- Menteri Maman mengaitkan semangat kewirausahaan itu dengan karakter masyarakat Sulselyang sejak lama dikenal memiliki tradisi perniagaan dan mobilitas ekonomi yang kuat. Banyak pengusaha asal Sulawesi Selatan yang membangun usaha hingga berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan, Papua, Jawa, dan Sumatera.
- Ia bahkan menggambarkan bagaimana identitas Bugis-Makassar kerap melekat pada para pengusaha yang berkiprah di berbagai daerah, sembari menghubungkannya dengan simbol perahu Pinisi dan tradisi pelayaran masyarakat Sulawesi Selatan.
- Tradisi tersebut merupakan modal kultural yang dapat diterjemahkan ke dalam konteks ekonomi modern. Nilai keberanian, daya juang, kemandirian, dan kemampuan membaca peluang perlu diarahkan untuk menciptakan lebih banyak pengusaha tangguh dari Sulawesi Selatan.
PELAKITA.ID — MAKASSAR, 15 September 2026 — Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Republik Indonesia, Maman Abdurrahman, mengajak mahasiswa dan generasi muda Sulawesi Selatan menjadikan nilai siri’ bukan sekadar simbol harga diri ketika menghadapi konflik, melainkan energi positif untuk membangun usaha, mengangkat harkat keluarga, dan menaklukkan masa depan yang penuh ketidakpastian.
Pesan tersebut disampaikan Maman saat menghadiri Bursa Wirausaha Unggulan Sulawesi Selatan yang digelar Kementerian UMKM di Baruga AP Pettarani, Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas), Jl Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar, Selasa (15/9/2026).
Maman hadir di hadapan civitas akademika, pelaku UMKM, perbankan, pemerintah daerah, lembaga inkubasi, dan sejumlah pemangku kepentingan pengembangan kewirausahaan.
Menurutnya, siri yang selama ini kerap dipahami dalam konteks pertikaian atau konflik dapat ditransformasikan menjadi semangat yang jauh lebih konstruktif, terutama di kalangan pengusaha muda yang sedang membangun fondasi bisnisnya.
“Jadikan siri itu sebagai bagian niat kita untuk melawan dan menaklukkan masa depan yang penuh dengan tantangan,” ujarnya.
Ia mengatakan, semangat tersebut penting ditanamkan kepada mahasiswa karena keberhasilan seorang pengusaha tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan omzet, tetapi juga dengan kemampuan mengangkat harkat dan derajat keluarga serta membuka peluang ekonomi bagi orang lain.
Maman mengaitkan semangat kewirausahaan itu dengan karakter masyarakat Sulawesi Selatan yang sejak lama dikenal memiliki tradisi perniagaan dan mobilitas ekonomi yang kuat.
Menurut dia, banyak pengusaha asal Sulawesi Selatan yang membangun usaha hingga berbagai wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan, Papua, Jawa, dan Sumatera.
Ia bahkan menggambarkan bagaimana identitas Bugis-Makassar kerap melekat pada para pengusaha yang berkiprah di berbagai daerah, sembari menghubungkannya dengan simbol perahu Pinisi dan tradisi pelayaran masyarakat Sulawesi Selatan.
Bagi Maman, tradisi tersebut merupakan modal kultural yang dapat diterjemahkan ke dalam konteks ekonomi modern. Nilai keberanian, daya juang, kemandirian, dan kemampuan membaca peluang perlu diarahkan untuk menciptakan lebih banyak pengusaha tangguh dari Sulawesi Selatan.
Kehadirannya di Universitas Hasanuddin, kata Maman, juga merupakan bagian dari harapan besar pemerintah agar perguruan tinggi menjadi salah satu motor utama dalam melahirkan pengusaha baru.
Ia mengaku sengaja memberikan perhatian kepada Sulawesi Selatan karena melihat banyak pengusaha besar di berbagai wilayah Indonesia memiliki akar dari daerah tersebut.
Karena itu, civitas akademika Unhas diharapkan mampu menjadi pionir dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih kuat.
