Dari Tambak ke Teknologi, Fikrang Buktikan Alumni FIKP Unhas Bisa Wirausaha Milenial Berkelanjutan

  • Whatsapp
Alumni FIKP Unhas 2015, Fikrang menyambut Menteri UMKM Maman Abdurrahman dan Deputi Bidang UMKM di booth Tambakmi dan menjelaskan inovasi IoT, pakan herbal dan produk olahannya,potret pengusaha milenail (dok: Istrimewa)
  • Saat ini Fikrang mengembangkan dua brand. Selain Tambakmi yang bergerak dalam produksi dan teknologi budidaya perikanan, terdapat Mall Tambak yang bergerak dalam bidang konstruksi serta pengadaan kebutuhan dan bahan-bahan perikanan. Kedua lini tersebut memperlihatkan upaya membangun ekosistem usaha dari hulu hingga kebutuhan pendukung kegiatan budidaya.
  • Platform Tambakmi diarahkan pada produksi dan solusi teknologi budidaya, sementara Mall Tambak mengisi kebutuhan konstruksi dan pengadaan yang diperlukan dalam operasional perikanan.

PELAKITA.ID — Bagi Fikrang, menjadi pengusaha di sektor perikanan budidaya bukan sekadar memilih komoditas untuk dijual, tetapi bagaimana pengetahuan, teknologi, dan keberpihakan kepada masyarakat dapat dipadukan menjadi solusi yang memiliki nilai ekonomi.

Alumni Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin angkatan 2015 itu membagikan pengalaman membangun bisnis budidaya perikanan kepada mahasiswa dan calon wirausaha muda dalam kegiatan Bursa Wirausaha Unggulan dan Bursa UMKM di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, yang mempertemukan pelaku usaha, lembaga pembiayaan, mitra usaha, dan berbagai pemangku kepentingan dalam satu ekosistem pengembangan kewirausahaan, Selasa, 15 September 2026.

Fikrang kini mengembangkan usaha perikanan budidaya melalui brand Tambakmi, yang memadukan teknologi Internet of Things (IoT) dengan pemanfaatan bahan herbal dalam kegiatan budidaya.

Melalui pendekatan tersebut, aktivitas budidaya yang sebelumnya banyak mengandalkan perkiraan mulai diarahkan menjadi lebih berbasis data. Kondisi dan estimasi produksi dalam kolam, misalnya, dapat dipantau melalui aplikasi dan website yang dikembangkan untuk mendukung kebutuhan pembudidaya.

Menurut Fikrang, teknologi tersebut lahir dari persoalan nyata yang dihadapi pembudidaya, khususnya petambak tradisional yang membudidayakan udang vaname.

Ia menjelaskan, salah satu persoalan yang dihadapi petambak tradisional adalah tingginya risiko kematian udang pada masa awal budidaya, bahkan sebelum memasuki umur 30 hari.

“Pada saat yang sama, siklus budidaya yang relatif singkat membuat pembudidaya membutuhkan pendekatan yang mampu meningkatkan ketahanan dan produktivitas udang,” ungkapnya.

Dari persoalan tersebut, Fikrang bersama tim melakukan penelitian dan uji coba lapangan untuk mengembangkan pendekatan yang dapat membantu meningkatkan imunitas udang sehingga risiko kematian pada fase awal dapat ditekan.

“Masalah apa yang sebetulnya terjadi yang betul-betul bukan asumsi, tapi kenyataan yang terjadi,” kata Fikrang saat menjelaskan prinsip awal membangun bisnis kepada peserta.

Membaca Peluang melalui “6P”

Fikrang mengatakan, sebelum menciptakan produk atau menawarkan jasa, seorang calon pengusaha harus terlebih dahulu memahami masalah yang benar-benar terjadi di lapangan.

Ia menggunakan kerangka 6P untuk membaca peluang bisnis, dengan persoalan (problem) dan orang yang mengalami persoalan tersebut (people) sebagai titik awal.

