Dari “Dunia Hitam” Kopi Seko ke Sorowako, Bahar Makkutana Bawa Semangat Koperasi Luwu Utara ke Harkopnas 79

  • Whatsapp
Bahar Makkutana bersama Bupati Luwu Utara Andi Abdullah Rahim (dok: istimewa)

PELAKITA.ID — Bagi Bahar Makkutana, kopi adalah bagian dari cerita tentang kampung, ekonomi rakyat, pengetahuan lokal, dan koperasi yang mempertemukan banyak kepentingan dalam satu ruang kebersamaan.

Pagi tadi, Bahar menjadi bagian dari rombongan peserta Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 tingkat Provinsi Sulawesi Selatan yang akan berlangsung di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, 6–10 Oktober 2026.

Ia dilepas langsung Bupati Luwu Utara Andi Abdullah Rahim bersama peserta lainnya.

Dalam pesan yang disampaikan kepada Kamaruddin Azis dari Pelakita.ID, Bahar menyebut dirinya akan hadir sebagai salah satu stakeholder dari “dunia hitam”. Istilah itu bukan merujuk pada sesuatu yang gelap, melainkan pada kopi—khususnya kopi Seko yang menjadi salah satu produk andalan dari dataran tinggi Luwu Utara.

“Dunia hitam, baca: mengolah Kopi Seko, andalan Luwu Utara,” tulis Bahar dalam pesannya. Ia bahkan memastikan telah menyiapkan kaos berlogo koperasi untuk dikenakan selama berada di Sorowako.

Ada kesan ringan dalam pesan tersebut, tetapi di balik humor tentang “dunia hitam” itu terdapat cerita yang lebih serius: bagaimana komoditas lokal dapat menemukan jalan menuju pasar melalui kelembagaan ekonomi yang dibangun secara kolektif.

Bahar sendiri bukan orang yang jauh dari isu pembangunan daerah. Ia selama ini terlibat dalam berbagai aktivitas pemberdayaan dan pengembangan kelembagaan masyarakat di Luwu Utara. Kehadirannya di Harkopnas menjadi bagian dari pertemuan antara pelaku lokal, pemerintah, koperasi, UMKM dan berbagai pemangku kepentingan ekonomi rakyat.

Bagi Luwu Utara, keberangkatan peserta ke Sorowako juga menjadi kesempatan memperkenalkan potensi daerah kepada jaringan yang lebih luas.

Kopi Seko, dalam konteks ini, tidak hanya diposisikan sebagai minuman, tetapi sebagai produk yang membawa identitas wilayah dan kerja masyarakat dari kawasan pegunungan.

Apa sebenarnya Harkopnas?

Hari Koperasi Nasional diperingati setiap 12 Juli. Penetapan tersebut berakar pada Kongres Koperasi Indonesia pertama di Tasikmalaya pada 12 Juli 1947. Kongres itu menjadi tonggak penting gerakan koperasi setelah Indonesia merdeka, sementara Kongres Koperasi kedua di Bandung pada 1953 kemudian melahirkan Dewan Koperasi Indonesia dan mengukuhkan Mohammad Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Karena itu, Harkopnas bukan sekadar perayaan tahunan. Di dalamnya terdapat gagasan besar mengenai bagaimana masyarakat membangun kekuatan ekonomi melalui kerja sama, kepemilikan bersama, gotong royong dan penguatan posisi ekonomi anggota.

Tema Harkopnas ke-79 tahun 2026 adalah “Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya.” Kementerian Koperasi menempatkan peringatan ini sebagai momentum untuk mengembalikan koperasi sebagai bagian penting dari sistem ekonomi rakyat, sekaligus menunjukkan bahwa koperasi dapat berkembang sebagai badan usaha yang modern, profesional dan relevan dengan kebutuhan masyarakat hari ini.

Presiden Prabowo Subianto, dalam puncak Harkopnas ke-79 di Jakarta pada 12 Juli 2026, juga menekankan pentingnya memperkuat fondasi ekonomi dari tingkat paling bawah.

Pemerintah melihat koperasi sebagai instrumen kolektif yang dapat memperkuat ekonomi masyarakat dari desa hingga tingkat yang lebih luas.

Sorowako menjadi panggung koperasi dan UMKM Sulsel

Untuk tingkat Sulawesi Selatan, Harkopnas ke-79 dipusatkan di Kabupaten Luwu Timur, khususnya Sorowako, Kecamatan Nuha. Rangkaian kegiatan berlangsung 6–10 Oktober 2026 dan melibatkan peserta dari kabupaten/kota se-Sulsel.

Pemerintah Kabupaten Luwu Timur memperkirakan sekitar 3.000 tamu akan datang ke daerah tersebut. Para peserta berasal dari 23 kabupaten/kota, sementara sejumlah kepala daerah dan unsur pemerintah provinsi serta kementerian terkait juga dijadwalkan hadir.

Lapangan Iniaku Sorowako menjadi salah satu pusat kegiatan. Hingga 4 Oktober, persiapan lokasi dilaporkan telah mencapai sekitar 90 persen. Stan pameran telah berdiri, perangkat pendukung acara telah diuji, dan peserta dari berbagai daerah mulai berdatangan pada 5 Oktober.

Agenda Harkopnas tingkat Sulsel tidak hanya berupa seremoni. Sejumlah kegiatan telah disiapkan, antara lain seminar perkoperasian, rapat kerja daerah bidang koperasi, jalan santai, Pekan Expo K-UMKM Sulsel, lomba paduan suara, gala dinner, lomba sambung lirik, pameran pompessi, serta lomba tradisional antarpeserta.

Pekan Expo K-UMKM menjadi salah satu agenda yang paling relevan bagi pelaku usaha.

Pemerintah Luwu Timur berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai ruang pamer, tetapi mampu memperkenalkan produk unggulan, memperluas jaringan usaha dan membuka akses pasar yang lebih besar bagi UMKM.

Dari Seko menuju jejaring yang lebih luas

Di tengah agenda besar tersebut, Bahar Makkutana datang dengan cerita yang sederhana: kopi Seko. Namun, justru cerita sederhana seperti itu yang memberi wajah lain bagi Harkopnas. Di balik ribuan peserta, panggung, seminar, pameran dan agenda resmi, terdapat pelaku-pelaku ekonomi lokal yang membawa produk dari kampungnya masing-masing.

Kopi Seko adalah salah satunya. Ia membawa cerita tentang wilayah pegunungan Luwu Utara, petani, pengolah, pelaku usaha, jejaring pemasaran dan kebutuhan untuk membuat produk lokal memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Sorowako selama lima hari akan menjadi ruang pertemuan berbagai cerita semacam itu. Produk dari berbagai kabupaten bertemu, pelaku koperasi saling mengenal, pemerintah daerah memperkenalkan potensi wilayah, sementara UMKM memperoleh kesempatan bertemu calon pasar dan mitra usaha.

Dengan demikian, Harkopnas dapat dibaca bukan sekadar sebagai peringatan sejarah koperasi, tetapi sebagai ruang mempertemukan modal sosial, produk lokal dan peluang ekonomi.

Dari Seko ke Sorowako, kopi menjadi salah satu cara Luwu Utara memperkenalkan dirinya.

Di tengah semangat “Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya”, perjalanan itu memperlihatkan bahwa koperasi pada akhirnya bukan hanya tentang organisasi, tetapi tentang bagaimana orang-orang kecil dapat berkumpul, bekerja sama dan membangun nilai dari apa yang mereka miliki.

Redaksi