Kata-kata Traoré, Pukulan untuk Anak Muda Indonesia

  • Whatsapp
Ibrahim Traore, Presiden Burkina Faso (dok: www.theafricareport.com)
  • Di beberapa negara di Afrika, anak mudanya bahkan tidak bisa duduk bareng, bicara serius soal masa depan negara mereka. Yang kita tahu cuma, ya bikin konten viral di media sosial.
  • Anak-anak muda yang menunjukkan cara membuat roda gigi, mesin mekanik, ataupun alat medis, justru sama sekali tidak didengarkan. Di sana seolah tidak ada apa-apa.
  • Kita tidak bisa terus punya generasi muda yang cuma main komedi, bikin hal-hal sepele di media sosial, dan joget-joget enggak jelas. Itu tidak akan membawa kita ke mana-mana.
  • Semua bangsa melewati revolusi sebelum sampai ke demokrasi.

PELAKITA.ID – Ada sesuatu yang terasa menampar dari pernyataan Ibrahim Traoré ketika ia berbicara tentang Afrika, demokrasi, revolusi, generasi muda, sains, dan budaya media sosial.

Ia tidak menawarkan kalimat yang nyaman didengar, tetapi justru mengusik kesadaran tentang bagaimana sebuah bangsa memahami kemajuan, membangun kemandirian, dan mempersiapkan generasi mudanya menghadapi masa depan.

Pernyataan Traoré memang ditujukan kepada masyarakat Afrika, tetapi sebagian kritiknya terdengar seperti cermin ketika dibawa ke Indonesia. Konteks sosial, politik, ekonomi, dan sejarah kedua kawasan tentu berbeda, tetapi pertanyaan yang muncul memiliki kedekatan: apakah generasi muda sedang dipersiapkan menjadi pencipta masa depan, atau justru semakin sibuk mengejar perhatian, popularitas, dan pengakuan melalui ruang digital?

Traoré memulai kritiknya dari persoalan yang sangat mendasar, yakni kecenderungan masyarakat Afrika untuk menerima begitu saja anggapan bahwa demokrasi, sebagaimana diperkenalkan kepada mereka, otomatis membawa kemajuan. Menurutnya, persoalan Afrika tidak dapat diselesaikan hanya melalui sistem politik, sebab perubahan yang lebih mendasar membutuhkan transformasi perilaku, pola pikir, industri, teknologi, pendidikan, dan hampir seluruh sektor kehidupan.

“Semua bangsa melewati revolusi sebelum sampai ke demokrasi.”

Pernyataan tersebut tentu dapat diperdebatkan dan tidak perlu diterima sebagai kebenaran tunggal. Demokrasi memiliki sejarah dan bentuk yang berbeda di setiap negara, sementara kemajuan suatu bangsa dipengaruhi banyak faktor, termasuk kualitas institusi, pendidikan, teknologi, ekonomi, kebudayaan, kepemimpinan, dan kemampuan masyarakat membangun tata kelola yang efektif.

Namun, substansi yang menarik dari kritik Traoré adalah penekanannya pada kebutuhan melakukan perubahan mendasar. Ia berbicara mengenai revolusi bukan hanya sebagai perubahan politik atau pergantian kekuasaan, melainkan revolusi dalam perilaku, pola pikir, industri, teknologi, dan berbagai sektor yang menentukan kemampuan sebuah bangsa berdiri dengan kekuatannya sendiri.

“Kita butuh revolusi yang nyata. Revolusi dalam perilaku, dalam pola pikir, revolusi industri, revolusi di semua sektor untuk mencoba berkreasi dan menjadi diri kita sendiri.”

Jika dibawa ke Indonesia, gagasan mengenai revolusi pola pikir tersebut memiliki ruang refleksi yang luas. Kita sering berbicara tentang bonus demografi, Indonesia Emas, ekonomi digital, kecerdasan buatan, hilirisasi, industri kreatif, transformasi digital, dan peningkatan daya saing, tetapi semua istilah tersebut akan kehilangan makna apabila energi generasi muda tidak diarahkan pada penciptaan pengetahuan dan produktivitas.

