Mustamin Raga | Piala Dunia dan Bangsa Penonton

  • Whatsapp
Ilustrasi

Oleh Mustamin Raga

PELAKITA.ID – Piala Dunia 2026 akhirnya usai. Spanyol keluar sebagai juara setelah menundukkan Argentina 1–0 melalui perpanjangan waktu. Sebuah pertandingan yang memperlihatkan bagaimana disiplin, pembinaan, dan kesabaran akhirnya mengalahkan ambisi.

Namun, bagi Indonesia, peluit panjang final itu seolah hanya menandai berakhirnya pesta yang sekali lagi tidak pernah kita ikuti. Kita kembali menjadi penonton. Lebih tepatnya, bangsa yang paling ramai menyaksikan pesta orang lain.

Yang lebih menyedihkan, kita bahkan mampu menghabiskan malam dengan dua kegiatan sekaligus: nonton bareng dan berjudi. Seolah-olah itulah kontribusi kita terhadap sepak bola dunia.

Di tengah gegap gempita itu, ada sebuah pelajaran yang seharusnya membuat kita malu. Lihatlah Tanjung Verde (Cape Verde).

Sebuah negara kecil di pantai barat Afrika. Penduduknya bahkan tidak sampai satu juta jiwa. Luas wilayahnya nyaris tak terlihat jika dibandingkan Indonesia. Tetapi di Piala Dunia 2026 mereka mampu membuat dunia menoleh. Mereka tidak datang sebagai penggembira. Mereka datang sebagai peserta yang dihormati, bahkan mampu merepotkan tim-tim besar.

Lalu Indonesia? Negeri dengan lebih dari 280 juta penduduk. Negeri yang setiap sore lapangannya dipenuhi anak-anak bermain bola.

Negeri yang klub-klubnya mempunyai jutaan pendukung. Negeri yang setiap pertandingan tim nasional mampu memenuhi stadion.

Tetapi setiap empat tahun sekali, kita hanya mengganti warna kaus yang kita kenakan.

Hari ini mendukung Brasil.

Besok Argentina.

Lusa Spanyol.

Kita berganti-ganti menjadi warga negara sepak bola tanpa pernah menjadi peserta Piala Dunia.

Ironisnya, setiap kekalahan negara yang kita dukung terasa seperti kekalahan pribadi. Kita berdebat di media sosial, saling mengejek, bahkan bermusuhan karena negara yang letaknya ribuan kilometer dari tanah air.

Padahal satu fakta tak pernah berubah.

Bendera Merah Putih belum juga berkibar di panggung Piala Dunia.

Barangkali masalah kita bukan kekurangan bakat.

Bukan pula kekurangan penggemar.

Yang kurang adalah keseriusan membangun ekosistem. Pembinaan usia dini, kompetisi yang sehat, tata kelola yang profesional, dan budaya yang menempatkan prestasi di atas kepentingan sesaat.

Kita terlalu sering sibuk mencari kambing hitam setelah kalah, tetapi terlalu sedikit membangun kandang yang baik sebelum bertanding.

Piala Dunia mengajarkan bahwa ukuran negara bukan penentu kejayaan.

Yang menentukan adalah kualitas manusianya, konsistensi pembinaannya, dan keberanian bermimpi besar.

Negara kecil bisa mendunia.

Negara besar bisa terus menjadi penonton.

Pertanyaannya bukan lagi, kapan Indonesia masuk Piala Dunia?

Pertanyaan yang lebih jujur adalah:

Sampai kapan kita merasa cukup menjadi penonton?

Sebab sebuah bangsa tidak akan pernah tampil di panggung dunia apabila ia lebih senang merayakan kemenangan bangsa lain daripada bekerja keras membangun kemenangan untuk bangsanya sendiri.