Nita Rukminasari | Menjaga Pesisir di Era Perubahan Iklim: Mangrove, Jasa Ekosistem, dan Budidaya Perikanan Cerdas Iklim

  • Whatsapp

Adaptasi Berbasis Ekosistem merupakan pendekatan yang menggunakan keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem sebagai bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim. Konsep ini merupakan bagian dari pendekatan yang lebih luas, yaitu Nature-based Solutions (NbS) atau Solusi Berbasis Alam.

PELAKITA.ID – Perubahan iklim bukan lagi ancaman yang akan datang di masa depan. Bagi masyarakat pesisir Indonesia, dampaknya sudah dirasakan hari ini.  Kenaikan muka air laut, abrasi pantai, cuaca ekstrem, hingga perubahan pola arus laut menjadi tantangan nyata yang mengancam pemukiman, sumber penghidupan, dan ketahanan pangan masyarakat pesisir.

Kegiaitan “Aksi Pemuda Jaga Iklim, Menuju Indonesia ASRI” yang diselenggarakan oleh Direktorat Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin, Selasa (2/6/2026), di Auditorium Prof. A. Amiruddin Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar.

Demikian disampaikan Prof. Nita Rukminasari dari Pusat Studi Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin saat menjadi narasumber pada Pembekalan KKN Tematik Perubahan Iklim di Kampus Unhas, Makassar, 2 Juni 2026

Dikatakan, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia berada pada posisi yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Ribuan desa pesisir menghadapi risiko yang semakin besar akibat banjir rob, erosi pantai, serta menurunnya produktivitas sektor perikanan.

Tujuan nomor 13 dari 17 tujuan SDGs adalah penanganan perubahan iklim yaitu mengambil tindakan sesegera mungkin untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya.

Dalam bahasa Inggris, tujuan ini disebut sebagai climate action yaitu take urgent action to combat climate change and its impacts. Tidak ada satu pun negara di dunia yang tidak mengalami dampak dari perubahan iklim. Emisi gas rumah kaca terus meningkat dan pemanasan global mengakibatkan perubahan berkepanjangan pada iklim global.

“Dalam situasi ini, diperlukan strategi adaptasi yang tidak hanya efektif melindungi lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.,” sebut Nita.

Salah satu pendekatan yang semakin mendapat perhatian adalah Adaptasi Berbasis Ekosistem (Ecosystem-Based Adaptation/EBA), sebuah strategi yang memanfaatkan kekuatan alam sebagai benteng pertahanan menghadapi perubahan iklim.

Ketika Alam Menjadi Solusi

Adaptasi Berbasis Ekosistem merupakan pendekatan yang menggunakan keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem sebagai bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim. Konsep ini merupakan bagian dari pendekatan yang lebih luas, yaitu Nature-based Solutions (NbS) atau Solusi Berbasis Alam.

Berbeda dengan pendekatan konvensional yang mengandalkan infrastruktur fisik seperti tanggul beton atau pemecah gelombang, EBA bekerja dengan memperkuat fungsi alami ekosistem sehingga masyarakat menjadi lebih tangguh menghadapi perubahan iklim.

Pendekatan ini memiliki dua tujuan utama sekaligus. Pertama, mengurangi kerentanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim. Kedua, melindungi dan memulihkan ekosistem sehingga tetap mampu menyediakan berbagai manfaat bagi manusia.

Keunggulan EBA terletak pada kemampuannya menghasilkan manfaat ganda. Selain meningkatkan ketahanan pesisir, pendekatan ini juga mendukung perikanan, meningkatkan kualitas air, membuka peluang ekowisata, dan berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon.

Di wilayah pesisir Indonesia, salah satu ekosistem yang memiliki peran strategis dalam pendekatan ini adalah mangrove.

Mangrove: Benteng Alami Pesisir

Selama ini restorasi mangrove sering dipahami sekadar sebagai kegiatan menanam pohon. Padahal, restorasi mangrove yang sesungguhnya jauh lebih kompleks daripada itu.

