Dari Riset Lokal Menuju Percakapan Akademik Internasional

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh Gemini

PELAKITA.ID — Menjadi jurnal internasional yang kredibel bukan semata-mata persoalan menggunakan bahasa Inggris, memiliki penulis dari berbagai negara, atau tercantum dalam sebuah pangkalan data akademik global.

Di balik sebuah jurnal yang diakui secara internasional terdapat seperangkat standar yang berkaitan dengan integritas penelitian, proses peer review, kualitas editorial, transparansi penerbitan, hingga kontribusi ilmiah dari artikel yang diterbitkan.

Pemahaman ini penting bagi peneliti Indonesia yang ingin membawa risetnya ke tingkat internasional. Penelitian mengenai masyarakat pesisir, perikanan, tata kelola maritim, ekonomi biru, perubahan lingkungan, konservasi, maupun politik ekologi sering kali berangkat dari persoalan yang sangat lokal. Namun, lokasi penelitian yang spesifik tidak berarti pertanyaan penelitiannya harus berhenti pada konteks lokal.

Justru sebaliknya, sebuah desa pesisir, pulau kecil, kawasan tambang, komunitas nelayan, atau wilayah konservasi dapat menjadi ruang empiris untuk menjawab pertanyaan ilmiah yang memiliki relevansi lebih luas.

Standar sebuah jurnal internasional

Salah satu fondasi utama jurnal ilmiah bereputasi adalah peer review. Melalui proses ini, naskah dievaluasi oleh para ahli yang memiliki kompetensi pada bidang terkait sebelum diterbitkan. Proses tersebut menjadi salah satu mekanisme penting untuk menilai ketepatan metodologi, kekuatan argumentasi, kualitas data, orisinalitas, dan kontribusi sebuah penelitian.

Jurnal yang kredibel juga memiliki dewan editorial yang jelas dan memiliki kompetensi akademik. Untuk jurnal dengan orientasi internasional, jaringan editor dan reviewer dapat melibatkan akademisi dari berbagai negara dan institusi. Selain itu, jurnal perlu memiliki ruang lingkup yang jelas sehingga penulis dan pembaca mengetahui bidang keilmuan, topik, serta jenis artikel yang menjadi perhatian jurnal tersebut.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah etika penelitian dan integritas akademik. Plagiarisme, persoalan kepengarangan, konflik kepentingan, manipulasi data, serta prosedur koreksi dan penarikan artikel merupakan bagian dari persoalan yang harus ditangani secara transparan oleh penerbit ilmiah.

Transparansi penerbitan juga menjadi ciri penting. Informasi mengenai proses peer review, biaya publikasi jika ada, lisensi, kebijakan editorial, kepemilikan jurnal, serta prosedur publikasi seharusnya dapat diakses dengan jelas.

Dalam ekosistem penerbitan ilmiah modern, artikel juga umumnya memiliki DOI atau pengenal digital permanen serta metadata bibliografis yang memungkinkan artikel ditemukan, diakses, dan dikutip secara konsisten.

Jurnal internasional yang kredibel dapat pula terindeks dalam pangkalan data seperti Scopus, Web of Science, PubMed/MEDLINE untuk bidang yang relevan, maupun indeks khusus disiplin ilmu tertentu. Namun, indeksasi tidak semestinya dipahami sebagai satu-satunya ukuran kualitas ilmiah.

Bukan hanya jurnalnya, tetapi juga artikelnya

Standar jurnal merupakan satu sisi. Sisi lainnya adalah kualitas artikel yang dikirimkan peneliti.

Artikel penelitian yang kuat biasanya memiliki alur yang jelas:

Research problem → literature gap → research question → theoretical/conceptual framework → methodology → evidence/data → analysis → discussion → contribution → conclusion.

Di antara seluruh komponen tersebut, satu hal menjadi sangat penting: contribution.

Sebuah artikel internasional tidak cukup hanya mengatakan bahwa suatu fenomena terjadi. Peneliti perlu menunjukkan apa yang dapat dipahami lebih baik setelah penelitian tersebut dilakukan.

Misalnya, pernyataan:

“This study describes the condition of coastal communities in South Sulawesi.”

masih terutama bersifat deskriptif.

