- Masih dalam bulan September 2026, Macklemore menjadi perhatian publik karena keterusterangannya dalam menyuarakan dukungan terhadap Palestina.
- Setelah menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah penampilan di MetLife Stadium, ia kemudian dikeluarkan dari tur stadion Amerika Serikat milik Ed Sheeran setelah sejumlah venue dilaporkan mengancam membatalkan pertunjukan apabila Macklemore tetap berada dalam daftar penampil.
- Muncul pertanyaan lebih besar tentang siapa yang mengendalikan ruang budaya. Kasus ini memperlihatkan bahwa pertunjukan musik bukan hanya hubungan antara artis dan penonton. Ada promotor, pemilik stadion, sponsor, kontrak, dan kepentingan komersial yang turut menentukan siapa yang dapat tampil.
PELAKITA.ID — Ada musisi yang hadir mencipta sensasi kebodohan, kebanalan, dan aneka gerakan selangkangan di atas panggung untuk menghibur, ada yang mengejar ketenaran, tetapi ada pula yang menemukan bahwa mikrofon di tangannya dapat menjadi ruang untuk berbicara tentang manusia dan kehidupan.
Macklemore adalah salah satunya. Nama panggung tersebut merupakan identitas dari Ben Haggerty, rapper, penulis lagu, dan performer asal Seattle, Washington, Amerika Serikat, yang lahir pada 19 Juni 1983.
Perjalanan musiknya telah dimulai sejak sekitar tahun 2000, jauh sebelum namanya dikenal sebagai bintang global. Ia membangun pendengar melalui skena hip-hop Seattle dan internet, menempuh jalan yang berbeda dari pola kemunculan musisi melalui mesin industri rekaman besar.
Jalan menuju popularitas Macklemore bukanlah kisah keberhasilan yang terjadi dalam semalam. Hampir satu dekade ia habiskan untuk menulis, merekam, dan tampil sebelum akhirnya musiknya ditemukan oleh khalayak arus utama.
Karya-karya awalnya antara lain Open Your Eyes pada 2000 dan The Language of My World pada 2005. Dalam perjalanan tersebut, ia juga menghadapi persoalan serius terkait penyalahgunaan zat dan menjalani rehabilitasi pada 2008.
Kemudian datanglah Ryan Lewis.
Pada awalnya, Lewis bekerja bersama Macklemore sebagai fotografer, sebelum berkembang menjadi produser sekaligus mitra kreatifnya. Kolaborasi keduanya kemudian tumbuh menjadi sebuah operasi musik independen yang menghasilkan album The Heist.
Kemandirian tersebut akhirnya menjadi bagian penting dari cerita mereka. Dua seniman dari Seattle memperlihatkan bahwa seorang musisi dapat membangun audiens dalam skala besar di luar jalur konvensional perusahaan rekaman besar.
Pada 2012, album The Heist mengubah perjalanan tersebut menjadi fenomena internasional. Album itu melahirkan lagu-lagu seperti “Thrift Shop,” “Can’t Hold Us,” dan “Same Love,” sekaligus membawa nama Macklemore dan Ryan Lewis menuju panggung musik dunia.
The Heist mencapai posisi nomor dua dalam Billboard 200, sementara “Thrift Shop” berkembang menjadi lagu nomor satu di berbagai negara dan menjadikan pasangan tersebut semakin dikenal secara global.
Namun, ada sesuatu yang menarik dari “Thrift Shop” selain keberhasilannya menembus pasar musik arus utama. Lagu tersebut sengaja mengambil arah yang berbeda dari gambaran umum kesuksesan dalam musik rap populer.
Alih-alih merayakan merek-merek mewah, mobil mahal, dan simbol kekayaan yang lazim dalam budaya hip-hop, Macklemore justru menggunakan humor untuk bercerita tentang membeli pakaian dari toko barang bekas.
Lagu tersebut kemudian menjadi sangat besar dan bertahan selama enam minggu di puncak Billboard Hot 100, sebuah pencapaian yang membantu menjadikan Macklemore dan Ryan Lewis sebagai bintang global.
Tetapi makna yang lebih dalam dari lagu tersebut berada pada wilayah budaya. “Thrift Shop” seperti menantang anggapan bahwa keberhasilan harus selalu ditampilkan melalui konsumsi barang mahal dan kemewahan yang mencolok.
Di balik humor dan iramanya, terdapat gagasan tentang individualitas dibandingkan konformitas. Seseorang tidak harus selalu mengikuti ukuran keberhasilan yang ditentukan oleh lingkungan sosial untuk merasa berhasil dalam kehidupannya.
