Kabar dari Rapat Kerja IKA FIKP Unhas, Mencari Arah untuk Organisasi Alumni yang Tampil Beda

  • Whatsapp

PELAKITA.ID – Ketua Panitia Rapat Kerja IKA FIKP Unhas, Muhammad Yusran Nurdin Massa menyebut ada jeda panjang sebelum rapat kerja itu benar-benar terjadi di Hotel Aston, Sabtu, April 2026.

Hal tersebut kemudian dielaborasi oleh Ketua IKA FIKP Unhas Muhammad Ilyas saat mengantar proses ekspose rencana kerja pengurus IKA FIKP Unhas.

Menurut Ilyas, bukan karena tak ingin bergerak, tetapi karena kehidupan para alumninya memang tersebar di banyak peran—di kampus, di birokrasi, di lapangan, di laut, bahkan di ruang-ruang sunyi pengambilan keputusan.

Ketika akhirnya Pengurus IKA FIKP Unhas berkumpul dalam satu forum, suasananya bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan pertemuan banyak kepentingan yang mencoba disatukan dalam satu arah.

Rapat kerja ini, kata Iltas, harus mampu melahirkan kerangka program yang realistis—bukan sekadar daftar keinginan, tetapi sesuatu yang benar-benar bisa didorong hingga akhir periode kepengurusan.

Di titik itu, rapat tidak lagi tentang gagasan besar, tetapi tentang kemampuan memilih mana yang mungkin dijalankan.

Ketika giliran Ketua IKA FIKP Unhas berbicara, arah pembicaraan mulai mengerucut. Ia tidak menutupi kenyataan bahwa organisasi alumni kerap terjebak dalam idealisme yang sulit dieksekusi.

Di hadapan para pengurus, Ilyas mengingatkan dua hal penting: kontribusi terhadap fakultas dan tanggung jawab terhadap alumni itu sendiri. Baginya, IKA bukan sekadar ruang nostalgia, tetapi harus menjadi jembatan—antara kampus dan dunia kerja, antara ilmu dan kebutuhan nyata.

Ia mengutip pesan Rektor yang singgah sebelumnya: kualitas fakultas perlu didorong, dan alumni memiliki peran strategis dalam kebangkitan itu.

Bukan hanya dalam bentuk dukungan simbolik, tetapi dalam tindakan nyata—membuka akses kerja, membimbing mahasiswa, hingga membangun kebanggaan kolektif sebagai lulusan FIKP. Tanpa itu, kata dia, alumni hanya akan menjadi nama, bukan kekuatan.

Nada bicaranya kemudian bergeser, lebih reflektif. Ia menyinggung citra lama yang melekat pada mahasiswa—tentang konflik dan rivalitas yang tak produktif.

Di sinilah, menurutnya, peran alumni menjadi penting: mentransformasi cara berpikir generasi muda agar lebih unggul dalam ilmu, bukan dalam konflik. Sebuah pergeseran nilai yang tidak mudah, tetapi harus dimulai dari mereka yang sudah lebih dulu “selesai” di bangku kuliah.

Ia juga menekankan pentingnya hal-hal yang sering dianggap kecil, tetapi berdampak nyata.

Program magang yang serius, misalnya—bukan sekadar formalitas empat bulan, tetapi ruang belajar yang memberi keterampilan. Ia bahkan mengingatkan: jangan biarkan mahasiswa hanya datang untuk “fotokopi”.

Mereka harus pulang dengan kemampuan baru, bahkan jika memungkinkan, menjadikan pengalaman magang sebagai dasar tugas akhir.

Dari situ, arah rapat menjadi semakin praktis. Ketua IKA mulai mendorong setiap bidang untuk tidak muluk-muluk.

Satu program konkret yang berjalan, katanya, lebih berarti daripada sepuluh rencana yang tidak pernah terealisasi. Bahkan ia membuka ruang untuk ide-ide berbasis bisnis—mengelola tambak, membuka unit usaha, hingga menciptakan lapangan kerja bagi alumni sendiri. Namun ia juga sadar, semua itu kembali pada satu pertanyaan sederhana: apakah alumni siap terjun?

Pandangan Ketua Dewan Pakar

Setelah pengantar itu, suara lain muncul dari Ketua Dewan Pakar, Dr Rijal Idrus.

