Irjen Pol Awal Chairuddin, Jejak Makassar dan Akar Genealogis Takalar

  • Whatsapp
Irjen Pol. Dr. M. Awal Chaeruddin, S.I.K., M.H.

Kerukunan Keluarga Takalar Panrannuangku (KKTP) menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada Irjen Pol. Dr. M. Awal Chaeruddin, S.I.K., M.H. atas pengangkatannya sebagai Kapolda Sulawesi Selatan. Ucapan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum H. Hasanuddin Tisi Dg Lewa bersama Sekretaris Jenderal A. Muktadir Taiyeb Dg Rurung, seraya mendoakan agar Awal Chaeruddin senantiasa diberikan kesehatan, kesuksesan, kekuatan, dan kelancaran dalam menjalankan amanah memimpin Polda Sulsel.

PELAKITA.ID – Nama Irjen Pol. Dr. M. Awal Chairuddin, S.I.K., M.H. kini berada di pusat perhatian setelah dipercaya memimpin Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan.

Sejumlah sumber menyebutkan, Sang Jenderal lahir di Makassar pada 3 Desember 1971 dan tumbuh dalam keluarga yang memiliki jejak kuat di dunia birokrasi dan akademik Sulawesi Selatan.

Di balik identitasnya sebagai putra kelahiran Makassar, terdapat cerita keluarga yang menghubungkannya dengan Takalar.

Awal Chairuddin adalah putra Drs. H. Chairuddin Burhan, seorang birokrat yang pernah memimpin Perwakilan Lembaga Administrasi Negara (LAN) Sulawesi Selatan.

Arsip akademik yang membahas sejarah kelembagaan LAN Sulsel mencatat Chairuddin Burhan sebagai Kepala Perwakilan LAN Sulsel dalam rentang 1968–1992.

Jejak tersebut menempatkan keluarga Chairuddin dalam lingkungan birokrasi pemerintahan yang cukup penting pada masanya.

Sementara itu, ibu Awal adalah Dra. Hatma Tamma, M.Si., yang dikenal sebagai akademisi dan dosen FISIP Universitas Hasanuddin.

Latar belakang kedua orang tuanya memperlihatkan lingkungan keluarga yang dekat dengan pendidikan, pemerintahan dan kehidupan intelektual.

Tidak mengherankan jika kemudian Awal sendiri menempuh pendidikan kepolisian hingga jenjang doktoral dan meraih gelar doktor dengan predikat cum laude.

Namun, kisah keluarganya tidak berhenti pada Makassar, Muhammad Burhanuddin, Ketua Umum DPP Garuda Astacita Nusantara, sekaligus Koordinator Fornas 08 Prabowo menyebutkan ada garis genealogis keluarga yang menyebutkan bahwa Awal Chairuddin merupakan ponakan Ranggong Daeng Romo, dengan garis keluarga yang berkaitan dengan Bone-Bone, Polongbangkeng, Takalar.

Nama wilayah tersebut menjadi salah satu simpul penting dalam cerita asal-usul keluarganya dan memperlihatkan bahwa hubungan Awal dengan Takalar bukan sekadar hubungan administratif atau profesional.

Dalam keterangan yang diperoleh Burhanuddin di grup Kerukunan Keluarga Takalar Panrannuangku PPKT, diperoleh informasi bahwaAwal Chairuddin juga disebut memiliki hubungan kekerabatan sebagai bagian keluarga dari almarhum Ibrahim Tulle, yang pernah menjabat sebagai Bupati Takalar.

“Saya dapat informasi itu dari Sekjen KKTP, A. Muktadir Taiyeb Daeng Rurung ,” ucap Burhanuddin.

Daeng Rurung juga yang menyampaikan ke Bur bahwa Sang Jenderal adalah juga ponakan Bupati Takalar Ibrahim Tulle.

Hubungan ini menambah lapisan dalam jejaring keluarga yang menghubungkan Awal dengan lingkungan sosial dan pemerintahan Takalar.

Seperti halnya hubungan dengan Ranggong Daeng Romo, informasi mengenai hubungan kekerabatan tersebut masih bersumber dari keterangan keluarga dan belum diperkuat dengan dokumen silsilah yang tersedia secara terbuka.

