PELAKITA.ID – Banyak orang membayangkan kampus sebagai “menara gading”—tempat teori akademis ditumpuk dalam ruang kuliah dan jurnal ilmiah.
Universitas Hasanuddin (Unhas) mematahkan stereotip tersebut lewat aksi nyata berskala masif. Tidak tanggung-tanggung, Unhas berhasil mencatatkan angka panen udang vaname (Litopenaeus vannamei) hingga 60 ton dari tambak budidaya mereka di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Di balik angka 60 ton yang terkesan fantastis ini, hal yang paling memikat justru terletak pada bagaimana angka tersebut dicapai.
Bukan dengan cara-cara konvensional yang tergesa-gesa, melainkan lewat sentuhan sains, ketelitian manajemen biomassa, dan ketenangan operasional yang matang.
Berikut tiga hal krusial yang menjadikan capaian panen udang vaname Unhas ini sebuah eksperimen lapangan yang patut dicermati.
Pemanenan tambak udang biasanya diidentikkan dengan aksi riuh, menguras energi, dan menciptakan kepanikan di dalam air yang berpotensi merusak kualitas komoditas. Namun, Unhas membuktikan bahwa sains akuakultur modern dapat mengubah narasi tersebut melalui pendekatan panen parsial (penjarangan) yang terencana presisi.
Proses penjarangan ini dimulai secara bertahap sejak bulan Juni dan terakumulasi hingga Agustus, dengan secara cermat memantau tingkat kepadatan serta perkembangan biomassa udang. Memasuki bulan September, sejumlah kolam baru menjalani panen total untuk mengakhiri siklus budidaya sekaligus mengosongkan area untuk sterilisasi.
Menariknya, Unhas menerapkan teknik pemanenan yang mengutamakan ketenangan udang. Rektor Unhas, Prof. Dr. Jamaluddin Jompa, mengungkapkan rahasia teknis di balik proses ini:
“Sekitar satu jam sebelumnya kita sudah siapkan perangkatnya. Jadi udang tidak perlu dikejar atau dipancing terlebih dahulu. Kita mengupayakan proses panen berlangsung dengan lebih tenang.”
Secara metodologis, perlakuan yang minim stres ini sangat vital. Dalam sains akuakultur, tingkat stres udang saat panen berdampak langsung pada kualitas fisik dan daya simpan biomassa. Ketenangan operasional bukan sekadar kenyamanan kerja, melainkan inovasi manajemen yang menjaga integritas hasil panen secara optimal.
Variasi Ukuran 32–80 Ekor/Kg: Cermin Manajemen Biomassa Kolam yang Dinamis
Capaian total 60 ton udang vaname ini diproduksi dari 11 kolam tambak milik Unhas yang berlokasi di Desa Tamalate, Kecamatan Borong Tala, Kabupaten Jeneponto. Data menarik yang melengkapi catatan ini adalah variasi ukuran udang hasil panen, yang berkisar antara 32 hingga 80 ekor per kilogram.
Bagi komunikator sains dan praktisi perikanan, spektrum ukuran 32–80 ekor/kg ini bukan merupakan ketidakseragaman yang tidak disengaja. Sebaliknya, variasi tersebut merupakan bukti konkret dari dinamika tingkat pertumbuhan yang terpantau ketat di setiap kolam yang berbeda:
Respons Pertumbuhan Spesifik Kolam. Setiap kolam memiliki daya dukung dan laju pertumbuhan udang yang unik. Variasi ukuran menunjukkan bahwa pemanenan tidak dipaksakan seragam, melainkan disesuaikan dengan kurva pertumbuhan spesifik tiap kolam.
Pengaturan Kepadatan Terukur. Keputusan penjarangan secara bertahap berbasis biomassa memastikan bahwa udang yang tersisa di kolam memiliki ruang dan daya dukung nutrisi yang cukup untuk tumbuh ke ukuran yang lebih besar (mencapai batas 32 ekor/kg).
Keberlanjutan Siklus Kolam. Penyesuaian jadwal panen parsial hingga panen total memungkinkan manajemen kolam melangsungkan tahapan pascapanen dan pembersihan secara teratur tanpa mengganggu kontinuitas produksi secara keseluruhan.
Hal yang paling membedakan fasilitas tambak Unhas di Jeneponto dengan tambak komersial biasa adalah perannya sebagai laboratorium hidup (living lab). Kegiatan akuakultur di sini tidak berhenti pada kalkulasi untung-rugi ekonomi atau sekadar mengejar tonase.
Seluruh rangkaian data yang terkumpul dari 11 kolam di Desa Tamalate—mulai dari respons biomassa terhadap penjarangan, tingkat kepadatan air, hingga dinamika pertumbuhan udang—diumpan balik (feed-forward) secara langsung ke dalam sistem riset akademis.
Data riil lapangan ini difungsikan untuk mengevaluasi efisiensi teknik budidaya. Menguji seberapa efektif strategi panen parsial dan manajemen stres air dalam meningkatkan rasio efisiensi akuakultur vaname.
Terus mendorong pengembangan teknologi akuakultur lokal. Yaitu, mendorong lahirnya inovasi teknologi perikanan yang benar-benar dirancang spesifik sesuai dengan karakteristik lingkungan, iklim, dan kualitas air daerah pesisir Sulawesi Selatan.
Melalui pendekatan living lab ini, tambak akademis berhasil menjembatani jurang antara teori ilmiah di atas kertas dan kebutuhan praktis industri perikanan daerah.
Suksesnya panen 60 ton udang vaname oleh Unhas di Jeneponto memberikan pelajaran berharga bagi dunia sains akuakultur Indonesia.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa kombinasi antara ketelitian berbasis data, manajemen operasional yang tenang, dan integritas riset berbasis lingkungan lokal mampu menghasilkan capaian produksi yang tinggi sekaligus berkelanjutan.
Ketika sains akademis, ketepatan teknologi, dan kesadaran ekologis berpadu di lapangan, dapatkah model living lab seperti ini menjadi cetak biru baru bagi transformasi industri perikanan nasional di masa depan?









