Muhammad Gazali Wafat, Thomas Patepoi: Dia yang Paksa Saya Kuliah di Unhas

  • Whatsapp

Diami yang paksa saya kuliah dulu. Dia belikan saya formulir, dia isikan formulir itu.

PELAKITA.ID – Saya datang ke rumah mendiang secepat mungkin. Saya yang biasanya salat Jumat di Masjid Tamarunang, langsung menggeber motor ke Balla Residence. Ada dua masjid di kawasan itu yang saya tuju.

Pikiran awal saya, sahabat kami Muhammad Gazali, atau biasa disapa Ustaz Cali, akan disalatkan dan dimakamkan hari ini.

Tapi tidak. Kabar terbaru dari kerabat menyebutkan, almarhum akan dimakamkan esok, 19 September 2026, di Panaikang.

“Saya tiba dari Sudiang, negara sebelah,” kata Antonius Birana yang sudah lebih dulu berada di rumah duka. Bersama dia ada Riny Wartabone dan Thomas Patepoi.

Kami bersama-sama melayat. Kami membuka tabir yang menutupi wajah mendiang, lalu mendoakan. Ada Al-Fatihah dan doa-doa keselamatan untuk almarhum yang merupakan alumni Smansa Makassar angkatan 1989.

“Dia juga SMP 6, sama Riny,” kata Anto Birana.

Di sampingnya ada Ustaz Saldir, Bro Aji, lalu menyusul datang Arhan Razak dari Pinrang, hingga Acca Suharsa Hamid.

Di dalam rumah duka telah hadir Irmawaty, kawan seangkatan Cali dan Saripa. Keduanya merupakan alumni Teknik Unhas 1989.

Di Smansa Makassar, jaringan Antek sungguh kuat. Itu saya saksikan dari kehadiran mereka di rumah duka. Bukan hanya saat Cali meninggal, tetapi beberapa kali mereka juga datang menjenguk ketika Cali dirawat di rumah sakit.

Tak ketinggalan kolega Cali yang datang mengenakan sorban putih khas. Mereka datang, satu persatu mendoakan almarhum.

Gangguan jantung dan ginjal membuat Cali harus menginap beberapa hari di rumah sakit.

Kata keluarga, ia sudah pernah sekali menjalani operasi jantung. Pada serangan terbaru, muncul pula gangguan pada ginjalnya.

Informasi yang beredar menyebutkan, keluarga dan anaknya sedang ditunggu. Ada yang datang dari Barru, ada pula anaknya yang sedang nyantri di Soppeng.

Cali adalah sosok yang mudah akrab, aktif berdakwah, dan sering bergabung bersama keluarga Smansa 89 ketika berlangsung berbagai acara.

“Dia sempat mengeluh kedinginan dan tidak enak badan saat reuni di Malino dua tahun lalu,” ungkap Irma yang datang bersama suaminya.

Banyak cerita tentang Cali. Salah satunya datang dari Thomas Patepoi.

“Dia sangat baik sama saya, saat di rumah Jalan Domba,” tambah Thomas.

Lalu dengan suara lirih, Thomas mengucapkan kalimat yang sepertinya akan selalu ia ingat.

“Diami yang paksa saya kuliah dulu. Dia belikan saya formulir, dia isikan formulir itu.”

Thomas yang kemudian merampungkan kuliahnya selama empat tahun di Jurusan Manajemen Unhas, 1990–1994, mengaku tak bisa melupakan kebersamaan mereka.

“Di Domba, Anca Kambang, ada Cali. Saya waktu itu tidak kuliah saat tamat SMA. Setahun kemudian, tahun 90,” ungkap Thomas.

Narto sahabat lainnya cerita. “Selalu nginap dan selalu singgah kalo siang ke rumah. Sejak SMA sampai selesai kuliah,” ujar alumni Kehutanan Unhas 89 itu.

 

Begitulah…

Cerita itu menjadi salah satu potongan kecil tentang bagaimana Cali hadir dalam kehidupan sahabatnya.

Bukan sekadar sebagai teman sepergaulan, tetapi juga sebagai seseorang yang mendorong orang lain mengambil jalan hidupnya.

Tentu banyak cerita tentang Cali.

Saya sendiri mengenalnya pertama kali pada 2009, saat reuni pertama pada September. Setelah itu kami semakin intens bersua, baik di tempat kerja maupun di kantor Haji Anca, rekan sealmamaternya.

Di tempat itulah Cali melanjutkan kehidupannya dengan menjadi staf di perusahaan Anca.Termasuk pekerjaan di BTS yang banyak dikerjakan Anca.

Alumni Smansa 89 melayat ke rumah duka di Balla Residence (dok: Istimewa)

“Kalau Denun mau renovasi rumah tinggal panggil Cali, bisami itu,” terkenang ucapan Anca saat datang ke rumah di Tamarunang bertahun lalu.

Hari ini, rumah duka menjadi tempat bertemunya kembali orang-orang yang pernah berjalan bersama Cali dalam berbagai fase kehidupan.

Teman sekolah, sahabat, kawan kerja, keluarga, dan mereka yang pernah menerima kebaikannya.

Di antara cerita-cerita yang muncul, ada pula kisah sederhana tentang seorang sahabat yang pernah membelikan formulir, mengisikan formulir, lalu memaksa kawannya untuk kuliah.

Bagi Cali, itu adalah hal kecil.

Bagi Thomas, kebaikan kecil itu menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tak akan pernah dilupakan.

Al-Fatihah.

Tamarunang, Jumat, 18 September 2026