PELAKITA.ID – Di pesisir Teluk Bone, Sulawesi Selatan, berdiri sebuah komunitas yang selama berabad-abad membangun hidupnya bukan di atas tanah, melainkan di atas air.
Di Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, laut bukan sekadar ruang ekonomi atau jalur transportasi. Laut adalah rumah, identitas, sejarah, dan cara pandang hidup masyarakat Suku Bajo.
Penulis beberapa kali berkunjung ke kawasan ini, terakhir dua tahun lalu.
Jadi begini.
Bagi sebagian besar manusia modern, daratan identik dengan kepastian dan stabilitas. Namun bagi Suku Bajo, justru lautlah yang memberi rasa aman.
Mereka tumbuh bersama ombak, membaca arah angin seperti orang lain membaca jalan raya, dan memahami pasang surut sebagai bagian dari ritme kehidupan sehari-hari.
Hubungan mereka dengan laut begitu intim hingga banyak orang Bajo merasa asing ketika terlalu lama tinggal di daratan.
Di Bajoe, identitas sebagai “manusia laut” masih terasa kuat meski zaman terus berubah.

Asal-usul yang Diselimuti Legenda
Jejak sejarah Suku Bajo tidak pernah benar-benar tunggal. Mereka hadir dalam banyak cerita, mitologi, dan ingatan kolektif yang tersebar di kawasan Asia Tenggara maritim.
Di Filipina Selatan, kelompok ini dikenal sebagai bangsa Sama atau Samal yang berasal dari Kepulauan Sulu. Dalam sejumlah kisah lisan, mereka dipercaya sebagai keturunan makhluk langit yang turun ke bumi dan kemudian hidup mengembara di laut.
Sementara dalam tradisi Melayu, terdapat legenda tentang putri Sultan Johor yang hilang diterjang badai ketika mandi di laut saat bulan purnama.
Para pengawalnya yang gagal menemukan sang putri memilih terus berlayar dan tak pernah kembali ke daratan. Dari para pelaut inilah dipercaya lahir komunitas pengembara laut yang kini dikenal sebagai Suku Bajo.
Di Sulawesi Selatan, kisahnya lebih kosmologis. Dalam tradisi Luwu, disebutkan bahwa nenek moyang Bajo berasal dari peristiwa tumbangnya pohon raksasa Wellenrengnge di pegunungan Mangkutu. Pohon itu ditebang untuk membangun armada Sawerigading. Ketika tumbang, pohon tersebut menghanyutkan “bibit kehidupan” ke laut dan melahirkan manusia-manusia yang kemudian hidup di atas rakit dan perahu.
Meskipun berbeda-beda, seluruh narasi itu memiliki benang merah: laut adalah takdir yang diwariskan.
Secara etimologis, istilah “Bajo” juga menyimpan makna mendalam. Dalam bahasa Melayu, Bajo berarti orang yang suka merantau atau berkelana. Sedangkan dalam bahasa Bugis, istilah itu diyakini berasal dari kata tabbajo-bajo, yang berarti bayangan atau sosok samar dari kejauhan—gambaran tentang para pelaut yang tampak muncul dan menghilang di cakrawala laut.
Dunia yang Terbagi Dua: Sama dan Bagai
Suku Bajo memiliki cara unik dalam memandang dunia sosial. Mereka menyebut diri mereka sebagai Sama, yang berarti sesama atau setara. Sebutan ini menegaskan solidaritas internal sebagai bangsa laut.
Sebaliknya, masyarakat daratan disebut Bagai—orang luar atau orang asing.
Pembagian ini bukan sekadar istilah sosial, melainkan refleksi cara hidup yang berbeda. Orang Bajo tumbuh dengan orientasi maritim yang sangat kuat. Laut bukan hanya tempat mencari ikan, tetapi ruang hidup yang sakral.
Bagi sebagian masyarakat Bajo tradisional, bekerja di sawah atau berkebun bukan pilihan yang ideal. Mereka merasa hidup di daratan berarti terputus dari identitasnya sendiri. Filosofi ini sering dianalogikan seperti ikan atau kura-kura yang dilempar ke daratan: kehilangan ruang hidup alaminya.
Karena itu, meski banyak komunitas Bajo kini mulai menetap di pesisir dan membangun rumah permanen, ikatan psikologis mereka terhadap laut tetap tidak berubah.
Bajoe: Kampung Laut di Pesisir Bone
Desa Bajoe bukan sekadar kawasan permukiman pesisir. Ia adalah simpul sejarah penting bagi perjalanan masyarakat Bajo di Sulawesi Selatan.
Dari wilayah ini, aktivitas pelayaran dan perdagangan berkembang sejak masa lampau. Letaknya yang menghadap langsung ke Teluk Bone membuat Bajoe menjadi gerbang strategis yang menghubungkan Bone dengan berbagai kawasan pesisir lainnya di Nusantara.
Rumah-rumah panggung berdiri rapat di atas pesisir. Di sela-selanya, perahu-perahu kayu bersandar menunggu waktu melaut. Aktivitas warga sangat dipengaruhi cuaca dan musim.
Ketika angin baik, laut menjadi ruang kerja. Ketika ombak besar datang, masyarakat memperbaiki jaring, mesin perahu, atau berkumpul dalam aktivitas adat.
Di tempat seperti inilah identitas Bajo diwariskan lintas generasi.