Formulasi yang lebih analitis dapat berbunyi:

“This study explains how the interaction between social capital, institutional arrangements, and resource access shapes collaborative fisheries governance in small-scale fishing communities.”

Perbedaannya terletak pada pertanyaan ilmiah. Pernyataan kedua tidak sekadar menjelaskan kondisi masyarakat pesisir, tetapi mencoba menerangkan hubungan antara modal sosial, kelembagaan, akses sumber daya, dan tata kelola.

Dengan demikian, penelitian bergerak dari deskripsi menuju analisis dan kontribusi.

Pertanyaan yang akan diajukan reviewer

Ketika sebuah artikel masuk ke jurnal internasional, reviewer pada dasarnya akan menguji sejumlah pertanyaan fundamental.

Apa persoalan penelitian yang hendak dijawab? Mengapa persoalan itu penting? Apakah persoalan tersebut memiliki relevansi di luar lokasi penelitian? Apa yang sudah dijelaskan oleh penelitian terdahulu? Apa yang masih belum diketahui atau belum memadai penjelasannya?

Reviewer juga akan melihat apakah teori atau konsep tertentu benar-benar digunakan secara tepat. Mereka akan mempertanyakan mengapa metode penelitian dipilih, apakah data memadai untuk mendukung klaim, apakah analisis lebih dalam daripada sekadar deskripsi, dan pada akhirnya, apa kontribusi penelitian tersebut terhadap pengetahuan ilmiah.

Aspek reproduktibilitas atau keterlacakan proses penelitian juga penting. Pembaca perlu mendapatkan gambaran yang cukup mengenai bagaimana penelitian dilakukan sehingga kualitas proses ilmiahnya dapat dinilai.

Internasional tidak berarti harus dilakukan di banyak negara

Ada anggapan bahwa penelitian baru dapat disebut internasional apabila dilakukan di beberapa negara atau melibatkan peneliti asing.

Anggapan tersebut tidak tepat.

Penelitian yang seluruhnya dilakukan di Takalar, Selayar, Sorowako, Taka Bonerate, atau wilayah Indonesia lainnya tetap dapat memiliki relevansi internasional apabila pertanyaan penelitiannya terhubung dengan perdebatan akademik yang lebih luas.

Misalnya, penelitian mengenai masyarakat pesisir Takalar dapat berangkat dari kasus lokal. Namun pertanyaan penelitiannya dapat diarahkan pada persoalan yang lebih luas:

Bagaimana desentralisasi tata kelola memengaruhi partisipasi dan distribusi manfaat dalam perikanan skala kecil?

Dalam kerangka tersebut, Takalar bukan sekadar objek yang dideskripsikan. Takalar menjadi kasus empiris untuk memahami persoalan tata kelola yang juga dapat muncul di berbagai wilayah lain.

Inilah salah satu perubahan paling penting ketika penelitian lokal diarahkan ke jurnal internasional: bukan menghilangkan konteks lokal, melainkan menghubungkan konteks tersebut dengan pertanyaan ilmiah yang lebih luas.

Scopus dan Web of Science bukan ukuran tunggal

Indeksasi sering menjadi perhatian utama peneliti ketika memilih jurnal. Scopus dan Web of Science memang merupakan bagian penting dari ekosistem komunikasi ilmiah global, tetapi keberadaan sebuah jurnal dalam indeks tertentu tidak secara otomatis menjadikan setiap artikel di dalamnya berkualitas tinggi.

Hal yang sama berlaku untuk berbagai metrik jurnal, seperti Q1, Q2, Q3, Q4, Impact Factor, CiteScore, dan SJR.

Metrik tersebut dapat memberikan informasi mengenai visibilitas, pola sitasi, dan posisi sebuah jurnal dalam kategori tertentu. Namun, metrik bukan pengganti penilaian terhadap kualitas penelitian itu sendiri.

Karena itu, peneliti sebaiknya tidak memulai proses dengan pertanyaan, “Jurnal Q1 mana yang harus saya pilih?”

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

Apa persoalan ilmiah yang sedang saya jawab, dan apa kontribusi penelitian saya terhadap pengetahuan yang sudah ada?