Persoalannya bukan terletak pada media sosial itu sendiri, sebab teknologi digital sebenarnya memberikan peluang luar biasa bagi generasi muda untuk belajar, berjejaring, membangun usaha, menyebarkan pengetahuan, memasarkan produk, mengembangkan komunitas, bahkan menciptakan inovasi yang sebelumnya sulit dilakukan. Persoalan yang lebih serius adalah bagaimana perhatian publik dibentuk oleh algoritma, sehingga konten yang dangkal, sensasional, dan menghibur sering kali memperoleh perhatian jauh lebih besar daripada pengetahuan yang membutuhkan waktu untuk dipahami.

Traoré melihat fenomena tersebut sebagai persoalan serius bagi masa depan Afrika. Ia mempertanyakan kondisi ketika sebagian anak muda bahkan tidak mampu duduk bersama untuk membicarakan masa depan negaranya secara serius, sementara energi mereka justru tersedot oleh perlombaan menghasilkan konten viral dan mengejar perhatian publik melalui media sosial.

“Di beberapa negara di Afrika, anak mudanya bahkan tidak bisa duduk bareng, bicara serius soal masa depan negara mereka. Yang kita tahu cuma, ya bikin konten viral di media sosial.”

Kalimat itu seharusnya tidak diterjemahkan secara sederhana sebagai seruan untuk membenci hiburan, komedi, musik, tarian, atau budaya populer. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dan bahkan dapat berkembang menjadi industri kreatif yang memberikan lapangan kerja, pendapatan, identitas budaya, dan ruang ekspresi bagi generasi muda.

Yang patut dipikirkan justru adalah ketimpangan perhatian yang muncul ketika konten yang ringan dan sensasional memperoleh jutaan penonton, sementara anak muda yang membuat penelitian, mengembangkan teknologi, menciptakan mesin, merancang alat kesehatan, membangun perangkat mekanik, atau menghasilkan konten edukasi justru sering bekerja dalam kesunyian.

Traoré secara khusus meminta generasi muda kembali kepada sains. Seruan tersebut bukan berarti setiap anak muda harus menjadi ilmuwan atau bekerja di laboratorium, melainkan menegaskan bahwa sebuah bangsa membutuhkan generasi yang memiliki rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kecakapan teknis, keberanian bereksperimen, dan kemampuan mengubah pengetahuan menjadi solusi nyata.

Ia membandingkan popularitas konten hiburan dengan rendahnya perhatian terhadap anak-anak muda yang memperlihatkan bagaimana membuat roda gigi, mesin mekanik, alat medis, atau berbagai perangkat yang memiliki manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan adanya persoalan dalam sistem penghargaan sosial yang menentukan apa yang dianggap menarik, penting, dan layak mendapatkan perhatian.

“Anak-anak muda yang menunjukkan cara membuat roda gigi, mesin mekanik, ataupun alat medis, justru sama sekali tidak didengarkan. Di sana seolah tidak ada apa-apa.”

Di Indonesia, pertanyaan semacam ini sebenarnya juga relevan untuk direnungkan, terutama ketika ruang digital menjadi salah satu arena utama pembentukan selera, aspirasi, dan identitas generasi muda. Kita memiliki banyak mahasiswa, peneliti muda, teknisi, insinyur, programmer, pelaku industri kreatif, inovator desa, pengusaha rintisan, petani muda, nelayan muda, dan komunitas teknologi yang menghasilkan karya, tetapi belum semuanya memperoleh perhatian publik yang sebanding dengan popularitas konten hiburan.

Kita tidak kekurangan anak muda pintar, universitas, sekolah, lembaga penelitian, komunitas teknologi, laboratorium, maupun ruang digital untuk menyebarkan pengetahuan. Yang patut dipertanyakan adalah apakah ekosistem sosial kita memberikan penghargaan yang cukup kepada mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk belajar, meneliti, bereksperimen, gagal, memperbaiki kesalahan, dan akhirnya menghasilkan sesuatu yang berguna.

Mengapa seorang anak muda yang membuat konten sensasional dapat memperoleh jutaan penonton dalam waktu singkat, sementara anak muda lain yang menjelaskan cara kerja mesin, melakukan eksperimen sains, membuat perangkat teknologi, atau mengembangkan inovasi untuk masyarakat harus bekerja keras mendapatkan perhatian? Pertanyaan tersebut bukan untuk merendahkan kelompok pertama, tetapi untuk mengingatkan bahwa bangsa membutuhkan keseimbangan dalam menentukan apa yang layak dihargai.

