Bersiaplah Menyambut Air Pulang ke Tanah

  • Whatsapp
Muliadi Saleh (dok: Istimewa)

Hujan, Doa, Ilmu, dan Kearifan Manusia Menjaga Kehidupan

Oleh Muliadi Saleh | Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran

PELAKITA.ID – Banjir bandang yang melanda Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada 21 September 2026, menjadi pengingat bahwa alam selalu memiliki cara untuk menyampaikan pesan kepada manusia.

Penghujung September membawa pesan dari langit. Setelah berbulan-bulan kemarau membuat bumi menahan haus, awan perlahan mengumpulkan uap air sebelum menurunkannya kembali sebagai hujan.

Kita menyebutnya musim hujan, tetapi dari perspektif bumi, hujan sesungguhnya adalah sebuah kepulangan: air kembali ke tempat asalnya, menyentuh tanah, menghidupkan akar, mengisi sungai, dan membangunkan benih yang lama menunggu dalam kesunyian.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hujan berintensitas tinggi memicu banjir bandang di Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang. Hingga 22 September, satu warga meninggal dunia, satu lainnya masih dalam pencarian, empat warga terluka, dan sekitar 100 rumah terdampak.

Sebuah jembatan di jalur utama Arosuka juga terputus, sementara kerusakan terhadap lahan pertanian masih dalam proses pendataan oleh pihak terkait.

Air yang pulang tidak selalu membawa kisah yang sama. Ia dapat hadir sebagai berkah yang menyuburkan sawah, mengisi sumur, menyejukkan udara, dan menghidupkan pepohonan.

Namun, air juga dapat berubah menjadi banjir dan longsor ketika manusia telah terlalu jauh mengubah bentang alam dan menutup ruang-ruang alami yang selama ini menjadi jalannya.

Karena itu, menghadapi musim hujan tidak cukup hanya dengan menyiapkan payung, talang rumah, dan saluran drainase, tetapi juga kesadaran bahwa setiap tetes air memiliki jalan pulangnya sendiri.

Ironisnya, ketika sebagian wilayah Indonesia menghadapi banjir, sebagian wilayah lainnya masih bergulat dengan kekeringan yang belum sepenuhnya berakhir.

Pada 22 September 2026, BMKG memprakirakan awal musim hujan 2026/2027 di 529 Zona Musim, atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia, mengalami kemunduran dari rata-rata klimatologis akibat pengaruh El Niño yang sangat kuat.

Di sinilah air mengajarkan manusia tentang sebuah paradoks kehidupan. Setelah lama memohon hujan, kita bersukacita ketika langit mulai gelap dan suara rintiknya terdengar di atas atap rumah.

Namun, kegembiraan itu harus berjalan bersama kesiapan, sebab air yang terlalu lama ditunggu dapat datang dengan kekuatan yang tidak selalu mampu kita perkirakan.

Kita meminta hujan turun dari langit, tetapi sering kali lupa menyiapkan tanah agar mampu menerima, menyimpan, dan mengalirkannya secara aman.

Manusia bahkan telah menempuh jalan ikhtiar melalui ilmu pengetahuan. Teknologi observasi cuaca, radar, satelit, prakiraan iklim, hingga operasi modifikasi cuaca merupakan bagian dari usaha memahami sekaligus mengurangi risiko hidrometeorologi.

Namun, ilmu pengetahuan tidak berarti manusia telah menaklukkan langit. Justru, pengetahuan semestinya membuat kita semakin sadar bahwa masih begitu luas wilayah kehidupan yang berada di luar kendali manusia.

Begitu pula dengan Salat Istisqa, ketika manusia menengadahkan tangan dan memohon kepada Tuhan agar hujan diturunkan sebagai rahmat bagi kehidupan.

Dalam doa tersebut, manusia sesungguhnya sedang mengakui sesuatu yang sangat mendasar: ada kekuasaan yang berada jauh di luar jangkauan kemampuan manusia.

Doa mengajarkan ketundukan, sedangkan ilmu mengajarkan ikhtiar. Keduanya tidak harus dipertentangkan, karena manusia dapat membaca awan dengan teknologi sambil tetap merendahkan hati kepada Pemilik langit dan bumi.