Menurut dia, masalah yang dipilih harus nyata dan berulang, bukan sekadar asumsi pengusaha tentang sesuatu yang dianggap dibutuhkan masyarakat.

Setelah menemukan masalah, calon pengusaha harus mengidentifikasi secara spesifik siapa yang mengalaminya. Bukan sekadar menjawab “semua orang”, tetapi mengetahui kelompok pengguna, karakteristik, usia, pekerjaan, serta kebutuhan mereka.

Pendekatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan wawancara langsung kepada calon pelanggan untuk memastikan apakah persoalan yang ditemukan memang benar-benar menjadi keresahan mereka.

Bagi Fikrang, validasi lapangan menjadi tahap penting sebelum sebuah produk dikembangkan lebih jauh.

Ia mencontohkan pengalaman Tambak MI yang melakukan uji coba langsung melalui lokasi percontohan atau pilot project. Timnya bekerja sama dengan desa untuk membuat lokasi uji dan menerapkan solusi secara langsung di lapangan.

“Jangan bersifat perfeksionis. Buat seminimal mungkin dan uji di lapangan,” ujarnya.

Menurut Fikrang, respons pelanggan juga menjadi ukuran penting untuk mengetahui apakah sebuah solusi benar-benar memiliki nilai.

Bahkan, bentuk komitmen pelanggan yang paling kuat bukan sekadar memberikan respons positif, melainkan ketika mereka bersedia membayar produk atau layanan tersebut.

Bisnis di Tengah Kebutuhan dan Sumber Daya

Dalam mengembangkan usaha, Fikrang tidak hanya mengandalkan model penjualan produk secara langsung. Ia juga mengembangkan pola bisnis yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dengan pihak yang memiliki sumber daya.

Dalam skema tersebut, bisnis dapat mengambil posisi sebagai penghubung atau perantara antara pelanggan yang memiliki kebutuhan dengan pihak yang mempunyai sumber daya untuk memenuhinya.

Model tersebut dapat diterapkan melalui sistem komisi, baik dengan Badan Usaha Milik Desa, kelompok nelayan, kelompok pembudidaya, maupun individu yang mendapatkan pendampingan.

Selain komisi, model bisnis juga dapat dikembangkan melalui skema sewa ataupun bagi hasil, tergantung karakter kebutuhan dan sumber daya yang tersedia.

Bagi Fikrang, pemahaman terhadap model bisnis menjadi penting karena ide yang bagus tidak otomatis menjadi bisnis yang berkelanjutan.

Dari Pengalaman Krisis Menjadi Pelajaran

Perjalanan Fikrang membangun usaha juga tidak selalu berlangsung mulus. Ia mengisahkan pengalaman pada 2020 ketika pandemi COVID-19 memukul usaha yang sebelumnya dijalankannya.

Saat itu, berbagai persoalan datang bersamaan. Ia tidak hanya harus memikirkan keberlangsungan usaha, tetapi juga tanggung jawab terhadap keluarga, klien, pemasok, dan berbagai komitmen yang telah dibuat sebelumnya.

Situasi tersebut memberinya satu pelajaran penting: seorang pengusaha harus berani mengambil tanggung jawab atas keputusan dan komitmennya.

“Ketika ada masalah, tenangkan diri,” ujarnya.

Menurutnya, keputusan yang dibuat dalam kondisi pikiran yang tidak jernih berisiko menghasilkan keputusan yang keliru. Karena itu, ketenangan menjadi bagian penting dari daya tahan seorang pengusaha ketika menghadapi tekanan.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan bahwa kewirausahaan bukan hanya persoalan menemukan peluang, melainkan kemampuan bertahan ketika realitas bisnis tidak berjalan sesuai rencana.

Dua Brand, Satu Ekosistem Perikanan

Saat ini Fikrang mengembangkan dua brand. Selain Tambakmi yang bergerak dalam produksi dan teknologi budidaya perikanan, terdapat Mall Tambak yang bergerak dalam bidang konstruksi serta pengadaan kebutuhan dan bahan-bahan perikanan.

