Mengapa Generasi Muda Perlu Lebih Peduli pada Realitas di Sekitarnya
- Lembaga kajian seperti Center of Economic and Law Studies (Celios), misalnya, turut mengangkat berbagai persoalan ekonomi-politik yang berkaitan dengan relasi tersebut.
- Perdebatan mengenai pusat dan daerah, termasuk sektor pertambangan, tidak cukup jika hanya dibangun dari asumsi, opini, atau perdebatan di ruang digital. Kita membutuhkan data lapangan yang kuat untuk mengetahui bagaimana kebijakan benar-benar bekerja dan bagaimana dampaknya dirasakan masyarakat.
PELAKITA.ID – Pagi 22 September 2026, sebelum penulis berangkat ke Desa Asuli, Towuti, sebuah perbincangan dengan antropolog Universitas Hasanuddin, Dr. Yahya Kadir, membawa percakapan ke sejumlah persoalan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh pertanyaan penting tentang bagaimana kita memahami perubahan di sekitar.
Dari harga kakao, kebijakan ekonomi, relasi pusat dan daerah, kondisi desa, hingga perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), percakapan itu bermuara pada satu hal: pentingnya data, informasi faktual, dan kepedulian generasi muda terhadap realitas yang hidup di sekelilingnya.
Kenaikan harga sebuah komoditas sering kali hanya berhenti sebagai informasi yang lewat di layar. Harga kakao naik, harga komoditas pertambangan berubah, kebijakan pemerintah berganti, lalu masyarakat kembali melanjutkan aktivitas sehari-hari.
Padahal, kata Yahya, di balik setiap perubahan harga dan kebijakan ekonomi terdapat rangkaian persoalan yang jauh lebih kompleks: bagaimana kebijakan dibuat, siapa yang mendapatkan manfaat, siapa yang menanggung dampaknya, dan bagaimana perubahan tersebut benar-benar dirasakan masyarakat pada tingkat paling bawah.
Dalam perbincangan itu, misalnya, muncul informasi bahwa harga kakao mengalami kenaikan hingga sekitar sepuluh kali lipat.
Angka tersebut tentu menarik perhatian, tetapi pertanyaan yang lebih penting justru terletak di balik angka tersebut.
“Mengapa harga itu meningkat sedemikian rupa? Faktor apa yang mendorongnya? Kebijakan apa yang memengaruhinya? Dan yang tidak kalah penting, apakah kenaikan harga tersebut benar-benar meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat yang berada di rantai produksi?” tanya Yahya.
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menunjukkan pentingnya membangun kesadaran informasi.
Masyarakat, kata dia, terutama kalangan akademisi dan generasi muda, tidak cukup hanya mengetahui bahwa harga sebuah komoditas sedang naik atau bahwa sebuah kebijakan baru telah diterbitkan. Mereka perlu memiliki rasa ingin tahu untuk memahami proses yang berada di balik sebuah informasi, membaca hubungan sebab-akibat, serta melihat bagaimana sebuah keputusan pada tingkat nasional dapat menghasilkan konsekuensi yang sangat konkret di desa.
Kesadaran tersebut menjadi semakin penting ketika pembahasan ekonomi dikaitkan dengan persoalan keadilan fiskal dan distribusi pendapatan antardaerah.
Banyak aktivitas ekonomi bertumpu pada sumber daya yang berada di daerah, tetapi penerimaan dan pengelolaannya berlangsung melalui mekanisme pemerintahan pada berbagai tingkatan.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana manfaat ekonomi dari aktivitas tersebut dapat didistribusikan secara adil, sehingga masyarakat di daerah yang menjadi lokasi aktivitas ekonomi juga memperoleh manfaat yang memadai.
Dalam konteks inilah perdebatan mengenai hubungan pusat dan daerah, pengelolaan sumber daya, hingga berbagai gagasan mengenai penguatan kewenangan daerah menjadi relevan.
Lembaga kajian seperti Center of Economic and Law Studies (Celios), misalnya, turut mengangkat berbagai persoalan ekonomi-politik yang berkaitan dengan relasi tersebut. Namun, perdebatan mengenai pusat dan daerah, termasuk sektor pertambangan, tidak cukup jika hanya dibangun dari asumsi, opini, atau perdebatan di ruang digital.
Kita membutuhkan data lapangan yang kuat untuk mengetahui bagaimana kebijakan benar-benar bekerja dan bagaimana dampaknya dirasakan masyarakat.
Di sinilah pekerjaan penelitian pada tingkat mikro menjadi penting sekaligus menantang.
