Dari Siri’ ke Inovasi, Saat Unhas Mengajarkan Cara Menaklukkan Masa Depan

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID
  • Kisah Fikrang, alumnus Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin sekaligus pendiri Tambakmi, memperlihatkan bagaimana proses tersebut bekerja di lapangan. Ia tidak memulai bisnisnya dari pertanyaan sederhana tentang produk apa yang dapat dijual, melainkan dari masalah yang dihadapi petambak udang.
  • Persoalan yang ditemukannya sangat konkret: tingginya tingkat kematian udang pada masa awal pemeliharaan, terutama dalam 30 hari pertama pada sistem tambak tradisional. Dari titik itulah proses inovasi dimulai.
  • Di sisi lain, kampus menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar menghasilkan lulusan. Pengetahuan akademik harus menemukan jalan menuju kehidupan nyata.

PELAKITA.ID – Di bawah langit Makassar, sebuah gagasan lama tentang kesuksesan sedang berhadapan dengan kenyataan baru. Selama bertahun-tahun, jalan hidup yang dianggap paling aman bagi anak muda Indonesia adalah memperoleh pekerjaan tetap, menjadi aparatur negara, masuk institusi formal, lalu menunggu kepastian penghasilan hingga masa pensiun.

Ya, dunia kerja berubah, teknologi bergerak cepat, kebutuhan masyarakat semakin kompleks, dan tantangan ekonomi tidak lagi dapat dijawab hanya dengan memperbanyak pencari kerja.

Dari ruang-ruang kampus, perubahan itu mulai terlihat. Bursa Wirausaha Unggulan di Universitas Hasanuddin memperlihatkan bagaimana kewirausahaan perlahan bergeser dari pilihan alternatif menjadi ruang aktualisasi pengetahuan, keberanian, kreativitas, dan penciptaan lapangan kerja.

Di sana, mahasiswa, alumni, akademisi, pelaku usaha, pemerintah, dan lembaga pembiayaan bertemu dalam satu percakapan penting: bagaimana menjadikan pengetahuan bukan berhenti sebagai gagasan, melainkan bergerak menjadi solusi yang digunakan masyarakat.

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, Maman Abdurrahman, membawa percakapan itu ke wilayah yang lebih dalam ketika berbicara mengenai siri’, sebuah konsep penting dalam kebudayaan Bugis-Makassar yang berkaitan dengan kehormatan, harga diri, dan martabat.

Dalam pembacaannya, siri’ tidak semestinya berhenti sebagai simbol harga diri yang muncul ketika seseorang merasa direndahkan, tetapi dapat diarahkan menjadi energi konstruktif untuk menghadapi tantangan ekonomi dan masa depan.

“Jadikan siri’ itu sebagai bagian niat kita untuk melawan dan menaklukkan masa depan yang penuh dengan tantangan,” kata Maman.

Kalimat tersebut menjadi menarik ketika siri’ ditempatkan berdampingan dengan semangat Pinisi, warisan maritim masyarakat Sulawesi Selatan yang identik dengan keberanian berlayar, membaca arah angin, menghadapi gelombang, dan mencapai tujuan melalui ketekunan.

Dalam konteks kewirausahaan, keduanya dapat dibaca sebagai metafora tentang keberanian mengambil risiko sekaligus kemampuan menjaga arah ketika situasi tidak selalu dapat diprediksi.

Kewirausahaan dengan demikian bukan semata-mata persoalan menjual barang atau mencari keuntungan. Ia merupakan cara mengubah persoalan menjadi peluang, pengetahuan menjadi produk, teknologi menjadi layanan, dan keberanian menjadi nilai ekonomi yang memberi manfaat lebih luas.

Dari Masalah ke Pasar

Kisah Fikrang, alumnus Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin sekaligus pendiri Tambakmi, memperlihatkan bagaimana proses tersebut bekerja di lapangan.

Ia tidak memulai bisnisnya dari pertanyaan sederhana tentang produk apa yang dapat dijual, melainkan dari masalah yang dihadapi petambak udang.

Persoalan yang ditemukannya sangat konkret: tingginya tingkat kematian udang pada masa awal pemeliharaan, terutama dalam 30 hari pertama pada sistem tambak tradisional. Di situ, proses inovasi dimulai.

Fikrang menggunakan kerangka yang ia sebut sebagai 6P, sebuah cara berpikir untuk memastikan bahwa ide bisnis tidak hanya lahir dari asumsi pendirinya.

Pertama adalah Problem, yakni menemukan masalah nyata yang berulang dan cukup penting untuk diselesaikan.

Kedua People, yaitu memastikan siapa sebenarnya yang mengalami masalah tersebut. Setelah itu dilakukan validasi melalui wawancara, kemudian Pilot Project untuk menguji solusi dalam kondisi nyata.

Tahap berikutnya adalah Response, ketika respons pelanggan menjadi ukuran yang lebih bermakna daripada sekadar pujian atau ketertarikan.

