Banyak tambak dibangun bukan untuk produksi, melainkan sebagai cara mengklaim lahan. Dampaknya, produktivitas sangat rendah—bahkan hanya berkisar 15–50 kg per 10 hektare per tahun. Ini bukan sekadar masalah teknologi, tapi masalah cara kita memulai.
Dr. Tarunamulia, peneliti BRIN
PELAKITA.ID – Pendekatan pengelolaan tambak udang tidak lagi cukup jika hanya bertumpu pada peningkatan produksi.
Hal ini ditegaskan oleh Dr. Tarunamulia peneliti BRIN yang membagikan pengalaman panjangnya sejak 1999 dalam riset nasional hingga kolaborasi internasional bersama Australia dan Kanada.
Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis ekosistem—sebuah model yang tidak hanya memperhitungkan aspek teknis budidaya, tetapi juga realitas sosial dan lingkungan di lapangan.
Berau: Potret Awal Masalah Tambak di Indonesia
Pengalaman lapangan di Berau menjadi titik tolak refleksi. Kawasan ini menyimpan sekitar 15% dari total mangrove dunia yang ada di Indonesia—sebuah potensi ekologis dan ekonomi yang luar biasa, terutama dalam konteks karbon biru.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan paradoks. Sekitar 20% kawasan mangrove telah dikonversi menjadi tambak, sering kali tanpa perencanaan budidaya yang matang.
Banyak tambak dibangun bukan untuk produksi, melainkan sebagai cara mengklaim lahan. Dampaknya, produktivitas sangat rendah—bahkan hanya berkisar 15–50 kg per 10 hektare per tahun.
“Ini bukan sekadar masalah teknologi, tapi masalah cara kita memulai,” ungkap Tarunamulia.

Akar Persoalan: Konstruksi Tambak dan Tanah Sulfat Masam
Dari hasil identifikasi lapangan, terdapat dua faktor utama yang menjadi penghambat produktivitas:
- Konstruksi tambak yang tidak memadai, termasuk sistem pintu air yang buruk
- Tanah sulfat masam, yang ketika teroksidasi dapat menghasilkan pH ekstrem (bahkan mendekati pH air aki)
Kombinasi kedua faktor ini menciptakan lingkungan yang tidak layak bagi budidaya. Bahkan, kesalahan dasar dalam konstruksi disebut dapat menyumbang hingga 70% kegagalan produksi.
Solusi: Model Silvofishery Berbasis Ekosistem
Menjawab tantangan tersebut, Tarunamulia bersama tim mengembangkan model yang disebut silvofishery atau “silvo-aquaculture”—integrasi antara budidaya dan konservasi mangrove.
Dalam model ini:
- 80% lahan dikembalikan untuk restorasi mangrove
- 20% digunakan untuk budidaya intensif terbatas
- Sistem produksi didiversifikasi, tidak hanya bergantung pada udang
Pendekatan ini awalnya sulit diterima pembudidaya, karena mereka harus “kehilangan” sebagian lahan. Namun, melalui pendekatan ekonomi, mereka justru melihat peningkatan pendapatan.
Alih-alih hanya mengandalkan panen udang musiman, pembudidaya mendapatkan pemasukan rutin dari:
- Panen di saluran air (setiap 1–2 minggu)
- Budidaya bandeng
- Produksi benih (tokolan)
- Integrasi komoditas lain seperti kepiting
Hasilnya signifikan. Produksi yang semula sangat rendah meningkat drastis, bahkan dengan luasan budidaya yang lebih kecil.
Teknologi Sederhana, Dampak Besar
Menariknya, keberhasilan ini tidak bergantung pada teknologi canggih. Justru sebaliknya, fokus utama adalah pada perbaikan dasar:
- Remediasi tanah sulfat masam
- Pengapuran dengan dosis tepat
- Pemupukan berimbang (balanced fertilization)
- Penggunaan probiotik
Pendekatan ini menegaskan bahwa banyak persoalan tambak di Indonesia sebenarnya terletak pada “ilmu dasar” yang belum diterapkan secara konsisten.
Dari Teknologi ke Sosial: Kunci Partisipasi dan Inklusivitas
Dalam contoh lain di Jawa Barat, pendekatan berbasis ekosistem tidak hanya menyentuh aspek teknis, tetapi juga sosial. Sistem klaster tambak dibangun secara partisipatif, di mana masyarakat mengelola sumber daya bersama, terutama di saluran air yang menjadi sumber utama pendapatan.
Bahkan, sistem ini melibatkan seluruh elemen sosial—termasuk kelompok informal—dalam tata kelola berbasis insentif. Hasilnya, konflik berkurang dan sistem berjalan lebih stabil.
Di sinilah dua prinsip utama ditegaskan:
- Partisipatif
- Inklusif
Tanpa kedua aspek ini, pendekatan konservasi dan keberlanjutan sulit diimplementasikan.
Pelajaran Utama: Ekosistem dan Manusia Tidak Bisa Dipisahkan
Bagi Tarunamulia, keberhasilan pengelolaan tambak berbasis ekosistem tidak hanya ditentukan oleh desain teknis, tetapi oleh sejauh mana model tersebut mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Ia mengutip filosofi sederhana: pembangunan berkelanjutan hanya akan berhasil jika menempatkan manusia sebagai pusatnya.
“Konservasi tidak akan berjalan jika kebutuhan masyarakat diabaikan,” tegasnya.
Penutup: Jalan Tengah untuk Masa Depan Tambak Indonesia
Paparan ini menawarkan perspektif penting bagi masa depan tambak di Indonesia. Di tengah dorongan modernisasi dan teknologi tinggi, pendekatan berbasis ekosistem justru menghadirkan jalan tengah—menggabungkan produktivitas, keberlanjutan, dan kesejahteraan masyarakat.
Bukan soal memilih antara tradisional atau modern, tetapi bagaimana merancang sistem yang adaptif, kontekstual, dan berpijak pada realitas lapangan.
Dan dari lapangan itulah, solusi paling relevan justru lahir.
___
Editor Denun









