- Hingga kini PAIR telah melibatkan 19 universitas dari Indonesia dan Australia yang bekerja lintas disiplin ilmu untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan di enam provinsi di Sulawesi.
- Model tersebut sebagai salah satu bentuk kolaborasi riset paling komprehensif di kawasan Asia-Pasifik karena didukung langsung oleh Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) serta Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama LPDP.
PELAKITA.ID – MAKASSAR – Hubungan Indonesia dan Australia tidak cukup dibangun melalui perjanjian diplomatik ataupun kerja sama ekonomi semata. Kemitraan sejati, menurut Direktur Australia-Indonesia Centre (AIC), Boyd Whalan, lahir ketika kedua negara bekerja bersama menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Pesan itu menjadi benang merah sambutan Whalan pada pembukaan PAIR (Partnership for Australia–Indonesia Research) Annual Meeting 2026 di Universitas Hasanuddin, Makassar, Selasa (21/7).
Di hadapan ratusan peneliti, akademisi, pemerintah, mitra industri, dan organisasi masyarakat sipil dari Indonesia dan Australia, ia menegaskan bahwa penelitian hanya akan bermakna jika mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan.
“Hubungan bilateral menjadi nyata ketika dua negara menyelesaikan persoalan bersama di tempat masyarakat hidup,” ujarnya.
Membangun Riset dari Kebutuhan Lapangan
Whalan menjelaskan, PAIR bukan sekadar program pendanaan penelitian internasional. Sejak awal, penelitian dirancang melalui dialog dengan pemerintah daerah, kementerian, dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga komunitas lokal yang nantinya akan menggunakan hasil penelitian tersebut.
Pendekatan itu membuat pertanyaan penelitian lahir dari persoalan nyata, bukan semata-mata dari kepentingan akademik.
“Agenda riset disusun bersama dengan para pengguna hasil penelitian. Itulah yang membuat penelitian memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan dampak,” katanya.
Menurut Whalan, hingga kini PAIR telah melibatkan 19 universitas dari Indonesia dan Australia yang bekerja lintas disiplin ilmu untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan di enam provinsi di Sulawesi.
Ia menyebut model tersebut sebagai salah satu bentuk kolaborasi riset paling komprehensif di kawasan Asia-Pasifik karena didukung langsung oleh Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) serta Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama LPDP.
Dari Bukti Ilmiah Menjadi Kebijakan dan Investasi
Salah satu contoh keberhasilan yang disoroti Whalan adalah riset mengenai industri rumput laut di Sulawesi.
Sejak 2019, Australia-Indonesia Centre telah mendukung sedikitnya 13 proyek penelitian yang membahas berbagai aspek pengembangan rumput laut, mulai dari rantai pasok, sistem harga, pemetaan lokasi budidaya berbasis satelit, hingga peningkatan nilai tambah produk.
Namun, menurutnya, keberhasilan terbesar bukanlah jumlah proyek yang dihasilkan, melainkan bagaimana temuan ilmiah tersebut digunakan dalam penyusunan kebijakan publik.
Hasil penelitian PAIR, kata Whalan, telah menjadi bagian dari penyusunan Peta Jalan Industri Rumput Laut Sulawesi Selatan, masuk ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, serta mulai diterapkan dalam praktik bisnis melalui kolaborasi dengan perusahaan Indonesia dan Australia.
Bahkan, ketika Bappenas membahas pembentukan Seaweed Innovation Cluster dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), hasil penelitian PAIR menjadi salah satu rujukan penting.
“Tujuh tahun kerja yang konsisten telah menunjukkan bagaimana bukti ilmiah dapat berkembang menjadi kebijakan, kemudian menarik investasi dan menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Kolaborasi untuk Menjawab Tantangan Baru
Keberhasilan di sektor rumput laut kini menjadi model bagi berbagai tema penelitian lain yang sedang dikembangkan PAIR.
Program tersebut antara lain mendorong penelitian mengenai fasilitas kesehatan rendah emisi karbon di wilayah pesisir, penguatan sistem kesehatan menghadapi perubahan iklim, perlindungan sosial bagi masyarakat rentan, hingga peningkatan ketahanan tenaga kesehatan di daerah terpencil.
Menurut Whalan, seluruh proyek tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan hasil penelitian mampu menjadi dasar pengambilan keputusan pemerintah sekaligus memperkuat kualitas hidup masyarakat.
Investasi Terbesar Ada pada Peneliti Muda
Di balik berbagai capaian penelitian, Whalan menilai keberhasilan paling penting dari PAIR justru terletak pada proses membangun generasi baru ilmuwan Indonesia dan Australia.
Ia mengapresiasi para peneliti senior yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga membimbing peneliti muda untuk bekerja lintas disiplin ilmu, lintas budaya, bahkan lintas bahasa.
“Boleh jadi hasil penelitian ini akan memberikan manfaat selama bertahun-tahun. Namun para peneliti muda yang sedang kita siapkan hari ini akan memberikan kontribusi selama puluhan tahun ke depan,” katanya.
Menurutnya, para ilmuwan muda tersebut merupakan aset terpenting dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Australia di masa depan.
Ruang Dialog, Bukan Sekadar Konferensi
Whalan mengingatkan bahwa PAIR Annual Meeting bukan forum seremonial untuk memamerkan capaian penelitian. Sebaliknya, pertemuan ini dirancang sebagai ruang kerja bersama tempat peneliti mempresentasikan temuan awal, menerima kritik, memperoleh masukan dari pemerintah dan dunia usaha, serta menyempurnakan arah penelitian pada tahun berikutnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh peserta memanfaatkan forum tersebut untuk berdiskusi secara terbuka, menguji gagasan secara kritis, sekaligus membangun jejaring kolaborasi yang berkelanjutan.
“Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit, berikan masukan yang jujur, dan bangun hubungan yang akan terus berlanjut setelah konferensi ini berakhir,” pesannya.
Sains sebagai Jembatan Persahabatan
Menutup sambutannya, Whalan menyampaikan refleksi mengenai makna kemitraan Indonesia-Australia.
Baginya, diplomasi bukan hanya berlangsung di ruang perundingan atau melalui penandatanganan perjanjian antarnegara. Diplomasi yang paling bermakna justru terjadi ketika peneliti, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat bekerja bersama mencari solusi atas persoalan yang mereka hadapi.
Di Sulawesi, katanya, kemitraan itu telah tumbuh melalui penelitian tentang pesisir, perubahan iklim, energi bersih, kesehatan masyarakat, dan ekonomi biru.
“Dua negara tidak hanya berbagi pengetahuan, tetapi juga membangun masa depan bersama. Di sinilah hubungan Indonesia dan Australia menemukan maknanya yang paling nyata.”
___
Editor K. Azis