Dua puluh jurnal yang layak dikenal

Bagi peneliti yang bergerak pada isu lingkungan, pembangunan, maritim, perikanan, konservasi, dan keberlanjutan, terdapat berbagai jurnal internasional yang dapat menjadi referensi dalam memahami standar publikasi ilmiah.

Beberapa di antaranya adalah:

  1. Nature — ilmu pengetahuan multidisipliner.
  2. Nature Sustainability — keberlanjutan, kebijakan, masyarakat, dan lingkungan.
  3. Nature Climate Change — perubahan iklim, lingkungan, dan masyarakat.
  4. Science — ilmu pengetahuan multidisipliner.
  5. PNAS — penelitian multidisipliner.
  6. Global Environmental Change — lingkungan, masyarakat, tata kelola, dan perubahan global.
  7. World Development — pembangunan, kemiskinan, kelembagaan, dan perubahan sosial.
  8. Ecological Economics — hubungan ekonomi, ekologi, dan masyarakat.
  9. Marine Policy — kebijakan dan tata kelola kelautan.
  10. Ocean & Coastal Management — pengelolaan dan tata kelola laut serta pesisir.
  11. ICES Journal of Marine Science — ilmu kelautan dan perikanan.
  12. Fish and Fisheries — penelitian dan sintesis bidang perikanan.
  13. Conservation Letters — konservasi dan kebijakan.
  14. Biological Conservation — konservasi dan biodiversitas.
  15. Environmental Science & Policy — lingkungan dan kebijakan.
  16. Journal of Environmental Management — pengelolaan lingkungan.
  17. Sustainability Science — keberlanjutan dan sistem sosial-ekologis.
  18. Conservation Science and Practice — praktik dan kebijakan konservasi.
  19. Ambio — lingkungan, keberlanjutan, dan masyarakat.
  20. Marine and Freshwater Research — penelitian lingkungan perairan laut dan tawar.

Daftar tersebut tidak seharusnya dipahami sebagai peringkat. Setiap jurnal memiliki komunitas akademik, cakupan, metode, dan karakter artikel yang berbeda.

Di mana posisi riset maritim?

Bagi peneliti yang bekerja pada isu maritim, beberapa jurnal memiliki irisan yang sangat menarik.

Global Environmental Change, misalnya, memiliki ruang bagi pembahasan mengenai institusi, tata kelola, relasi kuasa, sistem pengetahuan, dan ketimpangan sosial dalam perubahan lingkungan.

Marine Policy secara langsung berhubungan dengan kebijakan kelautan dan mencakup perspektif ekonomi sumber daya, ilmu politik, ilmu kelautan, ekologi manusia, hukum internasional, geografi, dan antropologi.

Sementara itu, Ocean & Coastal Management menyediakan ruang bagi penelitian tentang pengelolaan dan tata kelola laut serta pesisir dengan pendekatan yang dapat melibatkan ilmu alam, ilmu sosial, humaniora, hukum, dan penelitian interdisipliner.

Untuk penelitian kelautan dan perikanan, ICES Journal of Marine Science juga merupakan salah satu jurnal yang penting untuk dikenal, terutama karena orientasinya pada riset kelautan yang ketat dan percakapan internasional mengenai ilmu kelautan dan perikanan.

Sementara Biological Conservation memiliki cakupan yang tidak semata-mata biologis. Dimensi sosial, ekonomi, etika, politik konservasi, kebijakan, serta struktur manusia juga dapat menjadi bagian dari penelitian konservasi yang diterbitkan.

Dari lokasi menuju pertanyaan ilmiah

Untuk peneliti Indonesia, tantangan terbesar mungkin bukan menemukan lokasi penelitian. Indonesia justru menyediakan begitu banyak kasus empiris: masyarakat nelayan, pulau-pulau kecil, kawasan konservasi, wilayah pertambangan, pelabuhan, pesisir perkotaan, konflik sumber daya, dan berbagai bentuk kelembagaan lokal.

Tantangannya adalah menemukan pertanyaan ilmiah yang lebih luas di balik realitas lokal tersebut.

Dalam penelitian maritim, misalnya, sebuah studi tentang masyarakat nelayan dapat berbicara tentang akses terhadap sumber daya. Namun penelitian tersebut dapat menjadi lebih penting secara akademik apabila mampu menjelaskan bagaimana akses itu dipengaruhi oleh institusi, relasi kuasa, modal sosial, kebijakan, atau konfigurasi aktor dalam tata kelola.

