Kabar dari Kelurahan Malili | Jalan Rabat yang Memperbaiki Layanan Kesehatan dan Akses Warga

  • Whatsapp
Jalan rabat beton sepanjang sekitar 60 meter yang dibangun melalui dukungan Program PPM SDGs PT Vale tidak hanya memperbaiki permukaan jalan, tetapi juga membuka kembali akses warga menuju fasilitas pelayanan kesehatan lingkungan. (dok: Kamaruddin Azis)

PELAKITA.ID — Sebuah jalan lingkungan yang dulu membuat pengendara harus ekstra hati-hati kini perlahan menjadi bagian dari keseharian warga Kelurahan Malili, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur.

Jalan rabat beton sepanjang sekitar 60 meter yang dibangun melalui dukungan Program PPM SDGs PT Vale tidak hanya memperbaiki permukaan jalan, tetapi juga membuka kembali akses warga menuju fasilitas pelayanan kesehatan lingkungan.

Penulis bersua Lurah Malili, Sampowali dan mendapat informasi yang menggugah atensi.

Sebelum diperbaiki, kata Lurah berpembawaan ramah ini, ruas jalan tersebut menjadi salah satu titik yang cukup menyulitkan warga.

“Kondisinya menurun dan terjal, sementara permukaannya tidak memberikan rasa aman bagi kendaraan roda dua maupun roda empat. Dalam situasi tertentu, warga bahkan memilih berjalan kaki untuk melewati ruas tersebut karena kondisi jalan yang kurang memungkinkan dilalui dengan nyaman,” ungkapnya, Selasa, 22 September 2026.

Persoalan menjadi lebih penting karena tidak jauh dari lokasi terdapat Posyandu yang menjadi salah satu ruang pelayanan kesehatan bagi masyarakat, terutama ibu dan anak.

“Ketika akses jalan belum memungkinkan digunakan dengan aman dan nyaman, kegiatan Posyandu sempat dipindahkan dan dititipkan di rumah warga agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan,” ucap alumni STPDN itu.

Hal itu dibenarkan oleh anggota Pelaksana Kegiatan PPM SDGs Malili.  “Bagi ibu-ibu yang membawa balita, kondisi tersebut bukan perkara sederhana. Membawa anak menuju tempat pelayanan kesehatan membutuhkan akses yang aman, mudah, dan dapat dijangkau tanpa harus berhadapan dengan jalan yang licin, curam, atau rawan kecelakaan.”

Karena itu, perbaikan jalan pada akhirnya bukan hanya cerita mengenai beton dan drainase, tetapi juga tentang bagaimana infrastruktur dasar menentukan mudah atau sulitnya warga memperoleh pelayanan.

Lurah Sampowali menyampaikan apresiasi atas dukungan Program PPM SDGs PT Vale yang membantu menjawab kebutuhan tersebut. Menurutnya, kondisi jalan sebelumnya memang cukup menyulitkan warga dan berpengaruh terhadap akses menuju fasilitas pelayanan masyarakat.

“Kami berterima kasih atas dukungan PPM SDGs PT Vale. Jalan ini sangat membantu masyarakat karena sebelumnya aksesnya cukup sulit dan rawan, bahkan warga harus berhati-hati ketika melintas. Sekarang akses sudah lebih baik, termasuk untuk masyarakat yang datang ke Posyandu,” ujar Sampowali.

Akses ke Posyandu kini semakin mudah (dok: Kamaruddin Azis)

Melalui musyawarah

Kebutuhan perbaikan jalan tersebut sebenarnya telah muncul dalam proses Musyawarah Perencanaan Pembangunan atau Musrenbang. Pemerintah kelurahan telah mengupayakan agar kebutuhan itu dapat ditangani melalui anggaran pemerintah, tetapi keterbatasan kemampuan pembiayaan membuat usulan tersebut belum segera terealisasi.

Karena itu, peluang dukungan melalui Program PPM SDGs PT Vale menjadi salah satu jalan keluar.

Usulan masyarakat yang sebelumnya berada dalam ruang perencanaan kemudian memperoleh dukungan untuk diwujudkan menjadi pekerjaan fisik yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh warga.

“Kebutuhan seperti ini sebenarnya sudah kami usulkan melalui Musrenbang. Karena belum bisa terakomodasi melalui APBD, dukungan melalui program PPM menjadi sangat berarti. Yang paling penting, pembangunan ini menjawab kebutuhan yang memang dirasakan langsung oleh masyarakat,” lanjut Sampowali.

Prosesnya juga tidak sepenuhnya berlangsung dari atas ke bawah. Kebutuhan tersebut telah dibicarakan dalam forum Musrenbang dengan melibatkan masyarakat.

Warga diberi ruang untuk menyampaikan persoalan lingkungan masing-masing, sehingga pembangunan jalan tidak berdiri sebagai proyek yang tiba-tiba hadir, melainkan berangkat dari kebutuhan yang memang telah dirasakan sehari-hari.

Di lapangan, semangat gotong royong juga terlihat. Masyarakat sekitar ikut membersihkan lokasi pekerjaan, terutama bagian drainase, sementara warga turut memberikan dukungan material berupa chipping.

“Kontribusi tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki arti penting karena menunjukkan adanya rasa memiliki terhadap pekerjaan yang sedang dibangun,” puji Sampowali.