Menurut Nita, restorasi mangrove bertujuan mengembalikan fungsi ekologis, struktur, dan keanekaragaman hayati ekosistem mangrove yang telah mengalami degradasi.

“Mangrove memiliki berbagai fungsi penting. Akar-akarnya yang rapat mampu menahan abrasi dan erosi pantai. Kanopi pohonnya membantu meredam energi gelombang dan badai. Selain itu, hutan mangrove juga menjadi habitat penting bagi berbagai spesies ikan, kepiting, udang, dan biota lainnya yang menopang kehidupan masyarakat pesisir,” jelasnya.

Tak hanya itu, mangrove juga dikenal sebagai penyerap karbon yang sangat efektif. Kapasitas penyimpanan karbon ekosistem mangrove bahkan dapat mencapai tiga hingga lima kali lebih besar dibandingkan hutan daratan, menjadikannya salah satu aset penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim melalui konsep Blue Carbon.

“Keberhasilan restorasi mangrove tidak ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam. Banyak program rehabilitasi gagal karena mengabaikan prinsip-prinsip ekologis,” tegas Nita.

Perbaiki Lingkungannya, Alam Akan Bekerja

Pendekatan yang kini dianggap paling efektif dalam restorasi mangrove dikenal sebagai Ecological Mangrove Restoration (EMR).

Prinsip dasarnya sederhana namun sangat penting: “Perbaiki dulu lingkungannya, biarkan alam melakukan sisanya.”

Banyak program penanaman mangrove gagal karena hanya fokus pada penanaman tanpa memperhatikan kondisi hidrologi kawasan. Mangrove membutuhkan pasang surut air laut yang normal untuk tumbuh. Jika saluran air tertutup, aliran terganggu, atau elevasi lahan berubah, maka bibit yang ditanam hampir pasti akan mati.

Karena itu, langkah pertama dalam restorasi adalah memperbaiki kondisi hidrologi. Saluran yang tersumbat perlu dibuka kembali, aliran air dipulihkan, dan penghalang yang menghambat pasang surut harus dihilangkan.

Prinsip kedua adalah “Right Tree, Right Place” atau menanam jenis yang tepat pada lokasi yang tepat.

Jenis mangrove yang berbeda memiliki kebutuhan lingkungan yang berbeda pula. Avicennia lebih cocok ditanam di zona terdepan yang sering tergenang, sementara Rhizophora berkembang lebih baik di zona tengah dengan tingkat genangan sedang.

Tanpa memperhatikan zonasi ini, tingkat keberhasilan restorasi akan sangat rendah.

Menghitung Nilai Ekonomi Jasa Ekosistem

Prof Nita, di depan mahasiswa KKN Tematik Proklim menyebutkan, mangrove bukan hanya kumpulan pohon di tepi pantai. Mangrove adalah penyedia berbagai jasa ekosistem yang bernilai ekonomi tinggi.

“Jasa tersebut meliputi jasa penyediaan seperti hasil perikanan, kayu, madu, dan bahan obat tradisional. Mangrove juga memberikan jasa pengaturan berupa perlindungan terhadap banjir, penyaringan polutan, serta penyerapan karbon. Selain itu terdapat jasa pendukung seperti pembentukan tanah dan siklus nutrisi yang menjaga produktivitas perairan pesisir,” terangnya.

Di sisi lain, mangrove juga memiliki nilai budaya dan ekonomi melalui pengembangan ekowisata, pendidikan lingkungan, dan kegiatan rekreasi.

Banyak daerah mulai mengembangkan wisata mangrove sebagai sumber pendapatan alternatif masyarakat. Jalur tracking mangrove, wisata edukasi, hingga produk olahan berbahan dasar buah mangrove dan nipah menjadi peluang ekonomi baru yang berkelanjutan.

Karena itu, pelestarian mangrove tidak boleh dipandang semata sebagai agenda lingkungan, tetapi juga sebagai investasi ekonomi jangka panjang bagi masyarakat pesisir.