Sebuah produk dapat dianggap semakin tervalidasi ketika orang bersedia membayar untuk menggunakannya. Terakhir adalah Sustainability, yakni memastikan bahwa solusi tersebut dapat bertahan dan berkembang sebagai sebuah ekosistem, bukan hanya menjadi transaksi sesaat.

Cara berpikir tersebut sekaligus mengingatkan bahwa inovasi tidak selalu membutuhkan kesempurnaan pada tahap pertama. Justru produk awal perlu diuji, diperbaiki, dan dikembalikan kepada pengguna agar pasar ikut membentuk solusi.

Ya, kampus menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar menghasilkan lulusan. Pengetahuan akademik harus menemukan jalan menuju kehidupan nyata.

Riset perlu memiliki kemungkinan untuk digunakan, teknologi harus dapat diadopsi, dan inovasi perlu memperoleh ekosistem agar mampu bertahan setelah keluar dari ruang laboratorium.

Ketika Teknologi Masuk ke Tambak

Pengalaman Tambakmi menunjukkan bahwa hilirisasi pengetahuan dapat berlangsung sangat konkret. Melalui pengembangan Smart Aquaculture System, teknologi Internet of Things atau IoT digunakan untuk membantu petambak memantau kondisi tambak melalui perangkat digital.

Perubahan yang dihasilkan bukan hanya soal penggunaan aplikasi. Lebih jauh, teknologi berusaha mengubah cara mengambil keputusan. Apa yang sebelumnya sangat bergantung pada perkiraan dan pengalaman dapat dilengkapi dengan data mengenai kondisi lingkungan tambak, sehingga keputusan pemeliharaan dapat dilakukan dengan informasi yang lebih terukur.

Namun inovasi tidak berhenti pada perangkat digital. Fikrang juga mengembangkan pakan dengan bahan herbal yang diarahkan untuk meningkatkan imunitas udang sekaligus menjaga kualitas hasil produksi. Ketika Menteri Maman berkunjung dan mencicipi udang hasil budidaya tersebut, pengalaman sensorik itu menjadi bagian menarik dari perjumpaan antara teknologi dan produk pangan.

Ia mencicipi udang tersebut bersama sambal bening dan menilai rasanya memiliki karakter manis. Bagi Fikrang, karakter itu berkaitan dengan penggunaan pakan berbahan herbal dalam proses budidaya.

Di balik momen sederhana tersebut terdapat pesan penting: teknologi pada akhirnya harus kembali kepada manusia. Ia harus dapat dirasakan manfaatnya oleh petambak, konsumen, dan masyarakat. Teknologi yang hanya berhenti sebagai demonstrasi tidak cukup untuk disebut sebagai inovasi yang berdampak.

Karena itu, ekosistem yang dibangun tidak hanya melalui Tambakmi. Ada pula Mall Tambak yang bergerak pada sisi hulu, termasuk konstruksi dan kebutuhan tambak. Keduanya menggambarkan upaya membangun rantai nilai yang lebih lengkap, dari kebutuhan produksi hingga teknologi dan hasil budidaya.

Prof. Dr. Amir Ilyas mengingatkan bahwa misi perguruan tinggi tidak semestinya selesai ketika penelitian dipresentasikan dalam seminar atau diterbitkan dalam jurnal. Pengetahuan perlu menemukan jalan menuju masyarakat dan pasar, termasuk melalui dukungan pembiayaan, sertifikasi legal, penguatan manajemen, dan jejaring yang memungkinkan produk berkembang.

Modal Bukan Sekadar Uang

Di sinilah persoalan lain muncul. Banyak gagasan bisnis gagal bukan karena produknya tidak memiliki potensi, tetapi karena pengelolaannya belum siap menerima pertumbuhan.

Deputi Bidang UMKM Kementerian UMKM, Riza Damanik, menyoroti pentingnya membangun kapasitas manajemen sebelum bisnis menerima pembiayaan dalam skala lebih besar. Modal tanpa kemampuan mengelola usaha dapat menjadi beban baru, sebagaimana air yang dituangkan ke dalam wadah yang bocor.

Melalui program inkubasi seperti Inotech, proses penguatan usaha diarahkan berlangsung selama sekitar tiga hingga enam bulan. Salah satu fokusnya adalah mempersiapkan pelaku usaha agar mampu mengelola pembiayaan, melakukan pencatatan keuangan, menyusun proposal secara akurat, dan memahami konsekuensi dari pembiayaan yang diterima.

Prinsipnya sederhana tetapi penting: modal usaha bukan untuk konsumsi. Modal harus menjadi instrumen produktivitas.

Kerangka tersebut menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan berbagai komoditas lokal yang memiliki peluang hilirisasi. Rumput laut, misalnya, tidak harus berhenti sebagai bahan mentah. Kemiri dapat dikembangkan menuju produk minyak bernilai lebih tinggi. Sagu dan pinang pun memiliki ruang untuk bergerak dari perdagangan lokal menuju pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.