Jika “Thrift Shop” membuat Macklemore terkenal, maka “Same Love” memberinya identitas lain yang jauh lebih dekat dengan percakapan sosial.
Dirilis pada 2012 bersama penyanyi Mary Lambert, “Same Love” membicarakan hak-hak LGBTQ+ dan memiliki hubungan erat dengan perdebatan mengenai pernikahan sesama jenis di Negara Bagian Washington.
Lagu tersebut kemudian diasosiasikan dengan gerakan yang memperjuangkan kesetaraan dalam pernikahan. Musik yang sebelumnya hanya didengar sebagai hiburan akhirnya menjadi bagian dari percakapan masyarakat mengenai hak, identitas, dan penerimaan.
Momen penting terjadi pada Grammy Awards 2014. Macklemore dan Ryan Lewis membawakan “Same Love” ketika 33 pasangan menikah di atas panggung, dengan Queen Latifah bertindak sebagai pemimpin seremoni dan Madonna turut bergabung dalam pertunjukan tersebut.
Peristiwa itu kemudian menjadi salah satu gambar paling dikenal dalam perjalanan karier Macklemore, memperlihatkan bagaimana sebuah lagu dapat keluar dari ruang hiburan dan masuk ke dalam peristiwa sosial yang lebih luas.
Pada Grammy Awards yang sama, Macklemore dan Ryan Lewis memenangkan empat penghargaan, termasuk Best New Artist, Best Rap Album untuk The Heist, Best Rap Performance untuk “Thrift Shop”, dan Best Rap Song.
Namun keberhasilan tersebut juga melahirkan kritik, terutama berkaitan dengan kategori rap di Grammy dan persepsi bahwa duo tersebut memperoleh penghargaan dibandingkan sejumlah artis lain pada masa itu.
Macklemore kemudian ikut masuk ke dalam percakapan tersebut, khususnya dalam kaitannya dengan Kendrick Lamar, yang albumnya good kid, m.A.A.d city dipandang luas sebagai salah satu karya penting dalam musik rap kontemporer.
Karena itu, warisan Macklemore tidak sepenuhnya merupakan kisah popularitas yang sederhana. Perjalanan kariernya juga menyentuh kontroversi mengenai penggunaan citra, aktivisme politik, representasi, ras, dan cara seorang seniman menggunakan ruang publiknya.
Ada sisi lain yang membuat perjalanan Macklemore terasa lebih manusiawi, yakni keterbukaannya mengenai kecanduan dan proses pemulihan yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya.
Pengalaman penyalahgunaan zat tidak berhenti sebagai catatan biografis. Pengalaman tersebut ikut membentuk penulisan lagu dan identitas publiknya, memberikan dimensi berbeda terhadap sosok musisi yang berada di tengah budaya populer.
Di satu sisi terdapat kesuksesan, sementara di sisi lain terdapat kecanduan dan pemulihan. Di antaranya hadir pula independensi, musik, serta komentar sosial yang membuat perjalanan Macklemore jauh lebih kompleks daripada sekadar daftar lagu populer.
Untuk memahami Macklemore, sulit memisahkannya dari Seattle. Kota tersebut berulang kali hadir dalam musik, citra, dan identitas publiknya, sekaligus menjadi bagian dari cerita mengenai bagaimana ia berkembang sebagai seniman.
Kemunculannya juga membantu membawa skena hip-hop Seattle menuju perhatian nasional dan internasional. Terobosan Macklemore dan Ryan Lewis bahkan disebut sebagai momentum penting bagi budaya hip-hop dan identitas kultural kota tersebut.
Karena itu, warisan Macklemore bukan hanya persoalan rekaman, tangga lagu, atau penghargaan. Ada pula persoalan tempat, sebab ia memperlihatkan bahwa seorang seniman dapat tetap berakar kuat pada ekosistem budaya lokal sembari mencapai kesuksesan global.
Dalam perjalanan itu, Macklemore dan Ryan Lewis memperlihatkan kemungkinan membangun audiens secara independen sebelum struktur industri musik tradisional sepenuhnya menerima mereka.
“Thrift Shop” kemudian menjadi contoh lain bagaimana musik rap arus utama dapat meraih kesuksesan global tanpa harus sepenuhnya bergantung pada mitologi kemewahan dan konsumsi sebagai simbol keberhasilan.
“Same Love” membawa percakapan mengenai kesetaraan LGBTQ+ ke ruang musik pop dan hip-hop arus utama, khususnya pada momentum penting dalam perdebatan sosial di Washington State.
