Jufri Rahman Tuntaskan Jabatan Sekprov Sulsel, Rahmat Muhammad: Cerdas, Bijak, dan Sombere’

  • Whatsapp
Rahmat Muhammad (kiri) bersama Jufri Rahman (kanan) (dok: Istimewa)
  • Cerdas dapat dikaitkan dengan kemampuan Jufri menempati berbagai bidang pemerintahan yang membutuhkan kemampuan administrasi, perencanaan, komunikasi, pengembangan aparatur, hingga koordinasi kebijakan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
  • Bijak dapat ditempatkan dalam pengalaman panjangnya berhadapan dengan beragam karakter birokrasi, kepala daerah, organisasi perangkat daerah, masyarakat, serta kepentingan pemerintahan yang tidak selalu berjalan dalam ruang dan perspektif yang sama.

PELAKITA.ID – MAKASSAR — Hampir empat dekade mengabdi sebagai birokrat membuat perjalanan Dr. H. M. Jufri Rahman, M.Si. tidak sekadar tercatat melalui jabatan terakhirnya sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

Pada Kamis, 17 September 2026, Jufri menjalani salah satu momen terakhirnya mengikuti Upacara Hari Kesadaran Nasional dalam kapasitas sebagai Sekda Sulsel, sebelum memasuki masa purnabakti setelah hampir 40 tahun berada dalam dunia birokrasi pemerintahan.

Di hadapan jajaran aparatur sipil negara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri menyampaikan pesan reflektif mengenai perjalanan pengabdian, waktu, jabatan, serta tanggung jawab seorang aparatur yang pada akhirnya harus menyerahkan amanah kepada generasi berikutnya.

“Setiap perjumpaan pada akhirnya akan menemukan kata selesai, dan setiap pengabdian pada waktunya akan sampai pada kata purna,” demikian pesan Jufri sebagaimana dikutip dalam pemberitaan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengenai momen perpisahannya tersebut.

Lini masa pengabdian

Jufri memulai perjalanan sebagai aparatur sipil negara pada 1986 dan kemudian menapaki berbagai jenjang birokrasi hingga dipercaya menjadi salah satu pejabat paling strategis dalam pemerintahan Provinsi Sulawesi Selatan.

Dalam perjalanan panjang itu, ia pernah menangani bidang protokol dan kehumasan pemerintahan, kemudian dipercaya memimpin Badan Pendidikan dan Pelatihan, Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan, serta Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Aparatur Provinsi Sulawesi Selatan.

Namanya juga tercatat sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah atau Bappeda Sulsel, sebuah posisi yang menempatkannya langsung dalam proses perencanaan pembangunan daerah, sinkronisasi program, serta koordinasi berbagai perangkat organisasi pemerintah daerah.

Pengalaman pemerintahan Jufri kemudian meluas ke tingkat kabupaten ketika ia dipercaya menjadi Penjabat Bupati Sinjai dan Penjabat Bupati Tana Toraja, sebelum pengalaman birokrasi tersebut membawanya ke lingkup pemerintahan nasional melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

Di tingkat pusat, Jufri pernah dipercaya sebagai Staf Ahli Menteri PAN-RB Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah, sebuah pengalaman yang mempertemukannya dengan dinamika reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan pada level nasional.

Setelah pengalaman di Jakarta, Jufri kembali ke Sulawesi Selatan dan pada 14 Agustus 2024 dipercaya menduduki jabatan Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, posisi yang menjadi puncak perjalanan panjangnya sebagai birokrat daerah.

Namun, di balik panjangnya daftar jabatan tersebut, terdapat kesan personal dari orang-orang yang mengenalnya yang tidak selalu dapat ditangkap melalui daftar riwayat jabatan, penghargaan, atau struktur organisasi pemerintahan.

Sosiolog Universitas Hasanuddin, Dr. Rahmat Muhammad, menyampaikan kesannya mengenai Jufri Rahman melalui grup WhatsApp CIDES ICMI ketika memberikan ucapan selamat ulang tahun ke-60 sekaligus selamat memasuki masa purnabakti.

Rahmat merangkum sosok Jufri dalam tiga kata yang sederhana, tetapi memiliki makna sosial yang cukup dalam, yakni cerdas, bijak, dan sombere’, tiga karakter yang menurutnya menggambarkan sosok Jufri selama menjalani perjalanan pengabdian.

“Selamat MILAD ke-60 Bpk Dr. H. M. Jufri Rahman, M.Si dan selamat memasuki masa purnabhakti, semoga tetap sehat wal’afiat bersama keluarga, tetap semangat Pak Sekda Sulsel,” tulis Rahmat dalam pesannya.

