kecil dengan modal yang sangat terbatas.

Seruni adalah cerita tentang bagaimana sebuah UMKM dapat bertumbuh dari dapur, kemudian menjadi bisnis, lalu perlahan membangun sistem. Dan proses seperti inilah yang sesungguhnya penting dibicarakan ketika kita berbicara tentang masa depan UMKM Sulawesi Selatan.

Dimulai dari Rp1 juta

Seruni dirintis oleh pasangan suami istri H. Andi Buana Pati dan Hj. Yusniar Arifin pada 2001. Dalam laporan media tahun 2019, modal awal yang mereka gunakan disebut sekitar Rp1 juta, dengan peralatan memasak yang pada awalnya masih meminjam dari keluarga.

Bahkan pada masa awal, pesanan diantar menggunakan kendaraan sederhana.

Sulit membayangkan perjalanan lebih dari dua dekade hanya dari angka Rp1 juta itu. Tetapi dari situlah semuanya dimulai. Tidak ada gedung besar, tidak ada jaringan usaha, tidak ada sistem teknologi informasi seperti sekarang.

Yang ada adalah kemampuan memasak, keberanian mencoba, kemauan melayani pelanggan dan tentu saja keuletan pasangan suami istri tersebut untuk terus bertahan. Seruni pada awalnya berkembang dari usaha rantangan dan katering.

Pesanan datang sedikit demi sedikit, pelanggan bertambah, kebutuhan semakin besar. Dan perlahan sebuah usaha keluarga mulai membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar kemampuan memasak, Ia membutuhkan manajemen.

Dua orang FISIP masuk ke dunia kuliner

Ada satu sisi lain yang menarik dari kisah Seruni. H. Andi Buana Pati dan Hj. Yusniar Arifin bukan pasangan yang secara akademik disiapkan untuk menjadi pengusaha kuliner. Keduanya merupakan alumni Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Bahkan H. Andi Buana Pati memiliki latar belakang pendidikan magister Administrasi Negara.

Secara sederhana, mungkin orang akan bertanya: Apa hubungannya Administrasi Negara dengan bisnis katering? Jawabannya mungkin justru ada pada perjalanan Seruni itu sendiri. Sebab bisnis yang semakin besar pada akhirnya tidak hanya membutuhkan kemampuan memasak.

Ia membutuhkan kemampuan mengorganisasi manusia, mengatur pekerjaan, membuat keputusan, membangun prosedur, mengelola pelayanan, membaca kebutuhan masyarakat dan menciptakan koordinasi.

Dengan kata lain, ketika usaha mulai berkembang, ilmu tentang manusia dan organisasi menjadi sama pentingnya dengan ilmu tentang makanan.

Di sinilah perjalanan Seruni menjadi menarik, pendidikan formal mereka bukan kuliner, tetapi mereka belajar kuliner melalui pengalaman, mereka belajar bisnis dari pasar, mereka belajar pelayanan dari pelanggan, dan mereka belajar manajemen dari persoalan yang muncul setiap hari.

Dari usaha kecil menjadi organisasi

Salah satu data historis yang menarik adalah perkembangan tenaga kerja Seruni. Dalam pemberitaan 2019 disebutkan, Seruni yang pada awalnya hanya memiliki sekitar tiga karyawan kemudian berkembang hingga sekitar 270 orang pada masa tersebut.

Angka itu tentu harus ditempatkan sebagai data historis, bukan otomatis menggambarkan jumlah karyawan Seruni saat ini, namun angka tersebut menunjukkan sebuah proses yang penting.

Ketika usaha masih kecil, pemilik bisa mengawasi hampir semua hal, tetapi ketika usaha sudah memiliki puluhan bahkan ratusan orang yang terlibat, pemilik tidak mungkin lagi mengurus semuanya sendiri.

Di situlah sebuah UMKM mulai memasuki fase yang berbeda: dari usaha personal menjadi organisasi, dari mengandalkan pemilik menjadi mengandalkan sistem, dari mengandalkan ingatan menjadi prosedur, dari komunikasi informal menjadi koordinasi, dan dari pelanggan yang datang karena mengenal pemilik menjadi pelanggan yang datang karena mengenal brand.