Climate-Smart Aquaculture: Masa Depan Budidaya Perikanan

Perubahan iklim juga memberikan tekanan besar terhadap sektor budidaya perikanan. Kenaikan suhu air, perubahan salinitas, banjir, dan munculnya penyakit baru menjadi tantangan yang semakin sering dihadapi petambak.

“Untuk menjawab tantangan tersebut, berkembang konsep Climate-Smart Aquaculture (CSA) atau Budidaya Perikanan Cerdas Iklim. Pendekatan ini bertujuan mencapai tiga sasaran sekaligus, yang dikenal sebagai Triple Win,” jelas Nita. 

Pertama, meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat. Kedua, meningkatkan ketahanan usaha budidaya terhadap dampak perubahan iklim. Ketiga, mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor akuakultur.

Salah satu praktik CSA yang dinilai paling relevan di Indonesia adalah silvofishery atau wanamina.

Silvofishery: Tambak dan Mangrove Hidup Berdampingan

Silvofishery merupakan sistem budidaya perikanan yang mengintegrasikan tambak dengan hutan mangrove dalam satu kawasan pengelolaan.

Dalam sistem ini, sebagian besar area tambak tetap dipertahankan sebagai kawasan mangrove. Rasio idealnya bahkan mencapai lebih dari 50 persen luas lahan.

Keberadaan mangrove memberikan berbagai manfaat bagi tambak. Kanopi pohon membantu menjaga stabilitas suhu air. Akar mangrove berfungsi sebagai penyaring alami yang meningkatkan kualitas air dan mengurangi risiko penyakit. Selain itu, vegetasi mangrove juga melindungi tambak dari abrasi dan gelombang ekstrem.

Dengan kata lain, mangrove tidak lagi dianggap sebagai penghalang produksi, melainkan sebagai bagian penting dari sistem produksi yang tangguh terhadap perubahan iklim.

Selain silvofishery, praktik CSA juga mencakup pengelolaan air yang lebih efisien, penggunaan pakan dengan rasio konversi rendah, pemanfaatan energi terbarukan seperti panel surya, serta pemilihan spesies budidaya yang lebih tahan terhadap perubahan suhu dan salinitas.

Peran Strategis Mahasiswa dalam Adaptasi Iklim

Di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks, mahasiswa memiliki ruang yang sangat luas untuk berkontribusi.

Melalui program KKN Tematik Perubahan Iklim, mahasiswa dapat berperan sebagai agen perubahan yang menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.

Mereka dapat membantu melakukan pemetaan kerusakan mangrove, mendokumentasikan jasa ekosistem, mengembangkan konsep ekowisata, memberikan edukasi mengenai Blue Carbon, hingga mendampingi petambak menerapkan prinsip-prinsip Climate-Smart Aquaculture.

Lebih jauh lagi, mahasiswa dapat membantu menyusun rekomendasi program desa yang memasukkan strategi adaptasi perubahan iklim ke dalam perencanaan pembangunan lokal.

Peran ini menjadi sangat penting karena keberhasilan adaptasi iklim tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh keterlibatan masyarakat dan generasi muda.

Disebutkan Nita, perubahan iklim akan terus menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Namun tantangan tersebut juga membuka peluang untuk membangun model pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Restorasi mangrove, pemanfaatan jasa ekosistem, dan budidaya perikanan cerdas iklim menunjukkan bahwa solusi terhadap krisis iklim tidak selalu harus mahal atau bergantung pada infrastruktur raksasa. Alam telah menyediakan mekanisme perlindungannya sendiri.

“Tugas manusia adalah menjaga, memulihkan, dan memanfaatkannya secara bijaksana,” pesan Nita ke mahasiswa KKN.

Di pesisir Indonesia, mangrove bukan sekadar pohon yang tumbuh di antara daratan dan laut. Ia adalah benteng alami, penyimpan karbon, sumber kehidupan masyarakat, sekaligus simbol bahwa masa depan yang tangguh terhadap perubahan iklim dapat dibangun dengan bekerja bersama alam, bukan melawannya.

___
Editor K. Azis