- Dari rangkaian proses inkubasi tersebut, sebanyak delapan tenant yang telah melewati fase inkubasi akan mengikuti business pitching dengan pelaku usaha besar dan mitra dari lembaga pembiayaan.
- Riza berharap proses pitching tersebut dapat membuka peluang kerja sama baru sekaligus memperkuat akses permodalan bagi usaha yang telah melalui tahapan kurasi dan pengembangan. “Mudah-mudahan kita doakan proses pitching-nya berjalan lancar, modalnya bertambah, dan usahanya semakin luas lagi.”
PELAKITA.ID – MAKASSAR — Penguatan kapasitas wirausaha dan UMKM tidak cukup hanya dengan membuka akses permodalan. Pengusaha juga membutuhkan proses inkubasi, pendampingan, penguatan manajemen, inovasi teknologi, serta akses pasar agar usaha yang dibangun dapat tumbuh secara berkelanjutan dan membuka lapangan pekerjaan baru.
Perspektif tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Bursa Wirausaha Unggulan dan Bursa UMKM di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, yang mempertemukan pelaku usaha, lembaga pembiayaan, mitra usaha, dan berbagai pemangku kepentingan dalam satu ekosistem pengembangan kewirausahaan.
Deputi Bidang UMKM Kementerian UMKM Riza Damanik mengatakan, berbagai inisiatif yang dikembangkan melalui proses inkubasi diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kapasitas usaha, tetapi juga mampu mendorong ekspansi bisnis dan menciptakan lapangan pekerjaan.
“Inisiatif ini kita harapkan nantinya lapangan pekerjaan juga bisa lebih terbuka sejalan dengan usahanya yang semakin baik,” kata Riza dalam laporannya pada kegiatan tersebut.
Menurutnya, proses inkubasi telah berlangsung sekitar tiga hingga enam bulan. Dari proses tersebut, sejumlah tenant menghadirkan inovasi yang berkaitan langsung dengan kebutuhan pengembangan ekonomi lokal, termasuk sektor kelautan dan perikanan.
Salah satunya adalah pengembangan Smart Aquaculture System, sebuah solusi teknologi yang diarahkan untuk mendukung budidaya udang yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Inovasi tersebut dikembangkan oleh alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin.
Riza menilai kehadiran inovasi berbasis teknologi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan UMKM dapat berjalan beriringan dengan kekuatan pengetahuan dan sumber daya manusia yang lahir dari perguruan tinggi.
Selain teknologi akuakultur, terdapat pula pengembangan seafood e-commerce, sebuah platform yang diarahkan untuk memperluas akses pasar produk-produk kelautan. Inisiatif ini dinilai relevan dengan karakter Sulawesi Selatan yang memiliki kekayaan komoditas laut, tetapi masih menghadapi tantangan dalam mempertemukan produk dengan pasar yang lebih luas.
“Di Sulawesi Selatan ini banyak sekali produk-produk laut, tapi akses pasarnya juga menjadi isu,” ujarnya.
Karena itu, pengembangan perdagangan berbasis digital untuk komoditas kelautan diharapkan dapat direplikasi dan diperluas sehingga produk-produk yang dihasilkan pelaku usaha lokal tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga memiliki jalur pemasaran yang lebih terbuka.
Rangkaian tenant hasil inkubasi juga mencakup EduTech platform, yakni aplikasi pendidikan terintegrasi, serta Hologrammatic Visual Solutions yang menawarkan pendekatan visual untuk mendukung promosi dan penayangan produk secara lebih menarik.
Di sisi lain, penguatan UMKM juga diarahkan pada hilirisasi berbagai komoditas yang menjadi keunggulan lokal. Sejumlah produk yang dikembangkan antara lain berbasis rumput laut, kemiri melalui produk minyak kemiri, sagu, dan pinang.
Menurut Riza, produk-produk tersebut telah memasuki tahapan komersialisasi sehingga tidak lagi sebatas gagasan atau prototipe. Tantangan berikutnya adalah memperluas skala usaha, memperkuat pasar, dan meningkatkan kapasitas produksi agar inovasi yang telah dikembangkan dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.
“Jadi ini bukan baru ide, tapi sudah dalam proses komersialisasi yang insya Allah ini bisa diperluas, diperbesar inisiatifnya ke depan,” jelas Ketua Umum Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (ISKINDO) ini.
Delapan Tenant Siap Pitching
Dari rangkaian proses inkubasi tersebut, sebanyak delapan tenant yang telah melewati fase inkubasi akan mengikuti business pitching dengan pelaku usaha besar dan mitra dari lembaga pembiayaan.
Riza berharap proses pitching tersebut dapat membuka peluang kerja sama baru sekaligus memperkuat akses permodalan bagi usaha yang telah melalui tahapan kurasi dan pengembangan.
“Mudah-mudahan kita doakan proses pitching-nya berjalan lancar, modalnya bertambah, dan usahanya semakin luas lagi,” katanya.