Demikian pula penelitian tentang konservasi tidak berhenti pada pertanyaan apakah sebuah kawasan berhasil dilindungi. Penelitian dapat bergerak lebih jauh untuk memahami bagaimana pengetahuan lokal, institusi negara, masyarakat, pasar, dan kepentingan konservasi berinteraksi dalam menghasilkan suatu bentuk tata kelola tertentu.

Di sinilah penelitian lokal dapat memasuki percakapan global.

Sorowako sebagai kasus, bukan batas penelitian

Contoh lain dapat dilihat pada penelitian mengenai modal sosial, kontestasi kekuasaan, dan collaborative governance di wilayah lingkar tambang.

Sorowako dapat menjadi lokasi empiris. Namun pertanyaan akademiknya dapat ditempatkan dalam perdebatan yang lebih luas mengenai bonding, bridging, dan linking social capital, ketimpangan kekuasaan, tata kelola kolaboratif, industri ekstraktif, social license to operate, partisipasi masyarakat, politik ekologi, serta transisi keberlanjutan.

Dengan kerangka demikian, Sorowako tidak hanya menjadi cerita tentang satu wilayah pertambangan. Ia menjadi sebuah kasus untuk memahami bagaimana modal sosial berinteraksi dengan struktur kekuasaan dan institusi dalam tata kelola kolaboratif.

Perubahan perspektif tersebut sangat penting. Bukan lagi sekadar “writing about Indonesia”, tetapi “using an Indonesian case to contribute to international scholarship.”

Urutan yang lebih sehat dalam menyiapkan artikel

Karena itu, proses menyiapkan artikel internasional sebaiknya tidak dimulai dari mengejar nama jurnal.

Urutannya dapat dibangun sebagai:

Research question → theoretical contribution → empirical material → target scholarly community → journal → formatting.

Bukan:

Scopus Q1 → mencari sesuatu untuk ditulis → submit.

Urutan pertama memaksa peneliti memikirkan substansi sebelum wadah publikasi. Setelah pertanyaan penelitian, kontribusi teoretis, dan bukti empiris cukup kuat, barulah peneliti mencari komunitas akademik yang paling sesuai dengan penelitian tersebut.

Dengan cara ini, pemilihan jurnal menjadi bagian dari strategi akademik, bukan sekadar perburuan status.

Pada akhirnya, apa yang membuat penelitian menjadi internasional?

Penelitian tidak menjadi internasional hanya karena diterbitkan di luar negeri. Penelitian juga tidak menjadi internasional semata-mata karena menggunakan bahasa Inggris atau memiliki penulis dari beberapa negara.

Yang lebih penting adalah kualitas pertanyaan, ketepatan metode, kekuatan bukti, kedalaman analisis, keterhubungan dengan literatur, dan kontribusi terhadap pengetahuan.

Bagi penelitian Indonesia, terutama penelitian tentang laut dan pesisir, hal ini membuka ruang yang sangat besar.

Desa nelayan bukan sekadar desa. Pulau kecil bukan sekadar lokasi. Kawasan konservasi bukan sekadar koordinat. Wilayah tambang bukan sekadar titik di peta.

Semua dapat menjadi ruang empiris untuk memahami pertanyaan yang lebih luas mengenai kekuasaan, institusi, ekonomi, masyarakat, lingkungan, keadilan, dan keberlanjutan. Maka tugas peneliti bukan membuat penelitian lokal terlihat seolah-olah internasional.

Tugasnya adalah menemukan pertanyaan yang lebih luas yang sesungguhnya telah terkandung dalam realitas lokal.

Ketika pertanyaan itu dirumuskan dengan jelas, ditempatkan dalam literatur yang tepat, ditopang bukti yang kredibel, dianalisis secara sistematis, dan menghasilkan kontribusi yang dapat dipertanggungjawabkan, penelitian dari sebuah komunitas di Indonesia dapat ikut berbicara dalam percakapan akademik dunia.

Jadi, ukuran terpenting bukan semata-mata dari mana penelitian itu berasal, melainkan apa yang disumbangkannya terhadap apa yang diketahui dunia.