Nama Ranggong Daeng Romo menjadi titik penting dalam narasi genealogis tersebut.

Melalui garis keturunan inilah Takalar muncul sebagai bagian dari identitas keluarga Awal Chairuddin.

Sementara hubungan kekerabatan dengan Ibrahim Tulle menunjukkan adanya simpul keluarga lain yang bersinggungan dengan sejarah pemerintahan Kabupaten Takalar.

Ada pula jejak lain yang menarik. Hatma Tamma tercatat sebagai salah satu penulis penelitian akademik pada 1986 mengenai dampak sosial ekonomi pembangunan pabrik gula Takalar terhadap masyarakat sekitarnya.

Penelitian tersebut melibatkan sejumlah akademisi dan peneliti, termasuk Halide, Mukidjo, Arifin M. Sallatang dan Gunarwan F. Suratmo.

Keterlibatan Hatma Tamma dalam penelitian tentang Takalar tentu tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan kekerabatan dengan wilayah tersebut, tetapi menunjukkan bahwa Takalar pernah menjadi bagian dari ruang akademik dan sosial yang bersinggungan dengan perjalanan keluarganya.

Karena itu, ada beberapa lapis cerita yang sebaiknya dibedakan.

Secara biografis, Awal Chairuddin adalah orang kelahiran Makassar. Secara genealogis, berdasarkan keterangan keluarga, ia memiliki hubungan keturunan dengan Ranggong Daeng Romo dan garis keluarga yang berkaitan dengan Bone-Bone, Polongbangkeng, Takalar. Dalam jejaring kekerabatan yang sama, ia juga disebut sebagai keponakan Ibrahim Tulle, mantan Bupati Takalar.

Makassar dan Takalar dalam kisah tersebut bukan dua identitas yang harus dipertentangkan.

Keduanya justru memperlihatkan bagaimana sebuah keluarga dapat bergerak melintasi ruang sosial Sulawesi Selatan: dari akar genealogis di wilayah Takalar, kemudian tumbuh dalam lingkungan pendidikan dan pemerintahan di Makassar, lalu melahirkan generasi yang berkarier dalam institusi negara.

Pada diri Awal Chairuddin, perjalanan itu kemudian berlanjut melalui jalur kepolisian. Lulusan Akademi Kepolisian 1994 tersebut menempuh berbagai penugasan hingga dipercaya menduduki sejumlah jabatan strategis, termasuk menjadi ajudan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Pengalaman tersebut kemudian mengantarkannya pada jenjang perwira tinggi dan kini kembali ke Sulawesi Selatan sebagai Kapolda.

Maka, ketika Awal Chairuddin disebut sebagai figur yang memiliki hubungan dengan Takalar, konteksnya menjadi penting.

Ia bukan “putra kelahiran Takalar”, melainkan putra kelahiran Makassar yang, berdasarkan keterangan genealogis keluarga, memiliki akar keturunan yang terhubung dengan Ranggong Daeng Romo di kawasan Bone-Bone, Polongbangkeng, Takalar, serta jejaring kekerabatan dengan Ibrahim Tulle.

Kisah Awal Chairuddin bukan sekadar cerita tentang seorang jenderal polisi yang kembali memimpin daerah kelahirannya.

Ia juga menjadi cerita tentang mobilitas sebuah keluarga Sulawesi Selatan—tentang bagaimana garis keturunan, pendidikan, birokrasi, politik lokal, profesi dan pengabdian kepada negara bertemu dalam perjalanan beberapa generasi.

Takalar, dalam konteks tersebut, bukan sekadar nama tempat yang melekat pada sebuah klaim asal-usul.

Ia menjadi bagian dari ingatan keluarga yang menghubungkan seorang perwira tinggi Polri dengan leluhurnya, sekaligus dengan jejaring keluarga yang pernah hadir dalam pemerintahan daerah.

Sementara Makassar menjadi ruang kelahiran dan pertumbuhan, Takalar menjadi salah satu simpul genealogis yang memberi warna pada kisah panjang keluarga Awal Chairuddin.