Di media sosial, seseorang dapat mengecam orang yang hampir tidak dikenalnya, menafsirkan pernyataan singkat tanpa konteks, atau membentuk penilaian menyeluruh tentang karakter seseorang hanya berdasarkan satu foto atau unggahan. Kecepatan komunikasi digital memperburuk keadaan ini. Kita bereaksi terlebih dahulu dan baru mencari tahu kemudian.
PELAKITA.ID – Setiap hari, media sosial memberi kita ribuan kesempatan untuk menilai orang lain. Seseorang melakukan kesalahan, seorang pejabat publik mengumumkan kebijakan, seorang kolega membagikan pencapaian, atau orang asing menyampaikan pendapat—dan hampir seketika kritik bermunculan.
Sebagian kritik memang diperlukan. Masyarakat yang sehat membutuhkan perbedaan pendapat, akuntabilitas, dan keberanian untuk mempertanyakan kekuasaan.
Semakin terlihat perbedaan antara berpikir kritis dan sinisme yang menjadi kebiasaan: yang pertama menguji gagasan, sementara yang kedua sering kali menyerang seseorang sebelum memahami fakta.
Masalahnya menjadi serius ketika kebiasaan menghakimi dan menyalahkan orang lain berubah menjadi perilaku sosial.
Di media sosial, seseorang dapat mengecam orang yang hampir tidak dikenalnya, menafsirkan pernyataan singkat tanpa konteks, atau membentuk penilaian menyeluruh tentang karakter seseorang hanya berdasarkan satu foto atau unggahan.
Kecepatan komunikasi digital memperburuk keadaan ini. Kita bereaksi terlebih dahulu dan baru mencari tahu kemudian.
Psikologi menawarkan beberapa penjelasan mengenai perilaku tersebut. Salah satunya adalah bias konfirmasi (confirmation bias)—kecenderungan kita untuk memperhatikan dan menafsirkan informasi dengan cara yang memperkuat apa yang sudah kita yakini.
Jika kita sudah tidak menyukai seorang politisi, lembaga, komunitas, atau figur publik, informasi yang sebenarnya ambigu dapat dengan mudah ditafsirkan sebagai bukti bahwa asumsi negatif kita memang benar. Kita tidak selalu sedang mencari kebenaran; terkadang kita hanya sedang mencari pembenaran.
Mekanisme lainnya adalah fundamental attribution error, yaitu kecenderungan manusia menjelaskan perilaku orang lain berdasarkan kepribadian mereka, sementara perilaku kita sendiri dijelaskan berdasarkan keadaan.
Ketika seseorang datang terlambat, kita mungkin menyebutnya tidak bertanggung jawab. Ketika kita sendiri terlambat, kita memiliki alasan yang masuk akal.
Di ruang digital, kecenderungan psikologis ini menjadi semakin mudah terjadi karena kita hanya melihat potongan-potongan kehidupan orang lain.
Ada pula fenomena deindividuasi. Di balik layar, jarak sosial dan anonimitas dapat mengurangi tekanan psikologis yang biasanya muncul dalam interaksi tatap muka.
Kita menjadi lebih mudah mengatakan sesuatu yang kejam kepada seseorang secara daring daripada mengatakannya ketika duduk berhadapan langsung. Layar menciptakan jarak, dan jarak dapat melemahkan empati.
Sosiologi membantu kita memahami mengapa perilaku ini tidak berhenti pada tingkat individu. Perspektif dramaturgis Erving Goffman mengingatkan bahwa kehidupan sosial melibatkan berbagai bentuk pertunjukan.
Media sosial telah menjadi panggung besar tempat orang membangun identitas dan mengelola kesan tentang dirinya.
Karena itu, mengkritik orang lain dapat menjadi bagian dari pertunjukan diri: Saya lebih pintar, lebih berpengetahuan, lebih bermoral, lebih berani daripada orang yang sedang saya kritik.
Teori perbandingan sosial (social comparison theory) menjadi relevan.
Bahwa manusia secara alami menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain. Namun, di ruang digital, perbandingan tersebut berlangsung terus-menerus.