Rahmat juga mendoakan agar jabatan yang baru saja ditinggalkan Jufri menjadi bagian dari perjalanan pengabdian yang membawa keberkahan bagi dirinya, keluarga, serta lingkungan sosial yang selama ini menjadi bagian dari kehidupannya.

Tiga kata yang dipilih Rahmat itu menarik ditempatkan berdampingan dengan perjalanan karier Jufri yang panjang, sebab masing-masing kata dapat dibaca sebagai kesan personal sekaligus refleksi atas pengalaman birokrasi yang telah dilaluinya.

Cerdas dapat dikaitkan dengan kemampuan Jufri menempati berbagai bidang pemerintahan yang membutuhkan kemampuan administrasi, perencanaan, komunikasi, pengembangan aparatur, hingga koordinasi kebijakan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Bijak dapat ditempatkan dalam pengalaman panjangnya berhadapan dengan beragam karakter birokrasi, kepala daerah, organisasi perangkat daerah, masyarakat, serta kepentingan pemerintahan yang tidak selalu berjalan dalam ruang dan perspektif yang sama.

Sementara sombere’ membawa makna yang lebih dekat dengan karakter sosial Bugis-Makassar, yakni keramahan, kehangatan, kesantunan, kemampuan membangun relasi, serta cara seseorang membuat orang lain merasa diterima dalam sebuah perjumpaan.

Mungkin karena itu, kata sombere’ menjadi menarik ketika digunakan untuk menggambarkan seorang birokrat yang selama puluhan tahun hidup dalam lingkungan pemerintahan, sebab jabatan dapat memberikan kewenangan, tetapi hubungan manusiawi sering kali menentukan bagaimana seseorang dikenang.

Jufri sendiri dalam kesempatan terakhirnya sebagai Sekda Sulsel mengingatkan ASN agar terus menghadirkan manfaat, bekerja dengan integritas, menjaga persatuan, serta membangun hubungan kerja sebagai kemitraan dan bukan sebagai ruang persaingan antarsesama aparatur.

Pesan tersebut terasa sebagai bagian dari warisan yang ingin ditinggalkan Jufri setelah hampir 40 tahun menjalani karier birokrasi, bahwa keberadaan seorang aparatur pada akhirnya tidak hanya diukur dari posisi yang pernah ditempati.

Jufri juga pernah menerima Satya Lencana Karya Satya X, XX, dan XXX Tahun sebagai bagian dari penghargaan atas masa pengabdiannya, selain Lencana Pancawarsa V Pramuka serta sejumlah penghargaan lain yang diterimanya sepanjang perjalanan karier.

Menariknya, perjalanan Jufri tidak seluruhnya berada di belakang meja pemerintahan, karena pada 2026 ia juga memperkenalkan gagasan mengenai Jet Stove, kompor berbahan bakar kayu yang dirancang menghasilkan panas tinggi dengan penggunaan kayu lebih sedikit sebagai salah satu alternatif menghadapi persoalan energi masyarakat.

Jejak empat dekade

Purnabakti Jufri Rahman bukan sekadar cerita tentang berakhirnya sebuah jabatan, karena pengalaman hampir empat dekade telah mempertemukannya dengan begitu banyak ruang pelayanan, perencanaan, pemerintahan, pengembangan aparatur, dan kehidupan sosial masyarakat Sulawesi Selatan.

Ia meninggalkan ruang kerja Sekda dengan pengalaman sebagai birokrat yang pernah berada di lini protokol, kehumasan, pendidikan dan pelatihan, kebudayaan dan pariwisata, perencanaan pembangunan, pemerintahan kabupaten, reformasi birokrasi nasional, hingga koordinasi pemerintahan provinsi.

Karena itu, tiga kata yang disampaikan Rahmat Muhammad — cerdas, bijak, dan sombere’ — dapat dibaca sebagai kesan personal seorang kolega, sekaligus cara sederhana untuk merangkum perjalanan panjang seorang birokrat yang telah melewati banyak ruang pengabdian.

Bagi Rahmat, jabatan memang memiliki batas waktu, sementara jejak pergaulan, pengetahuan, pengalaman, dan hubungan kemanusiaan seorang pejabat dapat terus hidup jauh setelah nama pada papan jabatan berganti.

Demikianlah makna purnabakti bagi Jufri Rahman: bukan berhenti dari pengabdian, melainkan memasuki ruang kehidupan berikutnya dengan membawa pengalaman panjang, persahabatan yang telah terbangun, serta doa agar perjalanan selanjutnya tetap memberi manfaat.

___
Editor Denun