Kolaborasi LPPM Unhas – TN Taka Bonerate Jadikan Pulau Jinato sebagai Spot Konservasi dan Wisata

  • Whatsapp
AnggotaTim PPMU Unhas untuk Pulau Jinato di Selayar (dok: Pelakita.ID)

PELAKITA.ID — Dari Kota Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar, cerita tentang konservasi membawa kita ke sebuah wilayah yang jauh di selatan Sulawesi Selatan.

Di sana, di antara gugusan pulau dalam kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, sebuah program pengabdian Universitas Hasanuddin mendorong kembali perhatian pada kekayaan ekosistem pesisir dan laut sekaligus kehidupan masyarakat kepulauan.

Program tersebut merupakan salah satu dari 43 kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dipamerkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin di Kota Benteng.

Salah satu kegiatan tersebut digagas oleh dosen Fakultas Kehutanan Unhas Dr. Asrianny, S.Hut. M.Si yang didukung oleh LPPM Universitas Hasanuddin dengan fokus pada upaya konservasi di Pulau Jinato, salah satu pulau dalam kawasan Taman Nasional Taka Bonerate.

Perjalanan menuju lokasi pengabdian bukan perkara sederhana. Jarak dan karakter geografis kepulauan membuat akses menuju wilayah tersebut cukup menantang. Namun, bagi tim pengabdian, perjalanan panjang tersebut justru mempertemukan mereka dengan pengalaman yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.

Mereka menemukan sebuah lanskap pesisir dan laut yang masih menyimpan kekayaan ekologis luar biasa.

Karang Atol dan Penyu yang Kembali Nyaman

Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika tim menyaksikan langsung keberadaan penyu di perairan sekitar kawasan tersebut.

“Dalam satu kesempatan, lebih dari 10 ekor penyu berukuran besar terlihat berenang di hadapan mereka. Yang menarik, satwa tersebut tampak tidak terganggu oleh kehadiran manusia,” ungkap Asriyanni.

Bagi tim pengabdian, pemandangan tersebut bukan sekadar pengalaman menarik selama berada di lapangan. Kehadiran penyu dalam jumlah tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kawasan perairan masih menyediakan ruang yang relatif aman dan nyaman bagi satwa laut.

Ketersediaan sumber makanan juga menjadi bagian penting. Hamparan lamun yang berkembang di kawasan tersebut menyediakan habitat sekaligus sumber makanan bagi penyu.

“Dulu katanya belum ada lamun. Lamunnya kemudian ada sendiri,” demikian cerita yang disampaikan dalam perbincangan tersebut.

Kembalinya lamun dan hadirnya penyu menunjukkan bahwa ekosistem pesisir memiliki kemampuan untuk memulihkan dirinya ketika tekanan terhadap lingkungan dapat dikurangi dan kondisi ekologis kembali mendukung.

Bagi tim, pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang ingin mereka promosikan lebih luas: bahwa konservasi bukan hanya tentang larangan atau pembatasan, tetapi juga tentang menciptakan kondisi agar ekosistem dapat kembali sehat dan satwa liar dapat hidup dengan aman.

Atol Besar dan Laut yang Menjadi Rumah

Kawasan Taka Bonerate sendiri dikenal memiliki bentang alam laut yang luar biasa. Ekosistem terumbu karang dan atol menjadi bagian penting dari identitas kawasan kepulauan tersebut.

Di tengah bentang laut yang luas, masyarakat hidup berdampingan dengan ekosistem pesisir. Laut menjadi ruang kehidupan, sumber pangan, sekaligus bagian dari identitas sosial dan ekonomi mereka.

Karena itu, konservasi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat.

Tim pengabdian melihat bahwa masyarakat di kawasan tersebut menjalani kehidupan dengan berbagai keterbatasan.

Akses yang tidak selalu mudah, jarak dari pusat pemerintahan, serta ketergantungan terhadap sumber daya pesisir membuat kehidupan masyarakat membutuhkan kemampuan adaptasi yang tinggi. Keterbatasan tersebut tidak menghilangkan keramahan mereka.

Masyarakat menerima kedatangan tim dengan hangat. Interaksi yang awalnya berlangsung sebagai hubungan antara pengabdi dan masyarakat kemudian berkembang menjadi kedekatan yang lebih personal.

“Serasa langsung merasa keluarga,” demikian kesan yang muncul dari pengalaman tim selama berada di lokasi.