Perkembangan Seruni juga tidak berhenti di Makassar. Jejaring pelayanan yang dipublikasikan Seruni saat ini mencantumkan beberapa wilayah Sulawesi Selatan, antara lain Makassar, Barru, Pare-pare, Palopo dan Watampone, dengan jaringan layanan yang tersebar di beberapa titik.

Inilah yang menurut saya patut diperhatikan, sebab membangun bisnis kuliner di satu lokasi adalah satu hal. Tetapi membangun standar pelayanan di beberapa wilayah merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks.

Bagaimana menjaga kualitas? Bagaimana memastikan menu tetap sesuai standar? Bagaimana memastikan pesanan tepat waktu? Bagaimana mengendalikan bahan baku? Bagaimana mengkoordinasikan tenaga kerja? Bagaimana menangani pelanggan yang berada ratusan kilometer dari pusat operasional?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan bisnis Seruni tidak lagi semata-mata persoalan “membuat makanan enak.”

Ia sudah masuk ke wilayah manajemen sistem pelayanan. Dan justru di sinilah sebuah UMKM mulai mempunyai peluang untuk naik kelas.

Ketika teknologi masuk ke dapur

Dunia bisnis kuliner sekarang sudah jauh berbeda dibanding ketika Seruni pertama kali berdiri pada 2001. Dulu pelanggan datang atau menelepon, sekarang pelanggan dapat memesan melalui perangkat digital.

Dulu pencatatan dapat dilakukan secara manual, sekarang data dapat dikelola melalui sistem informasi. Dulu komunikasi antara pusat dan daerah membutuhkan waktu, sekarang koordinasi dapat dilakukan secara real time.

Karena itu, perkembangan sistem pelayanan Seruni yang semakin berbasis teknologi informasi menjadi bagian penting dari fase berikutnya. Teknologi dalam konteks ini bukan sekadar membuat bisnis terlihat modern.

Teknologi justru harus menjawab persoalan bisnis yang nyata: Bagaimana membuat pelayanan lebih cepat? Bagaimana mengurangi kesalahan? Bagaimana mengetahui kebutuhan pelanggan?

Bagaimana mengontrol persediaan? Bagaimana menghubungkan jaringan yang berada di beberapa daerah? Bagaimana memastikan standar pelayanan tetap sama meskipun pelanggan berada di lokasi berbeda? Kalau teknologi mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka digitalisasi bukan lagi sekadar tren, tetapi  Ia telah menjadi infrastruktur bisnis.

Pelajaran penting bagi UMKM Sulawesi Selatan

Di sinilah cerita Seruni sebenarnya lebih besar daripada Seruni itu sendiri. Sulawesi Selatan memiliki begitu banyak UMKM yang lahir dari keluarga, ada usaha makanan, ada usaha kue, ada usaha konveksi, ada kerajinan, ada perdagangan, ada usaha jasa, dan sebagian besar memulai dari skala kecil.

Tetapi tantangan terbesar UMKM bukan hanya bagaimana memulai, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana naik kelas. Banyak usaha dapat bertahan selama lima tahun.

Tetapi tidak semua mampu membangun sistem, tidak semua mampu mendokumentasikan proses kerja, tidak semua mampu membangun brand, tidak semua mampu menciptakan standar pelayanan, dan tidak semua mampu memperluas jaringan tanpa kehilangan identitas. Perjalanan Seruni memperlihatkan bahwa proses naik kelas itu membutuhkan waktu, hampir seperempat abad, bukan hanya satu atau dua tahun.

Penghargaan bukan akhir perjalanan

Pada 16 September 2026, Seruni menerima penghargaan dalam ajang MFC Award 2026 di Hotel MYKO Makassar.

MFC sendiri menjelaskan bahwa penghargaan tersebut diberikan berdasarkan survei independen terhadap 300 responden dan merupakan penghargaan tahunan. Karena itu, penghargaan tersebut sebaiknya tidak dibaca sebagai akhir perjalanan, justru sebaliknya, Ia menjadi semacam checkpoint.

Sebuah tanda bahwa perjalanan yang telah dilakukan memperoleh pengakuan, tetapi setelah itu masih ada pekerjaan yang jauh lebih berat, yaitu mempertahankan kualitas. Sebab sebuah brand tidak dibangun hanya dengan penghargaan, tetapi brand dibangun oleh pengalaman pelanggan yang berulang.

