PELAKITA.ID – Di tengah meningkatnya ancaman sampah plastik dan kebutuhan energi yang terus bertambah, disertasi karya Dwi Novalita Tanri Abeng hadir menjawab dua persoalan besar sekaligus.
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin itu mengangkat judul “Energi Listrik dan Bahan Bakar Cair dari Sampah Plastik Pesisir melalui Teknologi Pirolisis di Kabupaten Kepulauan Selayar.”
Judul itu bukan sekadar karya akademik, tetapi menawarkan solusi nyata terhadap tantangan lingkungan dan ketahanan energi yang dihadapi Indonesia.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan garis pantai terpanjang di dunia sekaligus menghadapi persoalan serius terkait sampah plastik yang mencemari laut.
Setiap hari, jutaan ton sampah plastik berakhir di sungai dan pesisir, mengancam ekosistem laut, perikanan, pariwisata, hingga kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, banyak wilayah kepulauan masih menghadapi keterbatasan pasokan listrik dan tingginya biaya distribusi bahan bakar minyak. Artinya, persoalan sampah dan energi sebenarnya saling bertemu dalam ruang yang sama.
Di sinilah letak relevansi penelitian ini. Melalui teknologi pirolisis, sampah plastik tidak lagi dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang dapat diubah menjadi bahan bakar cair maupun energi listrik.
Teknologi ini bekerja dengan memanaskan plastik pada suhu tinggi tanpa oksigen sehingga menghasilkan minyak, gas, dan residu karbon yang dapat dimanfaatkan kembali.
Pendekatan tersebut merupakan penerapan konsep waste to energy, yakni mengubah limbah menjadi sumber energi yang bernilai ekonomi.
Pilihan lokasi penelitian di Kabupaten Kepulauan Selayar juga memiliki makna strategis. Sebagai wilayah kepulauan, Selayar menghadapi tantangan ganda: persoalan sampah plastik yang terbawa arus laut sekaligus kebutuhan energi yang belum sepenuhnya terjangkau secara efisien.
Apabila teknologi ini dapat diterapkan secara luas, daerah-daerah kepulauan berpotensi mengurangi pencemaran laut sekaligus menghasilkan energi secara mandiri dari limbah yang selama ini menjadi masalah.
Lebih jauh lagi, penelitian ini sejalan dengan berbagai agenda pembangunan nasional maupun global. Pemerintah Indonesia menargetkan pengurangan sampah plastik, peningkatan bauran energi baru dan terbarukan, serta penguatan ekonomi sirkular.
Disertasi ini menyentuh ketiga agenda tersebut sekaligus: mengurangi limbah, menghasilkan energi alternatif, dan menciptakan nilai tambah dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Tidak mengherankan apabila selama menempuh studi doktoralnya, Dwi Novalita Tanri Abeng berhasil menghasilkan tiga publikasi ilmiah internasional bereputasi, terdiri atas dua jurnal Q2 dan satu jurnal Q3.
Hal ini menunjukkan bahwa penelitian tersebut tidak hanya relevan bagi Indonesia, tetapi juga mendapat perhatian komunitas ilmiah internasional karena menawarkan pendekatan yang aplikatif terhadap persoalan lingkungan global.
Disertasi yang dibimbing oleh Prof. Dr. Abd. Wahid Wahab, M.Sc. sebagai promotor dan Prof. Dr. Ir. Winarni Monoarfa, M.S. sebagai ko-promotor ini menjadi contoh bagaimana penelitian doktoral tidak berhenti pada pengembangan teori.
Sebaliknya, riset ini menghadirkan inovasi yang berpotensi diterapkan dalam kebijakan publik, pengembangan teknologi, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir.
Nilai terpenting dari penelitian ini bukan hanya terletak pada keberhasilannya mengubah sampah plastik menjadi listrik dan bahan bakar cair.
Yang lebih penting adalah perubahan cara pandang yang ditawarkannya: sampah bukan lagi sekadar masalah, tetapi dapat menjadi bagian dari solusi. Di tengah krisis lingkungan dan tantangan transisi energi, gagasan seperti inilah yang dibutuhkan Indonesia untuk membangun masa depan yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan.
___
Editor Denun