Keberhasilan orang lain dapat membuat kita merasa kurang berhasil; kesalahan orang lain dapat membuat kita untuk sementara merasa lebih unggul. Kritik kemudian dapat menjadi jalan pintas psikologis untuk memulihkan kembali rasa status atau harga diri.
Algoritma media sosial dapat semakin memperkuat proses tersebut karena konten yang memancing emosi sering kali mendapatkan perhatian lebih besar.
Kemarahan, ejekan, kemarahan moral, dan konflik dapat menghasilkan lebih banyak reaksi dibandingkan penjelasan yang tenang. Akibatnya, individu dapat belajar—sering kali tanpa sadar—bahwa bersikap keras akan mendatangkan perhatian. Sinisme kemudian mendapatkan penghargaan sosial.
Ada dimensi sosiologis lainnya, yaitu polarisasi kelompok (group polarization).
Ketika orang berinteraksi terutama dengan mereka yang memiliki pandangan serupa, pendapat mereka dapat menjadi semakin ekstrem. Sebuah komunitas yang terus-menerus mengejek kelompok tertentu lama-kelamaan dapat menganggap penghinaan terhadap kelompok tersebut sebagai sesuatu yang normal. Apa yang awalnya merupakan kritik akhirnya berubah menjadi stereotip kolektif.
Hal ini penting karena komunitas tidak hanya dibangun melalui institusi formal.
Komunitas dibentuk melalui interaksi sehari-hari: percakapan di kedai kopi, rapat lingkungan, diskusi keluarga, tempat kerja, grup WhatsApp, dan linimasa media sosial. Ketika kecurigaan, ejekan, dan saling menyalahkan menjadi bentuk komunikasi yang biasa, semuanya perlahan merusak kepercayaan sosial.
Kepercayaan merupakan fondasi penting bagi kerja sama sosial. Masyarakat membutuhkan keyakinan bahwa orang lain dapat bertindak dengan niat baik meskipun mereka berbeda pendapat.
Tanpa kepercayaan, setiap perbedaan pendapat berubah menjadi konfrontasi. Setiap kesalahan menjadi bukti buruknya karakter seseorang. Setiap kebijakan menjadi kesempatan untuk mencurigai. Pada akhirnya, orang menjadi enggan berpartisipasi karena takut diejek atau diserang.
Hal ini khususnya berbahaya dalam komunitas lokal. Pembangunan membutuhkan partisipasi.
Warga perlu berbicara, mengusulkan gagasan, mencoba sesuatu, melakukan kesalahan, dan belajar. Jika setiap inisiatif langsung diserang, orang dapat memilih untuk diam.
Dengan demikian, sinisme dapat melahirkan sebuah paradoks: orang-orang yang terus-menerus mengkritik orang lain mungkin merasa sedang membela masyarakat, padahal tanpa disadari mereka justru melemahkan partisipasi yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Semua ini bukan berarti kritik harus dihilangkan.
Sebaliknya, masyarakat membutuhkan para pengkritik yang berani. Namun, kritik harus mampu membedakan antara meminta pertanggungjawaban dan mempermalukan seseorang; mempertanyakan gagasan dan menyerang pribadi; menuntut bukti dan menyebarkan kecurigaan.
Budaya publik yang matang bertanya: Apa yang sebenarnya terjadi? Bukti apa yang kita miliki? Konteks apa yang belum kita ketahui? Apa yang akan kita katakan jika orang tersebut berdiri di hadapan kita?
Itulah ujian paling sederhana bagi kewargaan digital. Sebelum menekan tombol “post”, kita perlu bertanya apakah kata-kata kita membantu orang memahami sebuah persoalan—atau sekadar membantu kita merasa lebih unggul daripada orang lain.
Masyarakat tidak menjadi lebih kuat karena semua orang sepakat. Masyarakat menjadi lebih kuat ketika orang-orang mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan kemampuan untuk berempati, berpijak pada bukti, dan tetap menghormati satu sama lain.
___
Tamarunang, 8 Agustus 2026









