TAKALAR – Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Takalar Nasruddin Azis mengajak para peserta dan jejaring investor yang hadir dalam Rapat Koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pangan terkait Penguatan Pangan Akuatik di Sulawesi Selatan untuk menjadikan Takalar sebagai salah satu destinasi investasi unggulan sektor pangan akuatik.
Ajakan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya memperkuat hilirisasi perikanan dan budidaya berbasis potensi lokal, khususnya komoditas rumput laut yang selama ini menjadi salah satu kekuatan utama pesisir Sulawesi Selatan.
Menurutnya, Takalar memiliki keunggulan komparatif berupa kawasan budidaya yang luas, masyarakat pesisir yang telah lama berpengalaman membudidayakan rumput laut, serta kedekatan dengan pusat industri pengolahan di Sulawesi Selatan.
“Takalar terbuka bagi investasi yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada pengembangan industri pengolahan yang mampu meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat pesisir,” ujarnya di hadapan Asdep Perikanan Budidaya Kemenko Pangan, Kadis Kelautan dan Perikanan Sulsel dan sejumlah unsur di bawah naungan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kamis, 6 Agustus 2026.
Rumput Laut Jadi Penggerak Pangan Biru
Ajakan tersebut sejalan dengan visi pengembangan pangan akuatik nasional yang kini menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan.
Sulawesi Selatan sendiri merupakan sentra rumput laut terbesar di Indonesia. Pada 2024, produksi rumput laut provinsi ini mencapai sekitar 4 juta ton, meningkat dibandingkan sekitar 3,7 juta ton pada tahun sebelumnya.
Capaian tersebut mempertegas posisi Sulawesi Selatan sebagai tulang punggung industri rumput laut nasional sekaligus pemasok penting bagi pasar ekspor, di dalamnya ada Takalar sebagai salah satu kabupaten potensial. Di Takalar pun sudah ada pabrik pengolahan karagenan meski kapasitas produksinya tak sebesar perusahaan asal China.
Menurut Nasruddin, Takalar menjadi salah satu daerah yang memiliki kontribusi signifikan terhadap produksi tersebut, didukung karakteristik perairan yang relatif tenang, dangkal, dan kaya nutrien sehingga sangat sesuai untuk budidaya rumput laut.
Potensi Investasi Masih Terbuka Lebar
Peluang investasi tidak hanya berada pada sektor budidaya, tetapi juga pada pengembangan industri hilir.
Saat ini Sulawesi Selatan masih memiliki sejumlah industri pengolahan yang terus beroperasi, seperti PT Giwang di Takalar, PT Bantimurung Indah di Maros, dan PT BLG di Pinrang. Keberadaan industri tersebut menjadi indikator bahwa rantai pasok rumput laut di Sulawesi Selatan masih berjalan dan memiliki prospek pengembangan yang besar.
Di sisi lain, berbagai inovasi teknologi juga mulai berkembang. Perguruan tinggi seperti Universitas Hasanuddin telah mengembangkan teknologi pengeringan rumput laut melalui konsep teaching industry, yang berpotensi meningkatkan efisiensi produksi sekaligus kualitas hasil olahan.
Bagi investor, kondisi tersebut membuka peluang pengembangan produk bernilai tambah, mulai dari karagenan, agar-agar, bahan baku industri pangan, kosmetik, farmasi, hingga biomaterial ramah lingkungan.
Kepala Dinas Perikanan Takalar menilai investasi di sektor pangan akuatik tidak semata menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan di Takalar, di bawah kepemimpinan Bupati Mohammad Firdaus Daeng Manye.
Karena itu, kata Kadis Nasruddin, pengembangan industri rumput laut dinilai sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mempercepat transisi menuju ekonomi hijau dan ekonomi biru.
“Melalui forum koordinasi ini, kami berharap jejaring investor yang hadir dapat melihat potensi besar sektor pangan akuatik sebagai investasi jangka panjang yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, memperkuat kesejahteraan masyarakat pesisir, dan mendukung terwujudnya kemandirian pangan nasional,” kata Nasruddin.
Dengan dukungan sumber daya alam yang melimpah, pengalaman masyarakat pesisir, infrastruktur pengolahan yang mulai berkembang, serta komitmen pemerintah daerah, Takalar diyakini memiliki modal kuat untuk menjadi salah satu pusat investasi pangan akuatik di Indonesia Timur.
Bebebrapa kawasan yang potensial sebagai lokasi budidaya rumput laut di Takalar adalah Mangngarabombang, Laikang, Sanrobone, Galesong hingga Kepulauan Tanakeke. Jenisnya beragam, dari Euchema, Kappaphycus, Gracilaria hingga Caulerpa alias lawilawi.
Editor K. Azis









