PELAKITA.ID – Sejak pemerintah mengurangi anggaran, prioritas universitas, khususnya PTNBH sebanyak-banyaknya dapat mahasiswa baru. Mereka jadi semacam “vacuum cleaner” menyedot sebanyak mungkin calon mahasiswa.
Dalam beberapa tahun terakhir, prioritas itu mulai bergeser di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Ditandai perubahan orientasi:dari kuantitas ke kualitas.
Saya mencatat dalam tiga tahun terakhir Unhas bukan hanya merekrut banyak mahasiswa tapi “mencetak” sebanyak-banyaknya “mahasiswa hebat” yang berprestasi dalam bidang riset, kreativitas dan inovatif.
Belum lama ini, mahasiswa Unhas menyabet tiga penghargaan sekaligus pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Award tahun 2026.
Penghargaan tersebut diberikan Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Ajang PKM Award 2026 itu sendiri digelar di UPN “Veteran” Jakarta, 21 September 2026.
Sebelumnya mahasiswa Unhas menjadi jawara PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) dua tahun berturut-turut.
Pada tahun 2024 di Unair Surabaya dan 2025 di Unhas Makassar dan harapan menjadi universitas riset kian nyata.
Pada ajang PKM Award 2026, Unhas meraih tiga penghargaan.
Pertama Perguruan Tinggi Terproduktif Skema Insentif Klaster 1 dengan capaian delapan judul yang meraih insentif.
Kedua, perguruan Tinggi dengan Pembinaan Terbaik Klaster 1 dengan 232 judul yang diusulkan, serta 58 judul yang memeroleh pendanaan dan insentif.
Ketiga, Perguruan Tinggi Terproduktif Skema Pendanaan Klaster 1 dengan 50 judul yang memperoleh pendanaan.
Pencapaian mahasiswa Unhas itu yang disebut invisible impact: prestasi melahirkan prestasi yang lain.
PKM merupakan program ilmiah mahasiswa yang telah berjalan reguler selama lebih dari 20 tahun.
Program ini merupakan salah satu wahana pengembangan kreativitas mahasiswa Indonesia melalui gagasan, inovasi, dan proses ilmiah.
Senyum sumringah lantas terpancar dari wajah Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Prof. Muhammad Ruslin.
Bagi pria Bugis kelahiran Sidrap ini, tiga penghargaan yang diraih Unhas mencerminkan dua hal penting dalam pembinaan PKM: produktivitas dan keberlanjutan proses pembinaan.
“Bagi kami (Unhas, red) capaian ini bukan hanya tentang jumlah proposal yang berhasil didanai.
Yang lebih penting bagaimana kita membangun proses pembinaan yang mampu mengantarkan semakin banyak gagasan mahasiswa menjadi karya yang dapat dikembangkan, penghargaan ini menunjukkan bahwa proses tersebut terus bergerak dan perlu kita perkuat,” kata Ruslin.
Capaian pada kategori pembinaan, lanjut Ruslin, juga menjadi dorongan untuk memperluas keterlibatan mahasiswa Unhas dalam PKM.
Pembinaan tidak berhenti pada tahap pengusulan, tetapi perlu dilanjutkan hingga mahasiswa mampu menyelesaikan program dan mengembangkan hasilnya.
Menurut data pada 2026, Unhas setidaknya telah meraih 1.121 judul proposal PKM yang ditetapkan mendapat pendanaan.
Itu pun setelah melalui tahapan pelaksanaan program dan Penilaian Kemajuan Pelaksanaan PKM (PKP2), sebagai rangkaian kegiatan yang dilanjutkan dengan pelaksanaan PKM Award 2026.
PKM Award telah dilaksanakan sejak 2022 sebagai salah satu rangkaian kegiatan PKM setelah pelaksanaan PKP2.
Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi sekaligus untuk menjaga semangat dan budaya kerja keras seluruh pihak dalam pelaksanaan PKM.
Berbagai penghargaan dalam PKM Award ditujukan untuk memperkuat budaya prestasi dan motivasi yang diharapkan dapat memupuk serta menumbuhkan inovasi dan kreativitas mahasiswa Unhas.
Dalam PKM Award 2026, capaian yang dipotret tidak hanya berasal dari tim mahasiswa, tetapi juga dosen pendamping dan perguruan tinggi serta proses yang dijalani selama pelaksanaan PKM.
Pencapaian melalui penghargaan ini, menurut Ruslin, diharapkan dapat mendorong mahasiswa, dosen pendamping, dan Unhas untuk terus meningkatkan kualitas serta mengambil manfaat dari setiap proses dan tahapan yang dilalui.
Memang, Unhas dan perguruan tinggi lain perlu banyak melahirkan mahasiswa-mahasiswa hebat,yang bisa menjadi obat untuk mengatasi kelemahan demokrasi negeri ini:nirkompoten.Orang populer dengan polesan citra lebih mendapat tempat ketimbang orang yang berkompeten.
(Rusman Madjulekka )









