Cerita di Balik Panen 60 Ton Udang Vaname Unhas di Jeneponto

  • Whatsapp
Panen 60 ton udang vaname Unhas di Jeneponto dapat dibaca lebih luas daripada sekadar capaian produksi. Angka tersebut merupakan hasil dari serangkaian keputusan teknis, pengamatan lapangan dan pengelolaan siklus budidaya yang berlangsung selama berbulan-bulan.

Yang membuat kegiatan budidaya Unhas di Jeneponto menarik bukan hanya hasil panennya, tetapi juga kemungkinan pemanfaatan tambak sebagai living laboratory atau laboratorium hidup bagi pengembangan pengetahuan akuakultur.

PELAKITA.ID – Angka 60 ton mungkin menjadi hal pertama yang menarik perhatian ketika Universitas Hasanuddin (Unhas) mencatat hasil panen udang vaname (Litopenaeus vannamei) dari tambak budidayanya di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Meski demikian, di balik angka tersebut terdapat proses panjang yang memperlihatkan bagaimana pengetahuan akademik dapat diterapkan langsung dalam pengelolaan budidaya perikanan.

Panen tersebut berasal dari 11 kolam tambak Unhas di Desa Tamalate, Kecamatan Borong Tala, Kabupaten Jeneponto.

Produksi yang mencapai sekitar 60 ton tidak hanya menunjukkan kapasitas budidaya, tetapi juga memberikan gambaran mengenai pentingnya pengelolaan biomassa, pemantauan pertumbuhan dan pengaturan waktu panen dalam siklus produksi udang vaname.

Salah satu hal menarik dari proses tersebut adalah strategi panen yang dilakukan secara bertahap. Sejak Juni hingga Agustus, sebagian udang dipanen melalui mekanisme penjarangan atau panen parsial.

Strategi ini memungkinkan kepadatan udang di dalam kolam dikendalikan secara bertahap sambil memberi ruang bagi udang yang tersisa untuk melanjutkan pertumbuhan.

Memasuki September, sejumlah kolam kemudian menjalani panen total untuk mengakhiri siklus budidaya. Setelah kolam dikosongkan, tahapan berikutnya dapat dilakukan, termasuk pembersihan dan persiapan kolam untuk siklus produksi berikutnya.

Rektor Unhas Prof. Dr. Jamaluddin Jompa menjelaskan bahwa proses panen juga diupayakan berlangsung dengan lebih tenang.

Persiapan perangkat dilakukan sekitar satu jam sebelum proses dimulai sehingga udang tidak perlu dikejar atau dipancing terlebih dahulu.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan panen tidak semata-mata berkaitan dengan seberapa cepat udang dapat dikeluarkan dari kolam.

Cara melakukan panen juga menjadi bagian dari pengelolaan budidaya, terutama dalam menjaga agar proses berlangsung terukur dan tidak menimbulkan gangguan yang tidak diperlukan.

Ukuran Udang dan Cerita di Balik Kolam

Hasil panen dari 11 kolam tersebut juga memperlihatkan variasi ukuran udang, yakni sekitar 32 hingga 80 ekor per kilogram.

Variasi ini menggambarkan adanya perbedaan pertumbuhan antarkolam maupun pada waktu pemanenan.

Dalam budidaya udang, ukuran merupakan salah satu indikator penting karena berkaitan dengan perkembangan biomassa dan waktu panen. Udang dengan ukuran 32 ekor per kilogram tentu memiliki bobot individual yang lebih besar dibandingkan udang berukuran 80 ekor per kilogram.

Perbedaan tersebut membuat pengelolaan tambak membutuhkan pemantauan yang tidak sekadar berorientasi pada jumlah total udang.

Kepadatan, pertumbuhan, kondisi kolam dan waktu panen perlu dibaca secara bersamaan agar keputusan operasional dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing kolam.

Di sinilah pengalaman budidaya menjadi penting. Setiap kolam memiliki kondisi lingkungan yang dapat berbeda, sehingga pengelolaan produksi membutuhkan data dan pengamatan lapangan secara berkelanjutan.

Ketika Tambak Menjadi Laboratorium Hidup

Yang membuat kegiatan budidaya Unhas di Jeneponto menarik bukan hanya hasil panennya, tetapi juga kemungkinan pemanfaatan tambak sebagai living laboratory atau laboratorium hidup bagi pengembangan pengetahuan akuakultur.

Tambak bukan lagi sekadar tempat produksi. Ia dapat menjadi ruang pembelajaran tempat mahasiswa, dosen, peneliti dan praktisi mengamati secara langsung hubungan antara kualitas lingkungan, pertumbuhan organisme budidaya, kepadatan, manajemen pakan, biomassa dan strategi pemanenan.

Data yang diperoleh dari aktivitas budidaya memberikan bahan penting untuk mengevaluasi praktik yang diterapkan di lapangan.

Dari sini, pengalaman produksi dapat kembali masuk ke ruang akademik dalam bentuk penelitian, pembelajaran dan pengembangan inovasi.

Model seperti ini menjadi penting karena tantangan akuakultur tidak selalu dapat diselesaikan hanya melalui teori. Kondisi lingkungan pesisir, kualitas air, cuaca, karakteristik tambak dan respons organisme budidaya dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Karena itu, inovasi teknologi akuakultur juga membutuhkan pengujian langsung di lingkungan tempat teknologi tersebut akan diterapkan.

Dari Tonase Menuju Pengetahuan

Panen 60 ton udang vaname Unhas di Jeneponto pada akhirnya dapat dibaca lebih luas daripada sekadar capaian produksi.

Angka tersebut merupakan hasil dari serangkaian keputusan teknis, pengamatan lapangan dan pengelolaan siklus budidaya yang berlangsung selama berbulan-bulan.

Di sinilah peran perguruan tinggi menjadi relevan. Kampus tidak hanya menghasilkan pengetahuan melalui ruang kuliah dan laboratorium, tetapi juga dapat menghadirkan ruang eksperimen di tengah masyarakat dan lingkungan produksi.

Tambak di Jeneponto menjadi salah satu contoh bagaimana batas antara kampus dan dunia usaha perikanan dapat dibuat lebih cair. Apa yang berlangsung di kolam dapat menjadi bahan riset, sementara hasil riset dapat kembali diuji melalui praktik budidaya.

Jika pola tersebut terus dikembangkan, keberhasilan sebuah tambak tidak hanya diukur dari berapa ton udang yang berhasil dipanen.

Ukuran keberhasilannya juga dapat dilihat dari berapa banyak pengetahuan yang dihasilkan, teknologi yang diuji, pengalaman yang dipelajari, dan inovasi yang dapat ditularkan kepada pelaku budidaya lainnya.

Dengan perspektif itu, 60 ton bukanlah titik akhir. Ia merupakan satu episode dari proses yang lebih panjang: menjadikan tambak sebagai ruang produksi sekaligus ruang belajar, tempat sains bertemu dengan air, tanah, organisme, teknologi dan manusia.

Dari Jeneponto, cerita tersebut memperlihatkan bahwa tambak kampus dapat menjadi lebih dari sekadar tempat memanen udang.

Ia bisa menjadi ruang untuk menguji gagasan, membaca lingkungan, membangun pengetahuan dan mencari cara baru agar akuakultur Indonesia tumbuh semakin berbasis data dan pengalaman lapangan.

___
Penulis Denun