Cumi dan Teri untuk Masa Depan Anak di Selayar, Inovasi Pangan Lokal Dukungan LPPM Unhas Bersambut Pemdes Bontosunggu

  • Whatsapp
Melalui pendampingan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Hasanuddin, dua komoditas laut tersebut mulai dikembangkan menjadi inovasi pangan lokal untuk mendukung pemenuhan gizi dan membantu pencegahan serta penanganan stunting.

Melalui pendampingan yang dilakukan tim Unhas, bahan-bahan lokal tersebut diolah dan diperkenalkan sebagai bagian dari Program Pemberian Makanan Tambahan atau PMT. Kegiatan pendampingan secara langsung melibatkan kader-kader di tingkat desa, terutama kader Posyandu yang selama ini menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan dan pemantauan tumbuh kembang anak.

PELAKITA.ID — Cumi dan ikan teri yang selama ini melimpah di Desa Bontosunggu, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar, kini tidak lagi sekadar menjadi hasil tangkapan yang dijual atau dikonsumsi dalam bentuk sederhana.

Melalui pendampingan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Hasanuddin, dua komoditas laut tersebut mulai dikembangkan menjadi inovasi pangan lokal untuk mendukung pemenuhan gizi dan membantu pencegahan serta penanganan stunting.

Program tersebut dilaksanakan oleh tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Hasanuddin yang salah satunya dipimpin drg. Nursyamsi.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memanfaatkan potensi pangan lokal yang tersedia di desa sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengolahnya menjadi makanan tambahan yang bernilai gizi,” kata pria yang akrab Anci itu.

Kepala Desa Bontosunggu, menyampaikan rasa syukur.

“Alhamdulillah, dengan kegiatan ini kami bisa melihat bagaimana memanfaatkan bahan lokal yang melimpah di Desa Bontosunggu, yaitu cumi dan teri, yang selama ini masyarakat masih bingung mengolahnya menjadi salah satu makanan tambahan untuk anak-anak,” ujar Kepala Desa Bontosunggu Andi Patmahwati, S.E.

Pangan Lokal untuk Gizi Anak

Menurut Patmah, pemanfaatan sumber daya lokal menjadi salah satu kekuatan utama program tersebut. Cumi dan ikan teri yang mudah ditemukan di kawasan pesisir Selayar memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk pangan bergizi bagi anak-anak.

Melalui pendampingan yang dilakukan tim Unhas, bahan-bahan lokal tersebut diolah dan diperkenalkan sebagai bagian dari Program Pemberian Makanan Tambahan atau PMT.

“Kegiatan pendampingan secara langsung melibatkan kader-kader di tingkat desa, terutama kader Posyandu yang selama ini menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan dan pemantauan tumbuh kembang anak,” ujarnya.

Kader tidak hanya diperkenalkan dengan produk pangan yang dikembangkan, tetapi juga didampingi dalam proses pengolahan dan pemanfaatannya. Dengan demikian, inovasi yang diperkenalkan tidak berhenti pada satu kegiatan, melainkan diharapkan dapat dikelola dan diteruskan oleh masyarakat.

Bagi Desa Bontosunggu, program tersebut juga memberi inspirasi untuk semakin memanfaatkan potensi pangan yang tersedia di wilayahnya sendiri.

Didukung Anggaran Desa

Menariknya, keberlanjutan program mulai mendapatkan dukungan dari pemerintah desa. Pemanfaatan pangan lokal untuk PMT akan diintegrasikan dengan program yang didukung melalui anggaran desa.

Untuk tahun 2026, kata Patmahwati, Pemerintah Desa Bontosunggu telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp7.000 per sasaran untuk mendukung pemberian makanan tambahan.

Sasaran program diperkirakan mencapai sekitar 144 orang, dengan jumlah yang dapat berubah sesuai kebutuhan dan data sasaran di lapangan.

Pemerintah desa juga berencana meningkatkan dukungan anggaran pada tahun berikutnya menjadi sekitar Rp8.000 per orang. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa inovasi pangan yang diperkenalkan melalui kegiatan pengabdian mulai menemukan peluang untuk berlanjut melalui dukungan kebijakan dan pembiayaan di tingkat desa.

“Untuk tahun depan akan kita tingkatkan anggarannya,” kata Kades Patmahwati.

Menurut drg Nursyamsi, program inovasi pangan lokal di Desa Bontosunggu bukanlah kegiatan yang berlangsung dalam waktu singkat.

“Pendampingan mulai dilakukan sejak sekitar Mei–Juni 2026, sebelum Iduladha, dan telah berlangsung selama kurang lebih tiga bulan,” kata dia.

Selama masa tersebut, tim Unhas melakukan pendampingan terhadap kader serta masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaan program. Proses itu menjadi penting untuk memastikan inovasi yang dikembangkan dapat benar-benar dipahami dan diterapkan oleh masyarakat.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa juga menjadi salah satu kunci keberhasilan program. Universitas menyediakan dukungan keilmuan dan pendampingan, sementara pemerintah desa memiliki peran penting untuk memastikan keberlanjutan program setelah pendampingan dari kampus selesai.

Menurut drg Anci, keberlanjutan menjadi perhatian penting dalam pelaksanaan program. Jika memperoleh dukungan pendanaan, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti setelah program pengabdian selesai.

Tim Unhas berencana melanjutkan pendampingan melalui konsep desa binaan, sehingga Desa Bontosunggu dapat terus mendapatkan dukungan pengembangan dari perguruan tinggi.

“Kalau didukung pendanaan, insyaallah kami akan lanjutkan menjadi desa binaan,” ujar drg. Anci Nur Samsi.

Melalui skema tersebut, pendampingan dapat terus dilakukan kepada kader-kader Posyandu, pengurus PKK, dan unsur masyarakat lainnya.

Pengembangan program tidak hanya diarahkan pada penyediaan makanan tambahan bagi anak-anak, tetapi juga membuka peluang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi berbasis produk pangan lokal.

Kata Anci, jika produk olahan cumi dan teri dapat terus dikembangkan, bahan baku yang selama ini tersedia melimpah di Desa Bontosunggu dapat memiliki nilai tambah yang lebih besar.

“Masyarakat tidak hanya menjadi pengguna program, tetapi berpotensi terlibat dalam pengembangan produk, pengolahan bahan baku, hingga kegiatan usaha,” sebutnya.

Dari Pengabdian Menuju Perubahan

Kegiatan di Desa Bontosunggu sejalan dengan semangat yang berkembang di lingkungan Universitas Hasanuddin bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak boleh berhenti sebagai kegiatan yang ramai ketika dilaksanakan, kemudian selesai setelah laporan program dibuat.

Rektor Universitas Hasanuddin sebelumnya juga menekankan pentingnya memastikan program pengabdian dapat berkembang dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Inovasi sederhana yang berangkat dari cumi dan ikan teri pun kini membawa harapan yang lebih besar. Dari bahan pangan yang melimpah di sekitar masyarakat, lahir sebuah upaya untuk mendukung pemenuhan gizi anak, memperkuat kapasitas kader kesehatan, dan mendorong pemanfaatan sumber daya lokal.

Jika pendampingan terus berlanjut, Desa Bontosunggu berpeluang menjadi contoh bagaimana inovasi yang lahir melalui pengabdian perguruan tinggi tidak hanya berhenti sebagai sebuah kegiatan, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama masyarakat.

Redaksi