Di sinilah kritik Traoré menjadi lebih dalam daripada sekadar keluhan mengenai anak muda yang berjoget atau membuat konten lucu. Ia sedang berbicara mengenai arah energi sebuah generasi, sebab generasi muda merupakan modal strategis sebuah bangsa dan menentukan apakah sebuah negara akan menjadi pencipta atau sekadar konsumen dalam perubahan teknologi dan ekonomi global.

Jika sebagian besar energi generasi muda terserap untuk mengejar popularitas, konsumsi hiburan, dan persaingan mendapatkan perhatian, siapa yang akan mengerjakan pekerjaan panjang yang membutuhkan ketekunan? Siapa yang akan menciptakan mesin, menemukan teknologi baru, mengembangkan alat kesehatan, memperbaiki sistem pangan, membangun teknologi kelautan, mengembangkan energi bersih, mengatasi persoalan lingkungan, dan menciptakan industri yang membuat bangsa lebih mandiri?

Indonesia memiliki persoalan yang tidak sama dengan Afrika, tetapi memiliki tantangan yang serupa dalam satu hal penting, yaitu kebutuhan membangun generasi yang bukan hanya mampu menggunakan teknologi, melainkan juga mampu menciptakan teknologi, menghasilkan pengetahuan, dan mengubah pengetahuan tersebut menjadi kekuatan ekonomi serta solusi sosial.

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi, perubahan iklim, transformasi ekonomi, persaingan industri, dan perubahan struktur pekerjaan, kemampuan menciptakan pengetahuan menjadi semakin penting. Negara yang hanya menjadi pasar bagi teknologi negara lain akan terus berada dalam posisi bergantung, sementara negara yang mampu mengembangkan pengetahuan dan teknologi memiliki peluang lebih besar menentukan arah pembangunan sendiri.

Karena itu, seruan Traoré tentang revolusi perlu dibaca secara lebih luas dan kritis. Revolusi yang relevan bagi anak muda Indonesia bukan revolusi dalam pengertian kekerasan, bukan pula romantisme perubahan politik semata, melainkan revolusi cara berpikir yang mendorong keberanian bertanya, membaca, meneliti, bereksperimen, menciptakan, dan mengembangkan sesuatu yang sebelumnya belum tersedia.

Revolusi semacam itu membutuhkan pengorbanan, sebagaimana dikatakan Traoré, karena perubahan tidak pernah lahir hanya dari keinginan. Ia membutuhkan disiplin, waktu, kegagalan, ketekunan, kemampuan menunda kesenangan, keberanian menerima kritik, serta kesediaan mengerjakan sesuatu yang mungkin tidak memberikan popularitas dalam waktu singkat.

Traoré juga mengkritik apa yang ia sebut sebagai kerusakan mentalitas, ketika anak muda tidak lagi memiliki cukup ruang untuk membicarakan persoalan besar secara serius. Menurutnya, jika generasi muda terus diarahkan pada hal-hal sepele, sementara sains dan pengetahuan tidak mendapatkan perhatian, maka ketergantungan terhadap pihak lain akan terus berlangsung.

“Kita tidak bisa terus punya generasi muda yang cuma main komedi, bikin hal-hal sepele di media sosial, dan joget-joget enggak jelas. Itu tidak akan membawa kita ke mana-mana.”

Kalimat tersebut memang keras dan mungkin terasa tidak adil apabila dibaca secara harfiah, karena komedi, musik, tarian, dan industri kreatif bukanlah musuh pembangunan. Bahkan, kreativitas dan kebudayaan merupakan bagian penting dari ekonomi modern, sehingga persoalan sebenarnya bukan apakah anak muda boleh bersenang-senang, melainkan apakah masyarakat memberikan ruang yang cukup bagi pengetahuan, kreativitas, dan produktivitas untuk berkembang bersama.

