Kini Bukan Hanya Dracin, Ada Disrupsi AI dan Gugatan atas Hakikat Kebudayaan

  • Whatsapp
Dr. Yadi Mulyadi, S.S., M.A., , Ketua Departemen sekaligus Ketua Program Studi S1 Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas) (Dok:Istimewa)
  • AI dipelajari untuk mereplikasi mikro-ekspresi dan nada suara yang paling efektif memicu impuls emosional penonton (marah, sedih, penasaran). Akibatnya, drama mikro buatan AI dirancang layaknya algoritma kecanduan: murni fungsional untuk menguras perhatian dan koin digital penonton.
  • Hal ini menandakan bahwa telah terjadi perubahan lanskap media hari ini, dinamika tersebut telah melompat jauh lebih ekstrem. Sebuah fenomena baru tengah mengemuka: Kini bukan hanya Dracin, dan kini bukan lagi sepenuhnya milik manusia.

Penulis Yadi Mulyadi, Dosen Departemen Arkeologi FIB Unhas, saat ini mengampu Mata Kuliah Budaya dan Media di Program Studi Magister Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin

PELAKITA.ID – Ulasan Judy Rahardjo bertajuk “Paradoks Durasi Short Drama China: Negosiasi Budaya dan Ekonomi Perhatian” (Pelakita.id, 22/09/2026) membongkar dengan cermat bagaimana industri drama pendek Tiongkok menaklukkan audiens global.

Lewat racikan durasi singkat, ritme kencang, dan sensasi emosional yang intens, Dracin berhasil mengeksploitasi celah di tengah menyempitnya rentang perhatian (attention span) masyarakat modern lewat mekanika ekonomi perhatian (attention economy).

Keberhasilan formula drama pendek ala aplikasi seperti ReelShort, DramaBox, atau ShortMax tidak lagi berdiri sendiri sebagai anomali budaya Tiongkok. Format ini telah menjelma menjadi cetak biru (blueprint) industri hiburan global, memicu gelombang adopsi massal yang menembus batas geografis dan genre.

Namun, akselerasi paling drastis datang dari penyusupan teknologi AI Generatif. Saat ini, pembuatan short drama mulai mengadopsi pemeran sintetis (AI avatar/actor), generator video berbasis teks (text-to-video), serta pengisi suara buatan (AI voice generator). Dampaknya sangat revolusioner sekaligus menggentarkan.

Dengan teknologi AI, biaya produksi dapat ditekan hingga ke titik terendah. Produser tidak perlu lagi menyewa lokasi syuting, membayar honor aktor nyata, merancang tata cahaya, atau mengurus logistik kru. Cukup dengan beberapa baris petunjuk (prompt) dan pemrosesan algoritma, puluhan episode drama mikro dapat diproduksi dalam hitungan jam.

AI dipelajari untuk mereplikasi mikro-ekspresi dan nada suara yang paling efektif memicu impuls emosional penonton (marah, sedih, penasaran). Akibatnya, drama mikro buatan AI dirancang layaknya algoritma kecanduan: murni fungsional untuk menguras perhatian dan koin digital penonton.

Hal ini menandakan bahwa telah terjadi perubahan lanskap media hari ini, dinamika tersebut telah melompat jauh lebih ekstrem. Sebuah fenomena baru tengah mengemuka: Kini bukan hanya Dracin, dan kini bukan lagi sepenuhnya milik manusia.

Dekonstruksi Formula: Dari Impor Budaya ke Produksi Lokal

Pada awal kemunculannya, publik menikmati drama pendek berupa hasil sulih suara (dubbing) atau teks terjemahan dari konten asli Tiongkok.

Topiknya pun khas: balas dendam, menantu yang dihina lalu ternyata miliarder, atau romansa CEO dingin. Seiring dengan bertambahnya “penikmat” dracin, model drama pendek mendorong rumah produksi lokal di Indonesia, Asia Tenggara, hingga Hollywood mulai mengadopsi format 1-minute drama ini dengan kearifan lokal.

Tema-tema seperti konflik ibu mertua vs. menantu ala sinetron Indonesia, kisah drama perkotaan, hingga urban legend lokal kini dikemas dalam format vertikal 60 detik.

Selain itu terjadi diversifikasi genre, dimama format mikro tidak lagi melulu milik drama romantis klise. Kita melihat eksperimen drama pendek dalam genre komedi situasi, thriller misteri, horor, hingga konten edutainment dan doku-drama singkat.

Bahkan, saat ini aplikasi drama mikro memaksa platform arus utama (seperti TikTok, YouTube Shorts, bahkan fitur reels sosial media) untuk semakin memprioritaskan episodic micro-content yang memiliki skema monetisasi berbasis koin per episode. Hal ini menandakan telah terjadi ”penyusupan” konten drama pendek ke platform streamer raksasa.

Mendasari Fenomena: Dopamine Loop dan Komodifikasi Emosi

Mengapa format ini begitu cepat direplikasi secara global? Jawabannya terletak pada mekanika ekonomi perhatian.

Seperti yang diimplikasikan dalam tulisan Judy Rahardjo, durasi pendek bukan sekadar masalah hemat waktu, melainkan strategi manipulasi psikologis. Format micro-drama mengeliminasi exposisi (pengenalan cerita) yang berbelit-belit dan langsung melempar penonton pada puncak konflik (climax). Tiap episode dirancang untuk memicu dopamine hit secara konstan.

