SPPM Maros 2026: Ketika Alumni Bersatu, Nilai-Nilai Pembelajaran Menjelma Menjadi Aksi

  • Whatsapp
Banyak orang mengira perjalanan kami selesai ketika sertifikat dibagikan. Padahal, justru setelah itulah pelajaran sesungguhnya dimulai. SPPM bukan sekadar ruang belajar tentang kepemimpinan, politik, atau penguatan kapasitas perempuan. Lebih dari itu, SPPM mengajarkan bagaimana membangun solidaritas, kepercayaan, serta keberanian untuk hadir bagi sesama.

Oleh: Sitti Nur Aswa Riski Wahyuni – Alumni SPPM Maros 2026

PELAKITA.ID – Sebuah sekolah yang baik tidak hanya melahirkan peserta yang cerdas, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki kepedulian, keberanian, dan semangat untuk saling menguatkan.

Itulah yang terus kami rasakan setelah menjadi bagian dari Sekolah Politik Perempuan Milenial (SPPM) Maros 2026.

Banyak orang mengira perjalanan kami selesai ketika sertifikat dibagikan. Padahal, justru setelah itulah pelajaran sesungguhnya dimulai. SPPM bukan sekadar ruang belajar tentang kepemimpinan, politik, atau penguatan kapasitas perempuan. Lebih dari itu, SPPM mengajarkan bagaimana membangun solidaritas, kepercayaan, serta keberanian untuk hadir bagi sesama.

Belum lama ini, para alumni SPPM Maros kembali menunjukkan bahwa ikatan yang terbangun selama proses pembelajaran bukanlah hubungan yang berhenti di ruang kelas.

Ketika salah seorang teman membutuhkan dukungan, respons yang muncul bukanlah perdebatan tentang siapa yang harus memulai atau siapa yang bertanggung jawab.

Yang hadir justru kesadaran kolektif bahwa kami adalah satu keluarga yang telah ditempa oleh nilai-nilai yang sama.

Kami, alumni SPPM Maros 2026, akan terus berupaya menjaga semangat itu—bergerak bersama, saling menguatkan, dan membuktikan bahwa perempuan yang belajar bersama akan mampu menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Semangat itu tumbuh secara alami. Tidak ada instruksi, tidak ada kewajiban, apalagi pencitraan. Yang ada hanyalah keinginan tulus untuk saling menopang, sebagaimana yang selama ini diajarkan oleh para senior, fasilitator, dan moderator SPPM.

Kami belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang berbicara di depan publik atau memimpin organisasi, tetapi juga tentang kesediaan mengulurkan tangan ketika orang lain membutuhkan.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu yang diperoleh di SPPM bukan sekadar teori. Nilai-nilai kolaborasi, empati, gotong royong, dan tanggung jawab sosial benar-benar hidup dalam tindakan nyata para alumninya.

Di sanalah kami memahami bahwa perubahan besar selalu dimulai dari komunitas kecil yang saling percaya dan saling menguatkan.

SPPM telah mengajarkan kami bahwa perempuan bukan hanya mampu menjadi pemimpin, tetapi juga menjadi penggerak yang menyatukan, membangun jejaring, dan menghadirkan solusi bagi lingkungan sekitarnya. Nilai-nilai itulah yang terus kami bawa dalam kehidupan sehari-hari, baik di keluarga, masyarakat, maupun ruang-ruang pengabdian lainnya.

Harapan kami sederhana. Semoga semakin banyak perempuan di Kabupaten Maros yang berani bergabung dan merasakan pengalaman belajar di SPPM.

Penulis (kanan)

Sebab, SPPM bukan sekadar tempat meningkatkan pengetahuan atau mengasah kemampuan berbicara. Ia adalah ruang bertumbuh yang membentuk karakter, memperluas persaudaraan, dan menanamkan kepedulian yang akan terus hidup bahkan setelah proses pembelajaran selesai.

Keberhasilan sebuah sekolah tidak hanya diukur dari jumlah alumninya, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai yang diajarkan mampu tumbuh menjadi tindakan nyata.

Kami, alumni SPPM Maros 2026, akan terus berupaya menjaga semangat itu—bergerak bersama, saling menguatkan, dan membuktikan bahwa perempuan yang belajar bersama akan mampu menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Karena di SPPM, kami tidak hanya belajar menjadi perempuan yang berdaya. Kami belajar menjadi perempuan yang membuat orang lain ikut berdaya.