Jurnalisme Abuabu Identitas, Menurut Rusman Madjulekka

  • Whatsapp
Silaturahmi di Warkop Phoenampungan, Senin, 5 Oktober 2026 (dok: Istimewa)
  • Rusman mengenang antara lain Nurliah Nurdin, yang akrab dipanggil Ompeng dan kini menjadi Guru Besar di LAN Jakarta; Rahmat Muhammad, yang kini menjadi Ketua Program Studi S3 Sosiologi Unhas; Dr. Arqam Azikin, dosen FISIP Unismuh yang telah almarhum; serta Dr. Asniar Khumas, dosen Psikologi Universitas Negeri Makassar.
  • “Jurnalisme Abuabu pernah menjadi salah satu program pendidikan menulis yang diperkenalkan oleh Identitas, media mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas), dengan sasaran yang sangat sederhana tetapi penting: mengajar anak-anak SMA menulis dengan baik,”ungkap Rusman saat bertemu penulis di Warkop Phoenampungan Jakarta Pusat, Senin, 5 Oktober 2026.

PELAKITA.ID — MAKASSAR — Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Jurnalisme Abuabu? Apakah ia sebuah genre jurnalistik, istilah untuk praktik media yang tidak jelas posisi editorialnya, atau sekadar permainan kata yang lahir dari ruang redaksi?

Bagi Rusman Madjulekka alumni Komunikasi Unhas 90, jawabannya justru berada di antara semua kemungkinan itu.

“Jurnalisme Abuabu pernah menjadi salah satu program pendidikan menulis yang diperkenalkan oleh Identitas, media mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas), dengan sasaran yang sangat sederhana tetapi penting: mengajar anak-anak SMA menulis dengan baik,”ungkap Rusman saat bertemu penulis di Warkop Phoenampungan Jakarta Pusat, Senin, 5 Oktober 2026.

Nama “abuabu” sengaja memiliki dua lapis makna.

Di satu sisi, ia merujuk pada siswa sekolah menengah yang identik dengan seragam abu-abu.

Di sisi lain, kata Rusman, istilah itu mengandung permainan makna terhadap praktik jurnalistik yang berada di wilayah “abu-abu”: tidak sepenuhnya tegas sebagai genre jurnalistik tertentu, tetapi justru lentur, terbuka dan dapat berkembang sesuai kebutuhan penulis muda.

Dalam sejarah pendidikan jurnalistik, pendekatan seperti ini sebenarnya memiliki landasan teoritis yang kuat. Menulis bukan hanya keterampilan menuangkan kata-kata, tetapi proses membangun pengetahuan.

Dalam tradisi writing to learn, tulisan dipahami sebagai medium untuk mengorganisasi pikiran, menguji pemahaman dan menyusun pengalaman menjadi pengetahuan yang dapat dibagikan.

Paulo Freire bahkan menempatkan literasi sebagai proses membaca dunia sebelum membaca kata.

Dengan perspektif tersebut, mengajarkan siswa menulis berarti sekaligus mengajak mereka mengamati lingkungan, mengenali persoalan, menyusun fakta dan menyampaikan pengalaman secara lebih terstruktur.

Di titik inilah gagasan Jurnalisme Abuabu Identitas menjadi menarik.

Ia tidak sedang mencetak wartawan profesional sejak bangku SMA. Esensinya adalah membangun kecakapan literasi jurnalistik dasar: bagaimana mengamati, mencatat, mewawancarai, menyusun informasi dan mengubah pengalaman menjadi tulisan yang dapat dipahami orang lain.

Rusman Madjulekka masih mengenang salah satu pengalaman ketika konsep tersebut dibawa ke SMA Negeri 1 Parepare. Ia datang sebagai co-facilitator bersama Moch Hasymi Ibrahim dan Mulawarman setelah mendapat undangan dari OSIS sekolah tersebut.

Pertemuan itu kemudian meninggalkan jejak yang menarik. Di lingkungan SMA Negeri 1 Parepare ketika itu terdapat sejumlah siswa yang kelak menempuh perjalanan akademik dan profesional masing-masing.