Dengan demikian, pembiayaan tidak berdiri sendiri. Ia harus bertemu dengan manajemen, teknologi, pasar, kualitas produk, legalitas, dan kemampuan membaca kebutuhan konsumen.

Mengubah Budaya Pencari Kerja

Semua itu membawa kita kepada pertanyaan yang lebih besar mengenai budaya kewirausahaan Indonesia.

Maman Abdurrahman menyoroti bahwa rasio kewirausahaan Indonesia masih berada di sekitar 3,2 persen, sementara angka yang sering digunakan sebagai pembanding untuk negara-negara maju berada di sekitar 5 persen. Angka tersebut bukan sekadar statistik ekonomi. Ia menggambarkan tantangan struktural dalam membangun masyarakat yang memiliki lebih banyak pencipta lapangan kerja.

Selama kewirausahaan dianggap sebagai pilihan terakhir—dijalani setelah seseorang tidak mendapatkan pekerjaan formal—maka dunia usaha akan terus ditempatkan sebagai jalan alternatif, bukan sebagai pilihan pembangunan.

Padahal seorang wirausahawan yang berhasil mengembangkan usaha tidak hanya menciptakan pendapatan untuk dirinya sendiri. Ketika usaha tumbuh, ia membutuhkan pekerja, pemasok, jasa logistik, bahan baku, teknologi, pembiayaan, dan jaringan pemasaran. Satu usaha dapat menjadi simpul yang menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Oleh sebab itu, perubahan cara pandang menjadi penting. Anak muda tidak hanya perlu dididik untuk bertanya, “Di mana saya akan bekerja?” tetapi juga, “Masalah apa yang dapat saya selesaikan dan pekerjaan apa yang dapat saya ciptakan?”

Pertanyaan kedua tentu memiliki risiko yang lebih besar. Tetapi di dalam risiko itu terdapat ruang bagi inovasi, kemandirian, dan penciptaan nilai.

Dari Penerima Menjadi Pemberi

Bagian paling menarik dari kisah kewirausahaan bukanlah ketika seseorang mendapatkan modal, memenangkan kompetisi, atau meluncurkan sebuah produk. Ukuran yang lebih panjang adalah apa yang terjadi setelah ia berhasil.

Fikrang memiliki pengalaman yang memperlihatkan lingkaran tersebut. Pendidikan yang ditempuhnya dahulu memperoleh dukungan melalui zakat. Kini, setelah membangun usaha, ia berusaha mengembalikan manfaat itu melalui sebuah yayasan yang memberikan dukungan pendidikan dan laptop gratis bagi mahasiswa berprestasi.

Di sini kewirausahaan menemukan maknanya yang lebih luas.

Seseorang yang dahulu menerima kesempatan kemudian menciptakan kesempatan bagi orang lain. Pengetahuan yang dahulu diperoleh dari kampus dikembangkan menjadi teknologi. Teknologi menjadi bisnis. Bisnis menghasilkan manfaat ekonomi. Manfaat ekonomi kemudian dikembalikan ke lingkungan sosial dalam bentuk kesempatan pendidikan.

Itulah lingkaran dampak yang membuat kewirausahaan berbeda dari sekadar aktivitas mencari keuntungan.

Pelajaran dari Bursa Wirausaha Unggulan di Unhas bukan hanya tentang bagaimana mendirikan perusahaan. Ia berbicara mengenai keberanian mengubah cara melihat kehidupan.

Problem mengajarkan kita untuk membuka mata. People mengajarkan bahwa solusi selalu memiliki manusia sebagai pusatnya. Validasi mengajarkan agar asumsi diuji. Pilot project mengajarkan keberanian memulai dari skala kecil. Respons pasar mengajarkan pentingnya mendengar. Keberlanjutan mengajarkan bahwa sebuah usaha harus mampu hidup lebih lama daripada momentum kelahirannya.

Sementara siri’ memberi bahasa kultural bagi keberanian itu sendiri: harga diri bukan hanya sesuatu yang dipertahankan, tetapi juga energi yang dapat diarahkan untuk menciptakan sesuatu yang berguna.

Dari tambak udang hingga rumput laut, dari ruang kuliah hingga pasar, dari teknologi hingga pendidikan, masa depan kewirausahaan Indonesia mungkin tidak akan lahir dari satu formula tunggal.

Ia akan tumbuh dari pertemuan antara pengetahuan, keberanian, budaya, teknologi, modal, pasar, dan kepedulian sosial.

Kita perlu menimbang, masalah apa di sekitarnya yang cukup nyata untuk ia selesaikan, solusi apa yang bersedia diuji, dan sejauh mana keberhasilannya kelak dapat membuka jalan bagi orang lain.

Di sanalah siri’ menemukan bentuk barunya—bukan sekadar tentang mempertahankan kehormatan, melainkan tentang keberanian menciptakan nilai, menaklukkan tantangan, dan meninggalkan manfaat yang terus bergerak setelah kita melangkah pergi.

Penulis K. Azis