Keterbukaan Macklemore mengenai kecanduan dan pemulihan juga memberikan dimensi personal terhadap sosok publiknya. Di balik panggung, penghargaan, dan sorotan media, terdapat pengalaman manusia yang tidak selalu mudah.
Semua itu membuat warisan Macklemore memiliki banyak lapisan: kewirausahaan independen, musik arus utama, keberanian menyampaikan persoalan sosial, kerentanan personal, identitas Seattle, dan kontroversi ruang publik.
Dikeluarkan dari rombongan Ed Sheeran
Bab baru dalam perjalanan tersebut muncul pada September 2026, ketika Macklemore kembali menjadi perhatian publik karena keterusterangannya dalam menyuarakan dukungan terhadap Palestina.
Setelah menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah penampilan di MetLife Stadium, ia kemudian dikeluarkan dari tur stadion Amerika Serikat milik Ed Sheeran setelah sejumlah venue dilaporkan mengancam membatalkan pertunjukan apabila Macklemore tetap berada dalam daftar penampil.
Peristiwa itu kembali memperlihatkan persoalan lama mengenai hubungan antara seniman, kebebasan berbicara, aktivisme, dan konsekuensi ketika sebuah panggung hiburan digunakan untuk menyampaikan pandangan mengenai persoalan politik dan kemanusiaan.
Perkembangan tersebut penting ketika membicarakan warisan Macklemore hari ini, tetapi tetap perlu dibedakan dari fondasi historis yang telah membentuk perjalanan kariernya sejak Seattle, musik independen, The Heist, hingga panggung dunia.
Pada akhirnya, Macklemore menarik perhatian bukan semata-mata karena ia pernah menghasilkan lagu-lagu yang sangat populer. Perjalanannya menggambarkan perubahan lebih luas dalam musik populer dan hubungan antara seniman dengan audiensnya.
Ia adalah seorang seniman lokal yang bekerja secara independen, menggunakan internet untuk melewati sejumlah penjaga gerbang tradisional industri musik, mengubah pergulatan pribadi dan persoalan sosial menjadi karya yang sukses secara komersial.
Kemudian, ketika platformnya semakin luas, ia menggunakan ruang tersebut untuk menyampaikan pandangan mengenai persoalan politik dan kemanusiaan yang menurutnya penting untuk dibicarakan di hadapan publik.
Nyatanya, Macklemore menjadi lebih besar daripada musiknya sendiri. Ia menjadi contoh tentang bagaimana suara, identitas, pengalaman pribadi, kreativitas, dan keberanian berbicara dapat bertemu dalam perjalanan seorang seniman.
Kontroversi berubah menjadi isu kebebasan berekspresi.
Pengeluaran Macklemore tidak berhenti sebagai keputusan teknis sebuah tur. Setelah ia menyampaikan dukungan kepada Palestina di panggung, keputusan tersebut berkembang menjadi perdebatan mengenai batas kebebasan berekspresi seniman dan pengaruh pemilik venue terhadap isi panggung. Ed Sheeran mengatakan keputusan tersebut dibuat oleh promotor dan venue, sementara Macklemore memandang persoalan itu sebagai konsekuensi dari keberaniannya berbicara.
Efek domino terjadi di dalam tur Ed Sheeran.
Dampaknya tidak hanya mengenai Macklemore. Finneas, Lukas Graham, Aaron Rowe, dan band Beoga kemudian menarik diri dari rangkaian pertunjukan sebagai bentuk solidaritas terhadap Macklemore. Dengan demikian, satu keputusan terhadap seorang artis berkembang menjadi persoalan yang memengaruhi susunan pendukung tur secara keseluruhan.
Macklemore justru memperoleh panggung publik yang lebih luas.
Ironisnya, keluarnya Macklemore dari tur membuat pernyataannya tentang Palestina mendapatkan perhatian internasional yang jauh lebih besar. Persoalan yang semula muncul dalam beberapa menit pidatonya di MetLife Stadium kemudian menjadi berita global dan memicu dukungan maupun kritik dari sesama seniman dan figur publik.
Muncul pertanyaan lebih besar tentang siapa yang mengendalikan ruang budaya.
Kasus ini memperlihatkan bahwa pertunjukan musik bukan hanya hubungan antara artis dan penonton. Ada promotor, pemilik stadion, sponsor, kontrak, dan kepentingan komersial yang turut menentukan siapa yang dapat tampil.
Macklemore kemudian mengatakan akan menyumbangkan sekitar US$1 juta pendapatan turnya untuk organisasi bantuan Palestina, sehingga kontroversi tersebut juga berubah menjadi aksi filantropi dan kampanye kemanusiaan.
Redaksi









