PELAKITA.ID – Pierre Bourdieu merupakan salah satu sosiolog paling berpengaruh pada abad ke-20 yang pemikirannya banyak digunakan untuk memahami bagaimana masyarakat membentuk perilaku manusia sekaligus menjelaskan mengapa ketimpangan sosial dapat bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Melalui sejumlah konsep yang saling berhubungan, terutama habitus, field, dan capital, Bourdieu menunjukkan bahwa kehidupan sosial tidak hanya ditentukan oleh pilihan individual, tetapi juga oleh pengalaman, posisi sosial, aturan arena, serta sumber daya yang dimiliki seseorang.
Bagi Bourdieu, manusia tidak memasuki kehidupan sosial sebagai individu yang sepenuhnya bebas dan netral. Setiap orang membawa sejarah sosialnya sendiri berupa pengalaman keluarga, pendidikan, lingkungan pergaulan, budaya, kelas sosial, serta berbagai pengalaman kehidupan yang secara perlahan membentuk cara seseorang memandang dunia. Struktur sosial tersebut kemudian tertanam dalam diri individu dan memengaruhi bagaimana mereka memahami situasi, menentukan pilihan, membangun hubungan, serta merespons peluang maupun hambatan.
Konsep yang digunakan Bourdieu untuk menjelaskan proses tersebut adalah habitus. Habitus merujuk pada seperangkat kecenderungan yang tertanam dalam diri seseorang, meliputi kebiasaan, sikap, persepsi, selera, cara berpikir, dan cara bertindak yang terbentuk melalui pengalaman sosial yang berlangsung terus-menerus. Habitus terutama berkembang melalui proses sosialisasi sejak masa kanak-kanak, ketika keluarga, sekolah, lingkungan budaya, dan komunitas menjadi ruang awal tempat seseorang belajar mengenai dunia sosial.
Habitus bekerja melalui sesuatu yang sering kali tidak disadari. Seseorang tidak selalu berpikir secara eksplisit mengapa ia berbicara dengan cara tertentu, menyukai jenis makanan tertentu, memilih pakaian tertentu, menikmati musik tertentu, atau merasa nyaman berada dalam lingkungan sosial tertentu. Banyak pilihan tersebut terasa alamiah karena telah menjadi bagian dari disposisi yang terbentuk melalui pengalaman panjang.
Seorang anak yang tumbuh dalam keluarga yang terbiasa membaca, berdiskusi, mengunjungi perpustakaan, dan membicarakan berbagai persoalan pendidikan mungkin memiliki kecenderungan untuk merasa nyaman ketika harus menyampaikan pendapat di ruang kelas atau forum profesional. Ia mungkin lebih percaya diri berargumentasi karena lingkungan sosialnya sejak awal telah memberikan pengalaman bahwa berbicara, bertanya, dan berdebat merupakan praktik yang wajar.
Sebaliknya, seseorang yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak memberikan pengalaman serupa mungkin memiliki hubungan yang berbeda dengan ruang-ruang tersebut. Ia dapat merasa kurang percaya diri dalam berbicara di depan kelas atau menghadapi forum formal. Perbedaan tersebut tidak otomatis menunjukkan perbedaan kecerdasan maupun kemampuan individual, melainkan dapat mencerminkan perbedaan pengalaman sosial yang menghasilkan habitus berbeda.
Dengan demikian, habitus membantu menjelaskan mengapa dua orang yang berada dalam situasi yang sama dapat memberikan respons yang berbeda. Mereka tidak hanya membawa kemampuan individual, tetapi juga membawa sejarah sosial yang telah terinternalisasi dalam diri masing-masing.
Namun, habitus saja belum cukup untuk memahami kehidupan sosial. Bourdieu juga memperkenalkan konsep field atau medan sosial, yaitu ruang sosial yang terstruktur tempat individu dan kelompok berinteraksi, berkompetisi, membangun posisi, serta memperebutkan pengaruh dan sumber daya. Masyarakat tidak hanya terdiri atas individu-individu, tetapi juga memiliki berbagai medan yang memiliki logika dan aturan permainan masing-masing.
Terdapat medan pendidikan, politik, ekonomi, kebudayaan, media, agama, ilmu pengetahuan, olahraga, dan berbagai ruang sosial lainnya. Setiap medan memiliki standar keberhasilan, bentuk kompetisi, hierarki, serta sumber daya yang dianggap bernilai. Karena itu, sesuatu yang sangat berharga dalam satu medan belum tentu memiliki nilai yang sama dalam medan lainnya.
Dalam medan pendidikan, misalnya, siswa berkompetisi memperoleh prestasi akademik, guru membangun reputasi dan pengaruh, sementara perguruan tinggi berusaha meningkatkan legitimasi serta prestise institusinya. Dalam medan politik, para politisi, partai, aktivis, organisasi masyarakat, dan berbagai kelompok kepentingan berkompetisi memperoleh dukungan, pengaruh, legitimasi, dan kekuasaan.
