Fahsar Padjalangi, dari Jejaring Fisip Unhas ke Panggung Pangan Nasional

  • Whatsapp

Fahsar Padjalangi, Ketua IKA FISIP Unhas, Memasuki Babak Baru Pengabdian Publik

Jika dibaca dari perspektif alumni FISIP Unhas, perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana pengetahuan sosial-politik yang diperoleh dari kampus dapat menemukan bentuknya dalam praktik pengabdian, sekaligus terus diuji oleh perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat.

PELAKITA.ID – Dr. H. Andi Fahsar Mahdin Padjalangi, S.I.P., M.Si. adalah sosok yang perjalanannya menarik dibaca melalui perspektif jejaring alumni yang giat mengkontribusikan pemikirannya untuk pembangunan bangsa.

Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin atau IKA FISIP Unhas itu kini memasuki babak baru setelah mendapat amanah sebagai Ketua Dewan Pengawas Perum BULOG.

Amanah tersebut menarik bukan semata karena posisi yang dipercayakan kepadanya, melainkan karena hadir setelah perjalanan panjang Fahsar melewati sejumlah ruang publik, mulai pemerintahan, organisasi, politik, kemasyarakatan, hingga dunia alumni yang mempertemukannya dengan banyak kalangan.

Jika dibaca dari perspektif alumni FISIP Unhas, perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana pengetahuan sosial-politik yang diperoleh dari kampus dapat menemukan bentuknya dalam praktik pengabdian, sekaligus terus diuji oleh perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat.

FISIP Unhas bukan sekadar tempat Fahsar memperoleh pendidikan formal. Kampus merah menjadi salah satu ruang yang membentuk cara pandang, jejaring, pengalaman sosial, sekaligus identitas intelektual yang kemudian dibawanya ketika memasuki berbagai arena kehidupan publik.

 

Dalam perjalanan berikutnya, Fahsar pernah berada dalam pemerintahan daerah, memimpin organisasi politik, berinteraksi dengan masyarakat melalui berbagai agenda pembangunan, serta tetap menjaga hubungan dengan lingkungan akademik dan jaringan alumni Universitas Hasanuddin.

Posisinya sebagai Ketua IKA FISIP Unhas periode 2021–2025 menempatkannya dalam ruang pengabdian yang berbeda. Ia tidak lagi hanya tampil sebagai individu dengan pengalaman pemerintahan, tetapi menjadi bagian dari ekosistem alumni yang memiliki jejaring lintas profesi, generasi, wilayah, dan kepentingan sosial.

Di sinilah organisasi alumni memperoleh makna yang lebih luas daripada sekadar wadah silaturahmi. Alumni dapat menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman, kompetensi, jejaring, kepedulian sosial, dan semangat pengabdian dalam berbagai bentuk kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Jejak tersebut terlihat dalam sejumlah aktivitas sosial IKA Unhas yang melibatkan Fahsar. Pada 2026, ia dipercaya menjadi Ketua Panitia Bakti Sosial IKA Unhas di Bone, yang kemudian mendistribusikan ratusan paket bantuan kepada masyarakat dari sejumlah kecamatan.

Kegiatan tersebut memang berlangsung di Bone, wilayah yang menjadi bagian penting dari perjalanan publik Fahsar. Akan tetapi, jika dilihat melalui perspektif alumni, maknanya melampaui batas geografis karena memperlihatkan bagaimana jaringan alumni dapat diterjemahkan menjadi kegiatan sosial yang konkret.

Pengalaman mengorganisasi kegiatan sosial, membangun komunikasi dengan berbagai kelompok, serta menghubungkan sumber daya menjadi modal yang relevan dalam setiap ruang pengabdian. Modal semacam itu kini mendapatkan medan baru ketika Fahsar dipercaya masuk dalam struktur pengawasan BULOG.

BULOG memiliki posisi strategis dalam ekosistem pangan Indonesia. Di dalamnya terdapat persoalan pengadaan, distribusi, stabilisasi harga, perlindungan konsumen, hubungan dengan petani, serta koordinasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan.