Hari ini pelanggan puas, besok puas, bulan depan puas, tahun depan masih puas. Dan ketika pelanggan berada di daerah lain, pengalaman yang diterima tetap berada dalam standar yang sama. Di situlah sebenarnya kualitas sebuah sistem diuji.

Dari Seruni menuju ekspansi brand lokal

Ke depan, peluang Seruni sebenarnya masih terbuka luas. Brand lokal seperti ini tidak harus selamanya melihat dirinya sebagai usaha katering lokal Makassar. Dengan pengalaman lebih dari dua dekade, jaringan pelayanan di sejumlah wilayah, sumber daya manusia dan sistem yang terus dikembangkan, ruang ekspansi tentu masih terbuka.

Tetapi ekspansi bukan sekadar membuka cabang, ekspansi yang sehat membutuhkan sistem yang dapat direplikasi. Inilah pekerjaan generasi berikutnya. Kalau generasi pendiri telah membangun nama, pengalaman dan kepercayaan, maka generasi penerus harus mampu mengubah pengalaman tersebut menjadi sistem yang lebih kuat.

SOP harus semakin baik, teknologi harus semakin terintegrasi, data pelanggan harus dikelola, kualitas harus terukur, SDM harus terus dikembangkan. Dan yang tidak kalah penting: identitas Seruni sebagai brand lokal harus tetap terjaga. Sebab ekspansi yang membuat sebuah brand kehilangan karakter justru dapat menjadi bumerang.

Ada satu pelajaran penting yang bisa ditarik dari perjalanan Seruni, UMKM tidak harus selamanya menjadi usaha kecil. Istilah UMKM seharusnya bukan identitas permanen, tetapi Ia adalah sebuah tahapan. Sebuah usaha bisa dimulai dari rumah, dikerjakan oleh suami istri, menggunakan modal Rp1 juta, meminjam peralatan, mengantar pesanan sendiri.

Kemudian berkembang menjadi usaha yang memiliki karyawan, jaringan pelayanan, rumah makan, brand dan sistem. Tentu tidak semua UMKM akan memiliki perjalanan yang sama. Tetapi kisah Seruni memperlihatkan bahwa naik kelas itu mungkin syaratnya bukan hanya modal, yang diperlukan ketekunan, diperlukan keberanian, diperlukan kemampuan membaca perubahan, diperlukan kesediaan belajar. Dan yang paling penting, diperlukan kemauan untuk mengubah usaha menjadi sistem.

Seruni sebagai cermin kewirausahaan lokal

Penghargaan yang diterima Seruni dapat dibaca dari dua sisi. Pertama, sebagai apresiasi terhadap sebuah brand kuliner yang mendapatkan pengakuan dalam MFC Award 2026. Kedua, dan mungkin lebih penting, sebagai cerita tentang bagaimana UMKM lokal Sulawesi Selatan dapat bertumbuh.

Dari dapur sederhana menjadi bisnis, dari bisnis menjadi organisasi, dari organisasi menjadi jaringan, dan dari jaringan menuju sistem pelayanan yang semakin berbasis teknologi.

Itulah perjalanan yang patut dicatat.

Satu hal yang sudah jelas: Seruni telah menunjukkan bahwa sebuah UMKM lokal tidak harus berhenti menjadi usaha kecil. Dari Rp1 juta dan dapur sederhana, sebuah brand dapat belajar membangun kepercayaan, membangun manusia, membangun pelayanan, membangun jaringan—dan pada akhirnya membangun sebuah sistem bisnis.

Bagi Sulawesi Selatan, mungkin inilah cerita yang jauh lebih penting daripada sekadar sebuah penghargaan. Bahwa brand lokal pun bisa tumbuh, berjaringan, dan bermimpi menjadi besar tanpa harus kehilangan akar tempat ia dilahirkan.

___
Penulis adalah Pembina UMKM Kerjasama dengan Teto-Taiwan (2017-2022), Doktor Adminsitrasi Pelayanan Publik dan saat ini sebagai Direktur LP2M Bhakti Nusantara