Selain inkubasi usaha dan inovasi, Kementerian UMKM juga memberikan perhatian khusus pada inkubasi pembiayaan. Menurut Riza, akses modal tidak boleh dilepaskan dari kesiapan pelaku usaha dalam mengelola keuangan.
Ia menyampaikan pesan Menteri UMKM Maman Abdurrahman agar pemberian pembiayaan tidak sekadar berorientasi pada tersalurnya modal, tetapi memastikan penerima memiliki kemampuan mengelola usaha dan kewajibannya.
“Jangan sampai modalnya diberikan justru akhirnya mereka enggak bisa mengelola usahanya, enggak bisa mengelola keuangannya, yang terjadi justru tidak bisa bayar utang,” ujarnya.
Karena itu, inkubasi pembiayaan diarahkan untuk memberikan pemahaman kepada calon penerima pembiayaan mengenai manajemen keuangan, pencatatan usaha, pemanfaatan modal, hingga penyusunan proposal pembiayaan sesuai kebutuhan bisnis.
Riza menekankan pentingnya ketepatan jumlah pembiayaan. Pelaku usaha tidak seharusnya mengajukan modal secara berlebihan sehingga tidak produktif, tetapi juga tidak boleh kekurangan modal sehingga kapasitas usaha sulit berkembang.
“Bagaimana rasio pemanfaatan modalnya supaya itu bisa sustain dalam pembayaran, termasuk juga bagaimana nantinya mereka bisa membuat proposal yang sesuai kebutuhan modalnya,” jelasnya.
414 Wirausaha Lolos Kurasi
Program inkubasi pembiayaan tersebut dilaksanakan bersama lembaga inkubator Inotech dan melibatkan sejumlah lembaga pembiayaan, yakni Bank Sulselbar, Bank Mandiri, Pegadaian, Bank BRI, dan Bank BSI.
Ekosistem pembiayaan juga diperkuat dengan dukungan lembaga penjaminan, termasuk Askrindo dan Jamkrindo, yang memiliki peran penting dalam memperkuat kepercayaan lembaga keuangan dalam menyalurkan pembiayaan kepada pelaku UMKM.
Dari lebih dari 600 peserta yang mengikuti proses kurasi dan inkubasi, sebanyak 414 wirausaha dan UMKM dinyatakan lolos dan siap memperoleh akses pembiayaan.
Riza menyebut sekitar 62 persen peserta berasal dari sektor produksi, sementara sekitar 37 persen bergerak pada sektor nonproduksi. Sebagian besar usaha yang mengikuti program tersebut bergerak di bidang industri pengolahan, pertanian, peternakan, dan perikanan.
Ia memberikan apresiasi kepada para pelaku UMKM dan calon wirausaha yang telah melewati tahapan inkubasi, baik dalam bidang inovasi teknologi, pengembangan komoditas, maupun kesiapan pembiayaan.
“Selamat kepada Bapak, Ibu usaha mikro, kecil, dan menengah, termasuk juga kepada calon-calon pengusaha yang telah melewati fase inkubasi,” katanya.
Menghubungkan Usaha dengan Pasar
Bursa Wirausaha Unggulan tersebut tidak hanya menghadirkan proses kurasi dan pembiayaan, tetapi juga dirangkaikan dengan business matching, business pitching, inspirational talk, akad massal KUR, serta sosialisasi dan pendampingan terpadu.
Rangkaian tersebut dirancang untuk mempertemukan pelaku usaha dengan berbagai sumber daya yang dibutuhkan dalam pengembangan bisnis, mulai dari pengetahuan, modal, pasar hingga jejaring kemitraan.
Kementerian UMKM juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang terlibat, mulai dari lintas kementerian dan lembaga, BUMN, BUMD, sektor swasta, lembaga pembiayaan, penyedia layanan logistik, hingga mitra pemasaran.
Secara khusus, Riza mengapresiasi Smesco Indonesia yang diharapkan dapat memainkan peran sebagai hub pemasaran produk-produk hasil proses inkubasi.
Kehadiran Smesco diharapkan mampu membantu membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk UMKM, sehingga proses inkubasi tidak berhenti ketika pelaku usaha mendapatkan modal atau menyelesaikan pelatihan.
Bagi Riza, keberhasilan pengembangan UMKM pada akhirnya harus terlihat dari kemampuan usaha untuk tumbuh, memperluas pasar, meningkatkan produksi, menciptakan pekerjaan, dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian.
Dalam konteks Universitas Hasanuddin, pengembangan kewirausahaan juga diharapkan mampu mendorong lebih banyak mahasiswa dan alumni untuk mengambil jalan kewirausahaan dengan memanfaatkan pengetahuan, teknologi, dan potensi lokal.
Rangkaian kegiatan tersebut kemudian ditutup dengan pantun yang menegaskan optimisme terhadap masa depan kewirausahaan Indonesia:
Harum aromanya kopi khas Toraja,
nikmat diminum sambil berbincang-bincang.
Mari bangun ekonomi dan terus bekerja,
wirausaha Indonesia pasti menang.
Redaksi









