‘Gelem Iwake Emoh Kuline’, Mau Ikannya, tetapi Enggan Buruhnya

  • Whatsapp
Illustration by Gemini

PELAKITA.ID – JAKARTA — Gelem Iwake Emoh Kuline. Dalam bahasa Jawa, ungkapan ini kira-kira bermakna, mau ikannya, tetapi enggan buruhnya.

Itu adalah sebuah ungkapan yang sederhana, tetapi menggambarkan paradoks dalam industri perikanan tangkap: komoditas laut diburu, diproses, dan dipasarkan hingga ke pasar global, sementara orang-orang yang bekerja di balik hasil tangkapan tersebut masih berhadapan dengan persoalan kerja yang kompleks.

Paradoks itu menjadi perhatian dalam riset etnografi kolaboratif yang dilakukan DFW Indonesia.

Penelitian tersebut menelusuri dinamika rezim perburuhan dalam industri perikanan tangkap industrial di Indonesia, termasuk bagaimana Awak Kapal Perikanan (AKP) bekerja dalam sistem produksi yang berlangsung di atas kapal—sebuah ruang kerja yang dalam banyak hal berfungsi layaknya “pabrik terapung.”

Di ruang yang jauh dari daratan itu, buruh perikanan bekerja dalam struktur hubungan kerja yang tidak sederhana. Menurut temuan riset DFW Indonesia, kontrol terhadap tenaga kerja berlangsung melalui mekanisme yang bersifat paternalistik, sementara kesadaran buruh juga dikondisikan agar tetap sejalan dengan kepentingan produksi dan ekstraksi nilai dari sumber daya laut.

Persoalan tersebut semakin terlihat dalam sistem pengupahan. Riset ini mencatat adanya pola upah harian tetap maupun sistem bagi hasil atau bagen yang dalam praktiknya dapat berada di bawah standar upah minimum.

Upah yang relatif rendah kemudian menciptakan dorongan bagi buruh untuk terus menambah jam kerja.

Dalam temuan penelitian tersebut, muncul mekanisme yang disebut sebagai “manufacturing consent”, ketika pekerja pada akhirnya terdorong untuk menerima dan bahkan memperpanjang eksploitasi atas tubuh mereka sendiri demi memenuhi kebutuhan pendapatan.

Salah satu bentuknya adalah pekerjaan tambahan melalui aktivitas memancing secara mandiri. Buruh dapat menghabiskan waktu hingga sekitar 10 jam kerja ekstra dalam sehari untuk memperoleh tambahan penghasilan.

Dengan demikian, laut tidak hanya menjadi ruang produksi ikan, tetapi juga ruang tempat tubuh buruh terus bekerja. Waktu istirahat, pemulihan tenaga, dan kesehatan menjadi bagian dari persoalan yang tidak dapat dipisahkan dari sistem kerja tersebut.

Riset DFW Indonesia juga menyoroti bagaimana reproduksi sosial buruh belum memperoleh perhatian yang memadai. Ruang istirahat yang sempit dan pengap, fasilitas sanitasi yang terbatas, serta kondisi kerja yang berat menjadi bagian dari keseharian awak kapal.

Beban untuk memulihkan stamina dan menanggung risiko kesehatan, dalam kondisi demikian, pada akhirnya banyak dikembalikan kepada buruh sendiri. Bahkan, persoalan tersebut dapat berlanjut hingga ke keluarga ketika kondisi kesehatan pekerja terganggu atau tubuhnya tidak lagi mampu menopang beban kerja.

Di balik sistem tersebut terdapat pula aktor dan mekanisme yang bekerja secara lebih senyap. Rantai percaloan, hubungan antara buruh dan pemilik atau pengelola kapal, hingga berbagai bentuk ketergantungan ekonomi menjadi bagian dari apa yang dalam penelitian ini disebut sebagai “infrastruktur senyap” yang menopang keberlangsungan industri perikanan tangkap.

Karena itu, persoalan buruh perikanan tidak cukup dilihat semata-mata dari besarnya hasil tangkapan atau nilai ekonomi komoditas perikanan. Di balik tuna dan cakalang yang bergerak dari laut Indonesia menuju rantai pasar global, terdapat relasi kerja, tubuh manusia, waktu, dan risiko yang ikut membentuk nilai komoditas tersebut.

Informasi seminar hasil penelitian

Temuan-temuan tersebut akan dibahas lebih jauh dalam Seminar Hasil Penelitian dan Soft Launching Buku “Gelem Iwake Emoh Kuline: Dinamika Rezim Perburuhan dalam Kapal-kapal Perikanan Tangkap Industrial di Indonesia.”

Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan Pameran Visual “Rezim Kerja di Perikanan Tangkap”, yang menghadirkan perspektif visual mengenai kehidupan dan rezim kerja di sektor perikanan tangkap industrial.

Seminar dan pameran dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 23 September 2026, di Auditorium Juwono Sudarsono, Gedung F Lantai 2, FISIP Universitas Indonesia, Kampus Depok, Jawa Barat.

Seminar berlangsung pukul 08.30–12.00 WIB, sedangkan pameran visual dibuka mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Bagi peserta yang tidak dapat hadir langsung, seminar juga tersedia secara daring melalui Zoom dan kanal YouTube DFW-I.

Forum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk membongkar lebih jauh bagaimana rezim perburuhan bekerja dalam industri perikanan tangkap, siapa saja aktor yang menopangnya, serta bagaimana rantai kerja dan ekonomi tersebut berdampak pada kehidupan awak kapal dan keluarganya.

Pembicaraan mengenai industri perikanan bukan hanya tentang berapa banyak ikan yang dapat ditangkap dan berapa besar nilainya di pasar.

Ia juga menyangkut pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang bekerja untuk menghadirkan ikan itu ke pasar, dalam kondisi seperti apa mereka bekerja, dan sejauh mana kerja tersebut dihargai secara adil?

Gelem Iwake Emoh Kuline menjadi pengingat bahwa keberhasilan industri perikanan tidak semestinya hanya diukur dari ikan yang sampai ke pasar, tetapi juga dari bagaimana manusia yang bekerja di baliknya diperlakukan.

Mari hadir, berdiskusi, dan berjejaring untuk mendorong perlindungan serta keadilan yang lebih nyata bagi buruh perikanan.