Jika ketua IKA berbicara tentang realitas, Dewan Pakar justru mengajak berpikir melampaui rutinitas. Ia menegaskan bahwa peran dewan pakar bukan mengurus hal teknis, tetapi memastikan arah organisasi tetap visioner.

Ia menyebut istilah yang jarang muncul dalam forum seperti ini: blue sky thinking. Sebuah cara berpikir yang tidak dibatasi oleh kondisi hari ini, tetapi berani membayangkan kemungkinan masa depan.

Baginya, IKA tidak boleh hanya menjadi “pemadam kebakaran” yang sibuk merespons masalah, tetapi harus mampu merancang masa depan sektor kelautan dan perikanan itu sendiri.

Namun ia juga realistis. Tanpa aktivitas yang hidup, tanpa dinamika di dalam organisasi, dewan pakar tidak akan punya peran. Konflik, dalam batas tertentu, bahkan dianggap sebagai tanda organisasi berjalan. Karena dari situlah gagasan diuji dan keputusan dipertajam.

Setelah dua pengantar itu, rapat memasuki inti: pemaparan program kerja dari masing-masing bidang. Waktu yang tersisa hanya sekitar satu jam, membuat diskusi harus berjalan cepat, bahkan cenderung padat.

Paparan bidang-bidang

Bidang Komunikasi dan Informasi menjadi yang pertama. Fokus mereka – sebagaimana disampaikan oleh Muhammad Zamrud, sederhana namun mendasar: membangun sistem informasi yang rapi.

Database alumni, pengelolaan website, hingga media sosial menjadi prioritas. Mereka menyadari satu hal penting—tanpa data, organisasi hanya bergerak dalam gelap. Bahkan program magang yang sudah berjalan pun dianggap perlu didokumentasikan dengan baik agar tidak hilang sebagai pengalaman sesaat.

Dari sana, pembicaraan bergeser ke bidang pengembangan ekonomi masyarakat pesisir. Di sini, diskusi menjadi lebih tajam. Mereka mengusulkan pembangunan database usaha di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil sebagai dasar intervensi ekonomi. Tanpa data, kata mereka, kebijakan akan selalu meleset.

Targetnya ambisius—menciptakan ribuan wirausaha muda dari kalangan alumni dalam lima tahun. Sebuah target yang terdengar berani, tetapi sekaligus menunjukkan arah: alumni tidak hanya bekerja, tetapi juga menciptakan kerja.

Bidang pengelolaan sumber daya pesisir mengambil pendekatan berbeda.

Mereka menekankan pentingnya kemitraan—antara pemerintah daerah, kampus, dan masyarakat. Bukan sekadar proyek, tetapi forum yang mampu melahirkan rekomendasi kebijakan. Di sini, IKA diposisikan sebagai jembatan pengetahuan, bukan pelaksana langsung.

Sementara itu, bidang riset dan IPTEK mencoba menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan lapangan.

Gagasan seperti penyediaan cold chain di pulau-pulau kecil hingga penerapan teknologi budidaya adaptif menjadi bagian dari diskusi. Mereka melihat potensi besar jika riset tidak berhenti di jurnal, tetapi benar-benar diterapkan.

Yang menarik, bidang pengabdian masyarakat justru membuka ruang refleksi.

Alih-alih memaparkan program yang rinci, mereka mengakui perlunya integrasi lintas bidang. Bahwa pengabdian tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus menjadi kelanjutan dari riset, kebijakan, dan aktivitas ekonomi. Sebuah pengakuan bahwa kerja sosial membutuhkan orkestrasi, bukan sekadar aksi sporadis.

Di luar forum formal itu, suara lain datang dari praktisi dan pemerintah. Ada tawaran konkret: peluang kerja sama, pengelolaan pelabuhan, hingga pengembangan kawasan konservasi. Pesannya jelas—peluang selalu ada, tetapi harus dijemput dengan gagasan yang matang.

Rapat kerja itu akhirnya tidak menghasilkan sesuatu yang spektakuler. Tidak ada keputusan besar yang langsung mengubah arah. Tetapi di sanalah nilainya: sebuah proses menemukan titik temu antara idealisme dan kenyataan.

IKA FIKP Unhas, dalam rapat itu, sedang belajar menjadi organisasi yang lebih jujur pada dirinya sendiri. Bahwa kekuatan mereka bukan pada jumlah program, tetapi pada kemampuan menjalankan yang sederhana dengan konsisten.

Dan mungkin, dari situlah perubahan besar justru dimulai.

___
Editor Denun