PELAKITA.ID — MAKASSAR, 14 September 2026 — Laut Indonesia kembali memperlihatkan wajahnya yang kompleks melalui dua kecelakaan kapal yang terjadi hampir bersamaan, tetapi menghasilkan akhir yang sangat berbeda bagi manusia yang berada di dalamnya.
Di Laut Jawa, Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin, membawa ratusan orang ketika kondisi laut dilaporkan cukup berat. Sementara di Selat Makassar, Kabupaten Mamuju, KLM Dekai Mas 3 kehilangan kontak dalam perjalanan menuju Samarinda sebelum akhirnya ditemukan Tim SAR Gabungan pada hari kedua pencarian.
Perbedaan kedua peristiwa tersebut segera terlihat dari hasil akhirnya. Virgo Transport 8 menghadapi tragedi dengan korban meninggal dan banyak orang masih dalam pencarian, sedangkan tujuh orang di atas Dekai Mas 3 ditemukan selamat setelah bertahan di laut menggunakan rakit.
Menurut laporan terbaru, Virgo Transport 8 membawa 243 orang, dengan 108 orang berhasil diselamatkan, enam meninggal dunia, dan 129 lainnya masih dinyatakan hilang. Kondisi gelombang dan angin yang kuat turut menyulitkan proses pencarian dan penyelamatan di sekitar lokasi kecelakaan.
Laporan mengenai kapal tersebut menyebutkan bahwa gelombang kuat menghantam sisi kanan kapal sehingga kapal mengalami kemiringan signifikan sebelum akhirnya terbalik. Namun, kondisi cuaca tidak serta-merta dapat dianggap sebagai penyebab tunggal karena investigasi harus mencermati stabilitas, pemuatan, kondisi teknis, navigasi, keputusan awak, serta faktor operasional lainnya.
Sementara itu, KLM Dekai Mas 3 berangkat dari Pelabuhan Belang-Belang, Mamuju, menuju Samarinda pada 10 September 2026. Setelah sekitar 24 jam pelayaran, kapal kehilangan kontak dan memicu operasi pencarian oleh Tim SAR Gabungan di perairan Selat Makassar.
Pada hari kedua pencarian, Minggu, 13 September, tujuh orang yang berada di kapal tersebut ditemukan dalam keadaan selamat sekitar 70 mil laut dari Pelabuhan Belang-Belang. Kapal diketahui tenggelam, sementara seluruh awak berhasil meninggalkan kapal dan bertahan menggunakan rakit kerompong sebelum ditemukan.
Kisah Dekai Mas 3 memperlihatkan bahwa tenggelamnya kapal tidak selalu harus berakhir dengan kehilangan nyawa.
Kesempatan untuk bertahan sangat dipengaruhi kemampuan meninggalkan kapal secara cepat, ketersediaan alat apung, pengetahuan keselamatan, kondisi fisik, komunikasi, serta kemampuan mempertahankan posisi hingga pertolongan tiba.
Di sinilah konsep survival at sea menjadi sangat penting. Rakit atau alat apung bukan sekadar perlengkapan tambahan, tetapi dapat menjadi ruang hidup sementara bagi penyintas yang harus menghadapi gelombang, panas, kelelahan, dehidrasi, dan ketidakpastian selama menunggu operasi pencarian.
Dua kecelakaan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa operasi SAR di laut berbeda secara mendasar dari pencarian di daratan. Posisi korban dapat berubah akibat angin, gelombang, dan arus, sementara semakin lama waktu berlalu, semakin luas pula kemungkinan wilayah pencarian yang harus diperhitungkan.
Pada kasus Dekai Mas 3, para penyintas ditemukan dalam satu kelompok setelah bertahan menggunakan rakit. Keberadaan kelompok tersebut kemungkinan memberikan keuntungan dalam proses pencarian karena posisi mereka lebih mudah dipertahankan dibandingkan korban yang tersebar di permukaan laut.
Sebaliknya, kecelakaan dengan ratusan orang seperti Virgo Transport 8 menghadirkan kompleksitas jauh lebih besar. Korban dapat tersebar, kondisi laut dapat membatasi penyelaman dan metode pencarian tertentu, sementara jumlah orang yang harus ditemukan menuntut pengerahan sumber daya SAR dalam skala besar.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan SAR bukan semata-mata ditentukan oleh banyaknya kapal dan personel yang dikerahkan. Kecepatan memperoleh informasi, akurasi posisi terakhir, komunikasi, pemahaman kondisi laut, pola pencarian, dan kemampuan mengambil keputusan secara tepat sama pentingnya.
Karena itu, komunikasi merupakan bagian integral dari keselamatan pelayaran. AIS, perangkat pelacakan, radio komunikasi, navigasi, serta prosedur pelaporan posisi bukan sekadar perangkat teknis, melainkan instrumen yang dapat menentukan seberapa cepat sebuah kapal atau penyintas ditemukan.
Dua peristiwa ini juga mengingatkan bahwa keselamatan maritim seharusnya dibangun jauh sebelum kecelakaan terjadi. Kelaikan kapal, stabilitas, pemuatan, perlengkapan keselamatan, pelatihan awak, informasi cuaca, komunikasi, prosedur evakuasi, dan kesiapan SAR harus dipandang sebagai satu sistem yang saling berkaitan.
Virgo Transport 8 dan Dekai Mas 3 memang tidak dapat dibandingkan secara sederhana karena berbeda jenis kapal, jumlah orang, lokasi, kronologi, kondisi lingkungan, serta kemungkinan penyebab kecelakaan. Namun, keduanya menyampaikan pesan yang sama mengenai pentingnya kesiapan menghadapi keadaan darurat.
Keselamatan maritim bukan hanya tentang bagaimana menemukan orang setelah mereka hilang di laut. Keselamatan adalah tentang membangun sistem yang memungkinkan manusia mengenali bahaya lebih awal, bertahan ketika kecelakaan terjadi, berkomunikasi secara efektif, dan ditemukan sebelum kesempatan hidup semakin mengecil.
Dua kecelakaan laut tersebut karena itu menghadirkan dua akhir berbeda, tetapi satu pelajaran penting bagi Indonesia. Laut tidak memilih siapa yang selamat dan siapa yang menjadi korban; banyak hal ditentukan oleh kesiapan manusia, kualitas kapal, budaya keselamatan, teknologi, dan kecepatan sistem merespons keadaan darurat.
Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, pelajaran tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai catatan setelah sebuah kecelakaan berlalu. Setiap tragedi dan setiap keberhasilan penyelamatan perlu dibaca sebagai pengetahuan baru untuk memperbaiki tata kelola keselamatan, sehingga semakin banyak orang yang berlayar dapat kembali ke daratan dengan selamat.