Cara seseorang bergerak di dalam medan tersebut sangat dipengaruhi oleh habitus yang dimilikinya. Habitus membantu seseorang membaca situasi, mengenali apa yang dianggap penting, memahami batas-batas perilaku yang dianggap pantas, sekaligus menentukan respons terhadap peluang dan tantangan yang tersedia.
Di dalam setiap medan juga terdapat aturan permainan yang tidak selalu tertulis. Seorang pendatang baru mungkin membutuhkan waktu untuk memahami siapa yang memiliki pengaruh, bentuk komunikasi apa yang dihargai, bagaimana reputasi dibangun, serta sumber daya apa yang menentukan keberhasilan. Dengan demikian, memasuki sebuah medan sosial berarti memasuki ruang yang telah memiliki sejarah, struktur, hierarki, dan mekanisme pengakuannya sendiri.
Konsep ketiga yang sangat penting adalah capital atau modal. Dalam pemikiran Bourdieu, modal tidak hanya berarti uang atau kekayaan ekonomi. Modal mencakup berbagai sumber daya yang dapat digunakan seseorang untuk memperoleh keuntungan, membangun posisi, mendapatkan pengakuan, atau memperluas pengaruh di dalam suatu medan.
Bourdieu membedakan beberapa bentuk modal, di antaranya modal ekonomi, modal budaya, modal sosial, dan modal simbolik. Keempatnya dapat saling berhubungan dan dikonversikan dalam kondisi tertentu, sehingga kekuasaan dalam masyarakat tidak selalu bekerja melalui uang secara langsung.
Modal ekonomi mencakup pendapatan, kekayaan, kepemilikan aset, properti, dan sumber daya finansial lainnya. Modal ini dapat memberikan keuntungan besar karena memungkinkan seseorang memperoleh akses terhadap pendidikan yang lebih baik, tempat tinggal yang lebih berkualitas, layanan kesehatan, perjalanan, teknologi, maupun berbagai peluang profesional.
Tetapi uang bukan satu-satunya sumber keunggulan sosial. Bourdieu memperkenalkan modal budaya, yang mencakup pengetahuan, keterampilan, kemampuan berbahasa, pendidikan, selera budaya, serta berbagai kompetensi yang diperoleh melalui keluarga dan proses pembelajaran. Modal budaya sangat penting karena institusi pendidikan sering kali memberikan penghargaan lebih besar kepada bentuk-bentuk pengetahuan dan perilaku tertentu.
Seorang siswa yang sejak kecil terbiasa membaca buku, berdiskusi, menggunakan bahasa yang sesuai dengan lingkungan akademik, dan mengenal berbagai referensi budaya mungkin memiliki modal budaya yang lebih sesuai dengan ekspektasi sekolah atau universitas. Ia tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga membawa cara berbicara, cara berpikir, dan rasa percaya diri yang sering kali dihargai oleh institusi pendidikan.
Bentuk berikutnya adalah modal sosial, yakni jaringan hubungan, pertemanan, relasi profesional, dan koneksi yang dapat memberikan dukungan maupun akses terhadap peluang. Seseorang yang memiliki jaringan profesional luas, misalnya, mungkin memperoleh informasi mengenai pekerjaan lebih cepat dibandingkan orang lain. Ia juga dapat memperoleh rekomendasi, mentor, dukungan, atau akses kepada kelompok yang sebelumnya sulit dimasuki.
Modal sosial memperlihatkan bahwa keberhasilan seseorang tidak selalu merupakan hasil dari kemampuan individual semata. Dalam banyak situasi, siapa yang dikenal seseorang, siapa yang bersedia memberikan rekomendasi, dan jaringan sosial apa yang dapat diaksesnya dapat memengaruhi kesempatan yang tersedia.
Kemudian terdapat modal simbolik, berupa kehormatan, prestise, reputasi, pengakuan, dan legitimasi yang diberikan oleh masyarakat atau suatu komunitas. Gelar akademik dari institusi bergengsi, penghargaan profesional, reputasi seorang ilmuwan, atau status suatu lembaga dapat menjadi modal simbolik yang meningkatkan otoritas seseorang.
Modal simbolik menarik karena kekuatannya sering kali bekerja secara halus. Ketika seseorang memiliki reputasi tinggi, pendapatnya mungkin lebih mudah dipercaya bahkan sebelum argumennya diperiksa secara mendalam. Ketika sebuah institusi memiliki prestise tinggi, produk pengetahuan atau keputusan yang dihasilkan institusi tersebut juga dapat memperoleh legitimasi lebih besar.
Keempat bentuk modal tersebut tidak berdiri sendiri. Modal ekonomi dapat digunakan untuk memperoleh modal budaya melalui pendidikan. Modal budaya dapat membantu seseorang memperoleh posisi profesional yang menghasilkan modal ekonomi. Modal sosial dapat membuka akses terhadap peluang ekonomi. Sementara modal simbolik dapat memperkuat jaringan sosial dan memperbesar kemampuan seseorang memengaruhi orang lain.