Kedua lini tersebut memperlihatkan upaya membangun ekosistem usaha dari hulu hingga kebutuhan pendukung kegiatan budidaya.

Tambakmi diarahkan pada produksi dan solusi teknologi budidaya, sementara Mall Tambak mengisi kebutuhan konstruksi dan pengadaan yang diperlukan dalam operasional perikanan.

Di balik perkembangan bisnis tersebut, Fikrang juga membawa pengalaman personalnya ke dalam aktivitas sosial.

Ia mengingat bahwa selama menjalani pendidikan di Unhas, dirinya memperoleh dukungan pembiayaan melalui zakat. Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya membangun yayasan yang bergerak dalam bidang gizi dan pendidikan.

Dalam bidang pendidikan, yayasan tersebut kini bekerja sama dengan FIKP Unhas melalui sejumlah program, antara lain bantuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa serta pemberian laptop gratis bagi mahasiswa berprestasi.

Dengan demikian, keberhasilan bisnis bagi Fikrang tidak berhenti pada pertumbuhan perusahaan. Sebagian manfaat yang diperoleh dari aktivitas usaha juga diarahkan kembali kepada pendidikan dan masyarakat.

Dari Alumni Menjadi Inspirasi

Di hadapan mahasiswa Unhas, Fikrang menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan perikanan dapat menjadi modal penting untuk membangun usaha berbasis ilmu pengetahuan.

Ia tidak menempatkan ilmu kampus sebagai pengetahuan yang berhenti di ruang kelas, tetapi menjadikannya dasar untuk membaca persoalan, melakukan penelitian, menguji solusi, dan membangun model bisnis.

Sektor perikanan budidaya, dalam pandangannya, memiliki ruang inovasi yang luas karena masih menghadapi berbagai persoalan teknis, produktivitas, kesehatan komoditas, efisiensi, hingga akses pasar.

Karena itu, mahasiswa perikanan tidak harus selalu membayangkan masa depan sebagai pekerja di perusahaan atau institusi pemerintahan. Mereka dapat menjadi pemilik usaha sekaligus pencipta lapangan pekerjaan.

Kisah Fikrang juga menunjukkan bahwa kewirausahaan generasi muda tidak harus meninggalkan bidang keilmuan yang dipelajari. Justru, masalah-masalah di sekitar bidang tersebut dapat menjadi sumber peluang bisnis apabila dibaca dengan cermat.

Menteri UMKM, Maman Abdurarahman, bersama Deputibidang UMKM Riza Damanik saat berkunjungke booth inovasi budidaya udang milenialasuhan Fikrang, alumni Perikanan Unhas (dok: Istimewa)

Dari tambak tradisional, teknologi IoT, bahan herbal, hingga pendampingan masyarakat, Fikrang sedang menunjukkan satu kemungkinan penting: ilmu perikanan dapat ditransformasikan menjadi bisnis, sementara bisnis dapat dikembalikan menjadi manfaat sosial.

Di tengah dorongan pemerintah agar kampus semakin aktif melahirkan wirausaha muda, perjalanan alumni FIKP Unhas ini menjadi contoh bahwa kewirausahaan berbasis budidaya perikanan dapat tumbuh ketika berangkat dari masalah nyata, diuji di lapangan, menggunakan teknologi, dan tetap menjaga hubungan dengan masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistem usaha.

Tidak lama setelah paparan Fikrang di depan ratusan orang yang memadati Baruga Pettarani, dia beranjak memberikan penjelasan secara langsung ke Menteri UMKM Maman Abdurrahman dan Deputi Bidang UMKM, Riza Damanik di booth Tambakmi.

Dia menjukkan hasiil tambak dan olahan udang siap saji ke kedua petinggi di Kementerian UMKM itu.

Menteri Maman bahkan sempat mencicipi udang dimaksud, mencocol di sambel bening hingga tiga ekor!

“Enak nih,” ucapnya ke Fikrang sembari melirikke Riza Damanik.

“Ada manis-manisnya ya pak? Itu karena kita berikan pakan herbal,” balas Fikrang sumringah.

Redaksi