Ula-Ula: Simbol Martabat di Atas Gelombang
Salah satu simbol budaya paling penting dalam masyarakat Bajo adalah bendera Ula-ula. Kisah ini atau terkait hal ini, penulis dengar pertama kali saat datang ke Pulau Rajuni tahun 1995. Lalu tinggal di sana selama beberapa tahun. Banyak cerita di balik pengalaman ini.
Ula-ula itu adalah seperti bendera. Bendera ini berbentuk umbul-umbul panjang yang dikibarkan pada acara penting seperti pernikahan, khitanan, ritual adat, hingga pelayaran jauh. Namun Ula-ula bukan sekadar ornamen budaya. Ia adalah simbol martabat, identitas, dan legitimasi adat.
Secara visual, Ula-ula memiliki bentuk unik: terdapat kepala manusia berambut panjang dengan tubuh menyerupai perpaduan ular dan duyung. Simbol ini mencerminkan kelincahan dan kemampuan hidup di air.
Warna bendera juga memiliki makna sosial. Kombinasi merah dan putih digunakan oleh kalangan bangsawan atau Lolo Bajo, sedangkan masyarakat umum menggunakan perpaduan merah, putih, dan kuning.
Di sejumlah komunitas, keberadaan Ula-ula menjadi penanda bahwa wilayah tersebut memiliki otoritas adat yang masih hidup dan dihormati.
Punggawa dan Sawi: Loyalitas di Laut
Kehidupan ekonomi masyarakat Bajo dibangun di atas hubungan sosial yang kuat antara Punggawa dan Sawi.
Punggawa (di Bajoe disebut punggawe) adalah pemilik modal atau pemilik perahu yang menyediakan perlengkapan melaut. Sementara Sawi adalah awak atau nelayan yang bekerja bersama mereka.
Hubungan ini tidak sekadar hubungan kerja biasa, tetapi juga hubungan perlindungan sosial.
Di tengah kerasnya kehidupan laut, loyalitas menjadi nilai penting. Tidak ada kontrak tertulis yang rumit. Yang mengikat adalah kepercayaan, komitmen, dan solidaritas.
Menariknya, masyarakat Bajo dikenal sangat mencintai kebebasan, tetapi pada saat yang sama tetap menjaga struktur sosial tradisional. Paradoks ini justru menjadi kekuatan mereka dalam bertahan menghadapi ketidakpastian hidup di laut.
Garda Laut Kerajaan Bone
Dalam sejarah Kerajaan Bone, masyarakat Bajo memiliki posisi penting sebagai penjaga wilayah maritim.
Sejak masa pemerintahan Raja Bone pertama, Manurungnge ri Matajang, masyarakat Bajo disebut sebagai bagian dari kekuatan angkatan laut kerajaan. Mereka dipercaya menjaga jalur laut dan melindungi wilayah Bone dari ancaman luar.
Peran ini menunjukkan bahwa Suku Bajo bukan kelompok marginal tanpa status politik. Mereka justru menjadi bagian strategis dalam struktur kekuasaan maritim di Sulawesi Selatan.
Antropolog Francois Zacot mencatat bentuk loyalitas unik masyarakat Bajo terhadap Kerajaan Bone. Pada masa lalu, mereka pernah menolak membayar pajak kepada pemerintah lokal karena merasa pajak itu hanya pantas diserahkan langsung kepada Raja Bone sebagai simbol kesetiaan.
Loyalitas semacam ini memperlihatkan bahwa hubungan masyarakat Bajo dengan Bone bukan sekadar administratif, melainkan emosional dan historis.
Modernitas dan Ancaman yang Datang Perlahan
Hari ini, masyarakat Bajo menghadapi perubahan besar.
Modernisasi pesisir, eksploitasi sumber daya laut, perubahan iklim, hingga abrasi pantai mulai memengaruhi ruang hidup mereka. Banyak anak muda Bajo kini bersekolah, bekerja di kota, atau beralih profesi. Sebagian mulai meninggalkan tradisi pelayaran panjang yang dahulu menjadi identitas utama komunitas.
Di sisi lain, laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan juga menghadapi tekanan serius: penangkapan ikan berlebih, pencemaran, dan kerusakan ekosistem pesisir.
Ironisnya, komunitas yang selama ratusan tahun hidup harmonis dengan laut justru menjadi kelompok paling rentan ketika laut mengalami krisis.
Meski demikian, masyarakat Bajo di Bajoe tetap mempertahankan nilai-nilai penting warisan leluhur: solidaritas, keberanian, kemampuan membaca alam, dan penghormatan terhadap laut sebagai ruang hidup bersama.
Laut sebagai Rumah dan Filosofi Hidup
Suku Bajo mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak selalu harus dibangun melalui dominasi. Mereka hidup bukan untuk menaklukkan laut, melainkan menyesuaikan diri dengannya.
Di tengah dunia modern yang semakin dipenuhi batas-batas administratif dan orientasi kepemilikan tanah, masyarakat Bajo menunjukkan cara hidup berbeda: rumah tidak selalu berarti bangunan permanen di daratan. Rumah bisa berupa perahu yang bergerak mengikuti arus dan musim.
Laut, bagi mereka, bukan ruang kosong. Laut adalah halaman depan, jalan raya, ruang sosial, sekaligus warisan leluhur.
Di Bajoe, Bone, warisan itu masih hidup—meski perlahan diuji oleh zaman.