Karena itu, doa kita bukan sekadar meminta hujan turun, tetapi memohon agar hujan yang datang menjadi air yang membawa manfaat dan kehidupan.

Hujan yang mengisi sungai tanpa membuatnya meluap, membasahi sawah tanpa menghancurkannya, menghidupkan mata air tanpa memicu longsor, serta menyuburkan tanaman tanpa menenggelamkan permukiman.

Kita memohon hujan sebagai rahmat, bukan sekadar air yang jatuh dengan deras dari langit tanpa memperhitungkan kemampuan bumi menerimanya.

Tetapi setelah doa, tangan manusia harus bekerja. Pemerintah perlu memperkuat pemetaan wilayah rawan banjir dan longsor, menjaga kawasan hulu serta daerah resapan, memulihkan sungai, dan memperbaiki sistem drainase.

Sistem peringatan dini juga harus diperkuat, sementara jalur evakuasi harus benar-benar diketahui masyarakat dan dapat digunakan ketika ancaman bencana mulai muncul.

Di tingkat warga, kesiapsiagaan dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti tidak membuang sampah ke sungai, menanam pohon, membuat lubang resapan, memanen air hujan, serta menjaga saluran lingkungan.

Masyarakat juga perlu memahami langkah yang harus dilakukan ketika peringatan bencana dikeluarkan, sebab pengetahuan sederhana pada saat yang tepat dapat menentukan keselamatan seseorang dan keluarganya.

Kita juga perlu mengembalikan ruang kepada air. Sungai bukan parit raksasa tempat membuang sisa kehidupan, melainkan urat nadi ekologis yang membutuhkan ruang untuk mengalir.

Tanah bukan sekadar lahan yang harus ditutup beton, sementara hutan bukan sekadar kumpulan kayu yang menunggu ditebang demi kepentingan ekonomi jangka pendek.

Ketika seluruh jalan kepulangan air kita tutup, air pada akhirnya akan mencari jalannya sendiri, dan manusia mungkin menyebut pencarian tersebut sebagai bencana.

Persoalan air juga tidak dapat dipisahkan dari pangan. Bagi petani, air bukan sekadar fenomena meteorologis, melainkan bagian penting dari kalender kehidupan dan keberlangsungan produksi pertanian.

Kapan tanah diolah, kapan benih ditanam, kapan tanaman tumbuh, dan kapan hasil panen harus diselamatkan, semuanya memiliki hubungan erat dengan keberadaan dan ketersediaan air.

Maka, ketahanan pangan tidak cukup dibangun dengan mengejar peningkatan produksi semata. Kita juga harus menjaga sumber kehidupan yang memungkinkan produksi tersebut terus berlangsung dari musim ke musim.

Petani membutuhkan informasi musim yang mudah dipahami, kalender tanam adaptif, varietas yang sesuai, pengelolaan air yang efisien, embung dan irigasi yang terawat, serta perlindungan terhadap tanah dan ekosistem di sekitarnya.

Ketahanan pangan pada akhirnya bukan hanya persoalan berapa ton padi yang dapat dipanen hari ini, tetapi apakah bumi masih mampu menyediakan air dan tanah sehat untuk panen berikutnya.

Perubahan iklim bukan sekadar istilah ilmiah yang terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia hadir di sawah ketika musim bergeser dan di rumah ketika air masuk tanpa diundang.

Ia hadir di sungai ketika debit berubah secara cepat dan di dapur ketika gangguan produksi pangan memengaruhi apa yang tersedia di meja makan keluarga.

Perubahan iklim akhirnya menjadi pengalaman sehari-hari yang menuntut manusia bukan hanya menjadi lebih pintar dalam membaca alam, tetapi juga lebih bijaksana dalam memperlakukannya.

Kita perlu membangun hubungan baru dengan alam, bukan hubungan antara penguasa dan yang dikuasai, melainkan hubungan antara makhluk hidup dan rumah kehidupan yang menopangnya.