Rusman mengenang antara lain Nurliah Nurdin, yang akrab dipanggil Ompeng dan kini menjadi Guru Besar di LAN Jakarta; Rahmat Muhammad, yang kini menjadi Ketua Program Studi S3 Sosiologi Unhas; Dr. Arqam Azikin, dosen FISIP Unismuh yang telah almarhum; serta Dr. Asniar Khumas, dosen Psikologi Universitas Negeri Makassar.

Bagi Rusman, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pelatihan menulis di sekolah tidak harus diarahkan untuk menghasilkan karya jurnalistik yang rumit. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan mengolah informasi.

“Manfaatnya siswa menjadi lebih kompeten membuat laporan, narasi pertemuan, bahan-bahan briefing, sampai majalah dinding,” kenangnya.

Pernyataan itu sebenarnya menjelaskan inti Jurnalisme Abuabu dengan sangat sederhana. Ia bukan tentang membuat siswa menjadi wartawan, melainkan membuat mereka mampu menulis apa yang mereka lihat, dengar, alami dan pikirkan secara tertib.

Dalam teori pendidikan literasi modern, kemampuan semacam itu merupakan bagian dari functional literacy dan information literacy. Seseorang tidak cukup hanya mampu membaca dan menulis secara mekanis. Ia juga harus mampu memilah informasi, memahami konteks, menyusun fakta dan mengomunikasikannya secara bertanggung jawab.

Sementara dalam perspektif jurnalisme, kegiatan tersebut bersinggungan dengan prinsip dasar newsgathering: observasi, verifikasi, wawancara, pencatatan dan penyusunan narasi.

Karena berlangsung di lingkungan sekolah, praktiknya tentu tidak harus mengikuti seluruh kompleksitas ruang redaksi media profesional.

Justru karena berada di wilayah “abuabu” itulah konsep tersebut menarik. Ia menjadi ruang antara jurnalisme sebagai profesi dan menulis sebagai kecakapan hidup.

Nama Jurnalisme Abuabu juga memiliki kekuatan simbolik. Anak SMA memang berada dalam fase transisi: bukan lagi anak-anak, tetapi belum sepenuhnya memasuki dunia orang dewasa. Seragam abu-abu menjadi identitas visual sebuah generasi yang sedang belajar memahami dunia.

Di tengah perubahan teknologi komunikasi hari ini, gagasan tersebut bahkan terasa semakin relevan. Anak-anak SMA kini memproduksi informasi setiap hari melalui media sosial.

Mereka membuat unggahan, komentar, video, caption dan berbagai bentuk konten. Persoalannya bukan lagi apakah mereka mampu menulis, melainkan apakah mereka mampu menulis dengan baik, berbasis fakta dan bertanggung jawab.

Di sinilah warisan Jurnalisme Abuabu Identitas dapat dibaca kembali. Ia bukan sekadar nama program lama, tetapi sebuah gagasan bahwa literasi jurnalistik sebaiknya diperkenalkan sedini mungkin.

Rusman melihat pengalaman di Parepare sebagai bagian dari perjalanan panjang pendidikan menulis yang dilakukan oleh lingkungan Identitas.

Dari ruang sekolah, siswa belajar membuat laporan. Dari laporan, mereka belajar menyusun narasi. Dari narasi, mereka belajar memahami peristiwa. Dan dari kemampuan memahami peristiwa, tumbuh keberanian untuk menyampaikan gagasan.

Mungkin itulah makna paling sederhana dari Jurnalisme Abuabu: jurnalisme untuk anak-anak bercelana abu-abu yang sedang belajar membaca dunia dan rajin menuliskannya.

Ia memang bukan genre jurnalistik yang tegas. Ia bukan pula istilah akademik yang mapan. Tetapi justru di wilayah yang tidak terlalu tegas itu, sebuah pendidikan penting pernah berlangsung: mengajarkan generasi muda bahwa menulis bukan sekadar tugas sekolah, melainkan cara untuk berpikir, mengingat, menyampaikan pengalaman dan memahami masyarakat.

Menurut Rusman Madjulekka, di situlah kekuatan Jurnalisme Abuabu Identitas: bukan melahirkan wartawan dalam sekejap, tetapi menumbuhkan kebiasaan menulis pada mereka yang kelak akan menjadi apa saja.

___
Penulis Kamaruddin Azis