PELAKITA.ID – MAKASSAR — Kepergian Asrun Tukan meninggalkan duka bagi orang-orang yang pernah mengenal dan berjalan bersamanya. Bagi Muhammad Ridha, yang akrab disapa Didot, Asrun—yang biasa dipanggil Accunk—adalah seorang kawan yang telah dikenalnya sejak masa SMA.
Meski ketika berada di kampus keduanya tidak terlalu banyak berinteraksi, hubungan pertemanan itu tetap terjaga. Ada kesan yang melekat dalam ingatan Didot tentang sosok Asrun: pribadi yang sopan, suka menolong, dan memiliki cara sendiri dalam menjalani hidup.
“Saya kenal Accunk sejak SMA. Di kampus tidak begitu banyak berinteraksi, tapi saling kenal,” kenang Didot.
Dalam ingatannya, Asrun memiliki pembawaan yang cair dan tidak terlalu menyukai suasana formal. Namun, di balik sikapnya yang sederhana dan santai, tersimpan karakter yang menurut Didot sangat kuat.
“Anaknya sopan dan suka menolong,” ujarnya.
Didot juga mengenang Asrun sebagai sosok yang memiliki keteraturan ketika menyusun sesuatu. Baginya, karakter itu tidak hanya tampak dalam pergaulan, tetapi juga dalam berbagai hal yang dikerjakan Asrun dengan tangannya sendiri.
Salah satu yang paling diingat Didot adalah ketelitian Asrun dalam membuat kerajinan hand made, termasuk parang yang dikerjakannya sendiri.
“Kalau lihat buatannya, hand made, semua terukur, senior. Ini luar biasa kalau kita mengamati bagaimana cara kerja seseorang menyelesaikan sesuatu,” kata Didot.
Bagi Didot, hasil pekerjaan seseorang sering kali memperlihatkan bagaimana ia menghadapi persoalan. Dari apa yang dibuat Asrun, ia melihat ketekunan, ketelitian, dan kesungguhan untuk menghasilkan sesuatu sesuai dengan ukuran dan standar yang diyakininya.
“Kadang kita takjub dengan apa yang dihasilkan,” tuturnya.
Asrun, menurut Didot, juga termasuk orang yang sangat menjaga apa yang dikerjakannya. Ia tidak begitu mudah menyerahkan pekerjaan kepada orang lain karena meyakini bahwa hasil akhirnya akan berbeda jika dikerjakan oleh tangan yang berbeda.
Ada konsekuensi dari sikap tersebut. Sebuah pekerjaan mungkin membutuhkan waktu lebih panjang. Tetapi di situlah, bagi Didot, terlihat kesungguhan Asrun untuk menjaga kualitas dari sesuatu yang dibuatnya sendiri.
Kenangan itu kini menjadi lebih berarti karena orang yang selama ini dikenalnya telah berpulang.
Bagi Didot, mengenang Asrun bukan semata-mata mengingat aktivitas atau perjalanan yang pernah mereka lalui bersama. Lebih dari itu, ia mengenang seorang kawan dengan karakter yang sederhana: sopan, suka menolong, teratur ketika menyusun sesuatu, dan konsisten dengan apa yang diyakininya.
“Konsisten dengan apa yang diyakini,” ujar Didot.
Asrun juga menjadi bagian dari sebuah perjalanan yang lebih luas. Bersama sejumlah kawan lainnya, ia pernah ikut dalam perjalanan membesarkan Partai Demokrat di Sulawesi Selatan. Karena itu, Didot berharap mereka yang pernah berjalan bersama almarhum juga dapat menyampaikan kenangan dan kesaksian tentang sosok Asrun.
Bukan sekadar untuk mengingat perjalanan politiknya, tetapi untuk mengenang manusia di balik perjalanan tersebut—seorang sahabat, seorang kawan seperjalanan, dan seseorang yang pernah hadir serta memberi warna dalam kehidupan orang-orang di sekitarnya.
Kini, semua itu tinggal kenangan.
Bagi mereka yang pernah mengenal Asrun, mungkin ada banyak cerita yang belum sempat disampaikan, banyak percakapan yang masih tersimpan dalam ingatan, dan banyak kebaikan yang baru terasa nilainya ketika seseorang telah tiada.
Kepergian Asrun menjadi pengingat bahwa setiap perjumpaan pada akhirnya akan meninggalkan kenangan.
Bagi Didot, salah satu kenangan itu adalah tentang seorang kawan lama yang dikenalnya sejak SMA—seorang yang santun, suka menolong, tekun mengerjakan sesuatu dengan tangannya sendiri, dan berusaha konsisten dengan apa yang diyakininya.
Selamat jalan, Accunk.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan dan kenangan orang-orang yang pernah mengenalmu. Semoga segala kebaikan yang pernah engkau tinggalkan menjadi amal yang terus mengalir, dan semoga keluarga serta sahabat yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan.
Al-Fatihah.