Karena itu, hubungan antara habitus, field, dan capital menjadi inti penting dalam pemikiran Bourdieu. Individu memasuki berbagai medan sosial dengan jumlah dan komposisi modal yang berbeda-beda. Habitus memengaruhi bagaimana mereka memahami medan tersebut, sementara modal menentukan sebagian kemampuan mereka untuk bergerak, berkompetisi, dan memperoleh posisi di dalamnya.
Kerangka tersebut juga membantu Bourdieu menjelaskan reproduksi ketimpangan sosial. Ketimpangan dapat bertahan bukan hanya karena kekayaan diwariskan secara langsung, tetapi karena keluarga juga mewariskan jaringan sosial, pengetahuan, gaya komunikasi, selera budaya, kepercayaan diri, serta cara memahami dunia.
Anak dari keluarga yang memiliki sumber daya besar dapat memperoleh berbagai keuntungan sejak awal kehidupannya. Mereka mungkin mendapatkan pendidikan berkualitas, lingkungan intelektual yang mendukung, akses terhadap jaringan profesional, dan pengalaman budaya yang sesuai dengan nilai-nilai yang dihargai oleh institusi sosial. Keuntungan tersebut kemudian dapat dikonversikan menjadi prestasi, kredensial, pekerjaan, status, dan pengaruh.
Di sinilah teori Bourdieu menjadi penting untuk membaca persoalan meritokrasi. Masyarakat sering kali melihat keberhasilan sebagai hasil dari kerja keras, bakat, dan kemampuan individual. Bourdieu tidak harus menolak keberadaan usaha individual, tetapi mengingatkan bahwa kemampuan untuk menunjukkan kemampuan tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi sosial yang berbeda-beda.
Dengan kata lain, arena kompetisi tidak selalu dimulai dari garis start yang sama. Dua orang dapat mengikuti perlombaan yang sama, tetapi datang dengan bekal yang berbeda. Salah satunya mungkin membawa modal ekonomi, budaya, sosial, dan simbolik yang jauh lebih besar. Perbedaan tersebut kemudian dapat menghasilkan perbedaan peluang yang tampak sebagai hasil dari prestasi individual.
Meski demikian, teori Bourdieu tidak mengatakan bahwa struktur sosial sepenuhnya menentukan nasib seseorang. Medan sosial bersifat dinamis. Aturan permainan dapat berubah, hierarki dapat dipertanyakan, bentuk modal baru dapat muncul, dan aktor baru dapat memasuki arena. Pendidikan, perubahan kebudayaan, gerakan sosial, teknologi, serta reformasi institusional dapat mengubah struktur kesempatan yang sebelumnya dianggap mapan.
Karena itu, teori Bourdieu memiliki dua sisi sekaligus. Di satu sisi, ia menunjukkan betapa kuatnya struktur sosial dalam membentuk pilihan dan peluang manusia. Di sisi lain, ia membuka ruang untuk memahami perubahan melalui perjuangan, strategi, dan transformasi di dalam medan sosial.
Pada akhirnya, habitus, field, dan capital merupakan tiga konsep yang membantu kita memahami bahwa perilaku manusia selalu berlangsung dalam hubungan antara individu dan struktur sosial. Habitus menjelaskan bagaimana pengalaman sosial menjadi disposisi yang tertanam dalam diri manusia. Field menjelaskan ruang tempat individu dan kelompok berinteraksi serta berkompetisi. Capital menjelaskan sumber daya yang memungkinkan seseorang memperoleh keuntungan, posisi, pengaruh, dan legitimasi.
Ketiganya memperlihatkan bahwa kebudayaan, kekuasaan, dan ketimpangan tidak berada jauh dari kehidupan sehari-hari. Mereka hadir dalam cara seseorang berbicara, memilih sekolah, membangun jaringan, memperoleh pekerjaan, mendapatkan pengakuan, bahkan dalam menentukan siapa yang dianggap layak untuk didengar.
Membaca masyarakat melalui Bourdieu berarti melihat lebih jauh daripada perilaku yang tampak di permukaan. Kita perlu bertanya habitus apa yang membentuk seseorang, medan apa yang sedang dimasukinya, modal apa yang dimilikinya, modal apa yang dihargai oleh medan tersebut, serta bagaimana seluruh unsur itu bekerja dalam mempertahankan atau mengubah relasi kekuasaan.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat pemikiran Bourdieu tetap relevan untuk membaca masyarakat kontemporer, terutama ketika kita berhadapan dengan persoalan ketimpangan pendidikan, politik, ekonomi, media, kebudayaan, maupun perebutan sumber daya. Masyarakat bukan sekadar kumpulan individu yang bebas memilih, tetapi sebuah ruang relasional tempat sejarah sosial, kekuasaan, modal, dan pengalaman hidup terus berinteraksi membentuk kemungkinan masa depan.









