Oleh Muliadi Saleh | Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran
PELAKITA.ID – Pagi di Makassar biasanya datang dengan cahaya matahari, suara kendaraan, aroma kopi, dan denyut kehidupan yang perlahan bergerak.
Beberapa hari terakhir, ada sesuatu yang berbeda: udara yang biasanya hadir tanpa kita sadari mulai membawa kabar yang perlu diperhatikan. Bukan sekadar kabut yang mengurangi jarak pandang, melainkan partikulat halus yang masuk bersama setiap tarikan napas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar melaporkan kualitas udara Makassar dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir berada pada kategori sedang hingga tidak sehat.
Data pemantauan BMKG menunjukkan konsentrasi PM2,5 di wilayah Maros mencapai 55,7 µg/m³ pada 3 Oktober 2026, sementara BMKG menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan, antara lain, dengan pergerakan asap kebakaran hutan dan lahan dari Kalimantan dan wilayah timur Indonesia yang terbawa angin menuju Sulawesi Selatan.
Angka 55,7 µg/m³ mungkin tampak seperti angka biasa di layar pemantauan. Namun, di balik angka itu ada sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita: paru-paru, jantung, anak-anak yang berangkat sekolah, orang tua yang keluar pagi hari, pedagang yang membuka lapak, pekerja yang berada di jalan, dan jutaan tarikan napas yang berlangsung tanpa pernah kita hitung.
PM2,5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Karena itu, kualitas udara bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan bagian dari kesehatan masyarakat.
Karena itu, udara Makassar sedang tidak baik-baik saja. Kita tidak perlu panik, tetapi juga tidak boleh menganggapnya sepele. Kesadaran pertama yang perlu dibangun adalah memahami bahwa udara yang buruk tidak selalu terlihat oleh mata; langit yang tampak biasa pun dapat mengandung partikulat halus yang tidak kasatmata.
BMKG juga menjelaskan bahwa konsentrasi partikulat cenderung meningkat pada malam, dini hari, hingga pagi, kemudian dapat berangsur membaik ketika kondisi atmosfer dan arah angin berubah. Inilah alasan mengapa kebiasaan beraktivitas pagi di ruang terbuka perlu disesuaikan sementara dengan kondisi kualitas udara.
Olahraga yang biasanya menyehatkan, misalnya, justru perlu dipindahkan ke ruang tertutup ketika konsentrasi polutan sedang tinggi karena aktivitas fisik membuat kita bernapas lebih dalam dan lebih cepat.
Kita juga perlu memahami bahwa asap yang kini terasa di Makassar tidak berdiri sendiri. BMKG mengaitkan kondisi tersebut dengan asap karhutla yang terbawa angin dari Kalimantan dan sebagian wilayah timur Indonesia. Ini memperlihatkan satu kenyataan penting: udara tidak mengenal batas administratif; apa yang terbakar di satu wilayah dapat menjadi sesuatu yang dihirup oleh masyarakat di wilayah lain.
Namun, jangan pula kita menjadikan asap kiriman sebagai alasan untuk melupakan tanggung jawab lokal.
Kota memiliki sumber emisinya sendiri, mulai dari kendaraan bermotor, pembakaran sampah, debu jalan dan konstruksi, hingga aktivitas lain yang menghasilkan partikulat. Ketika asap dari luar wilayah bertemu dengan emisi lokal, beban udara yang kita hirup dapat menjadi semakin berat.
Maka, untuk sementara waktu, ada beberapa langkah sederhana yang layak menjadi gerakan bersama menjaga napas.
Masyarakat sebaiknya memantau informasi kualitas udara sebelum melakukan aktivitas luar ruang, terutama pada pagi hari ketika partikulat masih tinggi. Bila harus keluar, gunakan masker dengan kemampuan filtrasi partikulat yang baik dan pas di wajah, serta kurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika kualitas udara sedang memburuk.
Di rumah, pintu dan jendela dapat ditutup ketika udara luar sedang buruk. Bila menggunakan pendingin ruangan, mode resirkulasi dapat dipilih agar udara dari luar tidak terus-menerus masuk, sementara penjernih udara (air purifier) dengan filtrasi partikulat dapat digunakan jika tersedia.