Bagi mereka, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari pengabdian. Konservasi tidak hanya berbicara tentang terumbu karang, lamun, penyu, atau ekosistem laut, tetapi juga tentang manusia yang hidup di dalam dan di sekitar ekosistem tersebut.

Dari Konservasi Menuju Ekonomi Alternatif

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pengembangan konservasi adalah bagaimana masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi tanpa harus meningkatkan tekanan terhadap sumber daya alam. Karena itu, pengembangan usaha alternatif menjadi bagian penting dalam cerita konservasi di kawasan tersebut.

Masyarakat mulai mengembangkan berbagai aktivitas ekonomi yang dapat mendukung kehidupan mereka. Upaya semacam ini penting karena keberhasilan konservasi pada akhirnya juga bergantung pada kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya secara berkelanjutan.

Konservasi akan lebih kuat ketika masyarakat melihat bahwa menjaga lingkungan juga memberikan manfaat bagi kehidupan mereka.

Dalam konteks tersebut, keberadaan penyu, lamun, terumbu karang, dan keindahan kawasan bukan hanya menjadi aset ekologis. Semuanya juga dapat menjadi modal bagi pengembangan wisata berbasis alam, pendidikan lingkungan, penelitian, dan ekonomi lokal, sepanjang dilakukan dengan prinsip keberlanjutan.

Masyarakat sebagai Bagian dari Konservasi

Pesan penting dari kegiatan pengabdian Dr, Asrianny dan rekan di Pulau Jinato adalah bahwa masyarakat tidak seharusnya ditempatkan hanya sebagai objek konservasi. Masyarakat justru merupakan bagian penting dari sistem pengelolaan kawasan.

Mereka memiliki pengetahuan lokal, pengalaman hidup bersama laut, dan pemahaman tentang perubahan lingkungan yang berlangsung dari waktu ke waktu.

Ketika pengetahuan tersebut bertemu dengan ilmu pengetahuan dari perguruan tinggi, pengelolaan kawasan dapat memperoleh perspektif yang lebih lengkap.

Pendekatan pengabdian Unhas diarahkan bukan sekadar memperkenalkan konsep konservasi, tetapi membangun kerja bersama dengan masyarakat.

Perguruan tinggi membawa riset dan pengetahuan. Masyarakat membawa pengalaman dan pengetahuan lokal. Pemerintah menyediakan kebijakan dan dukungan. Sementara kawasan konservasi menyediakan ruang ekologis yang harus dijaga bersama.

Slow Living di Pulau

Di luar persoalan konservasi, ada satu pengalaman lain yang melekat dari perjalanan ke kawasan tersebut: suasana kehidupan masyarakat yang terasa sangat berbeda dengan kehidupan perkotaan. Di tengah keterbatasan akses, masyarakat menjalani kehidupan dengan ritme yang lebih lambat. Tidak terburu-buru, dekat dengan alam, dan sangat bergantung pada kondisi laut.

Sebuah bentuk slow living yang lahir bukan karena tren gaya hidup, tetapi karena karakter geografis dan budaya masyarakat kepulauan.

Menariknya, akses menuju kawasan tersebut kini juga semakin terbuka. Tersedia sejumlah pilihan transportasi laut dengan jadwal yang dapat dipantau melalui informasi resmi.

Artinya, keterisolasian yang dahulu menjadi tantangan perlahan mulai berubah. Tantangannya kemudian adalah bagaimana keterbukaan akses tersebut dapat dikelola agar membawa manfaat ekonomi tanpa mengorbankan ekosistem dan karakter sosial masyarakat.

Pengalaman di Jinato memperlihatkan bahwa konservasi yang berhasil bukan semata-mata tentang berapa banyak kawasan yang ditetapkan atau berapa banyak aturan yang dibuat.

Konservasi membutuhkan masyarakat yang merasa aman, memiliki alternatif penghidupan, memahami nilai sumber daya alam, dan memperoleh manfaat dari lingkungan yang mereka jaga.

Di sisi lain, perguruan tinggi memiliki peran penting untuk memastikan bahwa pengetahuan dan inovasi terus hadir di tengah proses tersebut.

Kegiatan pengabdian LPPM Unhas di Selayar menjadi salah satu contoh bagaimana kampus dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat kepulauan. Bukan hanya membawa program, tetapi juga belajar dari masyarakat dan ekosistem yang mereka rawat.

Redaksi