Menggali persoalan di desa, berbicara dengan masyarakat, mendokumentasikan kondisi lapangan, mengumpulkan data, memeriksa informasi, kemudian mengolahnya menjadi sebuah penelitian membutuhkan waktu, tenaga, biaya, dan ketekunan.
“Tidak jarang pekerjaan seperti ini kurang mendapatkan perhatian dibandingkan aktivitas akademik yang hasilnya lebih mudah terlihat atau lebih cepat dipublikasikan,” ujar Yahya Kadir.
Padahal, tambahnya, data lapangan sering kali menjadi pintu masuk paling penting untuk memahami persoalan secara nyata.
Ambil contoh sederhana mengenai irigasi. Secara administratif, sebuah wilayah mungkin tercatat memiliki jaringan irigasi. Meski demikian, keberadaan infrastruktur di atas kertas tidak otomatis berarti bahwa infrastruktur tersebut berfungsi dengan baik.
Ketika saluran irigasi tidak mampu mengalirkan air secara optimal, petani atau masyarakat dapat dipaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk menggunakan pompa.
Persoalan yang tampak kecil ini sesungguhnya memperlihatkan bagaimana sebuah infrastruktur yang tidak berfungsi optimal dapat menciptakan beban ekonomi langsung bagi masyarakat.
“Tanpa data lapangan, persoalan semacam itu mudah luput dari perhatian. Sebaliknya, apabila kondisi tersebut didokumentasikan secara sistematis melalui penelitian, wawancara, pemetaan, foto, maupun data statistik, masyarakat memiliki bukti empiris untuk menjelaskan persoalannya,” terang Yahya.
Dikatakan, data kemudian tidak berhenti sebagai kumpulan angka, tetapi menjadi dasar untuk mengajukan pertanyaan, mengevaluasi kebijakan, menguji asumsi, dan mencari solusi yang lebih sesuai dengan kondisi lokal.
Karena itu, generasi muda memiliki posisi yang sangat penting. Mereka tidak harus selalu menunggu lembaga besar datang melakukan penelitian.
Pemuda, mahasiswa, dan akademisi di daerah dapat memulai dari lingkungan yang paling dekat dengan mereka: desa tempat tinggal, kecamatan, pasar lokal, kawasan pertanian, perkebunan, pertambangan, pesisir, maupun berbagai persoalan sosial yang selama ini dianggap terlalu biasa untuk diteliti.
Justru sesuatu yang dianggap biasa sering kali menyimpan informasi penting. Harga komoditas yang berubah, anak muda yang meninggalkan desa, saluran air yang tidak berfungsi, perubahan pola tanam, berkurangnya hasil kebun, perubahan mata pencaharian, atau transformasi ruang hidup masyarakat merupakan bagian dari perubahan sosial yang layak dicatat.
Apa yang hari ini tampak sebagai peristiwa kecil dapat menjadi data penting untuk memahami perubahan sebuah komunitas dalam jangka panjang.
Perkembangan kecerdasan buatan membuat kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan.
Penulis merespon dengan mengatakan, AI tidak bekerja dalam ruang kosong. Sistem AI dikembangkan dalam ekosistem pengetahuan yang sangat bergantung pada data, dokumen, tulisan, penelitian, dokumentasi, dan berbagai bentuk informasi yang tersedia secara digital.
“Semakin beragam dan berkualitas informasi yang tersedia, semakin luas pula kemungkinan sebuah realitas dikenali dalam ekosistem pengetahuan tersebut.”
Di sinilah muncul sebuah pertanyaan yang patut direnungkan: bagaimana jika sebuah daerah memiliki begitu banyak realitas dan pengetahuan, tetapi hampir tidak memiliki dokumentasi digital tentang dirinya?
Sebuah desa dapat memiliki sejarah, persoalan ekonomi, praktik pertanian, kebudayaan, potensi sumber daya, kondisi infrastruktur, pengalaman masyarakat, serta pengetahuan lokal yang sangat berharga. Namun, apabila seluruh pengetahuan tersebut hanya tersimpan dalam ingatan warga dan tidak pernah ditulis, direkam, dipetakan, atau didokumentasikan, informasi itu akan sulit ditemukan oleh orang di luar wilayah tersebut.
Dalam ekosistem digital yang semakin berkembang, ketiadaan dokumentasi bahkan dapat membuat sebuah wilayah seolah-olah tidak terlihat. Bukan karena daerah tersebut tidak memiliki cerita, bukan pula karena masyarakatnya tidak memiliki pengetahuan, melainkan karena pengetahuan tersebut belum memiliki jejak yang dapat ditemukan dan dipelajari secara lebih luas.