“Besar sekali harapan saya bahwa civitas akademika Universitas Hasanuddin bisa menjadi salah satu pionir, bisa menjadi salah satu motor yang menghasilkan semakin banyak lagi pengusaha-pengusaha hebat dari Sulawesi Selatan ini,” katanya.
Mengubah Mindset tentang Pengusaha
Maman kemudian mengajak peserta melihat persoalan pengangguran dari perspektif yang berbeda. Ia mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi persoalan pengangguran yang terus muncul dari generasi ke generasi.
Menurutnya, pemerintah memang memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lapangan pekerjaan, termasuk melalui investasi dan industrialisasi. Namun, persoalan tersebut tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah.
Ia bahkan melakukan otokritik terhadap dunia pendidikan karena kampus juga memiliki posisi strategis dalam membentuk orientasi lulusan.
Maman menilai persoalan mendasarnya adalah mindset masyarakat yang selama puluhan tahun cenderung menempatkan pekerjaan sebagai aparatur negara atau pegawai sebagai pilihan yang lebih aman dibandingkan menjadi pengusaha.
Ia mengingat pengalaman ketika masih bersekolah, ketika orang tua lebih sering mendorong anak untuk menjadi polisi atau pegawai negeri karena dianggap memiliki kehidupan yang aman dan stabil.
“Pilihan menjadi pengusaha itu adalah pilihan terakhir karena dianggap penuh dengan ketidakpastian dalam hidup kita karena banyak tantangan,” ujarnya.
Menurut Maman, pola pikir tersebut perlu digeser. Generasi muda harus mulai melihat kewirausahaan sebagai salah satu pilihan utama dalam membangun masa depan, bukan sebagai pilihan terakhir setelah gagal mendapatkan pekerjaan formal.
Ia menyebut rasio kewirausahaan Indonesia saat ini sekitar 3,2 persen, sementara sejumlah negara berkembang dan negara maju memiliki rasio kewirausahaan di atas 5 persen.
Baginya, semakin besar jumlah pengusaha, semakin besar pula potensi penciptaan lapangan pekerjaan. Satu usaha yang tumbuh dapat melibatkan beberapa tenaga kerja sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi baru di sekitarnya.
Karena itu, kata dia, salah satu strategi mempercepat pertumbuhan ekonomi adalah memperbanyak sekaligus memperkuat pengusaha di Indonesia.
Kampus sebagai Pusat Ilmu, Riset, dan Inovasi
Politisi asal Partai Golkar itu menempatkan perguruan tinggi sebagai bagian penting dalam ekosistem tersebut. Ia mengatakan hampir di berbagai negara yang dikunjunginya, kampus dilibatkan dalam proses pertumbuhan kewirausahaan.
Alasannya sederhana. Kampus merupakan pusat ilmu pengetahuan, riset, inovasi, dan pengembangan kapasitas yang dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kualitas produknya.
“Kampus adalah pusatnya ilmu. Kampus adalah pusatnya riset. Kampus adalah pusatnya inovasi,” katanya.
Melalui program Wirausaha Unggulan, Kementerian UMKM berupaya mendorong kampus agar tidak hanya menghasilkan lulusan pencari kerja, tetapi juga mencetak generasi pencipta lapangan pekerjaan.
Dalam konteks itu, Bursa UMKM di Unhas dipandang sebagai ruang mempertemukan mahasiswa, pengusaha, pemerintah, perbankan, dan lembaga pendamping untuk membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih terintegrasi.
Mengintegrasikan Layanan UMKM
Maman juga menyinggung persoalan klasik yang dihadapi pelaku UMKM, mulai dari perizinan, sertifikasi produk, sertifikasi halal, akses pembiayaan hingga pendampingan.
Ia mengakui banyak persoalan tersebut berada di bawah kewenangan lembaga atau kementerian lain. Namun, sebagai Menteri UMKM, ia memilih tidak melemparkan persoalan tersebut kepada pihak lain.
“Jangan pernah mengeluh dan jangan pernah membuang problem itu ke orang lain,” katanya, seraya menegaskan bahwa dirinya tetap ingin mengambil tanggung jawab untuk membantu menyelesaikan persoalan UMKM.