Persoalan pangan sendiri tidak pernah sepenuhnya hanya menjadi persoalan komoditas dan angka produksi. Pangan berkaitan dengan kebijakan publik, kesejahteraan masyarakat, kepentingan petani, daya beli konsumen, distribusi, stabilitas harga, serta kapasitas negara mengelola kebutuhan dasar masyarakat.

Di titik inilah pengalaman Fahsar sebagai bagian dari pemerintahan daerah menjadi relevan. Ia pernah berhadapan dengan masyarakat secara langsung, memahami dinamika pembangunan daerah, sekaligus melihat bagaimana kebijakan nasional diterjemahkan dan dinegosiasikan pada tingkat lokal.

Latar belakang pendidikan ilmu sosial-politik juga memberi perspektif tersendiri dalam membaca persoalan tersebut. Kebijakan pangan membutuhkan kemampuan memahami institusi, aktor, kepentingan, relasi kekuasaan, komunikasi publik, serta dinamika sosial yang berlangsung di balik angka-angka statistik.

Pengalaman organisasi alumni kemudian memberikan dimensi lain berupa kemampuan membangun jejaring dan menjaga komunikasi dengan berbagai kelompok. Dalam tata kelola lembaga publik, kemampuan menghubungkan banyak kepentingan menjadi bagian penting dari proses membangun kepercayaan dan kolaborasi.

Karena itu, Fahsar menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai mantan kepala daerah atau tokoh politik, tetapi sebagai alumni FISIP Unhas yang terus bergerak dari satu ruang pengabdian menuju ruang pengabdian lainnya.

Pergantian medan tersebut juga membawa konsekuensi terhadap aktivitas politiknya. Setelah mendapat amanah baru di BULOG, Fahsar mengundurkan diri dari posisi Ketua DPD II Partai Golkar, sebuah keputusan yang menandai pergeseran dari ruang politik praktis menuju tanggung jawab kelembagaan yang menuntut independensi lebih kuat.

Perubahan tersebut sekaligus memperlihatkan satu fase baru dalam perjalanan publiknya. Pengalaman pemerintahan dan politik yang sebelumnya menjadi bagian dari rekam jejaknya kini berhadapan dengan kebutuhan tata kelola sebuah lembaga strategis yang berkaitan langsung dengan kepentingan pangan masyarakat.

Bagi IKA FISIP Unhas, perjalanan semacam ini memiliki arti tersendiri. FISIP mendidik mahasiswa untuk memahami masyarakat, negara, kekuasaan, kebijakan publik, kelembagaan, serta berbagai dinamika sosial yang kemudian mereka temui dalam kehidupan profesional dan pengabdian masing-masing.

Alumni kemudian membawa pengetahuan tersebut ke berbagai bidang kehidupan. Sebagian menjadi akademisi, birokrat, politisi, profesional, aktivis, pengusaha, jurnalis, maupun pengelola lembaga publik, dengan medan pengabdian yang berbeda-beda tetapi tetap membawa jejak pendidikan sosial-politik.

Fahsar merupakan salah satu contoh perjalanan lintas ruang tersebut. Dari pendidikan FISIP, ia bergerak ke pemerintahan, organisasi, politik, aktivitas sosial, dunia alumni, dan kini mendapatkan kepercayaan untuk mengambil bagian dalam pengawasan lembaga strategis pangan nasional.

Karena itu, amanah barunya di BULOG dapat dibaca sebagai babak lanjutan perjalanan seorang alumni, bukan sekadar pergantian jabatan. Ada pengalaman panjang yang dibawa, ada jejaring yang terbentuk, dan ada perspektif sosial-politik yang kembali diuji dalam medan berbeda.

Pertanyaan yang lebih menarik kemudian bukan sekadar dari mana seorang tokoh berasal atau jabatan apa yang pernah diembannya. Pertanyaan yang lebih substansial adalah apa yang dapat dibawa seorang alumni FISIP ketika pengetahuan sosial-politik bertemu dengan kebutuhan tata kelola pangan nasional.

Perjalanan Fahsar menjadi relevan untuk dibaca lebih luas.