Karena itu, mendokumentasikan daerah sesungguhnya bukan sekadar aktivitas akademik. Menulis tentang desa sendiri, membuat penelitian sederhana, memetakan persoalan lokal, mendokumentasikan perubahan lingkungan, mengarsipkan sejarah lisan, atau mempublikasikan informasi yang telah diverifikasi merupakan bagian dari upaya membangun pengetahuan publik.
Bayangkan apabila generasi muda di setiap daerah melakukan pekerjaan tersebut secara konsisten.
Informasi mengenai sebuah desa seperti Desa Moncobalang di Gowa, misalnya, tidak lagi hanya menjadi pengetahuan warga setempat. Data mengenai kondisi ekonomi, infrastruktur, pertanian, sejarah, kebudayaan, lingkungan, dan persoalan sosialnya dapat menjadi sumber pengetahuan bagi peneliti, pemerintah, masyarakat, media, lembaga pendidikan, bahkan berbagai sistem teknologi yang memanfaatkan informasi digital.
Dalam konteks ini, tantangan generasi muda bukan hanya bagaimana menggunakan AI, tetapi juga bagaimana ikut menyediakan pengetahuan yang membuat ekosistem informasi digital menjadi lebih kaya, lebih beragam, dan lebih mampu merepresentasikan kenyataan berbagai daerah.
Ada paradoks yang menarik di sini. Kita sedang memasuki zaman ketika kemampuan mesin untuk mengolah informasi berkembang sangat cepat, sementara banyak pengetahuan lokal justru masih berada dalam bentuk yang rapuh: ingatan manusia, cerita dari mulut ke mulut, dokumen yang tersimpan di lemari, atau pengalaman orang-orang yang tidak pernah dituliskan.
Jika pengetahuan itu tidak segera didokumentasikan, sebagian darinya dapat hilang bersama waktu dan pergantian generasi.
Pembaca sekalian, persoalan ini kembali kepada cara kita memandang informasi.
Harga kakao yang melonjak bukan sekadar angka. Persoalan distribusi pendapatan bukan sekadar perdebatan antara pusat dan daerah. Irigasi yang tidak berfungsi bukan sekadar persoalan infrastruktur. Sebuah desa bukan sekadar titik kecil di atas peta.
“Di balik semuanya terdapat kehidupan manusia dan realitas sosial yang hanya dapat dipahami dengan lebih baik apabila kita bersedia melihat, bertanya, mencatat, memeriksa, dan mengolah informasi secara serius,” ujar Yahya.
Dia menegaskan, generasi muda perlu bergerak dari sekadar menjadi konsumen informasi menjadi bagian dari produsen pengetahuan.
Daripada seluruh energi terserap untuk scrolling media sosial dan mengikuti arus informasi yang terus bergerak, sebagian perhatian dapat dialihkan untuk mengamati lingkungan, berbicara dengan masyarakat, melakukan riset kecil, menulis, memotret, memetakan, dan mendokumentasikan apa yang berlangsung di sekitar.
Pekerjaan tersebut tidak selalu membutuhkan proyek besar atau anggaran yang besar.
Kadang-kadang ia dapat dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana: berapa harga kakao di desa kita hari ini, bagaimana perubahan harga itu memengaruhi petani, dari mana air irigasi berasal, mengapa sebuah fasilitas tidak berfungsi, berapa banyak anak muda yang meninggalkan desa, atau bagaimana sebuah kawasan berubah dalam sepuluh tahun terakhir.
Pertanyaan sederhana dapat menjadi awal dari data. Data dapat menjadi penelitian. Penelitian dapat menjadi pengetahuan, pengetahuan yang terdokumentasi dapat menjadi dasar bagi masyarakat untuk memahami dirinya sendiri serta berpartisipasi lebih baik dalam menentukan masa depannya.
Penulis setuju pandangan Yahya bahwa apa yang tidak kita dokumentasikan berisiko hilang dari percakapan publik.
Sebaliknya, data yang dikumpulkan dengan serius dapat menjadi dasar untuk memahami masalah, memperbaiki kebijakan, memperkuat posisi masyarakat, dan memastikan bahwa pengalaman warga di daerah tidak tenggelam dalam derasnya arus informasi digital.
Jadi, di era AI, membuat sebuah daerah dikenal bukan hanya dengan membicarakannya, tetapi dengan memastikan bahwa realitas daerah tersebut memiliki jejak pengetahuan yang dapat ditemukan, dipelajari, diperiksa, dan digunakan.
Pekerjaan itu dapat dimulai dari hal yang paling dekat: mengenali, meneliti, dan menuliskan tempat kita sendiri.
____
Sorowako,22 September 2026