Bagi pelaksana kegiatan seperti Rhisma dan Nurdiana, termasuk fasilitator pendamping Sangkala atau biasa disapa Ewa, keterlibatan warga menjadi salah satu tanda bahwa sebuah pembangunan memang menjawab kebutuhan.

“Ketika masyarakat merasakan persoalan yang sama setiap hari, mereka tidak hanya menunggu bantuan datang, tetapi terdorong untuk ikut memastikan pekerjaan tersebut dapat terlaksana dan nantinya memberikan manfaat,” ucap Sangkala, warga Baruga.

Tenaga lokal juga dilibatkan dalam pekerjaan. Pemilihan tukang mempertimbangkan pengalaman dan kualitas hasil pekerjaan sebelumnya, dengan prinsip bahwa pembangunan tidak semata-mata mengejar harga paling rendah, tetapi memastikan hasilnya dapat digunakan dalam jangka panjang.

Dalam percakapan dengan pelaksana, prinsip itu diringkas secara sederhana: lebih baik kalah harga daripada kalah dalam pemakaian.

Kalimat tersebut menggambarkan satu hal penting dalam pembangunan infrastruktur lingkungan. Jalan yang digunakan setiap hari oleh masyarakat membutuhkan kualitas yang dapat bertahan, sebab kerusakan yang terlalu cepat justru akan mengembalikan warga pada persoalan yang sama dan mengurangi manfaat investasi pembangunan.

Setelah pekerjaan selesai, perubahan paling mudah terlihat adalah akses yang menjadi lebih nyaman. Warga dapat melewati ruas jalan tersebut dengan berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan, sementara akses menuju Posyandu kembali memungkinkan kegiatan pelayanan dilakukan di lokasi semula.

Dampaknya mungkin tidak selalu terlihat dalam ukuran ekonomi yang besar. Namun, bagi keluarga yang membawa balita ke Posyandu, bagi warga yang setiap hari melewati jalan tersebut, atau bagi pengendara yang sebelumnya harus berhati-hati menghadapi turunan dan permukaan jalan yang sulit, perubahan kecil itu memiliki arti yang konkret.

Pembangunan infrastruktur lingkungan bertemu dengan pelayanan kesehatan. Jalan yang lebih baik membuat fasilitas kesehatan lebih mudah dijangkau, sementara fasilitas kesehatan yang dapat diakses dengan aman memperkuat kemampuan masyarakat memperoleh pelayanan dasar.

“Proses fasilitasinya lancar, musyawarah lancar, ada berita acara pertemuan sejak awal. Laporan keuangan oleh Pelaksana Kegiaan pun lancar,”kata Sangkala, fasilitator untuk Kelurahan Malili.

Selain rabat beton, drainase pun dibuat rapi (dok: Kamaruddin Azis)

Solusi saat kondisi fiskal terbatas

Cerita dari Kelurahan Malili sekaligus menunjukkan bahwa kebutuhan pembangunan di tingkat kelurahan masih jauh lebih besar daripada kemampuan anggaran yang tersedia. Pemerintah kelurahan menghadapi berbagai kebutuhan lingkungan, sementara ruang fiskal yang terbatas membuat tidak semua kebutuhan dapat ditangani secara mandiri dalam waktu bersamaan.

Karena itu, dukungan program pembangunan dari dunia usaha seperti bantuan perbaikan jalan rabat beton melalui skema PPM SDGs PT Vale ini dapat menjadi salah satu bagian dari ekosistem pembiayaan pembangunan masyarakat, sepanjang tetap berangkat dari kebutuhan warga, terhubung dengan perencanaan pemerintah, dan melibatkan masyarakat dalam prosesnya.

Di sisi lain, kebutuhan pembangunan tidak semestinya hanya dibebankan kepada satu perusahaan.

Pemerintah kelurahan melihat masih terbuka peluang membangun kemitraan dengan berbagai perusahaan, perbankan, maupun lembaga lain yang memiliki program tanggung jawab sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Dengan cara pandang seperti itu, PPM SDGs dapat ditempatkan bukan sekadar sebagai pembangunan fisik, melainkan sebagai jembatan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan sumber daya lokal. Jalan rabat menjadi titik temu dari kebutuhan warga, perencanaan pembangunan, dukungan program, tenaga lokal, dan kontribusi masyarakat.

Di Kelurahan Malili, Luwu Timur, sebuah ruas jalan sepanjang sekitar 60 meter akhirnya membawa cerita yang lebih panjang daripada ukuran fisiknya.

Ia memperpendek jarak warga menuju ruang pelayanan, mengurangi hambatan mobilitas, membantu mengembalikan aktivitas Posyandu ke tempat semula, dan memperlihatkan bahwa infrastruktur sederhana dapat memiliki dampak sosial yang cukup luas ketika dibangun dari kebutuhan nyata masyarakat.

Bagi warga, jalan itu mungkin hanya sebuah jalan rabat beton. Tetapi bagi seorang ibu yang membawa anak ke Posyandu, bagi pengendara yang sebelumnya menghadapi jalan terjal, dan bagi keluarga yang setiap hari bergantung pada akses tersebut, jalan itu adalah bagian dari rasa aman, kemudahan, dan kepastian dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

___
Kamaruddin Azis
Sorowako, 24 September 2026