Ketika industri kreatif lokal dan global menyadari bahwa audiens modern lebih menyukai “suntikan emosi instan” ketimbang narasi lambat film layar lebar, maka pengadopsian format ini menjadi hal yang tak terhindarkan.

Tantangan Bagi Industri Kreatif Nusantara

Fenomena “Kini Bukan Hanya Dracin” menyisakan pertanyaan krusial bagi kita: Apakah kita hanya akan menjadi konsumen pasif dari format baru ini, atau mampukah sineas dan pembuat konten lokal menggunakannya untuk menaikkan kelas narasi kita?

Format drama mikro adalah pisau bermata dua.

Di satu sisi, ia menurunkan hambatan masuk (barrier to entry) bagi pembuat film muda untuk berkarya tanpa anggaran miliaran rupiah.

Di sisi lain, ada risiko banalitas—cerita yang dangkal, terlalu mengandalkan kejutan murah, dan mengabaikan kedalaman estetika demi sekadar mengejar klik dan koin digital.

Dracin mungkin adalah pelopor dari gelombang ini. Namun hari ini, kita sedang menyaksikan lahirnya standar baru dalam penceritaan (storytelling). Tantangannya bukan lagi bertarung melawan durasi, melainkan bagaimana menyisipkan kualitas dan pesan budaya yang bermakna di dalam ruang sempit berdurasi 60 detik.

Gugatan Filosofis: Apa Esensi dan Hakikat Kebudayaan?

Eskalasi ini memaksa kita untuk berhenti sejenak dan memikirkan ulang hal yang paling mendasar: Masihkah ini dapat disebut sebagai produk budaya?

Secara historis, kebudayaan lahir dari hasil olah rasa, karsa, empati, dan pengalaman hidup manusia (human experience) yang diwariskan serta dinegosiasikan dalam masyarakat. Film dan drama—sebagai manifestasi karya seni budaya—seharusnya menjadi cermin refleksi kehidupan, memuat intrik kemanusiaan, pengalaman tubuh (bodily engagement), dan ekspresi emosional yang autentik dari senimannya.

Ketika drama dikreduksi menjadi sekadar deretan algoritma AI yang dirancang murni untuk mengejar dopamine hit dan monetisasi kilat.

Pertama, di era dracin dan drama pendek AI memunculkan kebudayaan tanpa jiwa (Soul-less Culture), dimana karya yang dihasilkan kehilangan kesadaran emosional dan nilai kemanusiaan. Aktor AI tidak memiliki pengalaman hidup tentang rasa sakit, cinta, atau ketidakadilan; mereka hanya mereplikasi statistik dari data yang dilatihkan.

Kedua, terciptanya komodifikasi total atas pengalaman manusia, mengingat bahwa jika kebudayaan pada hakikatnya adalah sarana membangun keberadaban dan empati sosial, maka short drama berbantuan AI yang diproduksi secara massal berisiko mendegradasi kebudayaan menjadi sekadar pabrik komoditas emosi instan (fast-food entertainment).

Memaknai Ulang Masa Depan Kebudayaan Digital

Fenomena “Kini Bukan Hanya Dracin” yang dipercepat oleh AI memperlihatkan paradoks baru dalam kebudayaan modern. Di satu sisi, teknologi memberikan demokratisasi alat produksi. Di sisi lain, ia mengancam posisi manusia sebagai agen utama pencipta kebudayaan.

Kita tidak bisa memutus arus teknologi ini. Namun, kita perlu mengantisipasinya dengan bersikap kritis. Tantangan terbesar kita hari ini bukan lagi sekadar memenangi persaingan durasi atau algoritma, melainkan menjaga agar kebudayaan tetap memiliki ruh kemanusiaannya.

Tanpa ruang untuk refleksi, empati, dan kedalaman makna manusiawi, industri media digital kita hanya akan menjadi tempat penampungan bagi naskah-naskah tanpa jiwa yang diproduksi oleh mesin, untuk dikonsumsi oleh manusia yang kian terasing dari dirinya sendiri.

Membaca Drama AI sebagai Warisan Budaya Digital

Dari kacamata kajian budaya dan preservasi warisan digital, meledaknya drama mikro berbasis AI tidak boleh hanya dipandang sebagai komoditas bisnis hiburan sesaat. Di masa depan, triliunan episode mikro ini akan dibaca sebagai artefak budaya digital—rekaman arkeologis yang memotret bagaimana struktur kognitif, kecemasan sosial, dan hasrat manusia abad ke-21 dikonstruksi oleh algoritma.

Namun, kondisi ini membawa ancaman ontologis: ketika AI memproduksi synthetic folklore (cerita rakyat sintetis) secara masif tanpa keterakaran pada pengalaman nyata manusia, kita berisiko mengalami kepunahan keanekaragaman narasi lokal. Lebih dari sekadar persoalan efisiensi produksi, pertaruhan terbesar kita hari ini adalah memastikan bahwa di tengah banjir data dan otomatisasi cerita, jejak nilai kemanusiaan, kearifan lokal, dan memori kolektif kita tidak ikut terhapus dalam arsip warisan budaya digital masa depan.

____
Ketua Departemen sekaligus Ketua Program Studi S1 Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas) dijabat oleh Dr. Yadi Mulyadi, S.S., M.A.

Editor: Denun