PELAKITA.ID – MAKASSAR — Sebuah film tidak hanya menghadirkan cerita tentang apa yang sedang terjadi, tetapi juga dapat menjadi jendela untuk melihat masa depan yang mungkin belum sepenuhnya tampak, namun konsekuensinya mulai dirasakan sejak hari ini.
Perspektif inilah yang mengemuka dalam Movie Screening & Dialogue “Borrowed Futures: Intergenerational Justice, Youth Leadership and Climate Responsibility in ASEAN” yang berlangsung di Arsjad Rasjid Lecture Theater, Universitas Hasanuddin (Unhas), Selasa (16/9/2026).
Kegiatan yang digelar The Center for Peace, Conflict, and Democracy (CPCD) Unhas bersama The Habibie Center dan Heinrich Böll Stiftung – Die Grüne Politische Stiftung tersebut menjadikan film sebagai medium untuk mendekatkan isu perubahan iklim dengan pengalaman masyarakat serta perspektif generasi muda di kawasan ASEAN.
Forum menghadirkan Dr. Busakorn Suriyasarn, Team Leader of Changing Climate, Changing Lives (CCCL) Film Festival, Thailand & Southeast Asia, dan Julia Novrita, Ph.D., Director of Program and Development The Habibie Center.
Sekretaris CPCD Unhas, Andi Ahmad Yani, S.Sos., M.Si., MPA., M.Sc., menjelaskan bahwa pemutaran film dirancang bukan sebagai kegiatan menonton semata, melainkan sebagai titik awal untuk membuka percakapan yang lebih kritis mengenai perubahan iklim dan posisi generasi muda dalam meresponsnya.
“Setelah menyaksikan film, kami ingin peserta membawa pertanyaan kritisnya ke dalam dialog. Film merupakan medium untuk melihat bagaimana perubahan iklim dirasakan dalam kehidupan masyarakat dan bagaimana anak muda dapat mengambil peran dalam meresponsnya,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan movie introduction untuk memberikan konteks mengenai film serta persoalan yang diangkat. Peserta kemudian menyaksikan film dari Changing Climate, Changing Lives (CCCL) Film Festival, sebelum mengikuti sesi interactive dialogue bersama para narasumber.
Dalam dialog tersebut, Dr. Busakorn Suriyasarn membagikan pandangan mengenai perubahan iklim sekaligus pengalaman CCCL Film Festival dalam memanfaatkan karya audiovisual untuk membawa cerita, pengalaman, dan persoalan lingkungan kepada publik, terutama generasi muda.
Diskusi kemudian bergerak dari isu perubahan iklim sebagai persoalan global menuju pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan peserta. Salah satu pertanyaan pembuka yang diajukan adalah, “How do you feel about climate change?” Pertanyaan sederhana tersebut membuka ruang bagi peserta untuk mengungkapkan bagaimana mereka memaknai dan merasakan ancaman perubahan iklim.
Percakapan selanjutnya diarahkan pada lingkungan tempat peserta hidup melalui pertanyaan, “What is the biggest climate/environmental problem in your community/island?” Dari pertanyaan tersebut, diskusi berkembang menjadi pertukaran pengalaman mengenai persoalan lingkungan yang hadir secara langsung di komunitas dan pulau masing-masing.
Julia Novrita kemudian memperluas percakapan pada pentingnya keterlibatan anak muda serta tersedianya ruang dialog untuk membangun kesadaran mengenai persoalan yang dampaknya tidak berhenti pada satu generasi. Perubahan iklim, dalam perspektif ini, bukan hanya persoalan lingkungan hari ini, tetapi juga menyangkut bagaimana keputusan generasi sekarang membentuk ruang hidup bagi mereka yang datang kemudian.
Gagasan “Borrowed Futures” menemukan maknanya dalam konteks tersebut. Masa depan bukan sesuatu yang sepenuhnya berada jauh di depan, melainkan sesuatu yang sedang dibentuk melalui pilihan-pilihan yang dibuat hari ini. Cara masyarakat memperlakukan lingkungan, menentukan arah pembangunan, menggunakan sumber daya, serta merespons perubahan iklim akan turut menentukan kondisi yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dari titik itu, isu perubahan iklim berkelindan dengan dua gagasan penting, yakni youth leadership dan intergenerational justice. Generasi muda tidak semata-mata diposisikan sebagai kelompok yang kelak menerima dampak keputusan hari ini, tetapi juga sebagai aktor yang memiliki kapasitas untuk ikut menentukan arah respons terhadap perubahan iklim.
Perspektif tersebut menjadi penting dalam konteks ASEAN yang memiliki keragaman wilayah, masyarakat, ekosistem, dan tingkat kerentanan terhadap perubahan lingkungan. Pengalaman sebuah komunitas pesisir, pulau kecil, kawasan perkotaan, maupun wilayah pedalaman dapat berbeda, tetapi semuanya berhadapan dengan pertanyaan yang sama tentang bagaimana pembangunan dan kehidupan manusia dapat berlangsung tanpa memperbesar beban ekologis bagi generasi mendatang.
Melalui pemutaran film dan dialog terbuka, CPCD Unhas bersama para mitra menghadirkan ruang untuk mempertemukan cerita yang hadir di layar dengan pengalaman nyata peserta di komunitas masing-masing. Film dalam forum ini menjadi lebih dari sekadar tontonan, melainkan medium untuk melihat kembali hubungan manusia dengan lingkungan, memahami posisi generasi muda, dan membicarakan masa depan yang pada dasarnya sedang dibentuk sejak sekarang.
“Borrowed Futures” mengingatkan bahwa masa depan bukan sepenuhnya milik generasi yang akan datang. Masa depan adalah sesuatu yang dipercayakan kepada generasi hari ini untuk dirawat, dipikirkan, dan dipertanggungjawabkan. Dari ruang dialog di Unhas, percakapan itu diharapkan dapat memperluas perspektif generasi muda sekaligus mendorong keterlibatan mereka dalam menghadapi tantangan iklim dan lingkungan di kawasan ASEAN. (*/dhs)









