PELAKITA.ID – Sekitar 30 mama-mama dari Weri dan Saharey mengikuti Pelatihan Dasar Pengemasan Produk Olahan Perikanan yang digelar Tim 9 Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin (UNHAS) 2026, Senin (28/9).
Kegiatan ini menjadi bagian dari pendampingan masyarakat untuk meningkatkan kualitas produk olahan perikanan lokal, terutama dari sisi pengemasan, sehingga lebih siap dikembangkan dan diperkenalkan ke pasar yang lebih luas.
Pelatihan tersebut merupakan salah satu tahapan pengembangan Rumah Produksi Bersama (RPB) Weri-Saharey. Kehadiran RPB diarahkan untuk menyediakan ruang bersama bagi masyarakat dalam menjalankan proses produksi, pengolahan, hingga pengemasan produk perikanan secara lebih teratur dan higienis.
Lebih dari sekadar tempat produksi, RPB diharapkan menjadi ruang belajar bersama untuk meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus mendorong nilai tambah hasil perikanan lokal.
Kegiatan diawali sambutan Ir. Rijal M. Idrus, M.Sc., Ph.D., Ketua Tim 9 Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin. Setelah itu, peserta mengikuti pemaparan materi sekaligus praktik langsung yang dipandu Dessy Eka Kuliahsari, S.TP., M.TP.
Materi disusun untuk memperkenalkan prinsip dasar pengemasan serta pemilihan jenis kemasan dan peralatan sesuai karakteristik masing-masing produk.
Tidak berhenti pada penyampaian teori, peserta langsung mempraktikkan proses pengemasan tiga produk olahan perikanan yang dikembangkan masyarakat, yakni abon ikan, sambal ikan, dan keripik.
Praktik tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenali secara langsung tahapan pengemasan sekaligus mencoba peralatan yang digunakan dalam proses produksi.
Dalam praktiknya, peserta menggunakan timbangan digital, vacuum sealer, dan impulse hand sealer, dengan media kemasan berupa standing pouch dan plastik retort.
Tahapan dimulai dari menimbang produk sesuai ukuran yang ditentukan, memasukkannya ke dalam kemasan, melakukan proses vakum, hingga menyegel kemasan menggunakan pengaturan panas yang disesuaikan dengan karakteristik bahan kemasan.
Interaksi berlangsung cukup dinamis sepanjang pelatihan. Para peserta aktif bertanya, berdiskusi, dan mencoba peralatan yang diperkenalkan.
Sejumlah pertanyaan bahkan muncul dari pengalaman peserta ketika menghadapi langsung setiap tahapan pengemasan, sehingga proses belajar tidak hanya berlangsung melalui penjelasan pemateri, tetapi juga melalui praktik dan pengalaman masyarakat sendiri.
Materi pelatihan juga mencakup penanganan produk untuk membantu mempertahankan keamanan, kualitas, dan umur simpan. Salah satu praktik yang diperkenalkan adalah proses sterilisasi pada produk sambal yang menggunakan kemasan retort.
Pengenalan teknik ini menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman peserta mengenai cara menangani produk agar dapat memiliki daya simpan lebih baik tanpa mengandalkan bahan pengawet maupun pewarna tambahan.
Melalui kegiatan praktik tersebut, peserta juga memahami bahwa setiap produk memiliki karakteristik dan kebutuhan penanganan yang berbeda. Berat produk, jenis kemasan, penggunaan peralatan, teknik sealing, pengaturan panas, hingga cara penanganan setelah proses pengemasan perlu diperhatikan secara tepat agar produk memiliki hasil kemasan yang lebih seragam dan kualitasnya tetap terjaga.
Dessy Eka Kuliahsari, S.TP., M.TP., berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat terus dipraktikkan oleh masyarakat dan menjadi bagian dari pengembangan usaha olahan perikanan di Weri dan Saharey.
“Semoga kegiatan ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat Weri dan Saharey, terutama mama-mama yang mengembangkan produk olahan perikanan,” ujarnya.
Bagi Tim 9 Ekspedisi Patriot UNHAS, pelatihan pengemasan merupakan salah satu tahapan dari proses pendampingan yang dilakukan secara bertahap kepada masyarakat Weri dan Saharey.
Pendampingan tidak hanya diarahkan pada kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga mencakup peningkatan kualitas, pengemasan, pengembangan identitas produk, kesiapan untuk dipasarkan, hingga membuka akses pemasaran ke Kota Fakfak.
Pengembangan RPB Weri-Saharey sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengolah potensi perikanan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Keterampilan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan selama pelatihan, tetapi dapat diterapkan dalam aktivitas produksi sehari-hari dan dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat.
Dengan peningkatan kapasitas tersebut, produk olahan perikanan Weri-Saharey diharapkan semakin siap dari sisi produksi maupun pengemasan.
Tahapan berikutnya dapat diarahkan pada penguatan identitas produk, pemenuhan persyaratan, dan pemasaran, sehingga produk lokal memiliki peluang untuk menjangkau konsumen yang lebih luas serta mendukung pengembangan usaha masyarakat secara berkelanjutan.









