PELAKITA.ID – MAKASSAR — Hari ini ada postingan Uceng, alumni SMA Negeri I Makassar dan UGM yang kini tenar dengan nama lengkap Prof. Zainal Arifin Mochtar, S.H, LL.M. Dia menuliskan di akun media sosilanya tentang kunjungan Anies Baswedan ke rumah orang tuanya di Jalan Belibis, Makassar.
Dalam unggahan di media sosialnya, Zainal menyampaikan terima kasih kepada Anies karena telah datang dan menemui sang ibu. Ia mengatakan ibunya merasa sangat senang dengan kunjungan tersebut.
“Mas Anies Rasyid Baswedan, terima kasih sudah datang ke rumah di Makassar dan bersilaturahmi dengan ibu saya,” tulis Zainal dalam unggahannya.
Bagi Zainal, pertemuan itu bukan sekadar kunjungan seorang tokoh kepada sebuah keluarga. Ada lapisan emosional yang jauh lebih personal. Ia menyebut ibunya sebagai “surga” dalam hidupnya.
“Beliau senang sekali. Kami sekeluarga juga terima kasih,” tulisnya.
Kemudian kalimatnya berubah menjadi lebih intim. “Mas, beliau adalah ‘surga’ saya. Njenengan bertemu ibu, sudah bikin saya kangen pada ibu.” Di situlah sebuah kunjungan singkat memperoleh makna yang berbeda.
Anies datang sebagai tamu. Tetapi perjumpaan dengan seorang ibu ternyata memantulkan kembali ingatan seorang anak kepada sosok yang paling dekat dengan kehidupannya sendiri.

Ada sesuatu yang universal dalam kalimat Zainal itu: ibu sering kali bukan sekadar seseorang dalam struktur keluarga. Ia adalah rumah dalam pengertian yang paling sederhana sekaligus paling dalam. Bertemu seorang ibu dapat membuat seseorang tiba-tiba mengingat ibunya sendiri, bahkan ketika jarak dan waktu telah memisahkan.
Tetapi Jalan Belibis dan keluarga Mochtar bukan hanya tentang satu pertemuan sore itu.
Di balik rumah tempat Zainal menerima Anies, ada keluarga yang anggotanya menempuh jalan masing-masing dengan bidang pengabdian yang beragam. Nama-nama mereka tersebar di ruang akademik, kesehatan, kelautan, politik, hingga kehidupan profesional di luar negeri.
Ada Zulficar Mochtar, misalnya. Namanya dikenal luas di dunia kelautan dan perikanan Indonesia. Ia pernah menjadi aktivis lingkungan dan Koordinator Destructive Fishing Watch Indonesia sebelum kemudian berkiprah di Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Pada era Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Zulficar dipercaya memimpin sejumlah posisi strategis, termasuk sebagai Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia KKP sebelum dilantik sebagai Direktur Jenderal Perikanan Tangkap pada 2018.
Jalur itu menarik karena membawa seorang aktivis masyarakat sipil ke dalam lingkar birokrasi pengelolaan sumber daya laut. Sebelum masuk pemerintahan, Zulficar dikenal melalui kerja-kerjanya pada isu kelautan, perikanan dan keberlanjutan sumber daya pesisir.
Di keluarga yang sama, ada pula dr. Iqbal Mochtar yang disebut bekerja sebagai dokter di Qatar. Ada Zulkifli Mochtar yang kini tinggal di Jepang. Ada pula dr. Salwa Mochtar, yang menempuh jalur profesi kedokteran sekaligus aktif dalam politik melalui Partai Golkar di Sulawesi Selatan.
Nama Salwa tercatat sebagai kader Golkar dan pernah menduduki posisi kepengurusan di tingkat provinsi. Dalam daftar calon anggota DPRD Sulawesi Selatan 2024, misalnya, nama Dr. Salwa Mochtar, M.Kes., tercantum sebagai calon dari Partai Golkar untuk daerah pemilihan Sulawesi Selatan 3.
Kiprahnya di Golkar juga pernah diberitakan sebagai bagian dari kepengurusan perempuan partai di Sulawesi Selatan. Sumber lokal menyebut Salwa merupakan putri almarhum Dr. KH. Mochtar Husein, yang pernah menjadi anggota DPRD Sulawesi Selatan dan dosen di IAIN Alauddin.

Dengan demikian, keluarga ini seperti sebuah simpul kecil yang mempertemukan banyak dunia: ilmu hukum dan tata negara yang dijalani Zainal, kelautan dan kebijakan publik melalui Zulficar, kedokteran melalui Iqbal dan Salwa, serta pengalaman hidup lintas negara melalui anggota keluarga yang memilih bermukim dan bekerja di luar Indonesia.
Namun menariknya, kisah keluarga itu tidak berhenti pada jabatan dan profesi. Unggahan Zainal tentang kedatangan Anies justru mengembalikan semuanya kepada seorang ibu.
Seorang profesor hukum tata negara, seorang mantan pejabat negara, seorang dokter, dan anggota keluarga yang hidup di negeri-negeri jauh pada akhirnya memiliki satu titik temu yang sama: rumah dan ibu.
Ketika Anies datang ke Jalan Belibis, Makassar, yang menarik bukan semata-mata siapa yang ditemuinya.
Ia menemui seorang ibu, ibu yang bagi Uceng, anak Mattoanging – mattoa’ anging, pertemuan itu menghadirkan kembali kerinduan kepada ibunya sendiri. Anies datang sebagai tamu. Sang ibu menerima sebagai tuan rumah.
Uceng, sosok yang jadi idola netizen dan publik NKRI kekinian karena kerap menyuarakan keadilan dan literasi hukum dan demokarasi, menyaksikan keduanya bertemu, lalu menemukan kembali rasa rindu yang selama ini tersimpan di dalam dirinya.
“Banyak berkah buat rajin silaturahmi,” tulis Zainal.
Dari Jalan Belibis Makassar, di sebelah Lapangan Mattoangin yang fenomenal dan kini benam ke bumi itu, ia terdengar seperti pesan yang lebih panjang tentang keluarga, pertemanan, dan bagaimana sebuah kunjungan dapat membuat seseorang kembali mengingat rumah.
___
Penulis Kamaruddin Azis