Yang tidak kalah penting, jangan menambah beban udara dengan membakar sampah, merokok, atau menciptakan sumber asap lain di sekitar rumah.
Sekolah dan ruang publik juga perlu mengambil langkah sederhana tetapi terukur. Ketika kualitas udara mencapai kategori tidak sehat, aktivitas olahraga luar ruang dan kegiatan yang membutuhkan banyak tenaga sebaiknya dikurangi atau dipindahkan ke tempat dengan kualitas udara lebih baik.
Anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu perlu mendapat perhatian lebih karena kelompok rentan dapat lebih mudah terdampak oleh polusi udara.
Di sinilah kita membutuhkan cara pandang ekologis yang lebih luas. Hutan bukan sekadar hamparan hijau di peta, sungai bukan sekadar saluran air, dan udara bukan sekadar ruang kosong di antara bangunan.
Semuanya merupakan bagian dari satu sistem kehidupan yang saling terhubung, dan manusia berada di dalam sistem itu, bukan berdiri di luarnya.
Oleh sebab itu, kabut asap hari ini semestinya tidak hanya menjadi berita tentang cuaca atau karhutla. Ia adalah cermin kesadaran ekologis kita. Ia bertanya kepada kita secara diam-diam: bagaimana kita memperlakukan alam, bagaimana kita mengelola kota, dan warisan lingkungan seperti apa yang akan kita tinggalkan kepada anak-anak kita?
Menjaga udara juga berarti menjaga orang lain. Ketika seseorang tidak membakar sampah, ia bukan hanya menjaga rumahnya sendiri, tetapi juga menjaga tetangganya; ketika pemerintah memperbaiki transportasi publik, manfaatnya bukan hanya bagi pengguna angkutan umum, tetapi bagi seluruh warga kota; ketika kita menanam pohon, manfaatnya mungkin tidak langsung kita nikmati, tetapi generasi berikutnya akan menerima teduhnya.
Maka, imbauan ini sesungguhnya sederhana: jaga napas, jaga keluarga, jaga lingkungan, dan jaga Makassar. Kurangi aktivitas luar ruang ketika kualitas udara memburuk, gunakan perlindungan yang tepat bila harus keluar, lindungi kelompok rentan, dan hentikan kebiasaan yang menambah asap ke udara.
Pada saat yang sama, dorong pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja lebih serius menangani sumber polusi dan mencegah karhutla.
Kita tidak perlu menunggu udara berubah menjadi bencana untuk mulai peduli. Sebab, kesehatan lingkungan selalu dimulai dari kesadaran yang tumbuh sebelum keadaan menjadi lebih buruk. Barangkali inilah saatnya Makassar tidak hanya membangun kota yang nyaman dilihat, tetapi juga kota yang nyaman dihirup.
Kita semua adalah pejalan yang sama di bawah langit yang sama. Kita mungkin berbeda rumah, pekerjaan, pendidikan, penghasilan, bahkan pandangan tentang banyak hal, tetapi ketika bernapas, kita menerima udara dari alam yang sama. Karena itu, menjaga udara adalah salah satu bentuk paling sederhana dari menjaga kehidupan bersama.
Udara adalah rahmat karena ia tidak terlihat, tetapi ketika rahmat itu mulai berkurang, barulah manusia belajar menghargai apa yang selama ini dianggap biasa.
Setiap tarikan napas adalah amanah; setiap hembusan napas adalah kesempatan untuk bersyukur. Maka, merawat udara bukan hanya merawat paru-paru, melainkan merawat titipan Tuhan agar kehidupan tetap menjadi ruang bagi manusia untuk tumbuh, berbuat baik, dan pulang dengan kesadaran yang lebih utuh.
Udara yang sehat adalah nikmat yang sering terlupakan; menjaganya berarti mensyukuri kehidupan sebelum kehilangan kesempatan untuk menghirupnya.
Redaksi