Masalah yang lebih penting adalah apa yang menjadi tujuan akhir dari penggunaan teknologi dan media sosial. Jika teknologi hanya digunakan untuk mengonsumsi konten, mengejar popularitas, dan mendapatkan perhatian, maka kemampuan digital berhenti pada tingkat konsumsi; tetapi jika teknologi digunakan untuk belajar, menciptakan, mengembangkan usaha, memecahkan masalah, dan menghasilkan pengetahuan, maka teknologi berubah menjadi instrumen pembangunan.

Karena itu, media sosial tidak perlu ditinggalkan oleh generasi muda Indonesia. Justru ruang digital dapat menjadi laboratorium publik yang luar biasa apabila anak muda mengisinya dengan konten sains, teknologi, sejarah, lingkungan, kelautan, pertanian, kesehatan, ekonomi, kebudayaan, kewirausahaan, dan berbagai persoalan masyarakat dengan cara yang menarik serta mudah dipahami.

Yang perlu berubah mungkin bukan medianya, melainkan isi yang kita dorong dan nilai yang kita berikan. Ketika jutaan orang mulai tertarik menyaksikan anak muda membuat mesin, merancang kapal, mengembangkan robot, menciptakan alat kesehatan, menemukan teknologi pertanian, mengolah sampah menjadi energi, mengembangkan aplikasi untuk nelayan, atau melakukan penelitian kelautan, maka ekosistem perhatian kita sedang bergerak ke arah yang lebih produktif.

Di sinilah kata-kata Traoré menjadi pukulan yang patut direnungkan oleh Indonesia. Bukan karena seluruh pandangannya tentang demokrasi harus diterima, melainkan karena ia mengajukan pertanyaan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: apa sebenarnya yang sedang kita lakukan dengan generasi muda kita, dan ke mana energi mereka sedang diarahkan?

Apakah kita sedang mempersiapkan anak muda menjadi generasi yang mampu menciptakan masa depan, atau justru membentuk generasi yang sangat sibuk mencari perhatian tetapi tidak memiliki cukup waktu untuk membangun sesuatu? Pertanyaan itu tidak hanya menjadi tanggung jawab anak muda, melainkan juga tanggung jawab keluarga, sekolah, universitas, pemerintah, industri, media, platform digital, dan masyarakat secara keseluruhan.

Bangsa tidak maju hanya karena anak mudanya pintar menggunakan telepon pintar, media sosial, kecerdasan buatan, dan berbagai aplikasi digital. Bangsa maju ketika generasi mudanya mampu menggunakan semua perangkat tersebut untuk berpikir lebih baik, menghasilkan pengetahuan, menciptakan teknologi, membangun usaha, menyelesaikan masalah, dan menciptakan nilai bagi masyarakat.

Ada perbedaan besar antara menjadi pengguna teknologi dengan menjadi pencipta teknologi, antara menjadi penonton inovasi dengan menjadi inovator, antara membicarakan perubahan dengan mengerjakan perubahan, serta antara menjadi terkenal dengan menjadi berguna. Perbedaan itulah yang seharusnya menjadi salah satu ukuran penting dalam melihat kualitas generasi muda sebuah bangsa.

Indonesia tidak membutuhkan generasi muda yang berhenti tertawa, berhenti menikmati musik, berhenti membuat komedi, atau berhenti berkarya di media sosial. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menjaga kreativitas dan kegembiraan hidup, tetapi sekaligus memiliki kedalaman berpikir, rasa ingin tahu, kemampuan teknis, etos kerja, keberanian mencipta, dan kepedulian terhadap masa depan bangsanya.

Itulah makna terdalam dari kata-kata Traoré ketika dibawa keluar dari konteks politik Afrika dan ditempatkan dalam refleksi yang lebih universal. Sebuah bangsa tidak akan benar-benar mandiri jika generasinya hanya menjadi konsumen gagasan, teknologi, budaya, dan produk yang diciptakan bangsa lain.

Kemerdekaan yang lebih dalam dimulai ketika anak mudanya kembali kepada pengetahuan, mengembangkan kemampuan berpikir, berani bereksperimen, dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menciptakan sesuatu yang berguna. Sebab masa depan sebuah bangsa pada akhirnya tidak ditentukan oleh seberapa banyak generasinya menjadi viral, melainkan oleh seberapa banyak mereka mampu berpikir, mencipta, bekerja, dan membuat perubahan yang bertahan lebih lama daripada sebuah tren di media sosial.