Karena itu, Kementerian UMKM mendorong sinergi dan integrasi layanan melalui program Prokesra serta sistem SPA UMKM. Sistem tersebut diharapkan menjadi jembatan antara pelaku usaha dengan berbagai kebutuhan layanan yang selama ini tersebar pada banyak institusi.
Maman menyebut jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia sangat besar sehingga pendekatan layanan tidak mungkin seluruhnya dilakukan dengan cara konvensional.
Teknologi, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan layanan, sementara lembaga inkubasi di daerah didorong menjadi perpanjangan tangan kementerian.
“Angkat dan kita dorong agar mereka bisa naik level,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah lembaga dan perusahaan yang terlibat dalam ekosistem inkubasi juga diperkenalkan, antara lain PT Efya Natura Abadi, Sagoan, Juku Sulawesi Internasional, Media Teknologi, Ortitude Genius Indonesia, Kalosi Alam Lestari, Disolpin Academy, dan Seven Visual Hologram.
Maman berharap lembaga-lembaga tersebut tidak sekadar menjadi pelaksana program, tetapi mampu memetakan persoalan setiap pelaku UMKM, memberikan pendampingan, dan menghubungkan mereka dengan solusi yang sesuai.
Modal Usaha Bukan untuk Konsumsi
Di hadapan pelaku UMKM dan penerima pembiayaan, Maman juga memberikan pesan sederhana tetapi penting: modal usaha harus digunakan untuk mengembangkan usaha.
Ia mengingatkan agar pembiayaan yang diperoleh melalui perbankan tidak dialihkan untuk kebutuhan konsumtif keluarga.
Dengan gaya komunikasinya yang santai, Maman menggambarkan kemungkinan ketika seorang pengusaha memperoleh pinjaman modal lalu menggunakan dana tersebut untuk membeli kebutuhan rumah tangga yang tidak berkaitan dengan usaha.
Menurutnya, tindakan semacam itu dapat menjadi awal dari persoalan yang lebih besar karena dana yang seharusnya menghasilkan pertumbuhan justru kehilangan fungsi produktifnya.
“Komitmennya yang seharusnya diperuntukkan untuk modal usaha, tapi dipakai untuk hal-hal yang lain,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan program pembiayaan bukan hanya ditentukan oleh tersalurkannya dana, tetapi juga oleh kemampuan penerima menjaga disiplin penggunaan modal dan mengembangkan usahanya.
Kolaborasi Harus Berkelanjutan
Pria asal Kalimantan Barat ini menilai kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, perbankan, dan lembaga inkubasi tidak boleh berhenti pada satu kegiatan.
Program kewirausahaan membutuhkan konsistensi agar pelaku usaha tidak hanya memperoleh akses modal atau pelatihan, tetapi juga mendapatkan pendampingan hingga mampu naik kelas.
“Ini perlu ada konsistensi dari kita semua, konsistensi dari pemerintah pusat, konsistensi dari pihak kampus dan juga konsistensi dari pemerintah daerah,” katanya.
Di akhir sambutannya, suasana Bursa UMKM semakin cair ketika Maman mengajak peserta mengikuti kuis dengan hadiah berupa sepeda dan sepeda motor listrik.
Dua peserta bahkan diminta maju untuk mempresentasikan usaha mereka sebelum dipilih sebagai penerima hadiah. Cara tersebut sekaligus memperlihatkan pendekatan Maman yang ingin membawa isu kewirausahaan keluar dari suasana seremonial yang terlalu formal.
Bagi Maman, keberanian memulai, keberanian menghadapi ketidakpastian, serta kemampuan mengubah modal budaya menjadi kekuatan ekonomi merupakan bagian penting dari perjalanan membangun pengusaha Indonesia.
Di Unhas, pesan itu menemukan konteks lokal yang kuat: siri tidak harus berhenti sebagai harga diri ketika berhadapan dengan konflik, tetapi dapat menjadi keberanian untuk berdiri, memulai usaha, bertumbuh, membuka lapangan pekerjaan, dan menaklukkan masa depan.
Redaksi