Kampus membentuk pengetahuan, pengalaman publik menguji pengetahuan tersebut, organisasi memperluas jejaring, sementara setiap amanah baru menghadirkan medan untuk menguji kemampuan membaca persoalan dan mengambil keputusan.

Dari Kampus Merah, perjalanan itu kini berlanjut ke ruang yang jauh lebih luas. Sebagai Ketua IKA FISIP Unhas, Fahsar telah menjadi bagian dari jejaring alumni yang terus bergerak, sementara sebagai Ketua Dewan Pengawas BULOG ia memasuki medan pengabdian baru dengan tanggung jawab yang berbeda.

Bagi keluarga besar FISIP Unhas, amanah tersebut bukan sekadar kabar tentang seorang alumni yang memperoleh kepercayaan baru. Ia juga menjadi pengingat bahwa perjalanan alumni tidak berhenti ketika toga dilepas, ijazah diterima, dan kehidupan profesional dimulai. Alumni terus diuji oleh zaman, oleh masyarakat, oleh institusi, dan oleh ruang pengabdian yang dipilihnya.

Kali ini, medan tersebut adalah pangan Indonesia, sebuah ruang yang mempertemukan kepentingan negara, petani, konsumen, pasar, pemerintah, dan masyarakat dalam satu persoalan strategis yang menyentuh kehidupan sehari-hari.

Dari Kampus Merah menuju panggung pangan nasional, Fahsar Padjalangi memasuki babak baru. Bukan sekadar membawa jabatan, tetapi membawa pengalaman, jejaring, dan perspektif seorang alumni FISIP Unhas.

Tentang Dr. H. Andi Fahsar Mahdin Padjalangi, S.I.P., M.Si

Fahsar Padjalangi merupakan salah satu figur alumni Universitas Hasanuddin yang memiliki perjalanan panjang dalam pemerintahan, organisasi, politik, dan kehidupan kemasyarakatan.

Pelakita.ID mencatat Fahsar lahir di Makassar pada 21 Juni 1963, pernah menjadi Wakil Bupati Bone periode 2003–2008, kemudian memimpin Kabupaten Bone sebagai bupati selama dua periode. Di luar pemerintahan, ia juga aktif dalam organisasi politik dan kemasyarakatan, termasuk pernah dipercaya memimpin DPD II Partai Golkar Bone serta ORARI Lokal Bone selama beberapa periode.

Kabarika.ID menuliskan, di lingkungan almamater, Fahsar dikenal terutama melalui perannya sebagai Ketua Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (IKA FISIP Unhas). Kabarika.ID mencatat kiprahnya dalam menghidupkan jejaring alumni melalui berbagai agenda organisasi, termasuk pelantikan dan penguatan kepengurusan alumni pada tingkat departemen.

Dalam kapasitas tersebut, Fahsar tidak sekadar hadir sebagai figur seremonial, tetapi ikut mendorong kolaborasi antara alumni dan kampus serta memandang jaringan alumni sebagai ruang komunikasi, pengabdian, dan penguatan peran alumni dalam kehidupan masyarakat.

Jejak tersebut berlanjut dalam proses konsolidasi organisasi alumni FISIP Unhas. Pada 2026, Kabarika.ID mencatat Fahsar membuka Musyawarah Besar IKA Politik Unhas dan kemudian memimpin pengukuhan Andi Taletting Langi sebagai Ketua IKA Ilmu Politik FISIP Unhas periode 2026–2030.

Kabarika.ID juga mencatat keterlibatan Fahsar dalam kegiatan sosial IKA Unhas pada 2026, ketika ia dipercaya menjadi Ketua Panitia Bakti Sosial yang mendistribusikan bantuan kepada masyarakat di sejumlah kecamatan. Rangkaian aktivitas tersebut memperlihatkan dimensi lain dari kiprahnya sebagai organisator alumni, yakni menerjemahkan jaringan dan solidaritas almamater menjadi kegiatan yang menyentuh masyarakat.

Dengan rekam jejak pemerintahan, pengalaman organisasi, latar belakang FISIP, serta keterlibatan dalam jejaring alumni, Fahsar kini memasuki babak baru setelah mendapat amanah sebagai Ketua Dewan Pengawas BULOG.

Redaksi