Dalam perspektif Islam, manusia adalah khalifah, makhluk yang menerima amanah untuk memakmurkan bumi, bukan mengeksploitasi dan merusaknya tanpa batas.

Al-Qur’an mengingatkan: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki.” (QS. Al-A’raf: 56).

Ayat tersebut terasa semakin dalam ketika kita menyaksikan air yang semestinya menjadi rahmat berubah menjadi lumpur yang menyeret rumah, lahan pertanian, harta benda, bahkan kehidupan manusia.

Barangkali alam tidak sedang menghukum manusia. Barangkali alam sedang memperlihatkan hukum keseimbangannya melalui konsekuensi dari cara manusia memperlakukan ruang kehidupan.

Ketika hutan kehilangan akar, tanah kehilangan pegangan. Ketika sungai kehilangan ruang, air kehilangan jalan. Dan ketika manusia kehilangan batas, bencana dapat menjadi cara bumi mengingatkan kita.

Maka, menyambut hujan sesungguhnya adalah menyambut sebuah amanah. Kita tidak dapat mengatur awan ke mana harus berjalan, tetapi kita dapat menentukan bagaimana bumi dipersiapkan untuk menerimanya.

Kita dapat memilih apakah tanah masih memiliki pohon, apakah sungai masih memiliki ruang, apakah kota memiliki sistem peringatan dini, dan apakah masyarakat memiliki pengetahuan untuk menyelamatkan diri.

Kita tidak menguasai hujan, tetapi kita dapat belajar menjadi manusia yang lebih siap menerimanya, sekaligus lebih bijaksana dalam menjaga ruang yang menjadi tempat air kembali.

Barangkali inilah makna terdalam dari “air pulang ke tanah.” Air berasal dari bumi, naik menuju langit, kemudian turun kembali membawa kehidupan bagi makhluk yang bergantung kepadanya.

Ia seperti manusia: datang dari tanah, berjalan sebentar di muka bumi, lalu pada waktunya kembali kepada-Nya, membawa seluruh pengalaman perjalanan kehidupan yang telah dilaluinya.

Karena itu, setiap tetes hujan sebenarnya mengandung pelajaran sufistik tentang kepulangan, bahwa segala sesuatu memiliki asal, perjalanan, dan tempat kembali yang tidak dapat dihindari.

Mari kita menyambut hujan dengan doa yang lebih dalam:

Ya Allah, turunkanlah air-Mu sebagai rahmat; alirkan ia ke sungai tanpa membawa kerusakan, resapkan ia ke tanah tanpa menghadirkan bencana, dan tumbuhkan ia menjadi pangan bagi kehidupan.

Sejukkan kehidupan dengannya, dan jadikan setiap tetesnya sebagai pengingat bahwa bumi ini adalah amanah yang dipercayakan kepada kami, bukan milik yang dapat kami perlakukan sesuka hati.

Sebab hujan tidak pernah benar-benar datang sendirian. Ia membawa pesan tentang bagaimana manusia memperlakukan bumi, bagaimana manusia menjaga keseimbangan, dan bagaimana manusia memahami tempatnya di tengah kehidupan.

Kemarau mengajarkan kesabaran, hujan mengajarkan kesiapan, dan keduanya mengajarkan ketundukan bahwa manusia tidak hidup di atas alam, melainkan hidup bersama alam dan bergantung kepadanya.

Sahabat pembaca Pelakita, kita tidak perlu bertanya bagaimana menghentikan hujan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah kita telah menyiapkan bumi untuk menerima rahmat yang turun dari langit.

Air akan selalu mencari jalan pulangnya kepada tanah. Tugas manusia adalah tidak menghalangi kepulangan tersebut dengan keserakahan, melainkan menyambutnya dengan ilmu, doa, kebijaksanaan, dan kasih kepada kehidupan.

“Jangan hanya menengadah ketika membutuhkan hujan; belajarlah menunduk ketika menerima amanah bumi. Sebab bagi hati yang mengenal Tuhan, setiap tetes hujan bukan sekadar air, melainkan ayat tentang rahmat, keseimbangan, kehidupan, dan jalan pulang.”


Muliadi Saleh
“Menulis Makna, Membangun Peradaban.”