Profesor Irwandy Arif, Guru Besar Teknik Pertambangan ITB sekaligus Chairman Indonesia Mining Institute, menegaskan bahwa Mamuju menyimpan cadangan LTJ Primer.
PELAKITA.ID – Bayangkan sebuah dunia tanpa magnet super kuat yang mampu bertahan dalam panas ekstrem motor kendaraan listrik, atau tanpa sensor presisi yang memungkinkan miniaturisasi teknologi dalam genggaman kita.
Di balik kemegahan revolusi hijau dan perangkat pintar, terdapat pahlawan tak kasat mata bernama Logam Tanah Jarang (LTJ).
Selama ini, Indonesia sering dianggap sebagai raksasa nikel, namun dalam peta persaingan “mineral masa depan” global, kita masih dipandang sebelah mata.
Sebuah temuan di Mamuju, Sulawesi Barat, baru saja merobek narasi lama tersebut dan menempatkan Indonesia tepat di episentrum persaingan geopolitik mineral.
Dalam terminologi geologi ekonomi, ada perbedaan kasta yang sangat tajam antara mineral “ikutan” dan mineral “primer”.
Selama puluhan tahun, LTJ di Indonesia hanyalah sebuah kebetulan; ia ibarat sekeping koin yang Anda temukan secara tidak sengaja saat sedang menyapu lantai—sebuah produk sampingan dari pertambangan timah atau mineral lainnya. Namun, temuan di Mamuju adalah sebuah fenomena yang jauh berbeda.
Profesor Irwandy Arif, Guru Besar Teknik Pertambangan ITB sekaligus Chairman Indonesia Mining Institute, menegaskan bahwa Mamuju menyimpan cadangan LTJ Primer.
Menggunakan metafora industri, jika LTJ di tempat lain adalah “penumpang”, maka di Mamuju ia adalah “pemilik rumah”—sebuah brankas emas yang berdiri sendiri dan siap diekstraksi sebagai komoditas utama. Penemuan ini begitu signifikan hingga mampu mengguncang ekspektasi para pengambil kebijakan di Senayan.
“Saat saya ngomong dengan Bambang Patijaya (Ketua Komisi XII DPR), tadinya beliau bilang enggak ada [LTJ primer]; ternyata ada. Ini sudah menjadi perhatian Badan Industri Mineral dan tentunya nanti yang ditugaskan ke depannya adalah Perminas [Perusahaan Mineral Nasional],” ungkap Profesor Irwandy Arif dikutip dari Bloomberg News.
Mengapa penemuan di Mamuju dianggap sebagai pengubah permainan (game changer)? Jawabannya terletak pada kualitas yield atau imbal hasil logamnya.
Jika kita membandingkan data potensi LTJ di tiga provinsi utama, kita akan melihat disparitas yang mencolok yang menegaskan mengapa Sulawesi Barat adalah permata mahkota baru Indonesia.
| Peringkat | Provinsi | Sumber Daya (Ribu Ton Bijih) | Estimasi Logam (Ton) |
| 1 | Sulawesi Barat | 67.576 | 85.441 |
| 2 | Kepulauan Bangka Belitung | 59.807 | > 28.793 |
| 3 | Sumatra Utara | 1.502 | > 2,39 |
Perhatikan anomali yang luar biasa ini: Meskipun Bangka Belitung memiliki volume bijih yang besar, namun estimasi logam murninya jauh di bawah Sulawesi Barat.
Lebih ekstrem lagi, Sumatra Utara memiliki ribuan ton bijih namun hanya menghasilkan estimasi logam yang sangat tipis (2,39 ton).
Hal ini membuktikan bahwa Mamuju bukan sekadar soal kuantitas, melainkan kualitas konsentrasi mineral yang luar biasa tinggi—sebuah standar emas yang akan memangkas biaya operasional ekstraksi secara signifikan.

Komposisi Masa Depan: Dari Neodymium hingga Dysprosium
Nilai strategis Mamuju terkunci rapat dalam elemen-elemen spesifik yang ditemukan di sana. Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto, mengidentifikasi bahwa wilayah ini kaya akan NDPR (Neodymium-Praseodymium) serta elemen langka yang lebih berat seperti Terbium (Tb) dan Dysprosium (Dy).
Ini bukan sekadar nama-nama kimia yang rumit; ini adalah “krim” dari seluruh elemen tanah jarang.
Elemen-elemen ini adalah target utama untuk diolah menjadi mixed oxide. Inilah titik kemenangan strategis kita: dengan mengubah bijih mentah (ore) menjadi mixed oxide, Indonesia berhenti menjadi “eksportir tanah” dan naik kelas menjadi “pemroses kimia bernilai tinggi”. Inilah fondasi hilirisasi yang akan menggeser posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Ambisi besar ini tidak lagi dijalankan secara sporadis. Di bawah arsitektur ekonomi baru, proyek Mamuju menjadi simbol penerapan Kebijakan Satu Pintu melalui BPI Danantara—entitas Sovereign Wealth Fund atau Super Holding yang mengonsolidasikan kekuatan BUMN kita.
Melalui Badan Industri Mineral (BIM) dan koordinasi ketat dengan Kementerian ESDM, pemerintah tengah merancang operasional terpadu yang nantinya akan dipimpin oleh Perminas (Perusahaan Mineral Nasional).
Yang paling membanggakan adalah keterlibatan sektor akademis. Teknologi ekstraksi yang digunakan di Mamuju bukan merupakan lisensi impor mentah, melainkan hasil pengembangan dari laboratorium-laboratorium kampus di dalam negeri.
Langkah ini adalah upaya nyata untuk memutus ketergantungan teknologi pada pihak asing, mengingat saat ini China masih mendominasi sekitar 70% produksi LTJ dunia.
Dengan teknologi mandiri, kita tidak hanya menguasai hulu, tapi juga memegang kunci di hilir.
Indonesia dalam Geopolitik Hijau
Penemuan LTJ primer di Mamuju adalah lonceng pengingat bagi dunia bahwa Indonesia siap bertarung di level tertinggi. Kita tidak lagi hanya bicara tentang nikel untuk baterai, melainkan tentang kedaulatan elemen strategis yang menggerakkan seluruh ekosistem teknologi masa depan.
Transformasi dari bijih mineral menjadi mixed oxide di tangan Perminas adalah pernyataan tegas tentang harga diri ekonomi nasional.
Pembaca sekalian, sekarang bukan lagi tentang apakah kita memiliki hartanya, melainkan seberapa cepat kita mampu mengonversi keajaiban geologis di Mamuju ini menjadi daya tawar geopolitik yang disegani dunia.
Redaksi









